Kamis, 15 September 2011

BERSABAR DALAM KETAATAN

By : musni japrie

Selama ini kata-kata sabar oleh kebanyakan orang-orang lebih dikaitkan penggunaannya kepada hal-hal berhubungan dengan musibah dan cobaan yang menimpa seseorang, yaitu untuk menahan diri untuk tidak berlebihan dalam mengungkapkan rasa kesedihannya dan menerimanya dengan lapang dada karena datangnya musibah tersebut dari Allah Subhanahui Ta’ala berupa takdir. Namun sebenarnya pengertian sabar tidak hanya sebatas yang berkaitan dengan musibah saja tetapi meliputi banyak hal. Sehingga ada ulama yang mengatakan bahwa sabar adalah sikap teguh dalam memegangi kandungan al-Qur’an dan sunnah.Dimana sabar itu sendiri dapat digolongkan menjadi tiga yaitu :
a. Sabar dalam upaya meninggalkan perbuatan yang haram dan dosa
b. Sabar dalam megerjakan amal ketaatan dan menedekatkan diri kepada Allah
c. Sabar dalam menghadapi berbagai musibah dan bala yang menimpa.

Bersabar dituntut untuk banyak hal, antara lain dalam hal melakukan ketaatan kepada Allah, karena ketaatan kepada Allah merupakan kewajiban setiap hamba Allah yang mengaku beriman kepada-Nya. Taat kepada Allah berarti mengikuti dan melakukan segala apa yang diperintahkan-Nya baik berdasarkan ketetapan yang digariskan dalam al-Qur’an maupun sunnah Rasulullah shallalahu’alaihi wa salam. Sedangkan bentuk ketaatan yang dituntut untuk dilakukan oleh hamba-hamba Allah ada yang bersifat wajib dan ada pula yang bersifat sunah, terutama yang berkaitan dengan pelaksanaan amal ibadah.

Sebagaimana diketahui bahwa dalam melakukan ketaatan kepada Allah yang tentunya dalam hal ini termasuk ketaatan kepada Rasul-Nya berlawanan dengan kepentingan hawa nafsu yang banyak ditunggangi oleh syaitan dengan godaannya. Disamping itu ketaatan melaksanakan syari’at membutuhkan pengorbanan terutama bagi orang-orang yang belum begitu mantab keimanannya serta masih kuatnya godaan duniawi.Kesabaran di dalam melakukan ketaatan merupakan upaya keras yang harus dilakukan seseorang agar bentuk ketaatannya tersebut dapat terlaksana sebagaimana yang diharapkannya.Tanpa upaya keras dengan kesabaran yang tinggi maka godaan hawa nafsu akan mengalahkan kehendak melakukan ketaatan.

Dunia dengan segala gemerlapnya yang daya tariknya sangatlah menggoda seseorang untuk menekuninya menginat di dalam gemerlap dan daya tariknya tersebut dunia mampu memberikan berbagai bentuk kenikmatan sehingga terpuaskanlah kehendak nafsu yang mempunyai tabiat untuk selalu minta dipuaskan. Godaan dunia tersebut akan mengajak kepada manusia melupakan dan melalaikan ketaatannya kepada Allah Subhanahu Ta’ala, sehingga godaan dunia merupakan penghalang bagi hamba-hamba Allah untuk mendekat diri kepada-Nya.

Melakukan berbagai ketaatan kepada Allah kadang kala harus mengorbankan kepentingan dunia yang dikuasai oleh nafsu, dimana nafsu menginginkan akan dunia seisinya ini dapat dikuasi sehingga terpenuhilah berbagai hasrat, sedangkan dipihak lain dalam ketaatan itu terikat dengan ketentuan syari’at, sehingga kedua kepentingan antara kebutuhan akan ketaatan dan kebutuhan cinta dunia saling bertolak belakang, dan ujung-ujungnya terjadilah saling tarik menarik antara dua kepentingan tersebut. Dan disinilah pentingnya peran kesabaran agar daya tarik kepentingan cinta dunia yang melalaikan dapat dikalahkan oleh kepentingan untuk melakukan ketaatan.

Hampir pada setiap bentuk ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala memerlukan kesabaran seperti untuk bersedeqah baik sedeqah wajib berupa zakat dan sedeqah sunah seperti infak dan wakaf dengan mengeluarkan harta dipandang dari sudut kepentingan duniawi dan kepentingan hawa nafsu dianggap akan dapat mengurangi harta dan tidak memberikan keuntungan materi bagi sipemberi. Sehingga untuk dapat dikeluarkannya sedeqah tersebut memerlukan adanya kesabaran melawan godaan kepentingan duniawi yang bersikukuh untuk membatalkan rencana sedeqah yang akan dikeluarkan. Mengeluarkan harta untuk bersedeqah merupakan pengorbanan tersendiri yang membutuhkan adanya kesabaran sehingga tidak merasa tertekan akan kehilangan harta untuk bersedeqah.

Begitu pula dalam dalam melakukan ketaatan melakukan perintah wajib seperti berpuasa ( wajib dan sunat) seseorang harus berlapar dan menahan haus disiang hari sehingga fisik menjadi lemah dan lesu, untuk itu perlu adanya kesabaran dan menahan diri dari pemenuhan kebutuhan fisik. Bahkan dalam berpuasa seseorang harus menahan nafsu syahwatnya disiang hari meskipun hasratnya menyala-nyala, sehingga yang bersangkutan harus pula mengorbankan kepentingan kepuasan syahwatnya untuk terwujudnya ketaatan.Disini juga diperlukan adanya kesabaran.

Kesabaran dalam menjalani ketaatan juga dibutuhkan dalam melaksanakan ibadah sholat baik sholat fardhu maupun sholat sunah. Karena untuk sholat fardhu 5 kali dalam sehari semalam ditambah dengan sholat sunah rawatibnya harus mengorbankan waktu selama beberapa saat, dimana waktu yang dikorbankan tersebut bagi seseorang sangatlah berharga karena harus meninggalkan aktifitasnya. Apalagi untuk sholat subuh seseorang harus rela berkorban bangun meninggalkan kenikmatan tempat tidur . Bahkan pengorbanan yang lebih besar lagi harus dikeluarkan oleh mereka yang bangun pada sepertiga akhir malam untuk sholat tahajud. Dimana pada jam-jam tersebut merupakan waktu yang paling asyik menikmati tidur.Sehingga untuk terwujudnya ketaatan dengan melakukan sholat tahajud seseorang rela harus menahan kantuk dan bersabar melawan godaan hawa nafsu yang mengajak untuk menikmati tidur panjang.

Yang lebih berat lagi dirasakan oleh orang-orang yang melaksanakan ibadah haji, selain harus mengeluarkan harta untuk ongkos berangkat, meninggalkan keluarga dan bersusah payah dalam melakukan ibadah manasik haji yang memerlukan tenaga ekstra sangat membutuhkan pengorbanan yang luar biasa. Yang untuk itu orang-orang yang berangkat haji sekuat tenaga untuk menahan diri dari berbagai godaan. Semuanya itu memerlukan kesabaran yang besar.

Ketaatan lain yang memerlukan kesabaran adalah dalam hal kewajiban menuntut ilmu agama, apalagi bagi orang-orang dewasa yang harus mengorbankan banyak hal termasuk waktu dan tenaga serta ketekunan seperti dalam menghadiri majelis ta’lim. Apabila seseorang tidak bersabar dan tidak sanggup atas godaan hawa nafsu yang tentunya syaitan bertengger diatasnya, maka tidak mungkin orang tersebut dapat bertahan lama dalam menuntut ilmu tersebut.

Ketaatan dalam beragama menurut syari’at disebutkan juga ketaatan kepada Rasulullah shallalahu’alaihi wa salam dengan mengikuti sunnah beliau.Namun sebagian orang-orang banyak yang melalaikan ketaatan kepada Rasul dengan mengabaikan sunnah-sunnah beliau karena ketidak sabaran yang mereka miliki.Sebagai contoh karena ketidak sabarannya dalam beribadah sesuai dengan sunnah mereka menambah-nambah ibadah berupa perbuatan bid’ah yang sebenarnya dilarang. Seseorang yang harusnya memelihara jenggot dan mencukur kumis, karena takut dituduh sebagai teroris maka dibuang habislah jenggotnya, karena tidak sabar atas hinaan dan sindiran karena menggunakan celana diatas mata kaki maka banyak orang yang terpaksa memanjangkan celananya hingga menutupi mata kakinya.Begitu pula kebanyakan kaum perempuan yang meninggalkan jilbabnya karena maka disebut sebagai wanita yang fatanatik dan tidak modern. Semua itu terjadi karena mereka tidak mau bersabar terhadap pembicaraan dan hinaan orang lain. Sehingga dalam mengamalkan sunnah Rasullullah shallallahu’alaihi wa salam sangat diperlukan akan adanya kesabaran diri agar terwujudlah ketaatan.

Kesabaran banyak sekali dibicarakan dalam Al-AQur’an ,dan memerintahkan kepada setiap hamba Allah untuk bersabar. Terdapat 72 ayat yang mengulas hal-hal yang berkaitan dengan sabar .Antara lain dapat dikutip disini beberapa ayat sebagai berikut :
Firman Allah :
-
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. ( QS.Al-Baqarah : 153 )

Firman Allah :
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. ( QS. Al-Baqarah 155))
\
Firman Allah :
وَاصْبِرْ فَإِنَّ اللّهَ لاَ يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ
Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan. ( QS. Hud: 15 )

Firman Allah :
Al Balad (90)

ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ
Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. (QS. Al-Balaad : 17 )

Firman Allah :
إِن تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِن تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُواْ بِهَا وَإِن تَصْبِرُواْ وَتَتَّقُواْ لاَ يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيط
Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi Jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan. ( QS. Ali Imran : 120 )

Firman Allah:
بَلَى إِن تَصْبِرُواْ وَتَتَّقُواْ وَيَأْتُوكُم مِّن فَوْرِهِمْ هَـذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُم بِخَمْسَةِ آلافٍ مِّنَ الْمَلآئِكَةِ مُسَوِّمِينَ
Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda. (QS. Ali Imran : 125 )

Firman Allah :
-
وَاللّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ
Allah menyukai orang-orang yang sabar. ( QS. Ali Imran : 146

Firman Allah :
)
-
لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُواْ أَذًى كَثِيرًا وَإِن تَصْبِرُواْ وَتَتَّقُواْ فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأُمُورِ
Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan
Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnyayang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan. (QS. Ali Imran : 186 )
Firman Allah :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اصْبِرُواْ وَصَابِرُواْ وَرَابِطُواْ وَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.(QS.Ali Imran: 200 )
-berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya
orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (QS. Az-Zumar : 10)ayat

Selain ayat-ayat al-Qur’an yang menyebutkan tentang sabar, banyak pula hadits- hadits yang diriwayatkan dari Rasullullah shalallahu’alaihi wa sallam yang membicarakan tentang pentingnya kesabaran.Beberapa hadits dapat diketengahkan sebagai berikut :

. Dari Abu Malik al-Harits bin Ashim al-Asy'ari r.a. berkata: Rasulullah s.a.w. bersabda
25- وعن أبي مالك الحارث بن عاصم الأشعري رضي الله عنه قال‏:‏ قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ‏:‏ ‏"‏الطهور شطر الإيمان، والحمد لله تملأ الميزان، وسبحان الله والحمد لله تملآن -أو تملأ- ما بين السماوات والأرض، والصلاة نور، والصدقة برهان، والصبر ضياء، والقرآن حجة لك أو عليك‏.‏ كل الناس يغدو، فبائع نفسه فمعتقها، أو موبقها‏"‏ ‏(‏‏(‏رواه مسلم‏)‏‏)‏‏.‏
.:
"Bersuci adalah separuh keimanan dan Alhamdulillah itu memenuhi imbangan,
Subhanallah dan Alhamdulillah itu dapat memenuhi atau mengisi penuh apa-apa yang ada di antara langit-langit dan bumi. Shalat adalah pahala, sedekah adalah sebagai tanda - keimanan bagi yang memberikannya - sabar adalah merupakan cahaya pula, al-Quran adalah merupakan hujjah untuk kebahagiaanmu - jikalau mengikuti perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya - dan dapat pula sebagai hujjah atas kemalanganmu - jikalau tidak mengikuti perintah-perintahnya dan suka melanggar larangan-larangannya. Setiap orang itu berpagi-pagi, maka ada yang menjual dirinya - kepada Allah - bererti ia memerdekakan dirinya sendiri - dari siksa Allah Ta'ala itu - dan ada yang merusakkan dirinya sendiri pula - kerana tidak menginginkan keredhaan Allah Ta'ala." (Riwayat Muslim)

Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim :
26- وعن أبي سعيد سعد بن مالك بن سنان الخدري رضي الله عنهما‏:‏ ‏"‏أن ناساً من الأنصار سألوا رسول الله صلى الله عليه وسلم فأعطاهم، ثم سألوه فأعطاهم ، حتى نفد ما عنده، فقال لهم حين أنفق كل شيء بيده ‏:‏ ‏"‏ما يكن عندي من خير فلن أدخره عنكم ، ومن يستعفف يعفه الله، ومن يستغن يغنه الله، ومن يتصبر يصبره الله‏.‏ وما أعطي أحد عطاءً خيراً وأوسع من الصبر‏"‏ ‏(‏‏(‏متفق عليه‏)‏‏)‏ ‏.‏
. Dari Abu Said iaitu Sa'ad bin Malik bin Sinan al-Khudri radhiallahu 'anhuma bahawasanya ada
beberapa orang dari kaum Anshar meminta - sedekah - kepada Rasulullah s.a.w., lalu beliau memberikan
sesuatu pada mereka itu, kemudian mereka meminta lagi dan beliau pun memberinya pula sehingga habislah harta yang ada di sisinya, kemudian setelah habis membelanjakan segala sesuatu dengan tangannya itu beliau bersabda:
"Apa saja kebaikan - yakni harta - yang ada di sisiku, maka tidak sekali-kali akan ku simpan sehingga tidak ku berikan padamu semua, tetapi oleh sebab sudah habis, maka tidak ada yang dapat diberikan. Barangsiapa yang menjaga diri - dari meminta-minta pada orang lain, maka akan diberi rezeki kepuasan oleh Allah dan barangsiapa yang merasa dirinya cukup maka akan diberi kekayaan oleh Allah - kaya hati dan jiwa - dan barangsiapa yang berlaku sabar maka akan dikurnia kesabaran oleh Allah. Tiada seorangpun yang dikurniai suatu pemberian yang lebih baik serta lebih luas – kegunaannya - daripada kurnia kesabaran itu." (Muttafaq 'alaih)

Muslim meriwayat sebuah hadits :

وعن أبي يحيى صهيب بن سنان رضي الله عنه قال‏:‏ قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ‏"‏عجبا لأمر المؤمن إن أمره كله له خير، وليس ذلك لأحد إلا للمؤمن ‏:‏ إن أصابته سراء شكر فكان خيراً له، وإن أصابته ضراء صبر فكان خيراً له‏"‏ ‏(‏‏(‏رواه مسلم‏)‏‏)‏‏.‏
Dari Abu Yahya, iaitu Shuhaib bin Sinan r.a., katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Amat menghairankan sekali keadaan orang mu'min itu, sesungguhnya semua keadaannya itu adalah merupakan kebaikan baginya dan kebaikan yang sedemikian itu tidak akan ada lagi seseorang pun melainkan hanya untuk orang mu'min itu belaka, iaitu apabila ia mendapatkan kelapangan hidup, ia pun bersyukur-lah, maka hal itu adalah kebaikan baginya, sedang apabila ia ditimpa oleh kesukaran - yakni yang merupakan bencana - ia pun bersabar dan hal ini pun adalah merupakan kebaikan baginya." (Riwayat Muslim)

Dari apa yang dikemukakan dalam ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits Rasulullah shallallahu’alaihi
wa sallam tersebut diatas sangat jelas sekali bagaimana keutamaan sabar karena dengan kesabaran Allah akan memberikan balasannya kelak. Termasuk di dalamnya bersabar untuk melakukan ketaatan. Karena tanpa adanya kesabaran sangatlah sulit bagi seseorang hamba untuk melaksanakan amal ibadah yang diperintahkan oleh syari’at dalam rangka mewujudkan ketaatan kepada Allah Subhhanaahu wa Ta’ala. Dengan bersabar maka seseorang akan melaksanakan berbagai perintah dan meninggalkan larangan secara ikhlas dan semata untuk mendapatkan ridha dari Allah Subhanaahu wa Ta’ala.

Setiap hamba Allah hendaknya belajar dan melatih diri dalam meningkatkan kesabaran dirinya dalam menjalanlan segala macam amal ibadah yang diperintahkan, sehingga dengan terbangunnya kesabaran dalam melakukan ketaatan Allah akan melimpahkan lagi karunia-Nya jauh lebih besar lagi ( Wallaahu Ta’ala ‘alam )

15 September 2011
Dipetik dari berbagai sumber.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar