Jumat, 16 November 2012

PINTU-PINTU SYIRIK ( BAGIAN KEEMPAT )



                                                       Gb.Ilustrasi : Kubur sufi terkenal ar-Rumi

2.Bersikap Ghuluw Kepada Ulama dan Orang-Orang Shalih Salah Bagian Dari Pintu Syirik
Mencintai dan memuliakan sesama muslim merupakan perintah syari’at yang mulia ini. Terlebih kepada orang-orang shalih dan ulama. Allah menyepadankan persaksian mereka dengan persaksian Diri-Nya, dan mereka adalah teman yang terbaik. Tetapi perlakuan ini harus dalam koridor yang benar dan proporsional, tidak ghuluw atau berlebih-lebihan. Sebab mereka adalah manusia biasa, tidak memiliki kemaksuman seperti para nabi dan tidak pula memiliki sifat ketuhanan. Sehingga berlebihan dengan  memuji, mengagungkan dan mengangkat derajat/kedudukan para ulama dan orang-orang shalih kepada kedudukan yang tidak semestinya tiada lain adalah pintu masuk kepada perbuatan syirik.
Hal ini perlu ditegaskan lantaran gejala atau praktek ghuluw ini masih terus menggelayuti sebagian masyarakat. Ada yang mempunyai persepsi bahwa ulama itu tidak mungkin keliru.
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At-Tamimi dalam kitab beliau “Prilaku & Akhlak Jahilliyah “ memuat masalah ke 13 dibawah judul mereka bersikap ghuluw kepada ulama dan orang shalih mengatakan  bahwa orang-orang jahilliyah mereka telah berbuat ghuluw terhadap pribadi-pribadi tertentu ,yakni dengan mengangkat mereka dari kedudukannya. Sampai-sampai pada tingkatan menjadikan mereka sebagai sembahan bersama Allah . Sebagaimana orang Yahudi berbuat ghuluw kepada Uzair, mereka berkata “ Dia adalah anak Allah “. Demikian juga perbuatan ghuluw orang-orang orang Nasrani. Mereka menjunjung tinggi dan menyanjung Isa bin Maryam’alaihisallam dari kedudukannya sebagai seoramng manusia biasa dan pengemban risalah kepada derajat keuluhiyahan (sesembahan) dan mereka berkata “ Dia adalah anak Allah “
Demikian pula dengan kaum Nabi Nuh’alaihissallam sepeninggal beliau  mereka bersikap ghuluw kepada orang shalih, dengan membuat gambar dan patung mereka. Kemudian mereka mengibadahinya sebagai sesembahan selain Allah, lalu mereka mengangkat orang-orang shalih sampai kepada tingkat uluhiyyah.Sebagaimana yang disebutkan dalam firman
Allah subhanahu wa ta’ala  :
وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا
Dan mereka berkata: "Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa', yaghuts, ya'uq dan nasr[1521]".(QS.Nuh : 23 )
K e t e r a n g a n :
[1521] Wadd, Suwwa', Yaghuts, Ya'uq dan Nasr adalah nama-nama berhala yang terbesar pada qabilah-qabilah kaum Nuh.
Berdasar ayat diatas mereka telah menjadikan orang-orang shalih tersebut sebagai sesembahan. Dan demikian juga selain mereka dari kelompok kelompok kaum musyrikin sampai hari ini. Mereka telah bersikap ghuluw kepada orang-orang shalih dengan melakukan tawaf di kiburan mereka, menyembelihj dan bernazar untuk mereka, dan memohon pertolongan ketika dalam keadaan sulit kepada orang yang telah mati. Mereka bersungguh-sungguh dalam memohon kepada oarnmg-orang shalih tersebut agar memenuhi kebutuhan dan keperluan mereka. Perbuatan ghuluw seperti ini akan menyeret para pelakunya kepada kesyirikan.Maka tidak diperbolehkan bersikap ghuluw terhadap seluruh makhluk dan mengangkat mereka diatas kedudukan yang btelah Allah berikan.Karena hal ini akan menyeret kepada perbuatan menyekutukasn Allah subhanahu wa ta’ala.Demikian pula ghuluw kepada para ulama dan ahli ibadah.
Syari’at telah melarang umat islam untuk berbuat ghuluw kepada Rasullullah shallalahu ‘alaihi wasallam yang jelas dan nyata sebagai nabinya tercinta umat islam, apalagi terhadap para ulama larangan itu tentunya semakin keras.
Bersikaplah yang wajar dan hormati dan hargailah ulama sesuai dengan kedudukannya, tidak lebih dari itu, janganlah memuji dan menyanjung ulama melebihi kapasitasnya sebagai ulama.
 Perhatikanlah bagaimana  perilaku orang-orang yang fanatik kepada madzhab. Sedangkan lainnya meyakini bahwa seorang ulama itu mampu menjamin pengikutnya masuk surga. Lihat kitab Manaqib Syaikh Abdul Qodir Jailani. Bahkan dikisahkan beliau mengancam malaikat Munkar dan Nakir agar tidak menyiksa pengikutnya. Subhanallah! Begitu dalamnya mereka tercebur ke dalam jurang kesyirikan!
Itulah sekelumit fenomena ghuluw yang terus berkembang dan diyakini sebagian masyarakat. Sikap inilah yang menjerumuskan ke dalam kesyirikan lantaran melabeli mereka dengan sifat-sifat ketuhanan yang hanya pantas bagi Allah.
Fenomena ghuluw terhadap  para wali, syaikh, ulama, tuan guru, habib dan orang-orang shalih di tengah-tengah masyarakat Muslim yang menjadi pintu masuk kepada perbuatan syirik sangat nampak di negeri ini antara lain :
a.Sangat Mengagungkan  dan Memuji  Para Ulama dan Orang Shalih  Yang Tidak Sesuai Dengan Kedudukan M
Mereka
Mengagungkan dan memuji-muji para ulama dan orang-orang shalih yang melampaui batas yang tidak sesuai dengan derajat dan kedudukannya merupakan pintu masuk syirik. Dimana sebagaimana kita ketahui bahwa banyak sekali dijumpai sebagian umat Islam yang sangat mengagungkan terhadap baik wali, syaikh, habib, ulama, tuan guru dan orang shalih. Mereka beranggapan bahwa orang yang diagungkan dan dipuji tersebut mempunyai kelebihan dalam hal ilmu agama yang tidak dimiliki orang lain.Mereka yang diagungkan tersebut dapat mengetahui hal-hal yang ghaib,
Dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit,mempunyai karomah sehingga orang datang berbondong-bondong untuk sekedar bertemu  serta yang datang untuk menyampaikan bermacam hajat .
Selain itu banyak pula  diantara umat Islam yang sangat mengagung-agungkan dan memuji-muji serta menyanjung  secara berlebihan para wali,syaikh, ulama, kiai,tuan guru dan orang-orang shalih yang mereka idolakan dengan perkataan serta ucapan yang sangat berlebihan.Sebagai contoh mereka pada malam-malam tertentu atau pada acara tertentu berkumpul membaca manaqib Syaikh Abdul Qadir Jailani yang berisi puji-pujian terhadap syaikh secara berlebihan. Begitu juga banyak sekali orang-orang yang memuji tuan guru, ulama, syaikh, kiai dengan menceritakan hal ikhwal tentang mereka-mereka tersebut secara berlebihan dan kadang-kadang tidak masuk diakal, seperti cerita tentang adanya ulama yang setiap hari Jum’at shalatnya di Masjidil Haram.
b.Menta’ati, mengikuti dan mengekor kepada ulama,tuan guru, syaikh, kiai dan orang shalih yang jadi panutan (taqlid) bagian dari pintu syirik
Termasuk ke dalam pintu masuk kepada syirik adalah  orang-orang yang berbuat ghuluw kepada mereka yang jadi panutannya ( bertaqlid), ta’at, mengikuti dan mengekor dengan mengikuti segala apa saja yang dikatakan atau diucapkan  oleh para ulama,tuan guru, syaikh, habib dan kiai yang mana ucapan dan perkataan  mereka tersebut tidak berlandaskan  atau bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah. Mereka yang berbuat ghuluw lebih memilih  untuk menuhankan ulama yaitu dengan  mengikuti pendapat mereka sekalipun bertentangan dengan ayat al-Qur’an atau al-Hadits.Fenomena semacam ini banyak sekali terjadi dikalangan yang mengaku dirinya sebagai muslim. Mereka bersikukuh kepada pendapat guru-guru mereka sekalipun bertentangan dengan ayat-ayat al-Qur’an dan al-Hadits . Bahkan ada dikalangan mereka yang enggan mengaji kepada guru-guru lain. Ada tanda-tanda bahwa hanya guru mereka yang benar dan guru lain sesat. Marilah kita berfsikap sederhana dan yang kita tonjolkan hanyalah dalil. Siapapun yang tak punya dalil harus ditinggalkan dan yang punya dalil harus diikuti. Ingatlah firman Allah dalam al-Qur’an surah at-Taubah ayat 31 :
اتَّخَذُواْ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُواْ إِلاَّ لِيَعْبُدُواْ إِلَـهًا وَاحِدًا لاَّ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah [639] dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.(Qs.At Taubah:31)
 K e t e r a n g a n :
[639] Maksudnya: mereka mematuhi ajaran-ajaran orang-orang alim dan rahib-rahib mereka dengan membabi buta, biarpun orang-orang alim dan rahib-rahib itu menyuruh membuat maksiat atau mengharamkan yang halal.
Maksudnya: mereka mematuhi ajaran-ajaran orang-orang alim dan rahib-rahib mereka dengan membabi buta, biarpun orang-orang alim dan rahib-rahib itu menyuruh membuat maksiat atau mengharamkan yang halal.
Mereka menghormati para pemimpin atau ulama melebihi kedudukan Allah Subhanahu Wata’ala tanpa mereka sadari, dimana perintah Allah di tinggalkan untuk taat kepada pimpin atau ulama . Bila dikatakan kepada mereka ikutilah ayat-payat Allah atau hadits-hadits Rasul,mereka menjawab: kita tidak mampu mengerti maksud ayat-ayat Qur’an atau dalil hadits, kita harus ikut ulama atau tokoh –tokoh kita.
c.Menjadikan kubur-kubur para wali, syaikh,kiai,tuan guru,ulama dan habib sebagai kubur yang berkeramat untuk ngalap berkah adalah pintu syirik
. Orang-orang yang berbuat ghuluw menjadikan kubur-kubur yang dianggap wali, syaikh, tuan guru, kiai,ulama, habib, dan orang shalih sebagai tempat yang berqaromah ( berkeramat ).Sehingga mereka  yang jahil berduyun-duyun mendatangi kubur orang-orang yang dianggap berqaromah mencari berkah dan berdoa menyampaikan berbagai hajat keperluan. Padalah menurut syari’at bahwa mencari baroqah itu terbatas hanya kepada Rasullullah shallallahu’alaihi wa sallam ketika beliau masih hidup, begitu juga mencari baroqah kepada orang-orang shalih yang masih hidup dengan mengambil ilmu yang bermanfaat dari mereka dan doa mereka . Sedangkan bertabaruk ( mencari baroqah) pada kubur-kubur yang dianggap berqaromah dilarang oleh syari’at.Perbuatan mereka- mereka tersebut merupakan pintu syirik
d.Bepergian ( melakukan safar ) untuk  ziarah kubur yang dianggap berkeramat termasuk pintu syirik
Banyak diantara umat Muslim di seluruh Nusantara ini yang berkeyakinan bahwa makam/kuburan para wali Allah, ulama, kiai, tuan guru dan orang-orang shalih mempunyai karomah sehingga patut untuk diziarahi, meskipun untuk itu harus melakukan perjalanan yang jauh yang memerlukan waktu,tenaga dan biaya. Perhatikanlah betapa banyak hampir setiap hari kuburan wali songo didatangi ribuan penjiarah dari berbagai daerah. Para peziarah itu mempunyai maksud-maksud untuk berdo’a di sisi kubur wali karenalebih berkah, terkabul, menjadikan mereka wasilah (perantara) kepada Allah, bahkan sampai meminta kepada para wali itu. Bentuk ghuluw yang sangat nyata. Akibatnya mereka akan terjatuh ke dalam kesyirikan atau minimal terjerembab ke dalam bid’ah.Mereka yang datang secara berombongan dengan dipimpin seseorang ustadz membaca beramai-ramai bacaan untuk berziarah yaitu yang diberi nama “ Salamullah Ya Sadah
Perbuatan tersebut diatas dikatagorikan sebagai perbuatan membuka pintu kesyirikan.
e. Membangun masjid di kuburan membuka pintu syirik
Membangun masjid di kuburan termasuk tindakan ghuluw dan ini merupakan pintu syirik pula .Diriwayatkan bahwa  ketika Ummu Habibah dan Ummu Salamah menceritakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang gereja yang mereka lihat di Habasyah (Ethiopia), dan banyak gambar (patung) di dalamnya, baliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
 إن أولئك إذا كان فيهم الرجل الصالح فمات  بنوا على قبره مسجدا، وصوروا فيه تلك الصور، فأولئك شرار الخلق عند الله يوم القيامة
Mereka itu (orang Nasrani) jika ada seorang shalih yang meninggal, mereka membangun masjid di atas kuburnya, dan membuat gambar (patung)nya, mereka itu makhluk paling jelek di sisi Allah pada hari kiamat. (HR. Bukhari 427, Muslim 528).
Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani karena mereka menjadikan kubur para nabi mereka sebagai masjid, (Aisyah berkata): “Kalau bukan karena hal itu, niscaya kubur beliau akan dinampakkan, hanya saja beliau takut atau ditakutkan kuburannya akan dijadikan masjid. (HR. Bukhari 435)
Dalam redaksi lain beliau mengatakan:
Camkan, sesungguhnya aku melarang perbuatan itu. (HR. Muslim 532).
Beberapa hadits di atas menunjukkan bahwa membangun masjid di kubur atau mengubur mayit dalam masjid adalah dilarang karena termasuk tindakan kelewat batas. Selain itu, bisa menyeret kepada kesyirikan. Sebab orang yang shalat di dalam masjid tersebut akan menghadap kepada kubur, adanya ta’aluq (keterkaitan) hati dengan mereka dan akhirnya beribadah kepada penghuni kubur dengan minta berkah, syafaat dan lain sebagainya. Imam Qurthubi mengatakan: “Semua (larangan) itu bertujuan memutus jalan menuju peribadatan kepada penghuni kubur, sebab larangan ini sama halnya dengan sebab dilarangnya membuat patung orang-orang shalih karena akhirnya patung itu juga diibadahi.” (Lihat Fathul Majid, hal. 277)
Imam Syafi’i berkata: “Saya benci bila ada makhluk yang diagungkan hingga kuburnya dijadikan sebagai masjid. Sebab ditakutkan akan terjadi fitnah yang menimpa pelakunya juga orang-orang sesudahnya.” (al-Majmu’ Syarh Muhadzdzab, 1/456)
Maksud menjadikan masjid di sini tidak sebatas membangun masjid tetapi mencakup mendirikan shalat di kubur walaupun tidak ada masjidnya, sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
سنن أبي داوود ١٧٤٦: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ قَرَأْتُ عَلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نَافِعٍ أَخْبَرَنِي ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قُبُورًا وَلَا تَجْعَلُوا قَبْرِي عِيدًا وَصَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ تَبْلُغُنِي حَيْثُ كُنْتُمْ
Sunan Abu Daud 1746: dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan (tidak pernah dilaksanakan di dalamnya shalat dan juga tidak pernah dikumandangkan ayat-ayat Al Quran, sehingga seperti kuburan), dan jangan kalian jadikan kuburanku sebagai 'id (hari raya, yakni tempat yang selalu dikunjungi dan didatangi pada setiap waktu dan saat), bershalawatlah kepadaku, sesungguhnya shalawat kalian akan sampai kepadaku di manapun kalian berada."
Sabdanya pula:
Kalian jangan shalat menghadap kubur dan mendudukinya. (HR. Muslim 1614)
Imam al-Albani menyimpulkan: “Makna menjadikan kubur sebagai masjid ada tiga:
1. Shalat di atas kubur, yaitu sujud di atasnya.
2. Sujud dengan menghadap kubur, baik dengan melakukan shalat atau berdo’a.
3. Membangun masjid di atas kubur dan shalat di dalamnya.” (Tahdzirus Sajid Liman Itakhadza al-Kubura Masajida, hal. 33)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: “Peringatan dari beliau dan laknat terhadap penyerupaan kepada ahli kitab di dalam membangun masjid di atas kubur orang shalih merupakan larangan yang sangat gamblang dari penyerupaan dalam masalah ini dan merupakan dalil agar waspada dari perbuatan mereka. Karena tidak ada jaminan bahwa seluruh perbuatan orang muslim tidak akan sama dengan mereka. Dan sudah diketahui bahwa umat ini telah tertimpa musibah ini berupa pembangunan masjid di atas kubur dan menjadikan masjid tempat shalat meski tidak dibangun masjid.” (Iqtidho Sirothol Mustaqim, 1/335).
Imam al-Albani mengatakan: “Sesungguhnya setiap orang yang mencermati semua hadits yang mulia tadi akan jelas baginya, tiada keraguan lagi bahwa menjadikan kuburan sebagai masjid adalah haram, bahkan termasuk dosa besar yang paling besar, sebab adanya laknat dan disifatinya orang yang melakukan perbuatan tersebut sebagai makhluk yang terjelek di sisi Allah, tidaklah mungkin kecuali bagi orang yang melakukan dosa besar. Hal ini tidak samar lagi.” (Tahdzirus Sajid, hal. 33)
g. Menjadikan akhli kubur ( mayit ) perantara kepada Allah ( bertawasul) termasuk  pintu masuk  syirik
Sudah menjadi kebiasaan bagi sebagian orang-orang Muslim dalam memanjatkan doa mereka bertwasul dengan menyebutkan para wali, ulama dan orang-orang shalih yang sudah meninggal sebagai perantara kepada Allah subhanahu wa ta’ala.Padahal bertawasul kepada orang-orang yang sudah meninggal tidak dibenarkan dan terlarang dalam Islam, termasuk bertawasul kepada Rasullullah shallaahu’alaihi wa sallam yang sudah tiada, apalagi bertawasul kepada selain beliau.
Sementara orang membolehkan bertawasul dengan orang-orang shalih yang telah mati, baik para Nabi atau selainnya, dengan anggapan mereka kuasa memfasilitasi permintaan mereka kepada Allah. Anggapan ini muncul  didasari keyakinan bahwa mereka adalah wali Allah sehingga dekat dengan Allah, niscaya permintaan mereka lebih mungkin terkabul. Memang tidak sekedar itu argumen mereka. Banyak ayat dan hadits yang disodorkan untuk menguatkan pendapat mereka. Namun ternyata dalil-dalil tersebut kalau tidak dha’if, salah dalam istidlal (penyimpulan dalil) atau dalil tersebut tidak ada hubungannya dengan tawasul. Tawasul semacam ini termasuk bid’ah. Tetapi bila mereka meyakini bahwa orang shalih tersebut mampu dengan sendirinya mengabulkan permintaan mereka maka digolongkan ke dalam kesyirikan. Anehnya mereka menamakannya sebagai tawasul. (Lihat Al-Furqon edisi 10 Th. II, lihat juga kitab at-Tawasul oleh Imam al-Albani dan at-Tawashul ila Haqiqatit Tawasuloleh Syaikh Muhammad Nashib Rifa’i).
Karena terlarangnya bertawasul kepada orang yang telah mati, maka disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa dizaman khalifah ‘Umar bin Khaththab terjadi kemarau panjang maka beliau meminta hujan dengan berwasilah ( bertawasul ) melalui ‘Abbas bin ‘Abdul Muthalib paman Rasullullah shallallahu’alaihi wa sallam , karena pada saat tersebut Rasullullah shallallahu’alai wa sallam telah wafat. Sesuai dengan hadits riwayat Bukhari :
صحيح البخاري ٣٤٣٤: حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيُّ حَدَّثَنِي أَبِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُثَنَّى عَنْ ثُمَامَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ كَانَ إِذَا قَحَطُوا اسْتَسْقَى بِالْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَسْقِينَا وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا قَالَ فَيُسْقَوْنَ
Shahih Bukhari 3434: dari Anas radliallahu 'anhu bahwa 'Umar bin Al Khaththab ketika mereka ditimpa musibah kekeringan dia meminta hujan dengan berwasilah kepada 'Abbas bin 'Abdul Muththalib seraya berdo'a; "ALLOOHUMMA INNAA KUNNA NATAWASSALU ILAIKA BIN ABIYYINAA MUHAMMAD SHALLALLAHU'ALAIHIWASALLAM FATASQIINAA WA-INNAA NATAWASSALU ILAIKA BI'AMMI NABIYYINAA FASQINAA" Ya Allah, kami dahulu pernah meminta hujan kepada-Mu dengan perantaraan Nabi kami kemudian Engkau menurunkan hujan kepada kami. Maka sekarang kami memohon kepada-Mu dengan perantaraan paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan untuk kami". Anas berkata; "Kemudian turunlah hujan.
( Wallahu ‘alam)
( Bersambung ke bagian ke lima  )
1. Al-Qur’an dan Terjemahan, www.Salafi-DB.com
2. Kitab Hadits 9 Imam, www  Lidwa Pusaka .com
3.Fathul Majid ( Terjemahan ),Penjelasan Kitab Tauhid,Dyaikh Abdurrahman Hasan Alu Syaikh,Penerbit Pustaka Azzam
4.Perilaku & Akhlak Jahiliyah,Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahab At-Tamimi, penerbit Pustaka Sumayah
5.Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i
6. Ayat-ayat Larangan dan Perintah dalam Al-Qur’an KH.Qomaruddin dkk, penerbit Diponogoro
7. Ghuluw Benalu Dalam Ber-Islam Abdurrahman bin MNU’alla Al-Luwaihiq,penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i
8. Mantan Kiai NU Menggugat Sholawat & Dzikir Syirik H.Mahrus Ali, penerbit Laa Tasyuki Press
9. Bahaya Mengekor Non Muslim Muhammad bin ‘Ali Adh Dhabi’I, penerbit  Media Hidayah
10. www.Konsultasi Syariah.com
11.Artikel: www.UstadzMuslim.com
12.Artikel www.buletin muslim Or.Id
Selesai disusun, Senin,  27 Dzulhijjah 1433H/12 Nopember 2012
( Musni Japrie )

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar