Kamis, 29 September 2011

" Hidup Terbelenggu Dalam Kemaksiatan "



By : Musni Japrie

Dizaman sekarang ini dimana-mana banyak orang melakukan perbuatan maksiat baik maksiat yang kecil sampai kepada maksiat yang besar, baik dilakukan secara terbuka atau terang-terangan maupun secara tersembunyi yang dirinya sendiri mengetahuinya, baik maksiat secara perseorangan sampai perbuatan maksiat yang dilakukan secara beramai-ramai berjamaah. Mereka yang melakukan perbuatan maksiat tersebut merasa enjoi dan santai tanpa ada beban serta menikmatinya yang seolah-olah perbuatan maksiat tersebut sebagai perbuatan biasa-biasa saja yang lumrah dilakukan oleh banyak orang. Sepertinya kebanyakan orang menganggap bahwa perbuatan maksiat yang mereka lakukan bukanlah suatu perbuatan yang berdosa, melainkan dianggap sebagai sebuah permainan belaka. Mereka banyak yang telah terbelenggu dalam berbagai kemaksiatan.
Sebenarnya banyak ragam perbuatan maksiat yang dilarang oleh syari’at Islam yang umatnya diperintahkan untuk meninggalkan serta menjauhinya, yang bila dirinci secara satu persatu memerlukan uraian yang sangat panjang. Namun untuk keperluan mengingatkan kepada kita semua bahwa hal yang sekecil apapun yang dianggap biasa-biasa saja apabila perbuatan tersebut telah melanggar mendzalimi hak-hak sesama manusia apalagi hak-hak Allah maka itu adalah maksiat yang akan diberikan hukuman kelak dikemudian hari.
Sesungguhnya hampir setiap hari bahkan setiap saat banyak orang-orang yang melakukan perbuatan maksiat yang berkaitan dengan hak-hak orang lain tanpa disadarinya seperti berbuat kasar, menyakiti orang lain dengan perkataan, sikap atau perbuatan, mengambil hak orang lain dalam berbagai aplikasinya, melakukan kebohongan atau berbohong, tidak jujur dan melakukan penipuan dalam beragam bentuknya. Banyaknya sesama muslim yang salinmg mendengki satu sama lain. Melakukan kegiatan renteneir dan pinjam meminjam dengan sistim riba . Tidak memenuhi kewajiban dan tanggung jawab (seperti misalnya para pegawai negeri atau karyawan swasta yang tidak masuk kerja tanpa alasan atau sengaja masuk kerja terlambat dari waktunya dan pulang sebelum waktunya). Kemudian mencaci maki, berburuk sangka dan menuduh seseorang, melakukan fitnah, menggunjing, tidak memenuhi janji (ingkar ) dan berbagai kemaksiatan kecil lainya.Perbuatan yang semacam itu meskipun termasuk perbuatan maksiat tetapi oleh kebanyakan manusia sudah dianggap bukan perbuatan yang berdosa dan kalaupun mereka menganggapnya sebagai perbuatan yang tidak baik dan dibenci namun dianggap sebagai sesuatu hal yang remeh serta tidak diperdulikan. Pencurian dan perampokan, pemerkosaan hingga pembunuhan sudah dianggap hal yang biasa saja.
Selain kemaksiatan yang dilakukan berkaitan dengan hak sesama manusia maka yang lebih parah lagi banyak orang-orang muslim yang mengentengkan dan meremehkan perbuatan maksiat yang terkait hak-hak atas Allah yang menjadi kewajiban mereka namun dilalaikan dan ditinggalkan. Meskipun perbuatan maksiat tersebut kelak akan berakibat fatal karena besarnya dosa yang ditimbulkannya. Betapa banyak orang yang meninggalkan kewajiban shalat tanpa uzur, mereka tidak memperdulikan ajakan muazin yang mengumandangkan azan untuk sholat,dimana-mana terdapat masjid-masjid dan surau-surau namun kesepian jama’ah, meskipun disekitarnya padat dengan perumahan penduduk muslim. Betapa banyak orang-orang yang mengaku sebagai muslim tetapi dibulan ramadhan tidak hanya anak-kecil yang tidak berpuasa, anak-anak muda dan kaum dewasa juga secara sengaja enggan untuk berpuasa.
Perbuatan maksiat yang secara sadar dilakukan oleh kebanyakan kaum muslimin yang nampak secara kasat mata dan sepertinya sengaja dipertontonkan kepada khalayak ramai antara lain yang dilakukan oleh kaum wanitanya dengan mengenakan pakaian untuk menonjolkan bentuk dan bagian tubuh yang seharusnya ditutupi karena merupakan aurat. Kebanyakan kaum wanita yang dalam cara berpakaian lebih mementingkan trend yang lagi mewabah daripada kepentingan syari’at sehingga mereka telah melakukan pelanggaran dengan berbuat maksiat secara sengaja karena menganggap bahwa maksiat itu adalah urusan yang digampangkan saja.
Dikalangan remaja tidak kalah pula telah mewabah pergaulan yang tidak mengindahkan larangan, dimana-mana terlihat pasangan muda mudi berboncengan dengan berpelukan, berpacaran dan keluyuran malam-malam dan berdua-duaan memadu kasih dan ujung-ujungnya memadu berahi syahwat. Begitu pula perselingkungan dan perzinahan ditempat-tempat mengumbar syahwat serta tempat-tempat hiburan malam tiada lain adalah perbuatan maksiat yang terlarang dikerjakan, namun mereka dengan enjoy melakoninya tanpa beban karena menganggap remehnya maksiat tersebut.
Perhatikan betapa banyaknya orang dengan seenaknya merokok yang juga dilakukan oleh kalangan anak-anak dibawah umur meskipun sudah jelas bahwa hukum rokok adalah haram, tapi keharaman rokok tersebut diabaikan. Begitu pula minuman keras diperdagangkan oleh pedagang muslim serta diteguk oleh banyak kalangan muslim serta narkoba yang jelas-jelas keharamannya bukan hal yang asing lagi.Disisi lain perjudian dalam berbagai bentuk dijadikan sebuah permainan dan hiburan yang mengasyikan, tidak memperdulikan akibatnya. Memakan makanan yang haram baik jenisnya maupun haram dalam memperolehnya.
Maksiat yang terkait dengan hak-hak Allah yang dilakukan kebanyakan orang antara lain adalah menyekutukan Allah dengan makhluknya. Betapa banyak orang-orang melakukan upacara ritual pemberian sesajen sebagai bentuk persembahan kepada dewa-dewa penguasa seperti pesta laut, pesta bumi dan beragam bentuk lainnya. B erbuat riya menampak-nampakkan dengan sengaja ibadahnya agar dipuji dll. Selain itu banyak kalangan umat islam yang menyembah kuburan para wali atau kuburan yang dikeramatkan dengan meminta dan berdoa dikuburan agar hajatnya dikabulkan. Banyak kalangan umat islam yang datang kedukun, ke orang-orang pintar atau paranormal minta pertolongan agar disembuhkan dari penyakit,meminta pengasih, meminta penglaris. Meminta keteguhan, meminta pertolongan agar diberikan jabatan. Memakai jimat-jimat dan batu-batuan atau benda pusaka bertuah. Yang semuanya merupakan perbuatan meminta pertolongan bukan kepada yang semestinya yaitu Allah.

Lalai dari Allah


Manusia adalah makhluk yang lalai. Tidak hanya lalai untuk mengerjakan amal ketakwaan namun juga lalai dari dosa-dosa. Lebih memilukan lagi jika manusia acapkali mengentengkan dosa atau maksiat yang ia perbuat. Seolah-olah dengan sikapnya itu, ia aman dari adzab Allah Subhanahu wa Ta’ala di dunia ataupun di akhirat. Perbuatamn maksiat dijadikan permainan belaka, tidak ,menyadari adanya kandungan dosa di dalammnya
Allah berfirman :
-
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ ادْخُلُواْ فِي السِّلْمِ كَآفَّةً وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”( QS. Al-Baqarah : 208 )
Dalam ayat diatas Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan kepada hamba-hambanya agar masuk kedalam islam secara utuh dalam kehidupannya dan menjauhi jejak langkah syetan yang menyesatkan dengan mentaati segala perintah dan segala bentuk larangan yang berupa kemaksiatan.
Mengingat bahwa manusia kebanyakan lalai dari ketaatannya kepada Allah Subhanahu Ta’ala, maka terjerumuslah mereka kedalam ajakan syetan sehingga berbuat kemaksiatan.
Allah Subhanahu Ta’ala berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ
Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” ( QS. An-Nisaa : 59 )
Diperintahkannya hamba untuk melakukan kebaikan dan dilarangnya dari kemaksiatan adalah semata-mata demi kebaikan hamba, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat penyayang terhadap manusia. Dan suatu hal yang pasti bahwa tidaklah Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan suatu kebaikan sekecil apapun kecuali pasti di dalamnya terkandung maslahat, baik disadari ataupun tidak. Demikian pula jika melarang sesuatu, tentu di dalamnya terdapat mudarat yang membahayakan hamba.
Allah Subhanahu Ta’ala berfirman :
ا فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.”( QS. An-Nuur : 24 )_
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda :
Sesungguhnya Allah itu marah, dan marahnya Allah itu apabila ada ada seseorang melakukan apa yang diharamkan Allah atasnya “( HR. Muttafaqub alaihi )
Hadits tersebut mengingatkan terjerumusnya seseorang kepada jurang kekejian atau kemaksiatan dan segala sesuatu yang diharamkan Allah , karena hal itu bisa menyebabkan Allah murka kepada siapa saja yang melakukannya, dan Allah akan marah apabila larangan-Nya dilanggar.

Dosa kecil dan dosa besar

Kemaksiatan yang dilakukan oleh hamba-hamba Allah akan membuahkan dosa, sedangkan dosa itu sendiri berakibat kepada dijatuhkannya sanksi atau hukuman oleh Allah yang besar kecilnya serta bentuk hukumannya itu sendiri tergantung kepada besar kecilnya kemaksiatan yang dilakukan. Dan dosa itu bertingkat-tingkat kejahatannya. Ada yang besar dan ada pula yang kecil. Adapun dosa besar adalah setiap pelanggaran yang pelakunya mendapatkan had (hukuman yang telah ada ketentuannya dari syariat) seperti membunuh, berzina dan mencuri, atau yang ada ancaman secara khusus di akhirat nanti berupa adzab dan kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta'ala, atau yang pelakunya dilaknat melalui lisan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. (Al-Kaba`ir karya Adz-Dzahabi rahimahullahu hal. 13-14, cet. Maktabah As Sunnah)
Adapun jumlah dosa besar lebih dari tujuh puluh. Sekian banyak dosa besar itupun bertingkat-tingkat. Ada dosa besar yang paling besar misalnya syirik, membunuh jiwa tanpa hak, dan durhaka kepada orangtua. Karena bahaya yang mengancam pelaku dosa besar di dunia dan di akhirat nanti, kita dapati sebagian ulama Ahlus Sunnah menulis kitab tentang dosa-dosa besar (al-kaba`ir) semisal Al-Imam Adz-Dzahabi dan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahumallah. Hal ini agar orang tahu tentang dosa-dosa besar sehingga mereka akan menjauhinya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjanjikan surga dan ampunan-Nya bagi yang menjauhi dosa-dosa besar sebagaimana dalam firman-Nya:
إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلاً كَرِيْمًا
“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).” (An-Nisa`: 31)
Allah Subhanahu wa Ta'ala juga telah menjadikan orang yang meninggalkan dosa-dosa besar masuk dalam golongan orang yang beriman dan bertawakal kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
فَمَا أُوتِيتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا عِنْدَ اللهِ خَيْرٌ وَأَبْقَى لِلَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ. وَالَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ اْلإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ
“Maka segala sesuatu yang diberikan kepadamu, itu adalah kenikmatan hidup di dunia; dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang–orang yang beriman, dan hanya kepada Rabb mereka, mereka bertawakal, dan bagi orang–orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf.” (Asy-Syura: 36-37)
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
الصَّلاَة ُالْـخَمْسُ وَالْـجُمُعَةُ إِلَى الْـجُمُعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ
“Shalat lima waktu dan Jum’at ke Ju’mat (berikutnya) adalah penghapus apa yang di antaranya dari dosa selagi dosa besar tidak didatangi (dilakukan).” (HR. Muslim Kitabut Thaharah Bab Fadhlul Wudhu wash Shalah ‘Aqibihi no. 233 dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
Ketika seseorang berbuat kemaksiatan atau melakukan perbuatan dosa, janganlah melihat kepada kecilnya dosa. Namun lihatlah, kepada siapa dia berbuat dosa? Patutkah bagi seseorang yang diciptakan dan diberi berbagai kenikmatan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, lantas melanggar larangan-Nya?!
Sesungguhnya suatu dosa bisa menjadi besar karena hal-hal berikut:
1. Dosa yang dilakukan secara rutin. Sehingga dahulu dikatakan: “Tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus menerus, dan tidak ada dosa besar jika diikuti istighfar (permintaan ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala).”
2. Menganggap remeh suatu dosa. Ketika seorang hamba menganggap besar dosa yang dilakukannya maka menjadi kecil di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Namun jika ia menganggap kecil maka menjadi besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Disebutkan dalam suatu atsar bahwa:” seorang mukmin melihat dosa-dosanya laksana dia duduk di bawah gunung di mana ia khawatir gunung itu akan menimpanya. Sedangkan orang durhaka melihat dosa-dosanya seperti lalat yang hinggap di hidungnya lalu dia halau dengan tangannya.” (Shahih Al-Bukhari no. 6308)
3. Bangga dengan dosa yang dilakukannya serta menganggap bisa melakukan dosa sebagai suatu nikmat. Setiap kali seorang hamba menganggap manis suatu dosa, maka menjadi besar kemaksiatannya serta besar pula pengaruhnya dalam menghitamkan hati. Karena setiap kali seorang berbuat dosa, akan dititik hitam pada hatinya.
4. Menganggap ringan suatu dosa karena mengira ditutupi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dan diberi tangguh serta tidak segera dibeberkan atau diadzab. Orang yang seperti ini tidak tahu bahwa ditangguhkannya adzab adalah agar bertambah dosanya.
5. Sengaja menampakkan dosa di mana sebelumnya tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala, sehingga mendorong orang yang pada dirinya ada bibit–bibit kejahatan untuk ikut melakukannya. Demikian pula orang yang sengaja berbuat maksiat di hadapan orang. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
كُلُّ أُمَّتِـي مُعَافًى إِلاَّ الْـمُجَاهِرِيْنَ وَإِنَّ مِنَ الْـمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً ثُمَّ يُصْبِحُ وَقَدْ سَتَرَهُ اللهُ فَيَقُولُ: يَا فُلاَنُ، عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا؛ وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللهِ عَنْهُ
Semua umatku dimaafkan oleh Allah kecuali orang yang berbuat (maksiat) terang-terangan. Dan di antara bentuk menampakkan maksiat adalah seorang melakukan pada malam hari perbuatan (dosa) dan berada di pagi hari Allah menutupi (tidak membeberkan) dosanya lalu dia berkata: ‘Wahai Si fulan, tadi malam aku melakukan begini dan begini.’ Padahal dia berada di malam hari ditutupi oleh Rabbnya namun di pagi hari ia membuka apa yang Allah Subhanahu wa Ta'ala tutupi darinya.” (HR. Al-Bukhari no. 6069 dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
Ibnu Baththal rahimahullahu mengatakan: “Menampakkan maksiat merupakan bentuk pelecehan terhadap hak Allah Subhanahu wa Ta'ala, Rasul-Nya, dan orang–orang shalih dari kaum mukminin…” (Fathul Bari, 10/486)
Sebagian salaf mengatakan: “Janganlah kamu berbuat dosa. Jika memang terpaksa melakukannya, maka jangan kamu mendorong orang lain kepadanya, nantinya kamu melakukan dua dosa.”
Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ
Orang–orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh berbuat yang mungkar dan melarang berbuat yang ma’ruf.” (At-Taubah: 67)
6. Dosa menjadi besar jika dilakukan seorang yang alim (berilmu) yang menjadi panutan
Dari penjelasan singkat diatas maka seyogyanya orang-orang yang selama ini menjadikan kemaksiatan sebagai teman bermain yang mengasyikkan, baik kemaksiatan yang dikatagorikan sebagai dosa-dosa kecil maupun yang sifatnya besar untuk segera meninggalkan kebiasaan buruk dengan bertaubat secara sungguh-sungguh. Bertaubat sebelum, ajal tiba ,dengan berjanji untuk tidak mengulanginya kembali.
( Wallahu Ta’ala ‘alam )
29 Syawal 1432H / 27 September 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar