Kamis, 12 Juli 2012

BERIBADAH TANPA ILMU




Apabila kita memperthatikan tata cara beribadah kebanyakan kaum muslimin dewasa ini, banyak sekali yang menyalahi tuntunan dari syari’at, sehingga jauh sekali dari apa yang diajarkan oleh Rasulullah shalallahu’alaihi wa salam
Sebagai contoh dalam ibadah shalat, banyak orang-orang yang melakukan gerakan-gerakan yang tidak ada contoh dan petunjuknya dari dalil yang dapat dipertanggung jawabkan, antara lain misalnya setelah mengucapkan salam langsung mengangkat kedua belah telapak tangan dan mengusapkannya kemuka atau wajahnya. Selain itu ada pula yang melakukan perbuatan sebelum mengusapkan kedua belah telapak tangan kemuka atau wajah terlebih dahulu  menadahkannya sambil berdoa. Dilain pihak dijumpai pula orang-orang yang setelah salam (selesai melakukan shalatnya) langsung menyorongkan tangannya untuk bersalaman dengan orang-orang yang berada disebelah kanan kiri mereka, yang katanya sebagai bentuk wujud dari hablun minnannas (  berhubungan dengan sesama manusia) setelah melakukan hablunminallah ( berhubungan dengan Allah melalui shalat).
Perilaku yang sedemikian dibenarkan saja  oleh  beberapa orang ulama, dengan pertimbangan menganalogikannya ( mengkiaskan) dengan orang yang selesai berdoa, karena shalat dikatagorikan sebagai shalat. Mereka mengatakan bahwa perbuatan semacam itu bukan termasuk perbuatan bid’ah, sehingga sah-sah dan boleh saja dilakukan.
Selain perbuatan yang disebutkan diatas, sering pula kita melihat banyak orang yang setelah salam melakukan sujud tambahan ( bukan sebagai sujud sahwi). Sujud tersebut dimaksudkan sebagai sujud syukur karena telah menjalankan perintah Allah berupa shalat.
Ditinjau dari kacamata syari’at, perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang tersebut ternyata tidak ada satupun hadits dari Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam baik yang maudhu, dha’if apalagi yang shahih yang dapat dijadikan dasar hukum  dan dalil pijakan. Mereka-mereka yang kebanyakan melakukan perbuatan-perbuatan sebagaimana digambarkan diatas tiada lain hanyalah semata mengikuti apa-apa yang dilakukan oleh orang-orang lain yang dianggap baik untuk diikuti, meskipun sebenarnya perbuatan yang ditiru dan diikuti tersebut salah. Namun karena banyaknya orang-orang yang melakukan perbuatan yang serupa sehingga dianggaplah perbuatan tersebut sebagai yang benar dan patut untuk dipertahakan dan ditularkan kepada yang lain.
Perbuatan yang banyak dilakukan oleh kebanyakan kaum muslim di negeri ini sebagaimana yang dipaparkan tersebut yang diperoleh dari ikut-ikutan mengerjakan apa yang dikerjakan oleh orang lain menggambarkan bahwa ternyata mereka-mereka tersebut kurang atau bahkan dapat dikatakan sebagai orang-orang yang jahil (bodoh) akan ilmu tentang tata cara beribadah yang benar sesuai dengan syari’at Kejahilan (kebodohan ) akan ilmu tersebut tentunya tiada lain adalah disebabkan karena mereka-mereka tersebut tidak mau untuk menuntut ilmu agama sebagai hal yang penting dan bekal untuk melaksanakan ibadah yang benar sesuai tuntunan syari’at.
Seorang muslim tidak akan bisa melaksanakan agamanya dengan benar, kecuali dengan belajar Islam yang benar berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah menurut pemahaman salafush shalih. Agama Islam adalah agama ilmu dan amal karena Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wa sallam diutus dengan membawa ilmu dan amal shalih. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِ “Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan
membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan- Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.” ( QA. Al Fat-h: 28 ).
Yang dimaksud dengan al-hudaa ( petunjuk ) dalam ayat ini adalah ilmu yang bermanfaat. Dan yang dimaksud dengan diinul haqq ( agama yang benar ) adalah amal shalih. Allah Ta’ala mengutus Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam untuk menjelaskan kebenaran dari kebathilan, menjelaskan Nama-nama Allah, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, hukum-hukum dan berita yang datang dari-Nya, serta memerintahkan untuk melakukan segala apa yang berfmanfaat bagi hati, ruh dan jasad. Beliau melarang umatnya dari perbuatan syirik, amal dan akhlak yang buruk, yang berbahaya bagi hati, badan, dan kehidupan dunia dan akhiratnya. Cara untuk mendapatkan hidayah dan mensyukuri nikmat Allah adalah dengan menuntut ilmu syar’i. Menuntut ilmu adalah jalan yang lurus untuk dapat membedakan antara yang haq dengan yang bathil, tauhiddan syirik, sunnah dan bid’ah, yang ma’ruf dan yang munkar, antara yang bermanfaat dan yang membahayakan, Menuntut ilmu akan menambah hidayah serta membawa kepada kebahagian dunia dan akhirat ( Yazid bin Abdul Qadir Jawas : Menuntut ilmu jalan menuju surga Pustaka At-Taqwa, hal 4-5 )
Faedah dan keuntungan menuntut ilmu agama
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :
وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
“ Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan je- nisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba- Nya, hanyalah ulama Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Ma- ha Pengampun.”( Qs.Faathir : 28 )
Dari ayat diatas dapat dimaknai bahwa ulama sebagai orang yang memiliki ilmu sesungguhnya yang takutkepada Allah diantara hamba-hamba Allah karena orang-orang yang berilmu tahu benar kedudukan Allah Yang Maha Pencipta, yang memiliki kekuasan atas makhluknya sehingga patut ditakuti. Dan pengetahuan tentang kedudukan serta kekuasaan Allah itu hanya dapat diperoleh dengan menuntut ilmu tentang agama.
Dilain ayat Allah berfirman :
-
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انشُزُوا فَانشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Mengetahui apa yang kamu kerjakan. ( QS. Al Mujaadilah : 11 )
Ayat diatas menyebutkan bahwa Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan, dimana diangkatnya derajat mereka itu tidak lain karena orang-orang yang berilmu itu lebih mengetahui tentang agama Allah, lebih mengetahui bagaimana seharusnya menjalankan syari’at agamanya secara benar sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Dari dua ayat tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa sebenarnya menuntuk ilmu syari’at itu akan memberikan banyak sekali faedah atau manfaat dan keuntungan bagi para penuntutnya.Khususnya yang berkaitan kepentingan setiap individu muslim dalam menjalankan syari’at agamanya.
Dengan menuntut ilmu syar’i setiap individu muslim dalam melaksanakan agamanya akan terhindar dari perbuatan yang mengada-ada (bid’ah ) yang tidak bersumber dari tuntunan syari’at, baik tuntunan Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Karena seperti kebanyakan yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin dewasa ini sebagai akibat jauhnya dari ilmu syari maka mereka jauh dari tuntunan as-Sunnah, mereka mengikuti apa saja yang dikatakan orang-orang jadi panutan mereka seperti para ulama, ustadz, kiayi, guru-guru mengaji meskipun sebenarnya apa yang disampaikan mereka tersebut tidak berdasarkan dalil/nash yang dapat dipertanggung jawabkan. Ujung-ujungnya tanpa disadari banyak umat islam ini meninggalkan sunnah dan lebih mencintai perbuatan bid’ah yang jauh dari tuntunan. Sedangkan bid’ah itu sendiri terlarang dalam agama sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam :
سنن الترمذي ٢٦٠٠: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ بْنُ الْوَلِيدِ عَنْ بَحِيرِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَمْرٍو السُّلَمِيِّ عَنْ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ قَالَ
وَعَظَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا بَعْدَ صَلَاةِ الْغَدَاةِ مَوْعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ فَقَالَ رَجُلٌ إِنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّهَا ضَلَالَةٌ فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَعَلَيْهِ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَقَدْ رَوَى ثَوْرُ بْنُ يَزِيدَ عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَمْرٍو السُّلَمِيِّ عَنْ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَ هَذَا حَدَّثَنَا بِذَلِكَ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْخَلَّالُ وَغَيْرُ وَاحِدٍ قَالُوا حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ عَنْ ثَوْرِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَمْرٍو السُّلَمِيِّ عَنْ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَهُ وَالْعِرْبَاضُ بْنُ سَارِيَةَ يُكْنَى أَبَا نَجِيحٍ وَقَدْ رُوِيَ هَذَا الْحَدِيثُ عَنْ حُجْرِ بْنِ حُجْرٍ عَنْ عِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَهُ
Sunan Tirmidzi 2600: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Hujr telah menceritakan kepada kami Baqiyyah bin al Walid dari Bahir bin Sa'd dari Khalid bin Ma'dan dari Abdurrahman bin Amru as Sulami dari al 'Irbadh bin Sariyah dia berkata; suatu hari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memberi wejangan kepada kami setelah shalat subuh wejangan yang sangat menyentuh sehingga membuat air mata mengalir dan hati menjadi gemetar. Maka seorang sahabat berkata; 'seakan-akan ini merupakan wejangan perpisahan, lalu apa yang engkau wasiatkan kepada kami ya Rasulullah? ' Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Aku wasiatkan kepada kalian untuk (selalu) bertaqwa kepada Allah, mendengar dan ta'at meskipun terhadap seorang budak habasyi, sesungguhnya siapa saja diantara kalian yang hidup akan melihat perselisihan yang sangat banyak, maka jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang dibuat-buat, karena sesungguhnya hal itu merupakan kesesatan. Barangsiapa diantara kalian yang menjumpai hal itu hendaknya dia berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi geraham."
Dengan menuntut ilmu syari’ maka setiap invidu muslim dapat mengetahui bahwa rujukan dalam melakukan ibadah itu selain Al-Qur’an adalah As-Sunnah berupa hadits Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam yang shahih. Karena tanpa pengetahuan banyak kalangan yang tidak memahami hadits-hadits yang shahih, dha’if dan ma’udhu. Karena ketiadaan ilmu pengetahuan tentang hadits banyak orang-orang yang beribadah tanpa dilandasi hadits yang shahih. Tentang hadits ini imam Bukhari meriwayatkan :
صحيح البخاري ٨٣١: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَعْفَرٍ قَالَ حَدَّثَنَا حَرَمِيُّ بْنُ عُمَارَةَ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبِي بَكرِ بْنِ الْمُنكَدِرِ قَالَ حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ سُلَيْمٍ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ أَشْهَدُ عَلَى أَبِي سَعِيدٍ قَالَ
أَشْهَدُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْغُسْلُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ وَأَنْ يَسْتَنَّ وَأَنْ يَمَسَّ طِيبًا إِنْ وَجَدَ
قَالَ عَمْرٌو أَمَّا الْغُسْلُ فَأَشْهَدُ أَنَّهُ وَاجِبٌ وَأَمَّا الِاسْتِنَانُ وَالطِّيبُ فَاللَّهُ أَعْلَمُ أَوَاجِبٌ هُوَ أَمْ لَا وَلَكِنْ هَكَذَا فِي الْحَدِيثِ قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ هُوَ أَخُو مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ وَلَمْ يُسَمَّ أَبُو بَكْرٍ هَذَا رَوَاهُ عَنْهُ بُكَيْرُ بْنُ الْأَشَجِّ وَسَعِيدُ بْنُ أَبِي هِلَالٍ وَعِدَّةٌ وَكَانَ مُحَمَّدُ بْنُ الْمُنْكَدِرِ يُكْنَى بِأَبِي بَكْرٍ وَأَبِي عَبْدِ اللَّهِ
Shahih Bukhari 831: Telah menceritakan kepada kami 'Ali bin 'Abdullah bin Ja'far berkata, telah menceritakan kepada kami Harami bin 'Umarah berkata, telah menceritakan kepadaku Syu'bah dari Abu Bakar bin Al Munkadir berkata, telah menceritakan kepadaku 'Amru bin Sulaim Al Anshari berkata, "Aku bersaksi atas Abu Sa'id Al Khudri ia berkata, "Aku bersaksi atas Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: "Mandi pada hari Jum'at merupakan kewajiban bagi orang yang sudah bermimpi (baligh), dan agar bersiwak (menggosok gigi) dan memakai wewangian bila memilikinya." 'Amru berkata, "Adapun mandi, aku bersaksi bahwa itu adalah wajib. Sedangkan bersiwak dan memakai wewangian -dan Allah yang lebih tahu- aku tidak tahu ia wajib atau tidak, tapi begitulah yang ada dalam hadits."
Mu'adz bin Jabal –radhiyallahu ‘anhu- mengatakan, "Ilmu adalah pemimpin amal dan amalan itu berada di belakang setelah adanyailmu.” (Al Amru bil Ma'ruf wan Nahyu 'anil Mungkar, hal. 15)
Ulama hadits terkemuka, yakni Al Bukhari berkata, "Al'Ilmu Qoblal Qouli Wal 'Amali (Ilmu Sebelum Berkata dan Berbuat)". Perkataan ini merupakan kesimpulan yang beliau ambil dari firman Allah ta'ala,
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ
"Maka ilmuilah (ketahuilah)! Bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu" (QS. Muhammad [47]: 19).
Dalam ayat ini, Allah memulai dengan ‘ilmuilah’ lalu mengatakan ‘mohonlah ampun’. Ilmuilah yang dimaksudkan adalah perintah untuk berilmu terlebih dahulu, sedangkan ‘mohonlah ampun’ adalah amalan. Ini pertanda bahwa ilmu hendaklah lebih dahulu sebelum amal perbuatan.
Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berdalil dengan ayat ini untuk menunjukkan keutamaan ilmu. Hal ini sebagaimana dikeluarkan oleh Abu Nu’aim dalam Al Hilyah ketika menjelaskan biografi Sufyan dari jalur Ar Robi’ bin Nafi’ darinya, bahwa Sufyan membaca ayat ini, lalu mengatakan, “Tidakkah engkau mendengar bahwa Allah memulai ayat ini dengan mengatakan ‘ilmuilah’, kemudian Allah memerintahkan untuk beramal?” (Fathul Bari, Ibnu Hajar, 1/108)
Al Muhallab rahimahullah mengatakan, “Amalan yang bermanfaat adalah amalan yang terlebih dahulu didahului dengan ilmu. Amalan yang di dalamnya tidak terdapat niat, ingin mengharap-harap ganjaran, dan merasa telah berbuat ikhlas, maka ini bukanlah amalan (karena tidak didahului dengan ilmu, pen). Sesungguhnya yang dilakukan hanyalah seperti amalannya orang gila yang pena diangkat dari dirinya.“ (Syarh Al Bukhari libni Baththol, 1/144)
Ibnul Munir rahimahullah berkata, “Yang dimaksudkan oleh Al Bukhari bahwa ilmu adalah syarat benarnya suatu perkataan dan perbuatan.  Suatu perkataan dan perbuatan itu tidak teranggap kecuali dengan ilmu terlebih dahulu. Oleh sebab itulah, ilmu didahulukan dari ucapan dan perbuatan, karena ilmu itu pelurus niat. Niat nantinya yang akan memperbaiki amalan.” (Fathul Bari, 1/108)
Dari uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya menuntut ilmu syar’i akan memberikan banyak manfaat dan keuntungan bagi penuntutnya sedangkan kebodohan (kejahilan ) karena ketiadaan ilmu agama ( syar’i) menyebabkan banyaknya orang-orang tertipu dan lalai terhadap ketentuan agamanya yang diatur oleh yang berhak menetapkan syari’at yaitu dalam hal ini Allah Yang Maha Pengatur melalui firman-Nya yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wasallam, dan diperjelas serta diuraikan oleh Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam dengan sunnahnya. Kebodohan orang-orang atas agamanya, tiada lain dikarenakan kemalasan mereka untuk menuntut ilmu syar’i sebagai ilmu yang bermanfaat sehingga terluput dari kesalahan-kesalahan dalam beribadah . Padahal berbagai kesempatan dan banyak cara cukup tersedia bagi seseorang untuk menuntut ilmu. Namun semuanya kembali kepada masing-masing individu, maukah mereka menyisihkan waktu dan tenaga serta meninggalkan kegiatan dunia untuk menuntut ilmu. Dan ilmu itu tidak akan datang sendiri tanpa adanya upaya mengejarnya.
( W a l l a a h u a ‘l a m )
Bahan bacaan :
1.Al-Qur’an dan Terjemahnya ( Departemen Agama RI )
2.Al-Qur’an dan Terjemahan , Software Salafi DB
3.Ensiklopedi hadits Kitab 9 Imam, software Lidwa Pusaka
4.Fathul Bari., Ibnu Hajar
5.Akidah Muslim, Zaenal Abidin Bin Syamsuddin
6.Kunci Untuk Mencari Ayat Al-Qur’an, DRS.M.S Khalil
7.Menuntut ilmu Jalan Menuju Surga, Yasid bin Abdul Qadir Jawas
Diselesaikan ba’da ashar, Kamis, 22 Sya’ban 1433 H / 12 Juli 2012
( Musni Japrie )

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar