Senin, 30 Januari 2012

" RINTIHAN DOA "


Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam, surah al-Baqarah ayat 186 :

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

Ayattersebut diatas menunjukkan tiga hal yan g harus diperhatikan oleh hamba-hamba Allah, yaitu :

Pertama, bahwa Allah itu dekat, bahkan lebih dekat dari urat nadi manusia, sehingga apabila meminta tidak harus dengan suara keras. Karena Allah itu Maha Mendengar.

Kedua, Allah pasti mengabulkan setiap permintaan hamba-hamba-Nya.

Ketiga, kewajiban bagi seluruh hamba-hamba Allah untuk menunaikan segala perintah dan beriman kepada-Nya sebagai persyaratan mutlak terpenuhinya doa yang dipanjatkan.

Seorang hamba yang memanjatkan doa sangat dianjurkan agar melakukannya dengan rendah hati, tadhoru dan khauf sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah :

وَاذْكُر رَّبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعاً وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلاَ تَكُن مِّنَ الْغَافِلِينَ

Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai( QS.Al A’raf:205)

Nuansa bathin dan getaran kalbu diungkapkan dengan transparan dan mencampakkan jauh-jauh segala atribu keduniaan, baik pangkat, kedudukan ,jabatan, status, berharta atau hanya seorang papa tak berharta. Kita lembutkan hati dan menyatukan ucapan lidah dengan getaran kalbu. Dengan demikian, berdoa bukan hanya sekedar ucapan. melainkan sebuah rintihan jiwa yang menjerit.

Itulah sebabnya, ujngkapan doa bukan lah bentuk perilaku yang mengharapan penilaian manusia, melainkan bathin yang merintih. Bahkan tak jarang meneteskan air mata. Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda :

سنن الترمذي ٢٢٣٣: حَدَّثَنَا هَنَّادٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْمَسْعُودِيِّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عِيسَى بْنِ طَلْحَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَلِجُ النَّارَ رَجُلٌ بَكَى مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ حَتَّى يَعُودَ اللَّبَنُ فِي الضَّرْعِ وَلَا يَجْتَمِعُ غُبَارٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَدُخَانُ جَهَنَّمَ

قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي رَيْحَانَةَ وَابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ هُوَ مَوْلَى آلِ طَلْحَةَ وَهُوَ مَدَنِيٌّ ثِقَةٌ رَوَى عَنْهُ شُعْبَةُ وَسُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ

Sunan Tirmidzi 2233: dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Tidak masuk neraka orang yang menangis karena takut Allah hingga susu kembali lagi ke kantung susu dan tidaklah menyatu debu dijalan Allah dan debu jahannam.

Pernah suatu waktu Rasulullah berlinang air matanya pada saat Abdullah bin Mas’ud membacakan ayat-ayat Al-Qu’ran.Sebagaimana tercantum dalam hadits dari Abdullah bin Mas’ud :

سنن الترمذي ٢٩٥١: حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ هِشَامٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَبِيدَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ

قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اقْرَأْ عَلَيَّ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَقْرَأُ عَلَيْكَ وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ قَالَ إِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِي فَقَرَأْتُ سُورَةَ النِّسَاءِ حَتَّى إِذَا بَلَغْتُ

{ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا }

قَالَ فَرَأَيْتُ عَيْنَيْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَهْمِلَانِ

قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا أَصَحُّ مِنْ حَدِيثِ أَبِي الْأَحْوَصِ حَدَّثَنَا سُوَيْدُ بْنُ نَصْرٍ أَخْبَرَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ الْأَعْمَشِ نَحْوَ حَدِيثِ مُعَاوِيَةَ بْنِ هِشَامٍ

Sunan Tirmidzi 2951: Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan telah menceritakan kepada kami Mu'awiyah bin Hisyam telah menceritakan kepada kami Sufyan Ats Tsauri dari Al A'masy dari Ibrahim dari 'Abidah dari Abdullah ia berkata; Rasulullah Shallallahu 'alahi wasallam bersabda kepadaku: "Bacalah (al Qur'an) untukku." Aku menjawab; "Wahai Rasulullah, haruskah aku membacanya, sementara (Al Qur'an) diturunkan kepadamu?" beliau bersabda: "Aku lebih senang mendengarnya dari orang lain." lalu kubaca surat an Nisa`, ketika sampai pada ayat Dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu). QS An-Nisa`: 41, kulihat kedua matanya berlinang air mata." Abu Isa berkata; Hadits ini lebih shahih dari hadits Al Ahwash. Telah menceritakan kepada kami Suwaid bin Nashr telah mengabarkan kepada kami Ibnu Al Mubarak dari Sufyan dari Al A'masy seperti hadits Mu'awiyah bin Hisyam.

Dalam peristiwa lain diriwayatkan bahwa ketika Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam sedang sakit keras menjelang wafatnya, sahabat Abu Bakar radhyallahu’anhuma diminta menggantikan beliau jadi imam, namun Siti Aisyah isteri Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam berkeberatan karena Abu Bakar selalu menangis setiap menunaikan shalat.

Doa telah membentuk batin yang tangguh, melahirkan pribadi-pribadi yang tidak tacit dengan dunia. Tidak goyah kepribadiannya walaupun dirinya diuji dengan ketakutan dan kekuarangan makanan, mereka bersabar dan istiqomah, sambil terus berikhtiat dan mengembalikannya kepada Dia yang Maha Pengasih, sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah :

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun" [101].


[101] Artinya: Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali. Kalimat ini dinamakan kalimat "istirjaa" (pernyataan kembali kepada Allah). Disunatkan menyebutnya waktu ditimpa marabahaya

Orang berimana sangat yakin bahwa rintihan doanya pasti akan dikabulkan Allah, sehingga betapun banyak orang terguncang menghadapi krisis, dia tetap mampu mengendalikan dirinya sehingga tidak kehilangan arah. Baginya betapapun hebatnya krisis maupun kesulitan yang menghimpit, bukanlah hari kiamat, tetapi dihadapinya sebagai kendala yang terkendali, sebuah tantangan yang mengasyikkan. Dalam rintihan doa dia merasakan seluruh jiwa dan raganya terasa bugar untuk tampil jadi seorang hamba yangb tetap mempunyai arti.

Apabila dia dipanjatkan dengan merintih, penuh keyakinan, niscaya pintu langit akan terbuka ditembus doa., karena tidak ada yang musykil bagi Allah untuk mengabulkannya.

Selama ini sering kita berdoa untuk keselematan diri sendiri dan keluarga, sebaliknya jarang sekali diantara kita yang secra sendirian meluangkan doa untuk bangsa dan Negara. Marilah kita jujur pada diri sendiri, pernahkah kita mengambil saat yang sangat khusus mendoakan keselamatan bangsa dan Negara yang kita cintai ini. (Wallahu’alam)

Sumber : Hikmah Harian Republika

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar