Jumat, 22 Juli 2016

BERTAUHIDLAH SECARA BENAR, JANGAN DICAMPUR ADUKKAN DENGAN RITUAL TRADISI BUDAYA SYRIK WARISAN LELUHUR


Sebagaimana diketahui dari catatan sejarah, bahwa nenek moyang bangsa Indonesia yang hidup di dalam zaman jahiliyah samasekali tidak memiliki pengetahuan tentang agama samawi .  Mereka memeluk kepercayaan yang dikenal dengan nama animisme dan dinamisme.Kemudian setelah berkuasanya raja-raja dan masuknya agama Budha dan Hindu mereka beralih memeluk agama tersebut sampai masuknya Islam ketanah air ini.
Semestinya dengan dijadikannya Islam sebagai agama tauhid yang mengesakan Allah subhanahu wa ta’ala  maka segala bentuk kepercayaan dan keyakinan yang ada sebelumnya  baik kepercayaan animisme, dinamisme, Budha dan Hindu telah ditinggalkan, begitu pula segala bentuk tradisi yang bertentangan dengan tauhid.
Meskipun Islam telah dijadikan pegangan oleh sebagian terbesar oleh masyarakat dinegeri ini, namun sangat disayangkan ternyata dibanyak tempat oleh mereka-mereka baik yang hidup di daerah pesisir mapun pegungungan, baik yang tinggal dipelosok-pelosok sampai yang ada dikota-kota tradisi dan adat kepercayaan dari zaman jahiliyah ( animisme dan dinamisme) masih banyak yang mewarnai kehidupan keseharian mereka.
Betapa banyak diantara mereka-mereka yang melaksanakan syari’at islam dalam kesehari-hariannya seperti melakukan sholat 5 waktu, berpuasa dan syari’at lainnya yang diperintahkan Islam, tetapi disamping itu juga mereka masih akrab  dan aktif pula melakukan ritual-ritual tradisi warisan budaya dari nenek moyang yang sesungguhnya sangatlah bertentangan dengan ajaran Islam.
Kepercayaan dan tradisi budaya warisan leluhur
Mempertahankan dan melestarikan kepercayaan nenek moyang dan leluhur yang hidup di abad-abad yang lampau  yang diwarisi secara turun temurun tersebut sepertinya sudah menjadi kebutuhan untuk dilakukan dalam kepentingan dan sarana meminta perlindungan dan pertolongan oleh sebagian kalangan kaum muslimin sebagaimana yang dulu dilakukan orang-orang jahiliyah yang aninisme.
Sesungguhnya banyak sekali ragam tradisi adat istiadat dan budaya yang diwarisi dari leluhur oleh berbagai ragam suku yang ada di negeri ini yang berkaitan dengan kepercayaan atau keyakinan adanya sesuatu kekuatan ghaib yang mengatur alam semesta ini. Mereka-mereka tersebut melakukan penyembahan-penyembahan  kepada para dewa-dewa, jin-jin, gunung, bebatuan, pepohonan dan apa saja yang sebenarnya termasuk makhluk yang diciptakan oleh Allah Yang Maha Pencipta. Mereka-mereka tersebut mencintai dan takut kepada apa yang disembahnya
Kepercayaan para leluhur dan nenek moyang diabat-abad lampau tersebut tidak saja terbatas kepada ruang lingkup penyembahan kepada makhluk selain Allah , tetapi sebenarnya lebih luas lagi yaitu kepercayaan kepada adanya roh-roh orang-orang sudah mati yang dapat dimintai pertolongan. Mereka juga sangat mempercayai kepada dukun-dukun dan tukang sihir, mempercayai keampuhan jimat-jimat, mempercayai adanya kesialan, mempercayai bahwa benda-benda mati mempunyai roh yang dapat mendatangkan kemudharatan dan kebaikan, melakukan penyembelihan hewan sebagai korban dan tumbal.
Kepercayaan kepada adanya kekuatan gaib selain Allah tersebut  diaplikasikan dengan melakukan berbagai ritual-ritual adat yang terkait dengan kepercayaan mereka seperti ritual tolak bala dan memberikan sesajen , tepung tawar dan banyak ritual-ritual lainnya lagi yang menunjukkan keterikatan mereka dengan roh-roh dan jin. Apa saja bagian dari kehidupan manusia sejak dari dalam kandungan hingga matinya tidak pernah lepas dari berbagai ritual yang sebenarnya bersumber dari kepercayaan yang berasal dari tradisi dan budaya nenek moyang yang jahilyah.
Cara penyembahan yang dilakukan oleh mereka-mereka tersebut adalah dengan memberikan sesajen serta tumbal pada tempat-tempat yang dianggap sebagai domisilinya roh-roh dan para jin serta yang mereka namakan dewa-dewa.Seperti di laut, sungai, danau, kolam, perigi atau selokan-selokan ). Ada pula yang menggantungkan sesajen di pohon-pohon besar yang diyakini ada jin atau makhluk halus  penunggu pohon-pohon tersebut.
Adapula yang percaya kepada kekuatan magis benda-benda pusaka seperti keris, tombak, gamelan dll , yang untuk itu pada waktu-waktu tertentu diadakan ritual penghormatan dengan memandikannya secara khusus, dapada malam-malam tertentu diberikan bunga-2an dan dupa. Ritual dan penghormatan tsb dilakukan agar sipemilik senjata pusaka terhindar dari malapetaka yang diakibatkan kekuatan magis atau roh yang ada di benda-benda pusaka tersebut.
Kepercayaan para leluhur atau nenek moyang yang digambarkan diatas selanjutnya terus diwarisi secara turun temurun dari generasi kegenerasi berikutnya sampai kepada generasi sekarang dengan nama tradisi adat dan budaya leluhur..
Berbagai perilaku yang menunjukkan bahwa terus dipertahankannya tradisi adat dan budaya berupa kepercayaan kepada selain Allah yang dilakukan oleh sebagian kalangan kaum muslimin dinegeri ini antara lain:
1.Diselenggarakannya berbagai pesta adat budaya yang bentuknya memberikan sesembahan beruapa sesajen dan tumbal seperti pada pesta laut, pesta sedekah bumi, pemberian sesajen dan tumbal pada kawah-kawah gunung, menggantungkan sesajen pada pohon-pohon besar seperti pada pohon beringin.
2. Dalam melakukan berbagai hajatan yang dilakukan oleh perorangan seperti pesta perkawinan sampai kepada hajatan yang berkenaan dengan kelahiran atau yang lainnya biasanya dilakukan pula berbagai ritual yang tidak ketinggalan menyediakan sesajen.
 3. Melakukan penyembelihan hewan ternak untuk tumbal sebagai bentuk pengorbanan kepada makhluk yang dikuatirkan akan menimbulan bencana dan malapetaka .Tumbal diberikan-biasanya pada acara-acara peresmian pembangunan proyek-proyek jembatan, bendungan, jalan, pabrik dan pembukaan tambang-tambang baru.
3.Mendatangi kuburan-kuburan dan tempat tempat keramat dengan membawa bunga-bungaan  lalu berdoa menyampaikan berbagai hajat .
4.Bernazar di kuburan-kuburan dan tempat-tempat yang dianggap berkeramat.
5.Mendatangi dan mempercayai dukun,para normal, orang-orang pintar serta tukang sihir untuk keperluan pengobatan dan keperluan lainnya seperti memasang susuk, penglaris, guna-guna, tahan terhadap senjata , ramalan dan lain-lain  sebagainya.
6.Mempercayai jimat sebagai pelindung diri dan jimat yang memiliki kemampuan yang bertuah.
7.Mempercayai adanya hari, tanggal dan bulan yang mengandung kesialan seperti hari dan tanggal kelahiran, bulan suro.
8.Mempercayai akan datangnya kesialan dari tanda-tanda seperti suara burung, adanya ular yang melintas yang di dalam Islam disebut sebagi tathoyur.
9.Melakukan ritual-ritual tolak bala dengan tepung tawar pada berbagai upacara. Melakukan ruwatan, menyiramkan air kembang yang sudah diberikan doa pada kendaraan agar terhindar dari kecelakaan
10.Menyediakan nasi tumpeng dalam berbagai ragam kegiatan seperti ulang tahun sebagai bentuk wujud rasa syukur kepada sang pencipta ( ?) pada hal nasi tumpeng bagian dari kepercayaan leluhur.
Sebenarnya banyak lagi ragam bentuk perbuatan yang di akrabi oleh sebagian orang di negeri ini yang merupakan kepercayaan warisan dari leluhur yang dianggap sebagai tradisi adat dan budaya,namun bukan pada tempatnya untuk membahas masalah tersebut  secara terperinci.
Tradisi dan budaya nenek moyang yang syirik
Mengapa kebanyakan tradisi dan budaya nenek moyang yang melakukan ritual-ritual sebagaimana yang digambarkan diatas dipandang dari kacamata tauhid disebut syirik dan sangat dilarang untuk dilakukan oleh setiap muslim. Hal ini disebabkan bahwa semua ritual ritual seperti  memberikan sesajen dan melakukan penyembelihan untuk keperluan ritual adat tidak lain adalah bentuk kepercayaan adanya kekuatan yang ditakuti dan disegani seperti jin  sehingga diberikan sesembahan agar jin tersebut tidak membuat mudharat serta memberikan manfaat kepada mereka. Mereka-mereka yang melakukan ritual semacam itu dapat dipastikan mempunyai motip agar mereka mendapatkan perlindungan dari marabahaya, terhindar dari gangguan dan kemarahan makhluk gaib atau jin atau agar dapat memberikan pertolongan dll sebagainya.Perilaku seperti ini sama saja artinya mereka-mereka tersebut meyakini dan mempercayai  bahwa selain Allah ada pula sesuatu kekuatan lain yang sama kedudukannya dengan Allah Subhana wa ta’ala . Padahal  sesungguhnya hanya Allah yang Maha Kuasa yang dapat memberikan perlindungan dan pertolongan.
Di dalam syari’at islam telah digariskan bahwa seseorang yang menyamakan kedudukan selain Allah sama dengan kedudukan Allah Subhana wa ta’ala berarti telah mensekutukan Allah Yang Maha Esa  atau berbuat syirik. Meskipun mereka tidak langsung menyebutkannya atau tidak langsung melakukan penyembahan, namun perilaku mereka jelas-jelas menunjukkan bahwa mereka menyekutukan Allah Subhana wa ta’ala.
Menurut  Al-Qur'anul Karim bahwa umat islam wajib untuk mengimani tauhid atau ke Esaan Allah Ta’ala, yaitu tauhid Rububiyah, tauhid Uluhiyah dan tauhid Asma wal sifat.

Yang dimaksud dengan Tauhid Rububiyah adalah mengesakan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam segala perbuatanNya, dengan meyakini bahwa Dia sendiri yang menciptakan segenap makhluk. . Tauhid ini meliputi kepercayaan bahwa Allah lah yang menciptakan langit dan bumi serta seluruh alam semesta ini termasuk jin dan manusia. Hanya  Allah lah yang menghidupkan dan  mematikan, Hanya Allah lah yang mengatur seluruh alam semesta ini, hana Allah yang mengatur siang dan malam, hanya  Allah lah yang memelihara alam semesta ini, hanya Allah lah yang memberikan pertolongan dan perlindungan, hanya Allah lah yang memberikan rezeki, hanyalah Allah lah yang dapat memberikan/mendatangkan  kebaikan dan kemaslahatan dan hanya Allah lah yang dapat memberikan/mendatangkan kemudharatan.

Mengenai tauhid rububiyah/penciptaan  ini sesuai dengan firman Allah ta’ala dalam surah  AzZumar (39) ayat 62:

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ

Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.

Dalam surah Huud ayat 6 Allah ta’ala berfirman :

وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya [Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).

Selanjutnya dalam al-Qur’an surah Ali Imran (3) ayat 26 Allah ta’ala berfirman :

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاء وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاء وَتُعِزُّ مَن تَشَاء وَتُذِلُّ مَن تَشَاء بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu

Begitu pula dalam al-qur’an surah Ali Imran ayat 27 disebutkan firman Allah

تُولِجُ اللَّيْلَ فِي الْنَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الَمَيَّتَ مِنَ الْحَيِّ وَتَرْزُقُ مَن تَشَاء بِغَيْرِ حِسَابٍ

Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup [191]. Dan Engkau beri rezki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)".

Allah subhana wa ta’ala sangat tidak menyukai  dan Allah telah menafikan sekutu atau pembantu dalam kekuasaan-Nya. Sebagaimana Dia menafikan adanya sekutu dalam penciptaan dan pemberian rizki. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam surah Luqman ayat 11 :

هَذَا خَلْقُ اللَّهِ فَأَرُونِي مَاذَا خَلَقَ الَّذِينَ مِن دُونِهِ بَلِ الظَّالِمُونَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan(mu) selain Allah. Sebenarnya orang- orang yang zalim itu berada di dalam kesesatan yang nyata.

Tradisi warisan leluhur bukan bagian dari syari’at  Islam

Islam adalah agama tauhid yang mengesakan Allah, islam hanya mengakui Allah sebagai yang maha esa dan tidak ada sekutu baginya, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dan Muslim

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله وسلم يَقُوْلُ : بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامُ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءُ الزَّكَاةِ وَحَجُّ الْبَيْتِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ. [رواه الترمذي ومسلم ]

Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar bin Khathab"Islam didirikan diatas lima perkara yaitu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, mengerjakan haji ke baitullah dan berpuasa pada bulan ramadhan".( Arba’in Imam An-Nawawi)

Al-Qur’an surah  Al Baqarah (2) ayat 132 menyebutkan :

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلاَ تَمُوتُنَّ إَلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam".

Dalam al-Qur’an surah Ali Imran (3)Ayat  102:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

Islam itu memiliki aturan yang sangat sempurna, yaitu al-Quran dan as-sunnah  kemudian memerintahkan umatnya dalam melaksanakan syari’atnya wajib berpegang kepada keduanya. Sebagaimana yang di firmankan Allah ta’ala dalam al-Qur’an surah Al Jaatsiyah (45) ayat 20a;

هَذَا بَصَائِرُ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّقَوْمِ يُوقِنُونَ

Al Qur'an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.

Kemudian dalam surah  Luqman (31 )ayat 3- disebutkan
هُدًى وَرَحْمَةً لِّلْمُحْسِنِينَ
menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan,

Dalam kitab Bulughul Maram Ibnu Hajar Al-Ashqolani-Kitab Jami'disebutkan
dari Tamim al-Daary Radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Agama adalah petunjuk (bagi manusia)" -Beliau mengulangi tiga kali-. Kami bertanya: Untuk siapa wahai Rasulullah?. Beliau bersabda: "(Petunjuk manusia) untuk berbuat baik kepada Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan kepada umat islam pada umumnya."
Riwayat Muslim.
Islam itu secara lengkap sudah mengatur tentang tata cara peribatan dan menolak cata peribatan selain yang telah digariskan karena islam sudah sempurna sebagaimana firman Allah ta’ala dalam surah al-Maidah ( 5 ) ayat 3 :

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالْدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلاَّ مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَن تَسْتَقْسِمُواْ بِالأَزْلاَمِ ذَلِكُمْ فِسْقٌ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِن دِينِكُمْ فَلاَ تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّإِثْمٍ فَإِنَّ اللّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah], daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya [dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Karenanya mengingat tradisi budaya warisan leluhur dengan berbagai macam perilaku nya tersebut tidak bersesuaian dan tidak sejalan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah , maka ia harus ditolak dan dijauhi oleh segenap umat muslim. Tradisi budata warisan leluhur bukan bagian dari syari’ai islam sehingga tidak layak untuk dilestarikan.

Wajib bagi segenap anak manusia yang telah  mengikrarkan kesaksiannya tentang ke maha  Esaan Allah  untuk hidup dan mati dalam islam sesuai firman Allah ta’ala dalam al-Qur’an surah Al Baqarah (2) ayat 132:

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلاَ تَمُوتُنَّ إَلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam".

Berikut ini beberapa firman Allah  berkaitan dengan tauhid
1. Surah  Az Zukhruf (43)  Ayat 28- :
وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
\
Dan (lbrahim a. s.) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali kepada kalimat tauhid itu

Maksudnya: Nabi Ibrahim  menjadikan kalimat tauhid sebagai pegangan bagi keturunannya sehingga kalau terdapat di antara mereka yang mempersekutukan Tuhan agar mereka kembali kepada Tauhid itu.

2.Surah Al Anbiyaa' (21) ayat 92-
إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ
Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Ak

3. Surah Al Mu'minuun (23) ayat 52 :

وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ
Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.

Melakukan ritual tradisi budaya leluhur dengan mengharapkan perlindungan dan pertolongan adalah perbuatan yang tersesat ,padalah Allah telah menunjukkan jalan yang benar dengan bertauhid/mengesakan Allah sebagaimana yang difirman Allah dalam surah  Al Baqarah (2) ayat 256 :

لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىَ لاَ انفِصَامَ لَهَا وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut [162] dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Allah ta’ala telah menyeru seluruh hambanya  kejalan tauhid  sebagaimana firman-Nya dalam al-Qur’an surah  Yunus (10) ayat 25 “
وَاللّهُ يَدْعُو إِلَى دَارِ السَّلاَمِ وَيَهْدِي مَن يَشَاء إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
685

Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam) [685].

Dalam surah  Al Anfaal (8) ayat 8 Allah ta’ala berfirman :

لِيُحِقَّ الْحَقَّ وَيُبْطِلَ الْبَاطِلَ وَلَوْ كَرِهَ الْمُجْرِمُونَ
agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya

Allah ta’ala berfirman dalam surah Ali Imran (3) ayat 85:

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidak- lah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.

Akhirnya kepada segenap umat islam umumnya dan khususnya kepada mereka-mereka  terbiasa melakukan ritual-ritual tradisi budaya warisan leluhur untuk segera meninggalkan kebiasaan tersebut dan selanjutnya bertaubat  karena telah berbuat kesyirikan kepada Allah. Bertauhidlah secara benar, jangan dicampur adukkan dengan ritual tradisi budaya warisan leluhur.Wallaahu ta’ala  ‘alam

Loabakung,   12 Syawal 1437 Hijriah
Farabi al-Banjari

Sumber : 1. Al-Qur’an dan Terjemahan , www.Salafi DB.4.0

                2. Ensiklopedi Kitab Hadits 9 Imam, www.Lidwapusaka

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar