Selasa, 25 Mei 2010

BANGGA DENGAN DOSA

oLEH : Musni Japrie al- Pasery
Naskah ini sudah pernah diangkat dalam Surat Kabar Harian Manuntung ( sekarang
KaltimPost , edisi Sabtu 30 Agustus l977 ). Karena isuenya masih sangat relevan
dengan kondisi sekarang, maka penulis memandang tidak ada salahnya untuk diangkat
kembali dalam blog ini .

SUATU KEBANGGAAN
Beberapa waktu yang lalu saya bepergian untuk suatu keperluan ke pedalaman Mahakam dengan menumpang kapal motor . Sesuai dengan kondisi kapal penumpang yang beroperasi di sepanjang sungai Mahakam para penumpang ditempatkan diats dek layaknya penumpang klas ekonomi pada kapal Pelni yang melayahi angkutan penumpang dari pelabuhan ke pelabuhan lain diseluruh Indonesia. Sepanjang perjalanan yang memakan waktu selama kurang lebih 18 jam perjalanan dari pelabuhan Samarinda ke tempat yang dituju, kegiatan yang dilakukan oleh penumpang selain tidur atau tidur-tiduran atau juga yang mengisi waktunya yang berbincang-bincang dan mengobrol sesama penumpang atau dengan teman seperjalanan.

Pada suatu saat menjelang tengah dimana sebagian besar penumpang kapal telah tertidu nyenyak, saya meliohat ada sejelompok orang yang terdiri 5 sampai 6 orang pria berbagai tingkat umur namun rata-rata sudah dewasa , asyik berbincang dengan suara cukup keras sambil sekali -kali tertawa terbahak-bahak sehingga terdengar secara jelas oleh penumpang lainnya meskipun diselengi oleh gemuruh suara mesin kapal.

Topik pembicaraan yang mereka obrolkan berbagai ragam dan yang paling menarik kedengarannya adalah pengalaman masing-masing dalam hal seks dan pelampiasan nafsu libidonya kepada wanita kaum pelacur dan penjaja cinta.

Beberapa orang saya dengar menceritakan bagaimana mereka berpengalaman hampir pada semua tempat hiburan malam yang dijadikan wadah bursa seks baik di kompleks dan rumah pelacuran, diskotik , rumah bilyard , karaoke, yang ada dikota-koya di Kalimantan Timur atau kota-kota lain di Indonesia yang pernah mereka kunjungi.
Bagaimana mereka berkenalan ,kemudian membuat janji dan dilanjutkan dengan kencan di kamar hotel atau losmen losmen serta sekian ratus ribu duit yang dikeluarkan sebagai imbalan kenikmatan yang diperolehnya ,dan ada yang nyeletuk tidak rugi mengeluarkan sejumlah uang meskipun besar tetapi sesuai dengan service yang diberikan oleh di pelacur.
Sementara yang lainnya saya dengar secara mencuri-curi berkisah tentang cerita seronok . Saya sempat melirik kepada mereka yang ngobrol tsb salah seorang diantaranya ada yang sudah berambut dua warna ( beruban ) , situa bangka tsb bercerita bagaimana dia berupaya mencari mangsanya daun muda atau anak baru gde ( abg) yang masih berbau kencur dan masih mengenakan seragam sekolahnya yang berhasil dikencananinya. Sepertinya saya dengar mereka saling berebut untuk bercerita berbagi pengalaman karena kuatir apabila tidak kebagian waktu untuk menceritakan pengalaman pribadi mereka berbuat mesum dengan samasekali merasa malu dan risih terhadap penumpang lainnya yang mereka anggap mungkin sudah terlelap dalam tidur mereka serta tidak mendengar perbincangan mereka dengan suara yang dapat terdengar oleh seluruh penumpang kecil. Atau mungkin saja mereka secara sengaja memperdengarkannya kepada semua orang betapa mereka sesungguhnya mempunyai kebanggaan dalam melakukan kemaksiatan.

Saya yang sejak awal mendengarkan serta mengikuti perbincangan mereka secara mencuri-curi merasa gusardalamhati . Dalamhati saya berkata ,betapa mereka tersebut tidak merasa malu dan sungkan bercerita tentang dosa yang telah mereka kerjakan. Mereka sama sekali tidak mempunyai tenggang rasa terhadap penumpang wanita yang ada disekitar mereka dalam kapal, dimana kaum mereka ( wanita ) telah dijadikan obyek pelecehan seks dan pelampiasan hawa nafsu angkara mereka.

Selanjutnya seolah mereka tersebut ingin menepuk dada , menantang dan berkata : " ini lho kami laki-laki yang berkemampuan melakukan dan menikmati perbuatan dosa tanpa beban ".
Mereka banggdga telah berbuat dosa, sebagaimana bait syair dari lagunya Ebit yang sempat top hit beberapa waktu yang lalu.
Seharusnya yang patut ditonjolkan dan dibaggakan adalah prestasi dari keberhasilan yang mampu dicapai melebihi kemampuan orang lain, seperti dibidang olah raga. Namun karena mereka memang tidak mempunyai prestasi sebagai suatu kebanggan maka perbuatan maksiatlah yang jadi suatu kebanggan mereka.

TIDAK BERMALU

Menurut kamus Bahasa Indonesia Kontemporer malu mempunyai pengertian antara lain merasa rendah diri karena melakukan kesalahan atau berbuat yang tidak benar , mempunyai kekuran dan sebagainya.
Dari pengertian malu tsb maka apabila seseorang yang jelas-pjelas telah melakukan kesalahan , berbuat yang tidakbenar dan hina tetap;i sama sekali tidak merasa bahwa ia telah melakukan kesalahan , merfasa berbuat benar padahal apayang dibuat tida benar, tentu sepatutnya digolongkan kedalam kelompok orang-orang yqang tidak mempunyai malu.

Menceritakan aib yang telah dia lakukan sebagaimana yang dilakukan oleh mereka penumpang kapal seperti yang diceritakan tsb diatas ,kepada banyak orang secara terbuka, menunnjukkan kerendahan pribadinya yang tidak bermalu. Dan nantinya mereka di akhitar tidak akan selamat sebagaimana yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dan Muslim dal hadits yang maksudnya sbb : " Abu Hurairah berkata " Saya telah mendengar Rasullullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda : Semua umatku selamat , kecuali yang terang-terangan berbuat dosa . Dan termasuk dari mujaharah ( terang-terangan ) yaitu seorang berbuat dosa di waktu gelap, mendadak pagi -pagi diceritakan pada lain orang , padahal semalam Allah menutupinya, tetapi pagi-pagi ia membuka yang ditutupi Allah."
Dari hadits tsb diatad nyata-nyta disebutkan bahwa seorang yang bercerita semalamtelah berbuat ini itu dan itu termasuk orang yang tidak selamat.
Dalam sebuah hadits lainyang diriwayatkan oleh Imam Muslim , menyebutkan Abu Sai;idAl Hudry radyallahu anhu berkata : Rasullullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam b ersabda : " serendah-rendahnya manusia di sisi Allah p;ada hari qiamat ialah suami isteri yang bersetubuh kemudian menyiarkannya apa yang terjadi antara keduanya, yakni yang terjadi dalam persetubuhan."
Dari hadits diatas secara aksioma dapat ditarik garis kesimpulan bahwa jangankan menceritakan perbuatan zinah yang benar-benar terlarang , menceritakan persetubuhan dengan isteri sendiri saja tidak dibenarkan oleh Allah Ta'ala.

Dewasa ini dalam kehidupan keseharian di masyrakat telah terjadi kecendrungan banyak orang yang menganggap sesuatu yang diharamkan apabila dilanggar bukanl;ah pekerjaan yang melanggar rambu-rambu yang diatur dalam agama , sebagaimana seringnya rambu-rambu lalu lintas dilanggar tanpa menghiraukan akan adanya tilang. Pelanggaran hukum Allah dianggap biasa biasa saja sebagaimana melanggar rambu-rambu lalu lintas.

Sebagai contoh pelanggaran aturan agama yang secara terang-terangan dilakukan oleh sementara kaum wanita dimana saja dan kapan saja kita jumpai mereka bertelanjang meskipun sebenarnya m,ereka berpakaian, tetapi membiarkan auratnya terbuka menjadi tontonan yang dapat membangkikan selera rendah laki-laki. Apabila yang mengenakan gadis remaja berpaha montok tidaklah begitu menggelikan tetapi bila yang mengenakannya sudah nenek-nenek maka akan menjadi tontonan dan cemohan karena pahanya kerempeng.

Di banyak tempat secara terbuka kaum laki-laki dan mawita yang bukan mahram duduk-duduk ditaman bermesraan tanpa risih dan merasa tidak terganggu dengan hilir mudiknyab orang banyak. Rumah-rumah hiburan berupa diskotik dan karaoke penuh sesak dijejali laku-laki dan perempuan tanpa merasa malu yang dilakukan secara sadar tidak lain dalam rangka melampiaskan dan memuaskan hawa nafsu syetan.

Dimana saja dan kapan saja selalu dijumpai warung-warung kecil yang berjejer diwaktu malam menual secara bebas minuman keras dan semua itu disediakan bagi anak-anak muda untuk mabuk-mabukkan. Begitu juga dipinggir jalan dan di lorong lorongh anak-anak muda dengan bangganya menunjukkan perbuatannya meminum minuman yang diharamkan dan kemudian mengganggu orang-orang berlalu lalang.
Mereka-mereka tsb telah kehilangan rasa malu dari dalamdirinya, sehingga membanggakan perbuatan mungkarnya untuk dijadikabn tontonan gratis . Rasa malunya kepada Allah saja telah hilang apalagi rasa malunya kepada manusia.

MEMBUDAYAKAN RASA MALU

Hilangnya rasa malu dalam diri seseorang menjadikan seseorang lupa diri dan bahkan berbangga diri atas pengumbaran hawa nafsu , sedangkan dilain pihak mengumbarkan hawa nafsu berarti mengumbarkan dirinya untuk mengeyam kebinasaan hidup.Dan kehidupan ini bila
dikemudikan oleh hawa nafsu tentu hidup dan kehidupan ini akan mengalami kehinaan, kemerosotan akhlak (dekadensi moral) bahkan jauh dari kasih sayang Allah.

Hidup dengan mengumb ar hawa nafsu dengan melampiaskannya kepada pekerjaan maksiat sebagi gejolak dari tidak adanya imam, maka sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dan muslim ; Nabi Shallalahu 'alaihi wa Sallam berkata : " bahwa semasih kuatnya iman seseorang, tidaklah ia mau berzinah. Maka apabila seseorang berzinah , berarti pada masa itu tidak sempurna imannya, atau tidakk kuat lagi iumam,nya. "

Untuk dapat mengembalikan iman seseorang kedalamhatinya salah satu terobosan yang perlu dilakukan adalah mengembalikan rasa malu yaqng selama ini telah hilang. Karena sebagaimana hadits Rasullulah shallalahu 'alaihi wa sallam : " Rasa malu adalah cabang dari iman " ( HR Bukhari dan Muslim ).

Malu pada diri sendiri akan membuahkan malu pada sesama manusia yang pada giliorannya membuahkan malu pada Allah, dengan dimkiliknya malumaka sifat atau perasaan yang menimbulkan keengganan sesuatu perbuatan yang rendah atau kurang sopan akan lahir dengan sendirinya.

Membudayakan atau membiasakan rasa malu dalam kehidupan sehari-hari memerlukan latihansecra kontinyu dan terus menerus dalamseluruh sikap dan tindask tanduk , latihan yang diperlukan ialah dengan membiasakan diri untuk tidak melakukan dan menjauhi pekerjaan serta hal-hal yang dianggap bertentangan dengan norma-norma agama. Bergaulah dengan orang-orang yang dapat mengajak kepada kebaikan dan ikuti majelis ilmu ( pengajian )
Melakukan pendekatan diri melalui sholat adalah upaya terpenting yang harus dilakukan karena sholat mencegah dari perbuata munkar.

Tanyakanlah kepada diri sendiri sebelum berbuat sesuatu apakah bertentangan dengan kebiasaan , agama, dan lain-lain, sehingga tidak akan terjadi kesalahan dalambnertindak.
Rasa malu adalah penangkal untuk tidak melakukan ha-hal yang sekecil apapun namun bertentangan dengan rambu-rambu kehidupan yangb telah digariskan oleh agama, karena dengan adnya rasamalu seseorang merasa bahwa gerak geriknya selalu dalam pengawasan Allah Ta'ala yang Maha Tahu.
Selain itu yang terpenting pula bagi setiap muslim untuk mengetahui sampai sekecil apapun tentang hal-hal yang dibolehkan dan yang dilarang dalam islam. Wallaahu Ta'ala a'lam.

Bahan bacaan : 1. Shahih Bukhari
2. Shahih Mujslim
3. Terjemahan Kitab Riadhus Sholihin jld I.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar