Tampilkan postingan dengan label H i k m a h. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label H i k m a h. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Agustus 2016

JANGAN BIARKAN MASJID MENJADI SEPI


Di seluruh pelosok negeri ini bertebaran masjid yang dibangun oleh kaum muslimin, baik yang berukuran kecil (langgar/surau ), sedang dan bahkan banyak pula yang besar-besar, baik dalam bentuk yang sederhana dan adapula yang mewah dengan arsitektur khas islami yang menarik. Dibangun dengan secara swadaya murni dan banyak pula yang dibangun dengan dana sebagian bantuan dari pemerintah. Yang lainnya pada tempat-tempat tertentu banyak pula masjid yang dibangun dengan sepenuhnya dibiayai dari anggaran pemerintah.
Kaum muslimin sepertinya berlomba-lomba untuk membangun masjid sebagai tempat beribadah, sehingga dalam satu kompleks perumahan kadang-kadang  dalam  hitungan hanya ratusan meter saja ditemui adanya bangunan masjid.
Pembangunan masjid-masjid yang dilakukan oleh kaum muslimin tersebut karena didorong dengan janji akan mendapatkan balasan pahala  sebagai mana disebutkan dalam hadits Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim  :

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سُلَيْمَانَ حَدَّثَنِي ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي عَمْرٌو أَنَّ بُكَيْرًا حَدَّثَهُ أَنَّ عَاصِمَ بْنَ عُمَرَ بْنِ قَتَادَةَ حَدَّثَهُ أَنَّهُ سَمِعَ عُبَيْدَ اللَّهِ الْخَوْلَانِيَّ أَنَّهُ سَمِعَ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ
يَقُولُ عِنْدَ قَوْلِ النَّاسِ فِيهِ حِينَ بَنَى مَسْجِدَ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّكُمْ أَكْثَرْتُمْ وَإِنِّي سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ بَنَى مَسْجِدًا قَالَ بُكَيْرٌ حَسِبْتُ أَنَّهُ قَالَ يَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِي الْجَنَّةِ
'Utsman bin 'Affan berkata di tengah pembicaraan orang-orang sekitar masalah pembangunan masjid Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, ia katakan, "Sungguh, kalian telah banyak berbicara, padahal aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Siapa yang membangun masjid -Bukair berkata, "Menurutku beliau mengatakan- karena mengharapkah ridla Allah, maka Allah akan membangun untuknya yang seperti itu di surga."

Hadits lain yang diriwayatkan oleh imam Muslim dalam kitab shahih beliau :
صحيح مسلم ٨٢٩: حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَاللَّفْظُ لِابْنِ الْمُثَنَّى قَالَا حَدَّثَنَا الضَّحَّاكُ بْنُ مَخْلَدٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ
أَنَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ أَرَادَ بِنَاءَ الْمَسْجِدِ فَكَرِهَ النَّاسُ ذَلِكَ فَأَحَبُّوا أَنْ يَدَعَهُ عَلَى هَيْئَتِهِ فَقَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ فِي الْجَنَّةِ مِثْلَهُ
Shahih Muslim 829: dari Mahmud bin Labid bahwa Utsman bin Affan bermaksud hendak merenovasi masjid, tetapi dicegah oleh orang banyak. Mereka lebih suka membiarkan masjid itu sebagaimana adanya. Maka dia berkata, "Aku mendengar Rasulullah shallallahu'alaihiwasallam, bersabda 'Siapa yang membangun masjid karena Allah, maka Allah membuatkan (rumah yang mulia) di surga untuknya seperti masjid itu'."

Banyaknya masjid yang dibangun oleh kaum muslimin dengan mengorbankan begitu banyak harta  dalam rangka memperoleh ganjaran pahala , sehingga diperkirakan lebih  memudahkan kaum muslimin untuk melaksanakan shalat berjamaah. Tetapi perkiraan seperti itu tidak benar karena ternyata masjid yang dibangun tersebut tidak banyak jama’ahnya.
Beramai-ramai membangun masjid yang dilakukan  belum diikuti dengan upaya berbondong memakmurkannya . Sehingga masjid-masjid dimana-mana pada sepi pengunjung.

Masjid yang sepi dari jama’ah
Sebuah anekdot menggelitik pernah diucapkan orang ; “ jangankan masjid, gedung bioskop saja sekarang ini banyak yang bangkrut dan tutup  karena sepi bahkan tidak ada penontonnya lagi “ Anekdot tersebut ada benarnya . Karena umumnya masjid hanya berisi penuh pada waktu-waktu tertentu saja sedangkan waktu-waktu lainnya rata-rata shafnya kosong dari jama’ah.
Lihatlah bagaimana pada saat  hari raya jama’ah meluber sampai ke jalan-jalan raya karena masjid tidak dapat lagi menampung manusia untuk melakukan shalat ied berjama’ah. Meskipun masjid sudah dibangun dengan ukuran yang besar. Begitu juga disebagian masjid pada shalat jum’ah jama’ahnya banyak tidak mendapat shaf di dalam masjid sehingga mereka terpaksa membuat shaf di teras-teras. Selain itu masjid akan penuh sesak dengan pengunjung pada saat dilaksanakannya peringatan-peringatan hari-hari besar islam seperti peringatan maulid dan isra mi’rajd nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Atau apabila ada tablig akbar oleh ustadz kondang  dan  atau para habib. Kaum muslimin juga biasanya berbondong-bondong datang ke masjid apabila ada undangan menghadiri dzikir berjama’ah sekali gus untuk penyembuhan penyakit yang dipimpin oleh ustazd terkenal.
Lalu bagaimanakah gambaran suasana masjid-masjid pada hari-hari biasa ?  Jujur harus diakui bahwa kaum muslimin seharusnya prihatin melihat kondisi masjid sehari-harinya. Prihatin melihat banyaknya kaum muslimin yang lupa terhadap keberadaan masjid meskipun masjid itu berada didepan matanya.
Setiap memasuki waktu shalat fardhu kumandang azan menggema diseantero jagat yang didengungkan oleh para muajin diseluruh masjid menyeru, mengajak, mengundang dan mengingatkan kaum muslimin yang berada disekitar masjid agar segera mendatangi masjid untuk shalat berjama’ah. Tetapi sayang kumandang azan tersebut hanya ditanggapi oleh segelintir orang saja. Akibatnya shaf-shaf di masjid menjadi kosong melompong. Jama’ah yang hadir hanya mengisi sebagian shaf depan saja karena jumlahnya paling banyak dapat dihitung dengan jari-jari tangan dan kaki.
Suasana tersebut diatas merupakan kondisi nyata dari kehidupan masjid-masjid kaum muslimin sehari-hari  dinegeri ini, setiap dilakukannya shalat  fardhu berjama’ah kebanyakan kaum muslimin enggan mendatanginya meskipun masjid tersebut letaknya masih dapat dijangkau hanya dengan berjalan kaki.

Keutamaan memakmurkan masjid dengan shalat berjama’ah

Allah Ta’ala berfirman:

{مَا كَانَ لِلْمُشْرِكِينَ أَنْ يَعْمُرُوا مَسَاجِدَ اللَّهِ شَاهِدِينَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ بِالْكُفْرِ أُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ وَفِي النَّارِ هُمْ خَالِدُونَ. إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ}

Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain Allah, maka merekalah yang termasuk golongan orang-orang yang selalu mendapat petunjuk (dari Allah Ta’ala)” (QS At-Taubah: 18).

Ayat yang mulia ini menunjukkan besarnya keutamaan memakmurkan masjid yang didirikan karena Allah Ta’ala, dalam semua bentuk pemakmuran masjid, bahkan perbuatan terpuji ini merupakan bukti benarnya iman dalam hati seorang hamba.



Masjid adalah tempat yang di dalamnya dipenuhi oleh rahmat Allah ta’ala  dan para malaikat-Nya serta tempat berkumpulnya orang-orang yang shalih dari hamba-hamba-Nya. Rasulullah shallallahu’alaihi wassallam  telah menyebutkan di dalam banyak hadits tentang keutamaan orang yang berjalan menuju masjid. Di antaranya beliau shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً
Barangsiapa yang bersuci dari rumahnya kemudian berjalan ke salah satu rumah dari rumah-rumah Allah l (masjid) untuk menunaikan salah satu kewajiban dari kewajiban-kewajiban Allah l, maka kedua langkahnya salah satunya akan menghapus dosa dan langkah yang lainnya akan mengangkat derajat.” (HR. Muslim

Begitu pula disebutkan dalam sabdanya shalallahu’alaihi wasallam :
مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ أَوْ رَاحَ أَعَدَّ اللهُ لَهُ فِي الْجَنَّةِ نُزُلاً كُلَّمَا غَدَا أَوْ رَاحَ
Barangsiapa menuju masjid pada waktu siang hari atau malam hari maka Allah l akan memberikan jamuan hidangan baginya di surga pada setiap siang dan malam.” (HR. Muslim)

Dan masih banyak lagi hadits-hadits yang menunjukkan keutamaan berjalan ke masjid. Bahkan disebutkan pula di dalam hadits lainnya keutamaan orang duduk di masjid untuk menunggu didirikannya shalat. Yaitu bahwa selama dia menunggu shalat, dirinya mendapatkan keutamaan orang yang melakukan shalat dan malaikat senantiasa mendoakannya selama dirinya masih memiliki thaharah atau tidak batal sucinya. Nabi shalallahu’alaihi wasallam  bersabda:

لاَ يَزَالُ الْعَبْدُ فِي صَلاَةٍ مَا كاَنَ فِي مُصَلاَّهُ يَنْتَظِرُ الصَّلاَةَ، وَتَقُوْلُ الْمَلاَئِكَةُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ، حَتَّى يَنْصَرِفَ أَوْ يُحْدِثَ
Tetaplah seorang hamba dikatakan sebagai orang yang shalat selama dia berada di tempat shalatnya dalam keadaan dia menunggu ditegakkannya shalat. Dan malaikat akan berdoa untuknya seraya mengatakan, ‘Ya Allah, ampunilah dia dan rahmatilah dia’, sampai (hamba tersebut) meninggalkan masjid atau terkena hadats.” (HR. Muslim )

Hukum shalat jama’ah bagi pria adalah fardhu ‘ain menurut pendapat yang lebih kuat. Hal ini telah dijelaskan oleh Rumaysho.Com pada tulisan “Hukum Shalat Jama’ah”. Sedangkan bagi wanita tidaklah dihukumi wajib sebagaimana diterangkan dalam tulisan “Shalat Jama’ah bagi Wanita”, bahkan shalat wanita lebih baik di rumahnya. Sedangkan hadits ini yang menerangkan pahala shalat jama’ah 20 sekian derajat daripada shalat sendirian tidak menunjukkan bahwa hukum shalat jama’ah itu sunnah (dianjurkan). Dalil lain menunjukkan bahwa hukum shalat jama’ah itu wajib ‘ain karena ada ancaman keras bagi yang meninggalkan shalat jama’ah dan orang buta yang mendengar adzan masih disuruh untuk menghadiri shalat jama’ah.
Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali hafizhohullah berkata, “Orang yang melaksanakan shalat sendirian masih sah, namun dihukumi berdosa karena ia telah meninggalkan shalat berjama’ah. Wallahu a’lam.” (Lihat Bahjatun Nazhirin, 1: 38). Ini tentu bagi yang meninggalkan shalat jama’ah tanpa ada uzur.
Shalat jama’ah memiliki keutamaan dibanding shalat sendirian dengan selisih 27 derajat sebagaimana sering kita dengar. Inilah keutamaan shalat jama’ah tersebut. Disamping itu, orang yang menunggu shalat di masjid juga akan mendapat pahala dan do’a malaikat. Begitu pula ketika seseorang sudah berjalan dari rumahnya menuju masjid, itu pun sudah dihitung pahalanya.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صَلاَةُ الرَّجُلِ فِى جَمَاعَةٍ تَزِيدُ عَلَى صَلاَتِهِ فِى بَيْتِهِ وَصَلاَتِهِ فِى سُوقِهِ بِضْعًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً وَذَلِكَ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ لاَ يَنْهَزُهُ إِلاَّ الصَّلاَةُ لاَ يُرِيدُ إِلاَّ الصَّلاَةَ فَلَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلاَّ رُفِعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ حَتَّى يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَانَ فِى الصَّلاَةِ مَا كَانَتِ الصَّلاَةُ هِىَ تَحْبِسُهُ وَالْمَلاَئِكَةُ يُصَلُّونَ عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِى مَجْلِسِهِ الَّذِى صَلَّى فِيهِ يَقُولُونَ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ مَا لَمْ يُؤْذِ فِيهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ
Shalat seseorang dengan berjama’ah lebih banyak pahalanya daripada shalat sendirian di pasar atau di rumahnya, yaitu selisih 20 sekian derajat. Sebab, seseorang yang telah menyempurnakan wudhunya kemudian pergi ke masjid dengan tujuan untuk shalat, tiap ia melangkah satu langkah maka diangkatkan baginya satu derajat dan dihapuskan satu dosanya, sampai ia masuk masjid. Apabila ia berada dalam masjid, ia dianggap mengerjakan shalat selama ia menunggu hingga shalat dilaksanakan. Para malaikat lalu mendo’akan orang yang senantiasa di tempat ia shalat, “Ya Allah, kasihanilah dia, ampunilah dosa-dosanya, terimalah taubatnya.” Hal itu selama ia tidak berbuat kejelekan dan tidak berhadats.” (HR. Bukhari no. 477 dan Muslim no. 649).

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dalam kitab shahih beliau disebutkan :
صحيح البخاري ٦٢٢: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ قَالَ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُطَرِّفٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ وَرَاحَ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُ نُزُلَهُ مِنْ الْجَنَّةِ كُلَّمَا غَدَا أَوْ رَاحَ
Shahih Bukhari 622: Telah menceritakan kepada kami 'Ali bin 'Abdullah berkata, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun berkata, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Mutharrif dari Zaid bin Aslam dari 'Atha bin Yasar dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa datang ke masjid di pagi dan sore hari, maka Allah akan menyediakan baginya tempat tinggal yang baik di surga setiap kali dia berangkat ke masjid di pagi dan sore hari.

Rasullullah shallahu’alaihi wasallam bersabda :

صحيح مسلم ١٠٧٦: هُرَيْرَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا
Shahih Muslim 1076:, telah menceritakan kepadaku Al Harits dari Abdurrahman bin Mihran, mantan budak Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Lokasi yang paling Allah cintai adalah masjid, dan Lokasi yang paling Allah benci adalah pasar."

Samarinda kota tepian , 24 Syawal 1437 H/ 30 Juli 2016
Abu Farabi al-Banjari
Sumber:
1.Al-Qur’an dan terjemahan, www.Salafidb.4.0
2.Ensiklopedi Kitab Hadits 9 Imam, www.Lidwapusaka

3.Artikel Rumaysho.com 

Selasa, 14 Agustus 2012

UMAR BIN KHATHAB PEMIMPIN YANG ADIL




, Umar bin Khathab lahir 13 tahun setelah kelahiran Rasulullah SAW (tahun 581 Masehi). Sebagai anak yang lahir dari keluarga bangsawan Quraisy, Umar bin Khathab dibekali dengan pendidikan yang baik, seperti dalam bidang perniagaan dan bela diri.Putra pasangan Khathab dan Hanthamah ini, tumbuh sebagai pemuda yang cerdas, penuh semangat, berani, blak-blakkan dalam bicara dan dinamis.
Pada mulanya, ia sangat menentang Islam dan Rasulullah SAW. Kebencian Umar mencapai puncaknya pada peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah menuju Madinah. Kemudian, ia menanamkan niat pasti untuk membunuh Rasulullah SAW.
Mengetahui niat buruk Umar, Rasulullah SAW selalu berdoa, “Semoga Allah SWT memberikan kejayaan pada Islam dengan masuknya Umar memeluk Islam.” Allah SWT pun mengabulkan doa Rasul Nya.

Suatu hari, Umar sudah begitu muak dengan perkembangan Islam. Dengan pedang di tangan, dia berniat membunuh Rasulullah SAW. Di jalan Umar berjumpa dengan Nuaim bin Abdullah, seorang teman yang memberitakan bahwa adik perempuannya, Fatimah, beserta suaminya, Sa’id bin Zaid, telah memeluk Islam.
Dipenuhi dengan kemarahan yang meluap-luap, Umar cepat-cepat menuju rumah Fatimah. Di sana, ia menemukan Fatimah beserta suaminya sedang membaca ayat-ayat suci Alquran. Masih dipenuhi dengan kemarahan, Umar menghardik Fatimah dan memerintahkannya untuk melepaskan Islam dan kembali kepada tuhan-tuhan nenek moyang mereka.
Di puncak kemarahannya, Umar menangkap sebuah lembaran yang bertuliskan ayat-ayat Alquran. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang dan hatinya menciut. Dengan tangan bergetar Umar mengambil lembaran-lembaran itu, dan membaca ayat-ayat Alquran yang tertera. Setelah membaca ayat-ayat itu, perasaannya menjadi tenang dan kedamaian meliputi hatinya.
Setelah itu, timbul keinginan kuat untuk segera menemui Rasulullah SAW. Ia pun meninggalkan rumah Fatimah menuju rumah Al-Arqam di mana Rasulullah SAW sedang menyampaikan dakwah beliau secara sembunyi-sembunyi. Umar pun memeluk Islam dan bersyahadat di depan Rasulullah SAW.
Mengenai identitas keislamannya, Umar tidak pernah menutupinya. Keberanian dan pengabdian Umar kepada Islam sebagai salah seorang penduduk Makkah yang paling berpengaruh, menaikkan semangat juang kaum Muslimin lainnya.
Pada waktu Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq jatuh sakit, dia menunjuk Umar bin Khathab untuk menggantikannya.Tetapi penunjukan ini tidak mutlak, melainkan diserahkan kepada kaum Muslimin atas persetujuan mereka bersama tanpa paksaan atau tekanan dari siapa pun jua.
Umat Islamlah yang akan menentukan siapa yang mereka terima untuk dijadikan khalifah (kepala negara) dan siapa pun yang mereka inginkan. Ternyata umat Islam menerima Umar bin Khathab secara aklamasi dengan pertimbangan yang sangat mendalam.

Keberanian Umar dalam memisahkan antara kebenaran dengan kebatilan membuatnya dijuluki “Al-Faruq” oleh Rasulullah SAW. Artinya, orang pemisah antara kebenaran dengan kebatilan.
Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, Umar adalah sahabat dan penasihat terdekat. Hal ini yang membuat Umar menjadi nominator terkuat untuk meneruskan kekhalifahan Abu Bakar. Maka, ketika Abu Bakar wafat, kaum Muslimin sepakat membaiat Umar sebagai khalifah yang baru.
Pada pembaiatannya sebagai khalifah, Umar berkata, “Wahai kaum Muslimin! Kalian semua memiliki hak-hak atas diriku, yang selalu bisa kalian pinta. Salah satunya adalah jika seorang dari kalian memintakan haknya kepadaku, ia harus kembali hanya jika haknya sudah dipenuhi dengan baik.”
“Hak kalian yang lainnya adalah permintaan kalian bahwa aku tidak akan mengambil apa pun dari harta negara maupun dari rampasan pertempuran. Kalian juga dapat memintaku untuk menaikkan upah dan gaji kalian seiring dengan meningkatnya uang yang masuk ke kas negara.”
“Aku akan meningkatkan kehidupan kalian dan tidak akan membuat kalian sengsara. Juga merupakan hak, apabila kalian pergi ke medan pertempuran, aku tidak akan menahan kepulangan kalian. Dan ketika kalian sedang bertempur, aku akan menjaga keluarga kalian laksana seorang ayah.”
“Wahai kaum Muslimin, bertakwalah selalu kepada Allah SWT! Maafkan kesalahan-kesalahanku dan bantulah aku dalam mengemban tugas ini. Bantulah aku dalam menegakkan kebenaran dan memberantas kebatilan. Nasihatilah aku dalam pemenuhan kewajiban-kewajiban yang telah diamanahkan oleh Allah SWT.”
Umar merupakan pemimpin dengan keahlian administrasi yang tinggi, pemimpin politik dan jenderal militer yang cerdas. Ketidakegoisan dan kekukuhannya dalam menegakkan kebenaran dan hak-hak rakyat membuatnya dihargai dan memiliki posisi penting dalam sejarah. Umar memerintah selama sepuluh tahun.

, Pada waktu Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq jatuh sakit, dia menunjuk Umar bin Khathab untuk menggantikannya.Tetapi penunjukan ini tidak mutlak, melainkan diserahkan kepada kaum Muslimin atas persetujuanmereka bersama tanpa paksaan atau tekanan dari siapa pun jua.Umat Islamlah yang akan menentukan siapa yang mereka terima untuk dijadikan khalifah (kepala negara) dan siapa pun yang mereka inginkan. Ternyata umat Islam menerima Umar bin Khathab secara aklamasi dengan pertimbangan yang sangat mendalam.
Keberanian Umar dalam memisahkan antara kebenaran dengan kebatilan membuatnya dijuluki “Al-Faruq” oleh Rasulullah SAW. Artinya, orang pemisah antara kebenaran dengan kebatilan.
Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, Umar adalah sahabat dan penasihat terdekat. Hal ini yang membuat Umar menjadi nominator terkuat untuk meneruskan kekhalifahan Abu Bakar. Maka, ketika Abu Bakar wafat, kaum Muslimin sepakat membaiat Umar sebagai khalifah yang baru.
Pada pembaiatannya sebagai khalifah, Umar berkata, “Wahai kaum Muslimin! Kalian semua memiliki hak-hak atas diriku, yang selalu bisa kalian pinta. Salah satunya adalah jika seorang dari kalian memintakan haknya kepadaku, ia harus kembali hanya jika haknya sudah dipenuhi dengan baik.”
“Hak kalian yang lainnya adalah permintaan kalian bahwa aku tidak akan mengambil apa pun dari harta negara maupun dari rampasan pertempuran. Kalian juga dapat memintaku untuk menaikkan upah dan gaji kalian seiring dengan meningkatnya uang yang masuk ke kas negara.”
“Aku akan meningkatkan kehidupan kalian dan tidak akan membuat kalian sengsara. Juga merupakan hak, apabila kalian pergi ke medan pertempuran, aku tidak akan menahan kepulangan kalian. Dan ketika kalian sedang bertempur, aku akan menjaga keluarga kalian laksana seorang ayah.”
“Wahai kaum Muslimin, bertakwalah selalu kepada Allah SWT! Maafkan kesalahan-kesalahanku dan bantulah aku dalam mengemban tugas ini. Bantulah aku dalam menegakkan kebenaran dan memberantas kebatilan. Nasihatilah aku dalam pemenuhan kewajiban-kewajiban yang telah diamanahkan oleh Allah SWT.”
Umar merupakan pemimpin dengan keahlian administrasi yang tinggi, pemimpin politik dan jenderal militer yang cerdas. Ketidakegoisan dan kekukuhannya dalam menegakkan kebenaran dan hak-hak rakyat membuatnya dihargai dan memiliki posisi penting dalam sejarah. Umar memerintah selama sepuluh tahun.
, Di antara kontribusi Umar bin Khathab untuk Islam ialah dia beserta pasukan Islam berhasil membentangkan kejayaan Islam dari Mesir, Syam, Irak sampai ke kerajaan Persia.
Ia beserta para penasihatnya berhasil mengembangkan kalender Islam. Umar juga berhasil membangun administrasi yang baik di dalam pemerintahan Islam. Daulah Islamiyah menunjukkan adanya peningkatan dan perbaikan selama pemerintahannya.
Umar adalah orang pertama yang mencetuskan ide tentang perlunya dilakukan pengumpulan ayat-ayat Alquran. Ayahanda Hafshah (Ummul Mukminin) ini dikenal sebagai sahabat yang berani melakukan ijtihad dengan tetap menjunjung tinggi prinsip-prinsip musyawarah.
Sebagai seorang Khalifah, hidup Umar bin Khathab benar-benar diabdikan untuk mencapai ridha Illahi. Ia berjuang bagi rakyat, benar-benar memerhatikan kesejahteraan rakyat. Di malam hari, dia sering melakukan investigasi untuk mengetahui keadaan rakyat jelata yang sebenarnya.
Suatu malam, Sang Khalifah menemukan sebuah gubuk kecil yang dari dalamnya nyaring terdengar suara tangis anak-anak. Umar mendekat dan memerhatikan dengan seksama keadaan gubuk itu. Ia dapat melihat ada seorang ibu yang dikelilingi anak-anaknya.
Ibu itu kelihatan sedang memasak sesuatu. Tiap kali anak-anaknya menangis, sang Ibu berkata, “Tunggulah! Sebentar lagi makanannya akan matang.”
Selagi Umar memerhatikan di luar, sang ibu terus menenangkan anak-anaknya dan mengulangi perkataannya bahwa makanan sebentar lagi akan matang.
Umar menjadi penasaran. Setelah memberi salam dan meminta izin, dia memasuki gubuk itu dan bertanya kepada sang ibu, "Mengapa anak-anak Ibu tak berhenti menangis?”
“Itu karena mereka sangat lapar,” jawab si ibu.
“Mengapa tidak ibu berikan makanan yang sedang Ibu masak sedari tadi itu?”
“Tidak ada makanan. Periuk yang sedari tadi saya masak hanya berisi batu untuk mendiamkan anak-anak. Biarlah mereka berpikir bahwa periuk itu berisi makanan. Mereka akan berhenti menangis karena kelelahan dan tertidur.”
“Apakah Ibu sering berbuat begini?” tanya Umar ingin tahu.
“Ya. Saya sudah tidak memiliki keluarga ataupun suami tempat saya bergantung. Saya sebatang kara,” jawab si ibu datar, berusaha menyembunyikan kepedihan hidupnya.
“Mengapa Ibu tidak meminta pertolongan kepada Khalifah? Sehingga beliau dapat menolong Ibu beserta anak-anak Ibu dengan memberikan uang dari Baitul Mal? Itu akan sangat membantu kehidupan ibu dan anak-anak,” nasihat Umar.
“Khalifah telah berbuat zalim kepada saya,” jawab si ibu.
“Bagaimana Khalifah bisa berbuat zalim kepada ibu?” sang Khalifah ingin tahu.
“Saya sangat menyesalkan pemerintahannya. Seharusnya ia melihat kondisi rakyatnya dalam kehidupan nyata. Siapa tahu, ada banyak orang yang senasib dengan saya.”
Umar berdiri dan berkata, “Tunggu sebentar, Bu. Saya akan segera kembali!”       
Pada malam yang telah larut itu, Umar segera bergegas ke Madinah, menuju Baitul Mal. Ia segera mengangkat sekarung gandum yang besar di pundaknya. Abbas, sahabatnya membantu membawa minyak samin untuk memasak.
Karena jarak antara Madinah dengan rumah sang Ibu demikian jauhnya, keringat bercucuran dari tubuh sang Khalifah. Maka, Abbas berniat untuk membantu Umar mengangkat karung itu. Dengan tegas Umar menolak tawaran Abbas.
”Tidak akan kubiarkan kamu membawa dosa-dosaku di akhirat kelak. Biarkan aku membawa karung besar ini, karena aku merasa begitu bersalah atas apa yang telah terjadi pada si ibu beserta anak-anaknya,” jawab Umar dengan napas yang tersengal.
Maka, ketika Khalifah menyerahkan sekarung gandum yang besar kepada si ibu beserta anak-anaknya yang miskin, bukan main gembiranya mereka menerima bahan makanan dari lelaki yang tidak dikenal ini.
Kemudian ‘lelaki tidak dikenal’ itu memberitahukan si ibu untuk menemui Khalifah besok, untuk mendaftarkan dirinya dan anak-anaknya di Baitul Maal.
Betapa terkejutnya si ibu, ketika keesokannya ia berkunjung ke Madinah. Ia menemukan kenyataan bahwa ‘lelaki yang tidak dikenal’ itu tidak lain merupakan Khalifah Umar sendiri.
Umar adalah profil seorang pemimpin yang sukses, mujtahid (ahli ijtihad) yang ulung, dan sahabat Rasulullah SAW yang sejati. Kesuksesannya dalam mengibarkan panji-panji Islam mengundang rasa iri dan dengki, di hati musuh-musuhnya.
Salah seorang di antara mereka Fairuz, Abu Lu’lu’ah, telah mengakhiri hidupnya dengan cara yang amat tragis. Ia menikam Umar tatkala sedang memimpin shalat Subuh pada hari Rabu 26 Dzulhijjah 23 H. Umar Al-Faruq wafat pada hari Ahad, dalam usia 63 tahun, setelah selama lebih kurang sepuluh tahun mengemban amanah sebagai Khalifah.
 Di copy paste dari : Republika.co.id

Selasa, 07 Agustus 2012

LAILATUL QADAR LIMPAHAN BONUS KEBERKAHAN,KEBAIKAN,RAHMAT DAN GANJARAN PAHALA BERLIPAT GANDA



Sebagaimana yang dimaklumi oleh seluruh kaum muslimin bahwa bulan ramadhan yang disebut-sebagai bulan sucinya umat islam merupakan satu-satunya bulan yang mempunyai keistimewaan diantara 12 bulan bulan lainnya, karena didalam bulan ramadhan ini banyak sekali berbagai hal keutamaan yang dikandungnya seperti ibadah puasa sebulan penuh. Selain itu bulan ramadhan dikatakan mempunyai keutamaan karena dalam bulan ini juga diturunnya al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia. Hal ini ditegaskan dalam furman Allah Subhanahu wata’ala adalam al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 185 : مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَ هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن كَانَ (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. “ Selain mempunyai keutamaan berupa diturunkannya al-Qur’an dibulan ramadhan ini, maka keutamaan lain yang tidak kalah pentingnya adalah terdapatnya suatu malam yang di dalamnya mengandung nilai keberkahan karena adanya Lailatul Qadar. Kepastian adanya Lailatul Qadar itu didalam bulan ramadhan ini adalah sebagaimana yang tertuang dalam firman Allah di dalam al-Qur’an surah al-Qadr ayat 1 : إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam kemuliaan Malam kemuliaan" dikenal dalam bahasa Indonesia dengan malam "Lailatul Qadr" yaitu suatu malam yang penuh kemuliaan, kebesaran, karena pada malam itu permulaan turunnya Al Qur'an. Di surah lain yaitu dalam ad-Dukhaan ayat 3 Allah Subhanahu Ta’ala juga menyebutkan bahwa al-Qur’an diturunkan di dalam bulan kemuliaan : إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ “ sesungguhnya Kami menurunkannya (al-Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” Malam yang diberkahi ialah malam Al Qur'an pertama kali diturunkan. Di Indonesia umumnya dianggap jatuh pada tanggal 17 Ramadhan. Berdasarkan dua ayat tersebut diatas oleh para ulama secara tegas memastikan bahwa bulan ramadhan adalah sebagai bulan keberkahan yang didalamnya diturunkan al-Qur’an sesuai dengan ayat 185 surah al-Baqarah , sedangkan di surah al-Qadr ayat 1 dan ad-Dukhaan ayat : 3. Kalangan masyarakat islam meyakini sepenuhnya bahwa pada salah satu malam diantara sepuluh hari terakhir bulan ramadhan terdapat satu malam yang mengandung kemulian dan keberkahan, karena pada malam tersebut berlangsungnya Lailatul Qadar yang oleh al-Qur’an dinyatakan sebagai malam kemuliaan yang ibadah pada malam tersebut lebih baik dari seribu bulan, sesuai dengan Firman Allah di surah al-Qadr ayat 3: لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Abdurrahman as-Sa’di sebagaimana yang dikutip oleh ustadz Abu Musa al-Atsari dalam tulisannua di Majalah Adz-Dzakhiirah, bahwa maksudnya, keutamaanya sebandung dengan seribu bulan, amalan yang dikerjakan pada malam itu lebih baik daripada amalan pada seribu bulan yang tidak ada padanya Lailatul Qadr. Ustadz Abu Musa Al-Atsari juga menyebutkan, Mujahid, Qatadah, dan Imam Syafi’I rahimahullaah berkata : Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan yang padanya tidak adanya lailatul qadar. Disebutkan juga Sufyan ats-Tsauri rahimahullaah berkata : Telah sampai kepadaku, bahwa Mujahid rahimahullaah berkata (perihal ayat diatas) : amalan,puasa, dan qiyamul (shalat malam) pada malam lailatul qadar lebih baik dari seribu bulan. Ditambahkan pula bahwa pada malam Lailatul Qadr Malaikat turun, sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an surah al-Qadr ayat 4: تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ “Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.” Ibnu Katsir rahimahullah seperti dikutip UstadzAbu Musa al-Atsari berkata : Begitu banyak malaikat yang turun pada malam ini karena melimpahnya berkah, malaikat turun bersama dengan turunnya berkah dan rahmat, sebagaimana mereka turun ketika al-Qur’an dibaca, mereka meliputi majelis-majelis ilmu, dan dengan tulus mereka meletakkan sayap-sayapnua untuk penuntut ilmu, sebagai penghargaan teruntuk mereka. Ustadz Abu Musa al-Atsari juga lebih jauh mengemukakan bahwa pada malam itu keamanan dan kesejahteraan meliputi orang-orang beriman, malaikat senatiasa mendoakan keselamatan bagi mereka . Sesuai dengan firman Allah dalam surah al-Qadr ayat : 5: سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. Coba kita bayangkan sendiri bagaimana keistimewaan malam lailatul qadar yang pada malam itu Allah Subhanahu Wata’ala melimpahkan ganjaran yang tak terhitung banyaknya atas ibadah yang dilakukan serta memberikan ampunan kepada hamba-Nya yang nilainya sama dengan apabila ibadah dilakukan melebihi 1000 bulan atau selama kurang lebih 83 tahun secara terus menerus. Yang kalau dihitung dengan umur manusia yang relatif rata-rata jarang dapat mencapai 83 tahun. Dan inilah bonus yang Allah limpahkan kepada hamba-Nya. Dan coba dibayangkan dan direnungkan secara lebih mendalam bahwa lailalatul qadar tersebut sebenarnya berlangsung dalam satu malam pada setiap tahun dibulan ramadhan, selama umur dunia sampai dihari kiamat. Dengan demikian masih adakah dikalangan umat islam yang kurang meyakini dan meragukan betapa maha pemurahnya Allah Subhanahu Wata’ala kepada setiap hamba-Nya . Lailatul Qadar Untuk Semua Kaum Mukmin Dari ulasan yang dikemukan diatas maka Allah Subhanahu Wata’ala telah melimpahkan malam lailatul qadar kepada seluruh hambanya yang beriman, sehingga siapapun mereka tidak akan terlepas dari keutamaan malam tersebut, dan mereka akan memperoleh keutamaan yang nilainya lebih besar dari seribu bulan dibanding dengan bulan-bulan lainya, apabila melakukan amalan dan ibadah-ibadah sesuai dengan syari’at. Dan tentunya apabila diantara kaum muslimin ada yang tidak melakukan amalan-amalan keibaikan dan ibadah sudah barang tentu tidak akan memperoleh keberkahan dan nilai kebaikan dimaksud. Karena malam lailatul qadar dengan keutamaanya tersebut dikhususkan bagi mereka-mereka yang dimalam tersebut beribadah sampai terbitnya fajar. Ustadz Abu Musa al Atsari dalam tulisan beliau mengenai Lailatul Qadar Malam Kemuliaan, mengemukakan ucapan Syaikh Utsaimin rahimahullaah yang membawa angin segar bagi kita, beliau berkata “ Dan ketahuilah juga,siapa saja yang mengerjakan qiyamullail dengan penuh iman dan mengharap pahala pasti akan mendapatkan ganjarannya, baik ia mengetahui malam itu Lailaltul Qadar atai tidak .Meskipun seandainya orang itu tidak mengetahui tanda-tandanya, atau tidak waspada dengannya dikarenakan tertidur atau sebab lain, akan tetapi ia telah mengerjakan qiyamullail dengan penuh iman dan mengharap pahala. Maka Allah Ta’ala pasti akan mem berikan pahalanya, yaitu bahwasanya Dia akan mengampuni dosanya yang telah lalu. Syaikh Utsaimin rahimahullaah juga berkata : Ketetapan ganjaran lailatul qadar dapat diraih oleh orang yang mengerjakan qiyamullail dengan penuh iman dan mengharap pahala, baik mengetahuinya ataupun tidak. Karena Nabi Shalalahu ‘alaihi wasallam telah bersabda dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari : حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ يَقُمْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman berkata, telah mengabarkan kepada kami Syu'aib berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Al Zanad dari Al A'raj dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa menegakkan lailatul qodar karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu". Dan beliau Nabi Shallalahu ‘alaihi wasallam tidak menyebutkan apabila ia mengetahui maka ia mendapatkannya. Maka tidak disyaratkan untuk mendapatkan pahala lailatur qadar , seseorang itu harus mengetahui dengan pasti malam itu. Akan tetapi kita katakan, barang siapa yang mengerjakan qiyamullail pada sepuluh hari terakhir bulan ramadhan seluruhnya, maka kami tegaskan bahwa ia pasti mendapatkan malam lailatul qadar, baik dipermulaan sepuluh hari terakhir, pertengahan, atau diakhirnya. Dan hanya Allah-lah Maha Pemberi taufik. Dari penjelasan syaikh Utsaimin yang ditampilkan diatas, maka sangatlah nyata bahwa siapa saja dari kaum muslimin yang ada dimuka bumi ini baik ia melakukan ‘itiqaf dimasjid ataupun yang b erada dirumah pasti akan menemukan malam penuh keberkahan dan kemuliaan serta akan mendapatkan ganjaran yang lebih b aik dari seribu bulan dibanding dengan beribadah didalam-dalam bulan-bulan lain, dengan catatan apabila yang bersangkutan melakukan qiyamullail.Karena ganjaran yang lebih b aik dari seribu bulan itu hanya diberikan kepada mereka-mereka yang memenuhi persyaratan yang digariskan yaitu. Tanpa melakukan qiyamullail janganlah berharap mendapatkannya. Dikemukakan pula bahwa barang siapa yang terhalang dari beribadah pada malam lailatul qadar, sungguh ia telah terhalang dari kebaikan seluruhnya dan tidaklah terhalang dari kebaikan malam itu kecuali orang-orang yang mahruum ( terhalang dari kebaikan). Oleh karenanya, setiap muslim sangat dianjurkan utnuk menghidupkan lailatul qadar dengan penuh iman danmenghaqrap pahala yang dijanjikan. Sehingga apabila ia ikhlas melaksanakannya, dosa-dosa dan kesahalan yang pernah ia goreskan dimasa lalu dapat diampuni. Kemudian berdasarkan ayat-ayat yang tertera dalam al-qur’an surah al-Qadr, disebutkan bahwa adanya kemuliaan itu berupa lailatul qadar berlangsung pada malam hari . Sesuai dengan pengertian malam menurut bahasa yaitu sejak tenggelamnya matahari. Maka malam lailatur qadar tersebut tentunya dimulai sejak magrib dan berakhir sampai terbitnya fajar ( lihat surah al-Qadr ayat 4 ). Dari pengertian tersebut, maka siapapun saja yang melakukan ibadah sejak magrib sampai terbitnya fajar baik berupa ibadah fardu seperti shalat magrib dan isya, maupun shalat rawatib yang mengikutinya, qiyamullail (termasuk didalamnya qiyamullramadhan) serta ibadah-ibadah sunah lainya berupa membaca al-Qur’an, mereka akan memperoleh apa yang dinamakan dengan lailatul qadar secara penuh. Namun apabila ada diantaranya ibadah yang tertinggal maka tentunya apabila dihitung secara matematis kebaikan dan keberkahan malam lailalatur qadar tersebut disesuaikan dengan aktifitas dan kuantitas ibadahnya. Janganlah seseorang sudah merasa tercukupi dengan ibadah fardunya saja, sedangkan ibadah sunahnya diabaikan, sehingga bagaimana mungkin memperoleh ganjaran yang besar. Anggapan Yang Keliru Tentang Malam Lailatul Qadar. Sejak lama hingga sekarang ini berkembang anggapan di tengah-tengah kalangan kaum muslimin terutama mereka yang masih jahil terhadap agama dan syari’atnya, mengenai anggapan dan gambaran mereka yang keliru dan melampaui batas dengan kisah-kisah khurafat dan keyakinan bathil. Bahwa pada saat turunnya lailatul qadar ditandai dengan berbagai ragam yang bersifat aneh dan diluar jangkauan nalar manusia, seperti adanya cahaya yang terang benderang ditengah kegelapan malam, pohon-pohon pada su jud, air menjadi beku. Dan pada saat tersebut seluruh doa yang dipanjatkan oleh mereka yang menemuinya, akan segera terkabulkan,misalnya ada yang berdoa minta kaya, maka saat itu secara otomatis apa yang dipegangnya menjadi emas, seperti membawa air dalam ember berubah menjadi emas. Kadang-kadang orang yang menemui lailatur qadar mendengar adanya ucapan salam dari malaikat . Serta banyak kisah-kisah lain lagi seperti seseorang yang mampu menyembuhkan seluruh penyakit setelah yang bersangkutan mendapatkan lailatur qadar berupa seberkas cahaya yang masuk kedalam tubuhnya. Kisah-kisah seperti tersebut dikatakan khurafat dan bathil karena tidak ada satupun riwayat dari Rasullulah shallalahu ‘alaihi wasallam maupun dari para sahabat dan para tabi’in serta tabi’ut tabi’in mengenai pernah adanya kejadian seperti tersebut. Berkembangnya kisah-kisah khurafat dan bathil mengenai malam lailatul qadar tersebut diatas adalah hanyalah ulah dari para pembuat bid’ah yang menyesatkan, tetapi sayangnya kisah-kisah khurafat tersebut oleh kebanyakan para ustadz dan kiai didiamkan saja. Perlu diketahui bahwa sesuai dengan keterangan yang tertuang dalam al-Qur’an dan as-sunnah semua ganjaran pahala yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wata’ala kepada hambanya yang berbuat kebajikan dan amal shalih akan diperoleh kelak dikemudian hari diakhirat, ataupun mungkin diberikan juga balasan didunia oleh Allah Subhanahu Wata’ala kepada seseorang berupa ganjaran semakin meningkatnya amal kebajikan dan keshalihannya. Demikian pula tentunya dengan kebaikan dan keberkahan yang ada dimalam lailatur qadar yang nilainya melebihi seribu bulan yang diberikan kepada mereka-mereka yang melakukan amal ibadah dibandingkan dengan ibadah yang dilakukan dimalam-malam lainnya yang tidak ada lailatul qadarnya. Ganjaran yang diperoleh tersebut bukanlah dalam bentuk yang nyata dan berbentuk materi, tetapi dalam bentuk nilai-nilai pahala. Untuk Mememperoleh Lailatul Qadar Tidaklah Harus Beribadah Semalam Suntuk. Ada satu kesalahan yang ditengarai sering dilakukan oleh mereka yang menginginkan memperoleh malam lailatul qadar, yaitu dengan melakukan ibadah dan qiyamullail semalam suntuk hingga pagi tanpa beristirahat, karena mereka berpegang kepada haditsnya Aisyah radhyallaahu anhuma yang diriwayatkan oleh Muslim yang salah dimengertikan oleh mereka : حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَأَبُو كَامِلٍ الْجَحْدَرِيُّ كِلَاهُمَا عَنْ عَبْدِ الْوَاحِدِ بْنِ زِيَادٍ قَالَ قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ عَنْ الْحَسَنِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ قَالَ سَمِعْتُ إِبْرَاهِيمَ يَقُولُ سَمِعْتُ الْأَسْوَدَ بْنَ يَزِيدَ يَقُولُ قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id dan Abu Kamil Al Jahdari keduanya dari Abdul Wahid bin Ziyad - Qutaibah berkata- Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid dari Al Hasan bin Ubaidullah ia berkata, saya mendengar Ibrahim berkata; saya mendengar Al Aswad bin Yazid berkata, Aisyah berkata; "Pada sepuluh terakhir bulan Ramadlan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lebih giat beribadah melebihi hari-hari selainnya." Padahal Muslim meriwayatkan dari Aisyah radhyallaahu anhuma sebuah hadits : و حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ خَشْرَمٍ أَخْبَرَنَا عِيسَى وَهُوَ ابْنُ يُونُسَ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ زُرَارَةَ عَنْ سَعْدِ بْنِ هِشَامٍ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا عَمِلَ عَمَلًا أَثْبَتَهُ وَكَانَ إِذَا نَامَ مِنْ اللَّيْلِ أَوْ مَرِضَ صَلَّى مِنْ النَّهَارِ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً قَالَتْ وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ لَيْلَةً حَتَّى الصَّبَاحِ وَمَا صَامَ شَهْرًا مُتَتَابِعًا إِلَّا رَمَضَانَ “Dan telah menceritakan kepada kami Ali bin Khasyram telah mengabarkan kepada kami Isa yaitu Ibnu Yunus, dari Syu'bah dari Qatadah dari Zurarah dari Sa'd bin Hisyam Al Anshari dari 'Aisyah katanya; "Jika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melakukan suatu aktivitas, maka beliau berusaha melanggengkannya (menjadikan abadi, rutin), jika beliau ketiduran malam hari atau sakit, maka beliau melaksanakan shalat dua belas raka'at di siang harinya." 'Aisyah melanjutkan; "Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam shalat malam hingga pagi hari, dan beliau juga tidak pernah berpuasa sebulan penuh secara turut berturut selain bulan Ramadhan." Syaikh Ali Hasan sebagaimana yang dikutip oleh Ustadz Abu Musa al-Atsari, berkata seraya mengomentari hadits diatas, dari hadits ini kita mengetahui kesalahan orang orang mengerjakan qiyamullail (begitu juga ibadah yang lain) hingga pagi. Sebab, yang sedemikian berpotensi melelahkan dan melemahkan badan. Dan juga menyelisihi pentunjukNabi shallahu ‘alaihi wasallam. Akhirnya marilah kita isi beberapa hari tersisa dari bulan ramadhan ini, yang mungkin saja dimalam yang tersisa tersebutlah berlangsungnya malam lailatur qadar, karena tidak ada seorangpun yang mengetahui rahasia tentang kapan waktunya lailatul qadar tersebut berlangsung. Bahkan seandainya ternyata malam lailatul qadar tersebut telah berlangsung dimalam-malam yang telah berlalu, yakinlah ibadah yang akan kita lakukan dimalam-malam yang tersisa dibulan ramadhan ini tetap mendapatkan ganjaran pahala yang berlipat ganda dibandingkan dengan ganjar pahala dari ibadah yang dilakukan pada malam-malam diluar ramadhan. Wallaahu ta’ala ‘alam. Sumber bacaan: 1. Al-Qur’an ( program software Salafi D.B) 2. Ensiklopedi Hadits Kitab 9 Imam (CDHK 91)/program software Lidwa Pusaka. 3. Lailatur Qadar Malam Kemulian Ustadz Abu Musa al-Atsari, majalah Adz-Dzakhiirah, vol.8 No.1/Edisi 43/1429 H Ba’da shubuh, Ahad- 25 Ramadhan -1431 H/5 September 2010. (Musni Japrie )

Selasa, 19 Juni 2012

NASIHAT LUKMAN KEPADA ANAKNYA ( 3 )


BERBAKTILAH KEPADA ORANG TUA
                                  Gambar ilustrasi dari Abu Farabi al Banjari
Oleh :Muhammad Abduh Tuasikal Belajar Islam
Wasiat Lukman berikutnya adalah mengenai berbakti pada orang tua. Di dalam nasehat tersebut disampaikan alasan kenapa kita mesti berbakti pada orang tua. Karena kesusahan yang dihadapi oleh ibu ketika mengandung hingga menyapih, maka sudah pantas kita membalas kebaikannya.
Allah Ta’ala berfirman,
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu” (QS. Lukman: 14).

Perintah Bakti pada Orang Tua
Sebelumnya Lukman menyampaikan wasiat yang amat penting pada anaknya yaitu untuk mentauhidkan Allah dan tidak berbuat syirik kepada-Nya. Setelah itu, ia menggandengkan wasiat elanjutnya dengan bakti pada kedua orang tua. Ini menunjukkan berbakti pada orang tua adalah ibadah yang amat mulia karena digandengkan dengan amalan yang mulia yaitu tauhid dan menjauhi kesyirikan. Wasiat berbakti pada orang tua yang digandengkan dengan perintah untuk mentauhidkan Allah juga disebutkan dalam beberapa ayat di antaranya,
وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya” (QS. Al Isro’: 23).
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak” (QS. An Nisa’: 36).
قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak” (QS. Al An’am: 151).


Kesusahan Ibu Ketika Mengandung Kita
Disebutkan dalam ayat yang mulia ini bahwa ibu yang mengandung kita telah mengalami berbagai kesusahan. Allah Ta’alaberfirman,
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ
“Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah” (QS. Lukman: 14). Inilah di antara alasan kenapa kita mesti berbakti pada orang tua karena kesusahan yang ia hadapi ketika mengandung kita (Lihat Taisir Al Karimir Rahman, 648).
Mujahid berkata bahwa yang dimaksud “وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ” adalah kesulitan ketika mengandung anak. Qotadah berkata bahwa yang dimaksud adalah ibu mengandung kita dengan penuh usaha keras. ‘Atho’ Al Khorosani berkata bahwa yang dimaksud adalah ibu mengandung kita dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 11: 53).
Namun demikianlah kita jarang mengingat kesusahan ibu ketika mengandung kita. Jika kita mengingat demikian, tentu balas budi yang kita berikan pada ibu, bukan malah kedurhakaan, bukan malah suka membantah, dan bukan malah seringnya merendahkan ortu. Dan kita harus selalu ingat, bahwa ibu menyapih kita selama dua tahun, lalu pantaskah dengan kedurhakaan yang kita balas?
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami atas kedurhakaan kami selama ini.

Masa Minimal Kehamilan
Dari ayat,
وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ
Dan menyapihnya dalam dua tahun” (QS. Lukman: 14). dan juga ayat lainnya,
وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ
Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan” (QS. Al Baqarah: 233),  para ulama mengambil kesimpulan bahwa waktu minimal ibu mengandung adalah 6 bulan. Demikian pendapat di antara dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Hal ini disimpulkan pula dari ayat lainnya,
وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلاثُونَ شَهْرًا
Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan” (QS. Al Ahqaf: 15). Karena kalau dihitung-hitung waktu total dari mengandung sampai menyapih adalah 30 bulan. Dan waktu menyapih adalah 2 tahun, sama dengan 24 bulan. Dengan demikian waktu minimal seorang ibu mengandung adalah 30 – 24 bulan, sama dengan 6 bulan.

Bersyukurlah pada Kedua Orang Tua
Jika kita telah mengetahui bagaimana orang tua telah mengasuh kita dan bagaimana susahnya mereka siang dan malam, maka hendaklah kita sebagai seorang anak untuk berbuat baik dan membalas kebaikan kita. Sebagaimana Allah Ta’alaberfirman,
وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
Dan ucapkanlah: "Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil"(QS. Al Isro’: 24).
Oleh karenanya dalam nasehat Lukman yang kita bahas, Allah Ta’ala berfirman,
أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu” (QS. Lukman: 14). Siapa yang membalas kebaikan orang tua dengan berbuat baik padanya, maka Allah pun akan membalasnya di hari kiamat kelak (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 11: 53-54).
Syaikh As Sa’di berkata, “Hendaklah kita berbuat baik pada kedua orang tua dengan berkata yang lemah lembut, perbuatan yang baik, tawadhu’, selalu memuliakan mereka dan jangan sampai menyakiti mereka dengan perkataan atau perbuatan”. (Taisir Al Karimir Rahman, 648).



Bakti kepada Ibu Lebih Utama
Dari ayat yang kita bahas, menunjukkan bahwa bakti kepada ibu itu lebih utama. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ بِحُسْنِ صَحَابَتِى قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « ثُمَّ أَبُوكَ »
Seorang pria pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Siapa dari kerabatku yang paling berhak aku berbuat baik?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu’. Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu.’ Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu’. Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ayahmu’.” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548).
Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Dalam hadits ini terdapat dorongan untuk berbuat baik kepada kerabat dan ibu lebih utama dalam hal ini, kemudian setelah itu adalah ayah, kemudian setelah itu adalah anggota kerabat yang lainnya. Para ulama mengatakan bahwa ibu lebih diutamakan karena keletihan yang dia alami, curahan perhatiannya pada anak-anaknya, dan pengabdiannya. Terutama lagi ketika dia hamil, melahirkan (proses bersalin), ketika menyusui, dan juga tatkala mendidik anak-anaknya sampai dewasa” (Syarh Muslim, 8: 331).
Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.

Referensi:
1.    Taisir Al Karimir Rahman fii Tafsir Kalamil Manan, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, 1420 H.
2.    Tafsir Al Qur'an Al 'Azhim, Ibnu Katsir, terbitan Muassasah Qurthubah, cetakan pertama, 1421 H.
3.    Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Abu Zakariya Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ihya’ At Turots, cetakan kedua, 1392.
4.    Fiqh  At Ta’amul Ma’al Walidain, Musthofa Al ‘Adawi, terbitan Maktabah Makkah.
@ KSU, Riyadh, KSA, 1 Jumadil  Ula 1433 H
Sumber : www.rumaysho.com

Minggu, 17 Juni 2012

NASIHAT LUKMAN KEPADA ANAKNYA ( 2 )




SYIRIK SEJELEK-JELEK KEDZALIMAN
Oleh :Muhammad Abduh Tuasikal Belajar Islam
Melaanjutkn inti nasehat Lukman pada anaknya, saat ini kita akan masuk ke wasiat atau nasehat pertama. Nasehat kali ini begitu penting karena berkaitan dengan akidah dan tauhid seorang muslim. Di dalamnya dijelaskan mengenai bahaya apabila seorang muslim melakukan kesyirikan. Syirik adalah sejelek-jeleknya perbuatan zholim.
Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".” (QS. Lukman: 13).
Sebagaimana dijelaskan dalam serial sebelumnya mengenai makna hikmah, yaitu hikmah adalah kepahaman, ilmu dan ta’bir (penjelasan) (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 11: 52). Dan apa yang disampaikan oleh Lukman dalam ayat di atas termasuk pokok dan kaedah besar dalam hikmah (Taisir Al Karimir Rahman, 648). Hal ini menunjukkan penting dan amat urgentnya mengenali dan memahami hikmah pertama yang disampaikan oleh Lukman pada anaknya.
Ia pun menggunakan cara penyampaian yang amat baik yaitu dengan panggilan “yaa bunayya”, wahai anakku. Ini adalah panggilan yang amat lemah lembut pada anaknya, yang bernama Tsaron sebagaimana dikatakan oleh As Suhaili. Tujuannya, ia menyampaikan hal ini dalam rangka kasih sayang, supaya anaknya mudah menerima kebaikan. Demikianlah seharusnya kita dalam menyampaikan suatu nasehat kepada anak kita.
Ibnu Katsir rahimahullah, “Lukman menasehati anaknya yang tentu amat ia sayangi, yaitu dengan nasehat yang amat mulia. Ia awali pertama kali dengan nasehat untuk beribadah kepada Allah semata dan tidak berbuat syirik kepada Allah dengan sesuatu apa pun.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 11: 53)
Nasehat Lukman pada anaknya,
يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".” (QS. Lukman: 13).
Dalam hadits Bukhari, dari Qutaibah, dari Jarir, dari Al A’masy, dari Ibrahim, dari ‘Alqomah, dari ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu, beliau menyebutkan ayat,
الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman” (QS. Al An’am: 82). Ketika disebutkan ayat ini, para sahabat pun menjadi khawatir. Mereka berkata,
أينا لم يَلْبس إيمانه بظلم؟
“(Wahai Rasul), siapakah yang tidak mencampurkan keimanannya dengan kesyirikan?
Lantas Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
"إنه ليس بذاك، ألا (3) تسمع إلى قول لقمان: { يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ } .
Itu bukanlah kezholiman seperti yang kalian sangkakan. Tidakkah kalian pernah mendengar nasehat Lukman pada anaknya, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (HR. Bukhari no. 3360)
Kenapa syirik disebut sejelek-jelek kezholiman?
Karena orang yang berbuat syirik telah menyamakan makhluk yang dicipta dari tanah dengan Malik, Raja semesta alam, yaitu Allah Ta’ala. Ia pun telah menyamakan sesuatu yang tidak memiliki sesuatu pun di muka bumi dengan Allah yang memiliki segala sesuatu. Makhluk yang penuh kekurangan dari segala sisi dan begitu fakir disamakan dengan Allah yang Maha Sempurna dari segala sisi dan Maha Kaya. Makhluk yang tidak dapat menciptakan dan memberi nikmat sebesar dzarrah (yang kecil semisal semut) disamakan dengan Allah yang Maha Pencipta dan Maha Pemberi nikmat, yaitu nikmat agama, dunia, akhirat, hati, badan, semua nikmat ini hanya berasal dari Allah. Tidak ada pula yang dapat mencabut nikmat-nikmat tadi selain Allah. Apakah ini bukan sejelek-jelek kezholiman?! (Taisir Al Karimir Rahman, 648).
Kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, “Bukankah sejelek-jelek kezholiman ketika Allah menciptakan kita dengan maksud untuk beribadah kepada-Nya dan mentauhidkan-Nya, lalu tujuan mulia ini dipalingkan ke derajat yang amat rendah, yaitu menjadi beribadah kepada makhluk yang tidak mungkin disamakan dengan Allah?! Inilah kenapa disebut sejelek-jelek perbuatan zholim.” (Taisir Al Karimir Rahman, 648).
Renungan
Sungguh sangat menyedihkan jika ada seorang muslim meskipun ia bersyahadat, shalat, rajin puasa, gemar bersedekah dan bahkan sudah berhaji, namun dia melakukan salah satu kesyirikan. Sungguh dia telah menistakan tujuan hidupnya. Ibadah-ibadahnya jadi sia-sia gara-gara syirik. Bahkan ia pun telah merendahkan Sang Pencipta dengan makhluk yang hina karena telah menyamakan Allah dalam ibadah. Sudah sepantasnya seorang muslim meninggalkan syirik dengan berbagai macam ragamnya termasuk dalamnya tradisi-tradisi sesat. Masih ada sebagian kita melakukan tumbal dengan sembelihan ketika dibangun jembatan, memakai jimat dan penglaris. Bukankah ini semua syirik dan merendahkan pencipta serta menistakan jalan hidup kita yang mesti kita tempuh?
Semoga Allah memudahkan kita untuk merealisasikan tujuan hidup kita untuk beribadah pada-Nya dan semoga kita dijauhkan dari segala bentuk kesyirikan.
Baca ulasan lebih lengkap mengenai bahaya kesyirikan di sini.
Wallahu waliyyut tuafiq.
Referensi:
1.    Taisir Al Karimir Rahman fii Tafsir Kalamil Manan, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, 1420 H.
2.    Tafsir Al Qur'an Al 'Azhim, Ibnu Katsir, terbitan Muassasah Qurthubah, cetakan pertama, 1421 H.

@ KSU, Riyadh, KSA, 5 Rabi’uts Tsani 1433 H