Jumat, 16 November 2012

PINTU-PINTU SYIRIK ( BAGIAN KE SATU )


Islam sebagai agama tauhid, agama yang mengesakan Allah subhanahu ta’ala sebagai satu-satunya Allah yang berhak untuk disembah sangat keras menentang adanya menyekutukan Allah dengan sesuatu selainnya. Namun demikian masih ada saja sebagian dari umat islam ini, meskipun mereka mengakui Allah subhanahu wa ta’ala sebagai yang esa,  melakukan berbagai amal ibadah yang diperintahkan tetapi di dalam praktek keseharian mereka masih pula melakukan berbagai ritual peninggalan nenek moyang mereka yang jahiliyah. Begitu banyak praktek-praktek kesyirikan yang mereka lakukan dengan dalih sebagai kebiasaab adat istiadat dan tradisi yang perlu dipertahankan. Mereka beranggapan bahwa yang dinamakan syirik itu adalah melakukan penyembahan secara fisik kepada berhala-berhala sebagai mana yang dilakukan oleh kaum musyrikin dimasa Arab jahiliyah.
Sesungguhnya syirik itu tidak hanya terbatas menyembah kepada selain Allah, tetapi hakikat syirik itu sangat luas dan tidak terbatas. Syirik itu meliputi syirik rububiyah,syirik uluhiyah dan syirik asma wal sifat. Dan kita sebagai umat muslim harus mewaspadai hal tersebut agar tidak terjerumus kedalamnya agar selamat dari neraka kelak dikemudian hari.
Tauhid adalah perintah Alloh yang paling besar. Dan kemusyrikan adalah larangan Alloh yang paling besar juga. Syirik (kemusyrikan) adalah: menjadikan sekutu atau tandingan bagi Alloh Ta’ala di dalam rububiyah (perbuatanNya), uluhiyah (hakNya untuk ditaati secara mutlak dengan penuh kecintaan dan pengagungan), dan asma’ dan sifat (nama-namaNya yang indah dan sifat-sifatNya yang sempurna). Dan yang umum, terjadinya kemusyrikan adalah di dalam uluhiyah. Yaitu seseorang berdoa kepada Alloh dan kepada selainNya, atau mempersembahkan sesuatu dari jenis-jenis ibadah kepada selain Alloh, seperti: penyembelihan binatang, nadzar, rasa takut, berharap, dan kecintaan. (Kitab Muqorror Tauhid lish Shoff ats-Tsalits al-‘Ali fil Ma’ahid al-Islamiyah, juz 3, hlm: 10)
Maka barangsiapa mengenal keagungan tauhid dan mengetahui bahaya kemusyrikan dengan sebenarnya, maka dia akan berusaha mewujudkan tauhid dan menjauhi kemusyrikan. Bahkan dia juga khawatir dan takut terhadap kemusyrikan, jangan sampai dia terjerumus ke dalamnya, baik dengan sengaja atau tidak sengaja.
Mengapa orang harus takut terhadap kemusyrikan? Inilah di antara perkara-perkara yang melandasi hal tersebut:
1. Kemusyrikan merupakan dosa yang tidak diampuni oleh Alloh di akhirat.
إِنَّ اللهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَادُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَآءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS. An-Nisa’ (4): 48)
Syeikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata di dalam Tafsirnya pada ayat ini: “Allah Ta’ala memberitakan bahwa Dia tidak akan mengampuni orang yang menyekutukanNya dengan seorangpun dari kalangan makhluk. Dan Dia akan mengampuni dosa-dosa selain (syirik) itu, baik dosa-dosa kecil atau besar, yaitu sewaktu Dia berkehendak mengampuninya, jika ditetapkan oleh hikmahNya dan ampunanNya. …Ini berbeda dengan syirik, karena seorang musyrik telah menutup pintu-pintu ampunan atas dirinya, dan mengunci pintu-pintu rahmat, sehingga seluruh ketaatan tanpa tauhid tidak akan bermanfaat baginya, musibah-musibah tidak akan berfaidah sedikitpun baginya, dan pada hari kiamat mereka tidak mempunyai pemberi syafa’at seorangpun, dan tidak pula mempunyai teman yang akrab.” (Taisir Karimir Rahman Fi Tafsir Kalamil Mannan)
2. Kemusyrikan menggugurkan seluruh amalan sholih.
وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Seandainya mereka (para Nabi) mempersekutukan Alloh, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-An’am (6): 88)
Syeikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata di dalam Tafsirnya pada ayat ini: “Sesungguhnya syirik itu melenyapkan amalan, dan menyebabkan kekal di dalam neraka. Maka jika hamba-hamba pilihan tersebut (yakni para Nabi) seandainya berbuat syirik –tetapi mereka tidak mungkin- niscaya lenyaplah amalan-amalan mereka, maka terlebih lagi selain mereka.” (Taisir Karimir Rahman Fi Tafsir Kalamil Mannan)
Dia juga berfirman:
وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِّنَ الْخَاسِرِينَ
Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu:”Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapus amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Az-Zumar (39): 65)
Syeikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata di dalam Tafsirnya pada ayat ini: “Maka di dalam nubuwah seluruh Nabi bahwa syirik itu melenyapkan amalan, sebagaimana Allah telah berfirman di dalam surat Al-An’am.” (Taisir Karimir Rahman Fi Tafsir Kalamil Mannan)
Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah berkata: “Dan telah maklum berdasarkan dalil-dalil syar’i dari Al-Kitab dan As-Sunnah bahwa seluruh amalan dan perkataan hanyalah sah dan diterima jika muncul dari aqidah shohihah (yang benar). Jika aqidah tidak shohihah, maka seluruh amalan dan perkataan yang muncul daripun menjadi batal.” (Aqidah Shohihah Wa Nawaqidhul Islam, hal:3)
3. Mati dalam keadaan syirik pasti masuk neraka dan kekal selamanya.
Alloh Ta’ala berfirman:
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَابَنِى إِسْرَاءِيلُ اعْبُدُوا اللهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ
Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Alloh ialah Al-Masih putera Maryam”, padahal Al-Masih (sendiri) berkata:”Hai Bani Israil, sembahlah Alloh, Robbku dan Robbmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Alloh, maka pasti Alloh mengharamkan surga kepadanya, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS. Al-Maidah (5): 72)
4. Nabi Ibrohim mengkhawatirkan kemusyrikan terhadap diri beliau dan keturunan beliau.
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ ءَامِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ اْلأَصْنَامَ , رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِّنَ النَّاسِ
Dan (ingatlah), ketika Ibrohim berkata: “Ya Robbku, jadikanlah negeri ini (Makkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala.
Ya Robbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia. (QS. Ibrohim (14): 35-36)
Kalau Nabi Ibrohim saja tidak merasa aman dari syirik, padahal beliau adalah kholil (kekasih) Alloh, bapak para Nabi, dan imam bagi para ahli tauhid, maka bagaimanakah dengan selain beliau?! Mestinya lebih merasa tidak aman, amat takut terjerumus ke dalam kemusyrikan.
5. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhawatirkan kemusyrikan terhadap umat beliau.
Beliau telah bersabda di dalam sebuah hadits yang shohih:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ قَالُوا وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الرِّيَاءُ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جُزِيَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً
Sesungguhnya yang paling aku takutkan terhadap kamu adalah syirik ash-ghor (syirik kecil). Para sahabat bertanya: “Apakah syirik ash-ghor itu wahai Rosululloh?”. Beliau menjawab: “Riya’. Alloh ‘Azza wa Jalla akan berkata kepada mereka pada hari kiamat, apabila seluruh manusia telah dibalas amal-amal mereka, “Pergilah kepada orang-orang yang kamu berbuat riya’ di dunia, kemudian lihatlah, apakah kamu akan mendapatkan balasan pada mereka!”. (HR. Ahmad, no: 23119; Ath-Thobaroni di dalam Al-Kabiir, no: 4301; dari Mahmud bin Labid. Dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Silsilah Ash-Shohihah, no: 951)
Inilah di antara perkara yang mengharuskan manusia untuk takut dan waspada terhadap kemusyrikan. Intinya adalah sebagaimana penjelasan imam Ibnul Qoyyim ketika beliau menerangkan tentang keburukan-keburukan syirik. Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: “Karena syirik kepada Allah bertentangan sama sekali dengan tujuan ini (tujuan penciptaan, diutusnya para rasul dan diturunkannya kitab-kitabNya), maka syirik merupakan dosa besar yang terbesar secara mutlak, dan Allah mengharamkan sorga bagi setiap orang musyrik, menghalalkan darahnya, hartanya, dan keluarganya untuk orang-orang yang bertauhid, dan menjadikan orang-orang musyrik sebagai budak mereka, ketika orang-orang musyrik tidak melaksanakan peribadahan kepada Allah. Dan Allah enggan menerima amalan dari orang musyrik, atau menerima syafa’at untuknya, atau mengabulkan doanya di akhirat, atau menggugurkan kesalahannya di akhirat. Karena orang musyrik adalah orang yang paling bodoh, karena telah menjadikan tandingan bagi Allah dari makhlukNya, hal itu merupakan puncak kebodohan terhadapNya, sebagaimana itu merupakan puncak kezhaliman darinya. Walaupun orang musyrik itu tidaklah menzhalimi Rabbnya, tetapi dia hanyalah menzhalimi dirinya.” (Ad-Da’ Wad Dawa’, hal:197, dengan penelitian Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi, penerbit: Dar Ibnil Jauzi).
Syirik ( Menyekutukan  Allah ) Dengan Sesuatu Selain-Nya
Syirik bukanlah hanya sekedar  diartikan dengan seseorang menyembah berhala atau mengakui ada pencipta selain Allah. Meskipun menyembah berhala  memang termasuk syirik. Namun kesyirikan sebenarnya lebih luas daripada itu. Yaitu yang berkaitan dengan masalah ibadah, jika ada satu ibadah dipalingkan kepada selain Allah, itu pun sudah termasuk syirik.
Syirik merupakan bahaya yang terbesar dan penyakit yang paling berbahaya. Syirik sebagai penyakit  hati, karena sumber kesyirikan bermula dari keyakinan (i’tiqad) yang ada di dalam hati. Bahwa ulama membagi jenis syirik menjadi dua bagian :
Pengertian Syirik dan Pembagiannya
Syirik adalah lawan dari tauhid. Jika yang dimaksud dengan tauhid adalah mengesakan dan mengkhususkan Allah dalam  perbuatanNya (rububiyah), dalam hal ibadah (uluhiyah), dan dalam hal nama dan sifatNya (asma’ wa sifat), maka syirik adalah kebalikannya, yaitu menyekutukan Allah dalam hal yang sebenarnya menjadi kekhususan bagi Allah, baik dalam perbuatanNya (rububiyah), dalam hal ibadah (uluhiyah), atau dalam hal nama dan sifatNya (asma’ wa sifat).
Syirik dalam hal perbuataki, mendatangkan bencana, dll. yang sebenarnya perbuatan tersebut adalah hak Allah. Syirik dalam hal ibadah (uluhiyah) adalah melakukan ibadah kepada selain Allah baik ibadah itu berupa do’a, menyembelih, tawakkal, bersedekah, dll. Adapun syirik dalam nama-nama dan sifat (asma’ wa sifat) Allah adalah meyakini bahwa adanya makhluk yang memiliki nama dan sifat yang itu sebenarnya adalah kekhususan bagi Allah semisal mengetahui hal yang gaib.
Menurut kadarnya, syirik terbagi dua, yaitu syirik akbar (besar) dan syirik asghar (kecil). Syirik akbar adalah menyekutukan Allah dalam kekhususan-Nya (yaitu dalam rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa sifat) yang mengakibatkan batalnya keislaman pelakunya. Sedangkan syirik asghar adalah menyekutukan Allah dalam kekhususan-Nya akan tetapi –berdasarkan Al Qur’an dan hadits– tidaklah menyebabkan keislaman pelakunya batalKonsekuensi Syirik akbar
Perbuatan Syirik Sebagai Tindakan  Kezaliman Yang Besar Terhadap Allah Dan Dosa Yang Tidak Diampuni
Sesungguhnya banyak sekali ayat-ayat al-Qur’an yang membicarakan tentang diharamkannya perbuatan membuat tandingan-tandingan atau sekutu-sekutu terhadap Allah Yang Maha Esa.
Begitu banyak manusia yang didalam praktek kehidupan sehari-harinya tanpa disadarinya telah melakukan penyembahan kepada sesuatu selain Allah walaupun bentuk penyembahan tersebut tidak  dalam bentuk sujud, tetapi dalam bentuk lain seperti meyakini sesuatu itu dapat mendatangkan kemudharatan bagi dirinya ( misalnya meyakini hari atau bulan yang mendatangkan sial).Hal semacam ini tiada lain adalah bentuk perbuatan syirik.Firman Allah subhanahu wa ta’ala :
يَدْعُو مِن دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُ وَمَا لَا يَنفَعُهُ ذَلِكَ هُوَ الضَّلَالُ الْبَعِيدُ
Ia menyeru selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat dan tidak (pula) memberi manfa'at kepadanya. Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.(QS.Al Hajj:12 )
Dalam ayat lain Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman :
قُلْ أَتَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللّهِ مَا لاَ يَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلاَ نَفْعًا وَاللّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Katakanlah: "Mengapa kamu menyembah selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat kepadamu dan tidak (pula) memberi manfa'at ?" Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(QS.Al Maidah : 76 )
         Kepada mereka-mereka yang melakukan perbuatan syirik dengan berbagai prilakunya Allah bertanya sebagaimana dengan
Firman -Nya :
قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمْ شَيْئًا وَلَا يَضُرُّكُمْ
Ibrahim berkata: Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfa'at sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu?"(QS.Al Anbiyaa’:66 )
Orang-orang yang melakukan kesyirikan tehadap Allah adalah orang-orang kafir seperti yang disinggung dalam firman-Nya :
وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنفَعُهُمْ وَلَا يَضُرُّهُمْ وَكَانَ الْكَافِرُ عَلَى رَبِّهِ ظَهِيرًا
Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak memberi manfa'at kepada mereka dan tidak (pula) memberi mudharat kepada mereka. Adalah orang-orang kafir itu penolong (syaitan untuk berbuat durhaka) terhadap Tuhannya.(QS.Al Furqon:55)
          Orang-orang musyrik dan kafir mengatakan bahwa mereka sebenarnya tidaklah menyembah sesuatu selain Allah melainkan hanya sekedar sarana untuk mendekatkan diri melalui sesuatu selain Allah itu, sebagaimana disinggung dalam firman Allah ta’ala :
أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.(QS.Az Zumar:3)
Firman Allah ta’ala :
فَلاَ تَضْرِبُواْ لِلّهِ الأَمْثَالَ إِنَّ اللّهَ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.( QS.An Nahl : 74 )
Firman Allah ta’ala :
أَلا إِنَّ لِلّهِ مَن فِي السَّمَاوَات وَمَن فِي الأَرْضِ وَمَا يَتَّبِعُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ اللّهِ شُرَكَاء إِن يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلاَّ يَخْرُصُونَ
Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah semua yang ada di langit dan semua yang ada di bumi. Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah, tidaklah mengikuti (suatu keyakinan). Mereka tidak mengikuti kecuali prasangka belaka, dan mereka hanyalah menduga-duga.(QS.Yunus: 66 )
Firman Allah subhanahu wa ta’ala :
الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأَرْضَ فِرَاشاً وَالسَّمَاء بِنَاء وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَاء مَاء فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقاً لَّكُمْ فَلاَ تَجْعَلُواْ لِلّهِ أَندَاداً وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah [30], padahal kamu mengetahui.( QS.Al Baqarah : 22 )
 K e t e r a n g a n :
[30] Ialah segala sesuatu yang disembah di samping menyembah Allah seperti berhala-berhala, dewa-dewa, dan sebagainya.
  Barang siapa yang telah berbuat syirik kepada Allah baik secara langsung melakukan penyembahan/bersujud kepada sesuatu selain Allah, mengagung-agungkan sesuatu lain Allah sebagaimana mengagung-agungkan Allah atau melakukan kesyirikan secara tidak langsung menyembah kepada sesuatu selain Allah seperti berkeyakinan pada sesuatu itu dapat mendatangkan kebaikan atau kemudharatan maka Alla         h subhanahu wa ta’ala tidak akan memberikan ampunan kepada mereka.Firman Allah ta’ala :
إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاء وَمَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.(QS.An Nisaa : 48 )
Pada ayat yang lain Allah ta’ala berfirman :
إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاء وَمَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيدًا
Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.(QS.An Nisaa: 116 )
  Selain ayat-ayat al-Qur’an yang mengemukakan tentang haramnya melakukan kesyirikan kepada Allah subhanahu wa ta’ala , Rasullullah shallallahu’alaihi wa sallam juga menambahkan banyak keterangan tentang syirik tersebut dengan hadits-hadits beliau antara lain :
1.Hadits Rasullullah shallallahu’alaihi wa sallam tentang syirik sebagai dosa yang paling besar :
صحيح البخاري ٦٤٠٨: حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ الْمُفَضَّلِ حَدَّثَنَا الْجُرَيْرِيُّ ح و حَدَّثَنِي قَيْسُ بْنُ حَفْصٍ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا سَعِيدٌ الْجُرَيْرِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي بَكْرَةَ عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْبَرُ الْكَبَائِرِ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَشَهَادَةُ الزُّورِ وَشَهَادَةُ الزُّورِ ثَلَاثًا أَوْ قَوْلُ الزُّورِ فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا لَيْتَهُ سَكَتَ
Shahih Bukhari 6408: Sa'id Al Jurairi telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Abu Bakrah dari ayahnya radliallahu 'anhu mengatakan, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Dosa yang paling besar diantara dosa-dosa besar lainnya adalah menyekutukan Allah, durhaka kepada orang tua, kesaksian palsu, kesaksian palsu (beliau mengulanginya tiga kali), atau ucapan dusta, " beliau tidak henti-henti mengulang-ulanginya sehingga kami mengatakan; 'Duhai, sekiranya beliau diam.'
2.Hadits Rasullullah shallallahu’alaihi wa sallam bahwa syirik itu asdalah perbuatan zhaliman yang besar :
صحيح البخاري ٦٤٠٧: حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ
{ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ }
شَقَّ ذَلِكَ عَلَى أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالُوا أَيُّنَا لَمْ يَلْبِسْ إِيمَانَهُ بِظُلْمٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّهُ لَيْسَ بِذَاكَ أَلَا تَسْمَعُونَ إِلَى قَوْلِ لُقْمَانَ
{ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ }
Shahih Bukhari 6407: dari Abdullah radliallahu 'anhu, mengatakan; 'Dikala diturunkan ayat; 'Sesungguhnya orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan keimanan mereka dengan kezhaliman' (QS. Al an'am 82), para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam merasa gusar, sehingga bertanya; 'Siapakah diantara kami yang tidak mencampur keimananya dengan kezjhaliman? ' Maka Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam menjawab; "Bukan itu yang dimaksudkan, tidakkah kalian mendengar ucapan Luqman; 'sesungguhnya kesyirikan adalah kezhaliman yang besar" (QS. Luqman 13)
3.Hadits Rasullullah shallallahu’alaihi wa sallam yang menyebutkan bahwa barang siapa yang mati dalam keadaan menyekutukan Allah masuk neraka dan barang siapa yang mati dalam keadaan tidak menyekutukan Allah pasti  akan masuk surga :
صحيح البخاري ١١٦٢: حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ حَدَّثَنَا شَقِيقٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ
وَقُلْتُ أَنَا مَنْ مَاتَ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ
Shahih Bukhari 1162: Telah menceritakan kepada kami 'Umar bin Hafsh telah menceritakan kepada kami bapakku telah menceritakan kepada kami Al A'masy telah menceritakan kepada kami Syaqiq dari 'Abdullah radliallahu 'anhu berkata; Telah bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Barangsiapa yang mati dengan menyekutukan Allah dengan sesuatu maka dia pasti masuk neraka". Dan aku ('Abdullah) berkata, dariku sendiri: "Dan barangsiapa yang mati tidak menyekutukan Allah dengan suatu apapun maka dia pasti masuk surga".
Dalam hadits lain disebutkan :
صحيح البخاري ١١٦١: حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا مَهْدِيُّ بْنُ مَيْمُونٍ حَدَّثَنَا وَاصِلٌ الْأَحْدَبُ عَنْ الْمَعْرُورِ بْنِ سُوَيْدٍ عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَانِي آتٍ مِنْ رَبِّي فَأَخْبَرَنِي أَوْ قَالَ بَشَّرَنِي أَنَّهُ مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِي لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ قُلْتُ وَإِنْ زَنَى وَإِنْ سَرَقَ قَالَ وَإِنْ زَنَى وَإِنْ سَرَقَ
Shahih Bukhari 1161: dari Abu Dzar radliallahu 'anhu berkata; Telah bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Baru saja datang kepadaku utusan dari Rabbku lalu mengabarkan kepadaku" atau Beliau bersabda: "Telah datang mengabarkan kepadaku bahwa barangsiapa yang mati dari ummatku sedang dia tidak menyekutukan Allah dengan suatu apapun maka dia pasti masuk surga". Aku tanyakan: "Sekalipun dia berzina atau mencuri?" Beliau menjawab: "Ya, sekalipun dia berzina atau mencuri".
 Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan dalam al-Qur’an agar hamba-hamba-Nya tidak menyekutukan Allah sesuai dengan Firman Allah ta’ala :
فَلاَ تَضْرِبُواْ لِلّهِ الأَمْثَالَ إِنَّ اللّهَ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.( QS.An Nahl : 74 )
Firman Allah subhanahu wa ta’ala :
الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأَرْضَ فِرَاشاً وَالسَّمَاء بِنَاء وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَاء مَاء فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقاً لَّكُمْ فَلاَ تَجْعَلُواْ لِلّهِ أَندَاداً وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah [30], padahal kamu mengetahui.( QS.Al Baqarah : 22 )
 K e t e r a n g a n :
[30] Ialah segala sesuatu yang disembah di samping menyembah Allah seperti berhala-berhala, dewa-dewa, dan sebagainya.
 Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan agar hamba-hamba yang beriman tidak mencampur adukkan iman mereka dengan syirik dan mereka-mereka tersebut merupakan orang-orang yang mendapatkan petunjuk.Firman Allah ta’ala :
الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.(QS.Al An’am : 82
Selain menyebabkan batalnya keislaman seseorang, ada beberapa konsekuensi yang akan didapatkan oleh orang yang melakukan syirik akbar, diantaranya:
Menutup Pintu Surga
Pelaku syirik akbar telah Allah haramkan untuk masuk surga dan tempatnya di akhirat adalah neraka –wal‘iyadzubillah–. Hal ini sebagaimana firman Allah :
“Sesungguhnya orang-orang yang menyekutukan Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya kelak adalah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” (QS. Al Maidah: 72)
Menutup Pintu Ampunan Allah
Barangsiapa mati dalam keadaan belum bertaubat dari perbuatan syirik akbar, maka ia telah menutup pintu ampunan  Allah, sebagaimana Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.”(QS.An Nisa’ : 48)
Mengahapus Seluruh Amalan
Akan sia-sialah seluruh amalan yang pernah dilakukan oleh seseorang yang melakukan syirik akbar –jika ia tidak bertaubat–, sebagaimana firman Allah
“Jika kamu menyekutukan Allah, niscaya akan terhapuslah seluruh amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS.Az zumar: 65)
Banyak sekali perbuatan-perbuatan yang disadari atau tanpa disadari oleh anak manusia merupakan pintu masuk kepada syirik, untuk itu dalam ulasan berikutnya diketengahkan berbagai perbuatan yang dimaksud sebagai masukan kepada kaum muslimin untuk mewaspadainya ( Wallahu’alam)
( Bersambung ke bagian kedua )
Sumber :
1. Al-Qur’an dan Terjemahan, www.Salafi-DB.com
2. Kitab Hadits 9 Imam, www  Lidwa Pusaka .com
3.Fathul Majid ( Terjemahan ),Penjelasan Kitab Tauhid,Dyaikh Abdurrahman Hasan Alu Syaikh,Penerbit Pustaka Azzam
4.Perilaku & Akhlak Jahiliyah,Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahab At-Tamimi, penerbit Pustaka Sumayah
5.Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i
6. Ayat-ayat Larangan dan Perintah dalam Al-Qur’an KH.Qomaruddin dkk, penerbit Diponogoro
7. Ghuluw Benalu Dalam Ber-Islam Abdurrahman bin MNU’alla Al-Luwaihiq,penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i
8. Mantan Kiai NU Menggugat Sholawat & Dzikir Syirik H.Mahrus Ali, penerbit Laa Tasyuki Press
9. Bahaya Mengekor Non Muslim Muhammad bin ‘Ali Adh Dhabi’I, penerbit  Media Hidayah
10. www.Konsultasi Syariah.com
11.Artikel: www.UstadzMuslim.com
12.Artikel www.buletin muslim Or.Id
Selesai disusun, Senin,  27 Dzulhijjah 1433H/12 Nopember 2012
(Musni Japrie )

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar