Sabtu, 08 Desember 2012

BAGAIMANAKAH CARA BER-TABARRUK (MENCARI BERKAH) YANG BENAR MENURUT SYARI'AT (BAGIAN KEEMPAT)


Sebagai lanjutan dari artikel tentang Bagaimana cara ber-tabarruk (mencari berkah) yang benar sesuai syari’at , maka dalam ulasan bagian keempat ini diketengahkan cara ber-tabarruk yang lain, yaitu antara lain ber-tabarruk pada Masjid-Masjid ( Masjidil Haram, Masjidil Aqsha dan Masjid Nabawi)
F.Tabarruk di Masjid
Ada sejumlah tempat yang oleh Allah subhanahu wa ta’ala  dijadikan tempat yang mengandung banyak kebaikan (barakah). Yakni apabila beramal di tempat tersebut dengan ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam . Contohnya adalah masjid-masjid, di mana mencari barakahnya dengan melaksanakan shalat lima waktu, beri’tikaf, menghadiri majelis ilmu, dan sebagainya dengan cara-cara yang disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Perlu diketahui, bertabarruk pada masjid-masjid itu bukanlah dengan cara mengusap-ngusap tembok atau tanah masjid tersebut, atau yang hal-hal lain yang dilarang syariat.
Beberapa masjid yang mempunyai keutamaan dan keberkahan antara lain adalah masjidil Haram di Makkah, masjid Nabawi di Madinah dan masjid Aqsa di Yerussalam  Palestina.
1.Tabarruk di Masjidil Haram di Makkah
Diantara keutamaan dan keberkahan masjidil Haram yang melingkupinya  adalah :
a.Keutamaan shalat di dalamnya
أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ زَيْدِ بْنِ رَبَاحٍ وَعُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ الْأَغَرِّ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ الْأَغَرِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ
Shahih Bukhari 1116: Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Zaid bin Rabah dan 'Ubaidillah bin Abu 'Abdullah Al Ghorri dari Abu 'Abdullah Al Ghorri dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Shalat di masjidku ini nilainya seribu kali lebih baik dibandingkan pada masjid lain kecuali pada Al Masjidil Haram".
Maksudnya, satu kali shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada seratus ribu kali shalat di masjid-masjid lainnya, selain masjid Rasullullah shallallahu’alaihi wa sallam dan masjid Aqsha, sebagaimana di jelaskan dalam beberapa hadits.
Keutamaan shalat di Masjidil Haram itu tidak hanya terbatas pada shalat fardhu, akan tetapi juga meliputi shalat-shalat sunnah secara keseluruhan,menurut pendapat yang shahih. Namun perlu diketahui bahwa pelipat gandaan nilai ini hanya terkait dengan masalah pahala dan ia tidak dapat menggantikan shalat-shalat yang ditinggalkan sebelumnya.
Pahala yang semacam ini termasuk keberkahan terbesar yang Allah berikan kepada Majidil Haram sebagai bwentuk pemuliaan.
b.Keutamaan amal-amal shalih yang dilakukan di dalamnya
Diantaranya adalah melakukan thawaf disekeliling ka’bah, ada beberapa hadits yang diriwayatkan dalam sebagian kitab sunan yang menunjukkan besarnya keutamaan thawaf dan ajujran agar memperbanyaknya.Thawaf itu sendiri membuat Masjidil Haram menjadi istimewa.Dimana keistimewaan tersebut adalah diperbolehkannya melakukan thawaf dan shalat pada setiap waktu. Sebagaimana hadits Rasullullah shallallahu’alaihi wa sallam :
سنن الترمذي ٧٩٥: حَدَّثَنَا أَبُو عَمَّارٍ وَعَلِيُّ بْنُ خَشْرَمٍ قَالَا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بَابَاهَ عَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ لَا تَمْنَعُوا أَحَدًا طَافَ بِهَذَا الْبَيْتِ وَصَلَّى أَيَّةَ سَاعَةٍ شَاءَ مِنْ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ
وَفِي الْبَاب عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ وَأَبِي ذَرٍّ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ جُبَيْرٍ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَقَدْ رَوَاهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي نَجِيحٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بَابَاهَ أَيْضًا وَقَدْ اخْتَلَفَ أَهْلُ الْعِلْمِ فِي الصَّلَاةِ بَعْدَ الْعَصْرِ وَبَعْدَ الصُّبْحِ بِمَكَّةَ فَقَالَ بَعْضُهُمْ لَا بَأْسَ بِالصَّلَاةِ وَالطَّوَافِ بَعْدَ الْعَصْرِ وَبَعْدَ الصُّبْحِ وَهُوَ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ وَإِسْحَقَ وَاحْتَجُّوا بِحَدِيثِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذَا و قَالَ بَعْضُهُمْ إِذَا طَافَ بَعْدَ الْعَصْرِ لَمْ يُصَلِّ حَتَّى تَغْرُبَ الشَّمْسُ وَكَذَلِكَ إِنْ طَافَ بَعْدَ صَلَاةِ الصُّبْحِ أَيْضًا لَمْ يُصَلِّ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ وَاحْتَجُّوا بِحَدِيثِ عُمَرَ أَنَّهُ طَافَ بَعْدَ صَلَاةِ الصُّبْحِ فَلَمْ يُصَلِّ وَخَرَجَ مِنْ مَكَّةَ حَتَّى نَزَلَ بِذِي طُوًى فَصَلَّى بَعْدَ مَا طَلَعَتْ الشَّمْسُ وَهُوَ قَوْلُ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ وَمَالِكِ بْنِ أَنَسٍ
Sunan Tirmidzi 795: dari Jubair bin Muth'im berkata; "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Wahai Bani Abdu Manaf, janganlah kalian melarang orang yang thowaf dan shalat di Ka'bah kapanpun dia suka, baik malam ataupun siang'."
c. Masjid yang pertama kali dibangun di muka bumi
Masjidil Haram memiliki keutamaan dan keberkahan karena masjid inilah yang pertama kali dibangun di atas muka bumi.
 Hal ini ditegaskan dalam firman Allah subhanahuwa ta’ala :
Allah ta’ala berfirman :
إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِّلْعَالَمِينَ
Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia
(QS. Ali Imran : 96 )
Selain itu juga diriwayatkan dalam  sebuah hadits Rasullullah shallallahu’alaihi wa sallam :
صحيح البخاري ٣١١٥: حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ التَّيْمِيُّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قُلْتُ
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ مَسْجِدٍ وُضِعَ فِي الْأَرْضِ أَوَّلَ قَالَ الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْمَسْجِدُ الْأَقْصَى قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَهُمَا قَالَ أَرْبَعُونَ سَنَةً ثُمَّ أَيْنَمَا أَدْرَكَتْكَ الصَّلَاةُ بَعْدُ فَصَلِّهْ فَإِنَّ الْفَضْلَ فِيهِ
Shahih Bukhari 3115: Abu Dzarr radliallahu 'anhu berkata; "Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, masjid apakah yang pertama di bangun di muka bumi ini?". Beliau menjawab: "al-Masjidil Haram". Dia berkata, aku tanya lagi; "Kemudian apa?". Beliau menjawab: "al-Masjidil Aqshaa". Aku bertanya lagi; "Berapa lama selang waktu antara keduanya?". Beliau menjawab: "Empat puluh tahun. Kemudian dimana saja kamu berada dan waktu shalat sudah datang maka shalatlah, karena didalamnya ada keutamaan".
d. Ditekankannya Mengadakan Perjalanan Jauh ( safar) menuju Masjidil Haram
Syari’at melarang kepada umat Islam untuk melakukan perjalanan jauh ( safar) khusus untuk mendatangi(ziarah) dalam rangka melakukan ibadah ke masjid-masjid, kecuali bersafar ke Masjidil Haram dan Aqsha. Menyengaja melakukan perjalanan jauh untuk berziarah dalam rangka beribadah ke Masjidil Haram diperbolehkan , hal ini menunjukkan adanya keutamaan dan keberkahan pada masjid tersebut, ini  ditegaskan dalam hadits riwayat Imam Bukhari dalam  sebuah hadits :
صحيح البخاري ١١١٥: حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ أَخْبَرَنِي عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عُمَيْرٍ عَنْ قَزَعَةَ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا سَعِيدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَرْبَعًا قَالَ سَمِعْتُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ غَزَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ غَزْوَةً ح حَدَّثَنَا عَلِيٌّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى
Shahih Bukhari 1115: dari Qaza'ah berkata; Aku mendengar Abu Sa'id radliallahu 'anhu empat kali, berkata; Aku mendengar dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Dia (Abu Sa'id radliallahu 'anhu) pernah ikut berperang bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sebanyak dua belas kali peperangan. Dan diriwayatkan, telah menceritakan kepada kami 'Ali telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhriy dari Sa'id dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah ditekankan untuk berziarah kecuali untuk mengunjungi tiga masjid, Masjidil Haram, Masjid Rasul shallallahu 'alaihi wasallam dan Masjidil Aqsha".
Ibnul Qaiyim rahimahullah dalam Zaadul Ma’ad menyebutkan bahwa mengadaklan perjalanan  menuju Masjidil Haram hukumnya fardhu ( maksudnyan untuk tujuan haji dan umrah bagi siapa yang mampu ) sedangkan untuk selainnya adalah sunnah, bukan wajib ( yaitu untuk kedua masjid lainnya, Masjidil Aqsha dan Masjid Nabawi).
Selain beberapa keutamaan dan keberkahan Masjidil Haram sebagaimana dikemukakan diatas , keutamaaan dan keberkahan Masjidil Haram lainnya adalah merupakan tempat terbaik dimuka bumi.
Dari dalil-dalil yang diangkat dalam ulasan diatas, maka sangatlah dianjurkan untuk mencari barakah ( tabarruk) dengan mendatangi Masjidil Haram dan beribadah di dalamnya dengan ibadah-ibadah yang di syari’atkan dan tidak melakukan perbuatan bid’ah.
2.Tabarruk Masjid Nabawi di Madinah
Diantara keberkahan dan keutamaan masjid Nabawi ini antara lain adalah :
a.Keutamaan shalat di dalamnya
Shalat di masjid utama mempunyai keutamaan yang lebih besar dibanding dengan shalat di masjid-masjid lainnya,m kecuali shalat di Masjidil Haram, karena apabila  shalat di Masjid Nabawi ini nilainya adalah seribu kali maka shalat di masjid lain hanya mempunyai nilai 1. Sedangkan kalau shalat di Masjidil Haram nilainya seratus kali dibanding dengan nilai shalat di Masjid Nabawi. Atau sama dengan 100.000 kali dibanding bila shalat di Masjid-masjid lainnya.
Keutamaan shalat di Masjid Nabawi ini disebutkan oleh hadits Rasullullah shallallahu’alaihi wa sallam :
صحيح مسلم ٢٤٦٩: حَدَّثَنِي عَمْرٌو النَّاقِدُ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَاللَّفْظُ لِعَمْرٍو قَالَا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
يَبْلُغُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ
Shahih Muslim 2469: dari Abu Hurairah dan sampai kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: "Shalat di masjidku ini, lebih baik daripada seribu shalat di tempat lain, kecuali di Masjidil Haram."
b. Keutamaan ruang yang terletak diantara bekas rumah dan mimbar Rasullullah Shallallahu’alaihi wa sallam
Hal ini disebutkan oleh beliau shallallahu’alaihi wa sallam dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim :
صحيح البخاري ١١٢٠: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ عَنْ عَبَّادِ بْنِ تَمِيمٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدٍ الْمَازِنِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا بَيْنَ بَيْتِي وَمِنْبَرِي رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ
Shahih Bukhari 1120: dari 'Abdullah bin Zaid Al Maaziniy radliallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tempat yang ada diantara rumahku dan mimbarku adalah raudhah (taman) diantara taman-taman surga".
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah  dalam Fathul Barri  menerangkan bahwa maksudnya, seperti taman Surga dalam hal turunnya rahmat dan perolehan kebahagiaan yang dihasilkan dari mulazamah (selalu hadir) pada halaqah-halaqah dzikir, terutama pada masa beliau shallallahu’alaihi wa sallam. Sehingga, sabda beliau itu merupakan perumpamaan tanpa menggunakan kata bantu ( yaitu seperti). Atau maknanya adalah mengerjalan ibadah di dalamnya mengantarkan ke Surga. Sehingga sabda beliau tersebut merupakan majaz ( kiasan) atau memang zhahirnya demikian, maksudnya bahwa ruang itu merupakan dalam artian taman yang hakiki ( sebenarnya), yaitu dengan beralihnya tempat tersebut kelak di akhirat ( Surga ).
c.Diperbolehkannya melakukan perjalanan (safar) ibadah kesana
 Yang termasuk sebagai keutamaan dan keberkahan dari masjid Nabawi, adalah sebagaimana juga keutamaan dan keberkahan Masjidil Haram, yaitu diperbolehkannya orang-orang untuk melakukan perjalanan jauh ( safar) untuk ziarah ibadah, padahal untuk berziarah ketempat-tempat lain tidak diperkenankan. Tentang hal ini diksebutkan dalam hadits dasri riwayat Imam Bukhari :
صحيح البخاري ١١١٥: حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ أَخْبَرَنِي عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عُمَيْرٍ عَنْ قَزَعَةَ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا سَعِيدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَرْبَعًا قَالَ سَمِعْتُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ غَزَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ غَزْوَةً ح حَدَّثَنَا عَلِيٌّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى
Shahih Bukhari 1115: dari Qaza'ah berkata; Aku mendengar Abu Sa'id radliallahu 'anhu empat kali, berkata; Aku mendengar dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Dia (Abu Sa'id radliallahu 'anhu) pernah ikut berperang bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sebanyak dua belas kali peperangan. Dan diriwayatkan, telah menceritakan kepada kami 'Ali telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhriy dari Sa'id dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah ditekankan untuk berziarah kecuali untuk mengunjungi tiga masjid, Masjidil Haram, Masjid Rasul shallallahu 'alaihi wasallam dan Masjidil Aqsha".
Mengingat bahwa masjid Nabawi sebagaimana juga Masjidil Haram mempunyai keutamaan dan keberkahan, maka keutamaan dan keberkahan tersebut hanya dapat diperoleh oleh orang-orang yang melakukan ibadah yang disyari’atkan  yaitu sesuai petunjuk dari Rasullullah shallallahu’alaihi wa sallam.
3.Tabarruk di Masjidil Aqsha di Palestina
Masjid ibni memiliki banyak keutamaan dan keberkahan, yang diantaranya adalah :
a.Keutamaan dan berlipat gandanya pahala shalat di dalammnya.
Mengenai besarnya pahala shalat di dalamnya ada beberapa perbedaan dari riwayat hadits . Ada yang menyebutkan bahwa melakukan shalat di dalamnya sama dengan lima ratus kali shalat, dan ada pula  yang meriwayatkan bahwa shalat di dalamnya sama dengan seribu kali shalat.
b.Disunnahkan menziarahinya
 Sebagaimana menziarhi Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, maka melakukan perjalanan jauh (safar) ke Masjidil Aqsha dalam rangka ibadah yang disyari’atkan ( shalat, berdoa, berdzikir,membaca al-Qur’an dan berii’tikaf)  termasuk yang disunnahkan.Sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini :
صحيح البخاري ١١١٥: حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ أَخْبَرَنِي عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عُمَيْرٍ عَنْ قَزَعَةَ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا سَعِيدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَرْبَعًا قَالَ سَمِعْتُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ غَزَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ غَزْوَةً ح حَدَّثَنَا عَلِيٌّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى
Shahih Bukhari 1115: dari Qaza'ah berkata; Aku mendengar Abu Sa'id radliallahu 'anhu empat kali, berkata; Aku mendengar dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Dia (Abu Sa'id radliallahu 'anhu) pernah ikut berperang bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sebanyak dua belas kali peperangan. Dan diriwayatkan, telah menceritakan kepada kami 'Ali telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhriy dari Sa'id dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah ditekankan untuk berziarah kecuali untuk mengunjungi tiga masjid, Masjidil Haram, Masjid Rasul shallallahu 'alaihi wasallam dan Masjidil Aqsha".
c. Adanya keberkahan disekeliling Masjidil Aqsha
Disekeliling Masjidil Aqsha diberkahi oleh Allah subhanahu wa ta’ala sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya :
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya [847] agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.( QS. Al-Israa’:1)
 K e t e r a n g a n :
[847] Maksudnya: Al Masjidil Aqsha dan daerah-daerah sekitarnya dapat berkat dari Allah dengan diturunkan nabi-nabi di negeri itu dan kesuburan tanahnya.
d. Masjid kedua yang dibangun di muka bumi setelah Masjidil Haram
Masjidil Aqsha adalah masjid kedua yang dibangun sesudah Masjidil Haram dalam rentang waktu empat puluh tahun. Hal ini ditegaskan dalam sebuah hadits Rasullullah shallallahu’alaihi wa sallam :
صحيح البخاري ٣١١٥: حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ التَّيْمِيُّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قُلْتُ
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ مَسْجِدٍ وُضِعَ فِي الْأَرْضِ أَوَّلَ قَالَ الْمَسْجِدُ الْحَرَامُ قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْمَسْجِدُ الْأَقْصَى قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَهُمَا قَالَ أَرْبَعُونَ سَنَةً ثُمَّ أَيْنَمَا أَدْرَكَتْكَ الصَّلَاةُ بَعْدُ فَصَلِّهْ فَإِنَّ الْفَضْلَ فِيهِ
Shahih Bukhari 3115: Abu Dzarr radliallahu 'anhu berkata; "Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, masjid apakah yang pertama di bangun di muka bumi ini?". Beliau menjawab: "al-Masjidil Haram". Dia berkata, aku tanya lagi; "Kemudian apa?". Beliau menjawab: "al-Masjidil Aqshaa". Aku bertanya lagi; "Berapa lama selang waktu antara keduanya?". Beliau menjawab: "Empat puluh tahun. Kemudian dimana saja kamu berada dan waktu shalat sudah datang maka shalatlah, karena didalamnya ada keutamaan".
5.Rasullullah shallallahu’alahi wa sallam di isra’kannya ke Masjidil Aqsha.
Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam al-Qur’an surah al-Israa’ ayat 1 bahwasanya Rasullullah shallallahu’alaihi wa sallam telah di isra’kan ( diperjalankan ) dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Kemudian dari masjid ini pula beliau shallallahu’alaihi wa sallam di mi’raj-kan
Untuk memperoleh keberkahan yang disandang oleh Masjidil Aqsha, maka untuk itu sangatlah dianjurkan melakukan berbagai ibadah di dalamnya seperti shalat ( fardhu maupun sunnah), berdoa, berdzikir, membaca al-Qur’an dan ber’itika
( Insya Allah ta’ala bersambung ke bagian kelima)
Sumber :
1.Al-Qur’an dan Terjemah , www.salafi-Db.com
2.Ensiklopedi Hadits Kitab 9 Imaam ,www.Lidwa Pusaka.com
3.Tabarruk Memburu Berkah ( Terjemahan),DR. Nashir bin ‘Abdurrahman bin Muhammad al-Judai’
 4.Artikel www.Pengusaha Muslim .com
 5.Artikel www.muslim.or.id
6. Artikel www. AsySyariah com
7.Artikel www.rumaysho.com
Selesai disusun, menjelang Dzuhur, Selasa ,20 Muharram 1434H,4 Desember 2012
. ( Musni Japrie )

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar