Tampilkan postingan dengan label Syirik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syirik. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Februari 2013

TOLAK BALA YANG TIDAK SESUAI SYARI'AT ISLAM




Gambar : Ilustrasi

Tidak seorangpun yang namanya anak manusia menginginkan tertimpa bala dan bencana dalam kehidupan, baik untuk pribadi, anak dan isteri dan keluarganya dan tentunya termasuk pula terhadap lingkungan dan masyarakat sekitarnya. Sekecil apapun bentuk bala tersebut baik berupa musibah termasuk di dalamnya sakit maupun bencana yang besar  Namun demikian meskipun demikian tidak jarang bala ataupun bencana itu datang juga menimpanya. Berbagai upaya dilakukan untuk mencegah datang atau terulangnya kembali bala dan bencana, baik yang bersifat upaya fisik maupun yang bersifat non fisik yaitu berupa langkah-langkah yang bersifat meminta pertolongan dengan ritual yang disebut sebagai tolak bala.
Ritual tolak bala dikalangan masyarakat di negeri ini bukanlah hal yang asing lagi, kebanyakan kalangan malahan sangat akrab dengan ritual semacam ini. Begitu banyaknya bentuk ritual tolak bala ditengah-tengah masyarakat, sehingga setiap apa saja yang dipredeksi berpeluang besar mendapatkan bala maka sebelumnya terlebih dahulu dilakukan ritual tolak bala.
Berkenaan dengan sudah memasyarakat dan mendarah dagingnya apa yang dinamakan tolak bala di kalangan muslim di negeri, maka dipandang perlu untuk mengulas tentang liku-liku ritual tolak bala ditinjau dari syari’at Islam.

Bermacam-macam Rupa Ritual Tolak Bala

Masyarakat Indonesia yang dikenal memiliki banyak suku bangsa, tentunya juga mempunyai cirri-ciri khas tertentu dalam hal-hal yang berkaitan dengan adat istiadat dan budaya serta juga dalam hal yang berkaitan dengan ritual-ritual keagamaan termasuk dalam hal ini ritual menolak bala. Seperti di kalangan Masyrakat Jawa di kenal dengan nama ruwatan.
Sesungguhnya sangatlah banyak sekali ragam dari ritual tolak bala yang sering dilakukan oleh mereka-mereka masyarakat di negeri ini termasuk mereka yang mengaku  sebagai muslim yang sebenarnya memiliki telah memiliki aturan yang mengikat yang bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah
.
Pada umumnya ritual tolak bala yang banyak dilakukan oleh berbagai kalangan di negeri ini pada awalnya adalah bersumber dari kepercayaan para leluhur yang diwariskan secara turun temurun dari generasi kegenarasi berikutnya.
Semua orang tentu mendambakan keselamatan dan kebahagiaan, sehingga apabila ada bencana yang mengancam mereka pun berusaha menangkalnya. Dan jika bencana sudah menimpa, maka berbagai cara pun ditempuh untuk menghilangkannya. Dalam keadaan seperti ini, orang yang tidak memiliki pemahaman tauhid yang benar sangat rawan terjerumus dalam kesyirikan.
Beberapa  contoh tentang ritual tolak bala yang dilakukan oleh masyarakat yaitu antara lain :

1. Tolak bala pada saat dimulainya membangun rumah dengan mendirikan tiang soko guru yang dilaksanakan pada subuh dengan melakukan selamatan kemudian pada bagian ujung atas tiang soko guru diikatkan kain yang diberi mayang pinang.

2.Tolak bala pada saat  enempati rumah baru dengan menempatkan sesaji pada empat pojok rumah kemudian pada saat waktu magrib tiba dilakukan azan pada tiap pojokan rumah.

3Tolak bala pada saat wanita hamil dengan Ritual mandi-mandi pada kehamilan 6 bulan yang dimaksudkan agar wanita yang hamil terlepas dari hal-hal yang tidak diinginkan dan pada saat melahirkan dapat berjalan secara lancar
.
4Tolak bala dengan menanam/menguburkan ari-ari/placenta dari bayi yang  baru dilahirkan agar roh dari ari-ari tersebut tidak mengganggu bayi dan bayi terlindungi dari gangguan roh atau jin.

5.Tolak bala untuk bayi dengan memberikan gelang dari benang hitam pada kedua tangan bayi agar terhindar dari gangguan makhluk-makhluk halus atau jin yang suka mengganggu bayi.

6.Tolak bala setelah melahirkan dengan menyelenggarakan selamatan kecil ,7 hari setelah kelahiran ( pada masyarakat Banjar disebut dengan palas bidan), pada acara palas bidan ini disediakan pula sesaji ( masyarakat banjar menamakannya piduduk) berupa beras yang dimasukkan dalam baskom kecil, kemudian dilengkapi dengan kelapa, gula merah, pisang dan tidak ketinggalan telur. Sesaji ini kemudian diberikan kepada bidan yang membantu kelahiran.

7. Tolak bala setelah bayi berumur 40 hari diadakan acara naik ayun yang diawali dengan ritual tepung tawar dari air yang diberi minyak wangi dan bunga-2an, ritual ini juga dimaksudkan memberikan perlindungan kepada sibayi.

8.Tolak bala untuk bayi yang dilahirkan dalam bulan Safar dengan cara dilakukan penimbangan bayi dengan beraneka makanan, agar bayi kelak terhindar dari berbagai musibah

9.Tolak bala dari berbagai  penyakit, dimana apabila di dalam suatu rumah sering ada yang mengalami sakit maka diadakan selamatan tolak bala dengan bubur merah dan bubur putih.

10.Tolak bala untuk menyelenggarakann hajatan.Apabila akan mengadakan hajatan yang mengundang orang banyak seperti perkawinan, sebelumnya dilakukan ritual menghanyutkan/melarung sesajen yang dapat dilakukan ditempat-tempat yang berair seperti di laut, sungai, danau, kolam , selokan. Sedangkan sesajennyaberupa nasi ketan yang diberi telur. Ritual ini dimaksudkan agar selama berlangsungnya hajatan tidak akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

11.Tolak bala untuk kendaraan agar terhindar dari musibah tabrakan atau kecelakaan dengan menyiramkan air kembang yang sudah diberi mantera pada kendaraan yang baru dengan maksud agar kendaraan tersebut terhindar dari kecelakaan.

12.Tolak bala sebelum melakukan pelayaran pertama untuk kapal yang baru selesai dibuat dengan menyiramkan air kembang dengan maksud agar kapal selamat dan terhindar dari berbagai bala dan bencana.

13.Tolak bala dalam rangka pembangunan proyek-proyek jalan, jembatan, pelabuhan/dermaga , rel kereta api dan gedung-gedung bes ar serta bertingkat dengan melakukan selamatan yang dibarengi dengan menyembelih hewan ternak yang kepalanya ditanamkan dilokasi agar pekerjaan berjalan lancar dan para pekerja selamat serta terhindar dari musibah/malapetaka.

14.Tolak bala dengan menyelenggarakan selamatan dan penyembelihan hewan ternak pada saat dimulainya pekerjaan pembukaan pertambangan sehingga dengan tolak bala tersebut segala bentuk musibah dan bencana dapat dihindarkan.

15.Tolak bala dengan memberikan tumbal berupa hewan ternak untuk kawah gunung dengan maksud agar gunung tidak meletus.

16. Tolak bala sedekah bumi, bersih desa dan ritual lainnya dengan melakukan pergelaran wayang yang tidak ketinggalan menyediakan sesajen, dengan tujuan agar masyarakat terhindar dari berbagai bencana.

17.Tolak bala dengan melarungkan/menghanyutkan  sesajen dan tumbal berupa kepala hewan ternak dalam acara ritual sedekah laut agar para nelayan terhindar dari bencana dilaut pada saat berlayar mencari ikan.

18. Tolak bala untuk menghindarkan penyakit dengan secara rutin menyediakan  dan menggantungkan sesajen di pohon-pohon besar atau tempat-tempat tertentu yang dianggap ada penunggunya yang sering mengganggu manusia.

19.Tolak bala untuk menghindarkan dan melindungh rumah dan penghuninya dari hal-hal yang buruk akibat perbuatan atau ulah manusia atau jin dengan meletakkan penangkal diatas pintu masuk.

20.Tolak bala dengan memakai penangkal atau jimat agar diri terhindar dari berbagai musibah dan malapetaka serta gangguan dari jin.

Tolak Bala Dengan Berbuat Syirik

Seluruh gambaran yang berkaitan dengan ritual menolak bala yang dikemukan diatas sesungguhnya samasekali tidak menunjukkan bahwa perbuatan tersebut bersesuai dengan syari’at yang bersumber dan al-Qur’an dan as-Sunnah serta contoh dari perbuatan para sahabat dan ulama salafus shalih.
Apa-apa yang dikerjakan oleh sebagian orang untuk menolak bala atau menghindarkan diri dari berbagai musibah selama ini merupakan perbuatan bid’ah dalam agama dan bahkan termasuk perbuatan syirik. Karena semua yang mereka kerjakan bukan ditujukan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, melainkan ditujukan kepada selain Allah.
Menujukan doa dan ibadah kepada selain Allah merupakan kekafiran, kemusyrikan, dan kezaliman. Kekafiran orang yang berdoa kepada selain Allah merupakan ketetapan al-Qur’an. Allah ta’alaberfirman :

وَمَن يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِندَ رَبِّهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ

Dan barangsiapa menyembah tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung. (QS. al-Mukminun: 117).

Berdoa kepada selain Allah pun termasuk kezaliman, bahkan kezaliman yang terbesar. Karena ibadah adalah hak Allah. Barangsiapa yang menujukan ibadah kepada selain Allah berarti dia telah menujukan ibadah kepada yang tidak berhak menerimanya, dan itulah kezaliman. Hak Allah adalah hak pertama dan paling agung yang harus dipenuhi, sehingga tidak menunaikan hak Allah merupakan kezaliman yang paling besar. Allah ta’ala berfirman (yang artinya),:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". (QS. Luqman: 13

Dulu orang-orang musyrik juga selalu berdoa kepada Allah, mereka berdoa kepada Allah siang dan malam. Hanya saja mereka mempersekutukan Allah di dalam doanya. Mereka berdoa kepada Allah, namun mereka juga berdoa kepada selain Allah. Apalagi dalam kondisi genting dan terjepit, mereka mengikhlaskan doanya untuk Allah semata. Walaupun tatkala Allah selamatkan mereka, mereka pun kembali berbuat syirik.
Allah ta’ala menceritakan hal itu dalam firman-Nya :

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

Maka apabila mereka naik kapal mereka mendo'a kepada Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya [1159]; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)( .” (QS. al-’Ankabut: 65).
 K e t e r a n g a n :L
[1159] Maksudnya: dengan memurnikan keta'atan semata-mata kepada Allah.
Hal ini menunjukkan bagaimana keyakinan orang-orang musyrik di kala itu.

 Mereka meyakini bahwa dalam keadaan terjepit tidak ada lagi yang bisa menyelamatkan mereka kecuali Allah. Oleh sebab itu mereka berdoa hanya kepada Allah, tidak kepada selain-Nya. Maka bandingkanlah dengan sebagian orang pada masa sekarang ini yang berdoa, memohon perlindungan dan keselamatan kepada selain Allah, baik ketika lapang maupun sempit. Alangkah bodohnya perbuatan mereka itu… Melebihi kebodohan orang-orang musyrik masa silam.
Kebodohan terhadap prinsip-prinsip dasar beragama bak kabut tebal yang menyelimuti kehidupan kaum muslimin. Semakin jauh kita dari masa kenabian, semakin dalam kita terperosok dalam kubangan kejahilan. Setiap berlalu sebuah zaman, pastilah zaman berikutnya lebih buruk. Berita yang benar, tanpa kedustaan dan keraguan, menerangkan bahwa umat Islam akan mengikuti pola kehidupan kaum Yahudi dan Nasrani, sejengkal demi sejengkal, sehasta lalu sehasta. Sampai-sampai jika mereka masuk mengikuti berkeloknya lubang binatang tanah, pastilah akan diikuti oleh umat Islam. Sungguh sangat menyedihkan.
Pantas sekali jika seorang muslim—yang benar-benar memahami tujuan diangkatnya Muhammad shallallahu’alaihiwa sallam  sebagai seorang nabi dan rasul—merasa sesak dada dan bersedih hati ketika menyaksikan kenyataan pahit yang menimpa umat Islam. Yang baik dianggap buruk, yang buruk diperjuangkan atas nama kebaikan. Sebagian umat tidak mampu lagi mengenal hal ma’ruf sebagai sesuatu yang ma’ruf, tidak pula mengingkari sesuatu yang mungkar. Orang jujur seringkali didustakan, sementara orang berdusta dianggap jujur. Sikap khianat pada seseorang malah terhitung amanah, sementara banyak orang yang mempertahankan amanah justru dituduh berkhianat. Sungguh benar sabda Rasulullah n.
Dari sekian macam bentuk kebodohan sekaligus upaya pembodohan umat adalah masih dipertahankannya upacara-upacara, ritual, dan perayaan dalam bentuk menyembelih hewan atau binatang untuk selain Allah ta’ala. Sesaji-sesaji yang kental dengan warna kepercayaan animisme, persembahan-persembahan yang nyata menjadi warisan dari agama Hindu dan Budha, dan tuntutan dari dukun dan paranormal untuk menyembelih jenis hewan tertentu adalah sesuatu yang akrab di telinga. Kewajiban kita adalah memerangi bentuk-bentuk kesyirikan semacam ini, yaitu penghambaan kepada makhluk yang lemah dengan mengalirkan darah hewan sembelihan.


Musibah adalah Takdir Allah

  Seluruh hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia, meliputi keburukan  maupun kebaikan , telah ditetapkan melalui takdir Allah subhanahu wa ta’ala sesuai dengan Firman-N ya :
قُلْ مَن ذَا الَّذِي يَعْصِمُكُم مِّنَ اللَّهِ إِنْ أَرَادَ بِكُمْ سُوءًا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ رَحْمَةً وَلَا يَجِدُونَ لَهُم مِّن دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا
Katakanlah: "Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?" Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah ( QS.Al Ahzab : 17 ).

  Sedangkan Takdir bagi manusiaitu sendiri  ditetapkan oleh Allah azza wa jalla 50.000 tahun sebelum dunia diciptakan sebagaimana sabda Rasullullah shallallahu’alaihi wa sallam :

صحيح مسلم ٤٧٩٧: حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ أَحْمَدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَرْحٍ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي أَبُو هَانِئٍ الْخَوْلَانِيُّ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ قَالَ وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ
حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا الْمُقْرِئُ حَدَّثَنَا حَيْوَةُ ح و حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ سَهْلٍ التَّمِيمِيُّ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي مَرْيَمَ أَخْبَرَنَا نَافِعٌ يَعْنِي ابْنَ يَزِيدَ كِلَاهُمَا عَنْ أَبِي هَانِئٍ بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ غَيْرَ أَنَّهُمَا لَمْ يَذْكُرَا وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ

Shahih Muslim 4797: Telah menceritakan kepadaku Abu Ath Thahir Ahmad bin 'Amru bin dari 'Abdullah bin 'Amru bin Al 'Ash dia berkata; "Saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Allah telah menentukan takdir bagi semua makhluk lima puluh tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.' Rasulullah menambahkan: 'Dan arsy Allah itu berada di atas air." Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu 'Umar; Telah menceritakan kepada kami Al Muqri; Telah menceritakan kepada kami Haiwah; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Sahl At Tamimi; Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Maryam; Telah mengabarkan kepada kami Nafi' yaitu Ibnu Yazid keduanya dari Abu Hani melalui jalur ini dengan Hadits yang serupa. Namun keduanya tidak menyebutkan lafazh: "Dan 'arsy Allah itu berada di atas air."

Segala sesuatu itu sesungguhnya itu sesuai dengan apa yang digariskan oleh Allah subhanahu wa ta’ala berupa takdir sebagimana yang disebutkan dalam Hadits Rasullullah shallallahu’alaihi wa sallam :

صحيح مسلم ٤٧٩٩: حَدَّثَنِي عَبْدُ الْأَعْلَى بْنُ حَمَّادٍ قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ ح و حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ عَنْ مَالِكٍ فِيمَا قُرِئَ عَلَيْهِ عَنْ زِيَادِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ مُسْلِمٍ عَنْ طَاوُسٍ أَنَّهُ قَالَ أَدْرَكْتُ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُونَ كُلُّ شَيْءٍ بِقَدَرٍ قَالَ
وَسَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ شَيْءٍ بِقَدَرٍ حَتَّى الْعَجْزِ وَالْكَيْسِ أَوْ الْكَيْسِ وَالْعَجْزِ

Shahih Muslim 4799: dari 'Amru bin Muslim dari Thawus dia berkata; "Saya pernah mendapati beberapa orang sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan; 'Segala sesuatu itu sesuai takdirnya.' Ibnu Thawus berkata; 'Saya pernah mendengar Abdullah bin Umar mengatakan; 'Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda: 'Segala sesuatu itu sesuai takdirnya, hingga kelemahan dan kecerdasan (atau kecerdasan dan kelemahan.

Manusia hanyalah menjalani skenario yang telah digariskan, tidak ada campur tangan manusia di dalamnya. Segala liku-liku dan seluk beluk kehidupan baik berupa kebaikan  maupun keburukan sudah tersurat dalam takdir. Firman Allah azza wa jalla :

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.( QS.At Taghaabun : 11 )

Pada ayat lain disebutkan firman  Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللهُُ بِضُرٍّ فَلاَ كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلاَ رَادَّ لِفَضْلِهِ
“Jika Allah menimpakan kepadamu kemudaratan maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia dan bila Dia menghendaki kebaikan bagimu maka tidak ada yang dapat menolak keutamaan-Nya.” (Yunus: 107)

Rasullullah shallallahu’alaihi wa sallam dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dalam shahih Bukhari menyebutkan :

صحيح البخاري ٤٥٦٨: حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ الْأَعْمَشِ قَالَ سَمِعْتُ سَعْدَ بْنَ عُبَيْدَةَ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيِّ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جَنَازَةٍ فَأَخَذَ شَيْئًا فَجَعَلَ يَنْكُتُ بِهِ الْأَرْضَ فَقَالَ مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنْ النَّارِ وَمَقْعَدُهُ مِنْ الْجَنَّةِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نَتَّكِلُ عَلَى كِتَابِنَا وَنَدَعُ الْعَمَلَ قَالَ اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ أَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ وَأَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاءِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ ثُمَّ قَرَأَ
{ فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى }
الْآيَةَ

Shahih Bukhari 4568: dari Abu Abdurrahman As Sulami dari Ali radliallahu 'anhu ia berkata; Suatu ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berada dalam rombongan pelayat Jenazah, lalu beliau mengambil sesuatu dan memukulkannya ke tangah. Kemudian beliau bersabda: "Tidak ada seorang pun, kecuali tempat duduknya telah ditulis di neraka dan tempat duduknya di surga." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, kalau begitu, bagaimana bila kita bertawakkal saja terhadap takdir kita tanpa beramal?" beliau menajawab: "Ber'amallah kalian, karena setiap orang akan dimudahkan kepada yang dicipta baginya. Barangsiapa yang diciptakan sebagai Ahlus Sa'adah (penduduk surga), maka ia akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan Ahlus Sa'adah. Namun, barangsiapa yang diciptakan sebagai Ahlusy Syaqa` (penghuni neraka), maka ia akan dimudahkan pula untuk melakukan amalan Ahlusy Syaqa`." Kemudian beliau membacakan ayat: "FA`AMMAA MAN `A'THAA WAT TAQAA WA SHADDAQA BIL HUSNAA (Dan barangsiapa yang memberi, dan bertakwa serta membenarkan kebaikan).."

 Sebagai makhluk yang diciptalan Allah azza wajjala,  manusia wajib mengimani bahwa apa yang telah ditakdirkan menjadi bagian yang tidak pernah meleset dan apa yang tidak ditakdirkan untuk menjadi bagian dari seseorang tidak akan didapatkan olehnya. Jalan hidup  manusia tidak pernah luput dari apa yang telah ditakdirkan sebagaimana  sabda rasullullah shallallahu’alahi wa sallam :

سنن أبي داوود ٤٠٧٨: حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ مُسَافِرٍ الْهُذَلِيُّ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَسَّانَ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ رَبَاحٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ أَبِي عَبْلَةَ عَنْ أَبِي حَفْصَةَ قَالَ
قَالَ عُبَادَةُ بْنُ الصَّامِتِ لِابْنِهِ يَا بُنَيَّ إِنَّكَ لَنْ تَجِدَ طَعْمَ حَقِيقَةِ الْإِيمَانِ حَتَّى تَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَمَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ لَهُ اكْتُبْ قَالَ رَبِّ وَمَاذَا أَكْتُبُ قَالَ اكْتُبْ مَقَادِيرَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ يَا بُنَيَّ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ مَاتَ عَلَى غَيْرِ هَذَا فَلَيْسَ مِنِّي

Sunan Abu Daud 4078 dari Abu Hafshah ia berkata; Ubadah bin Ash Shamit berkata kepada anaknya, "Wahai anakku, sesungguhnya engkau tidak akan dapat merasakan lezatnya iman hingga engkau bisa memahami bahwa apa yang ditakdirkan menjadi bagianmu tidak akan meleset darimu, dan apa yang tidak ditakdirkan untuk menjadi bagianmu tidak akan engkau dapatkan. Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Pertama kali yang Allah ciptakan adalah pena, lalu Allah berfirman kepadanya: "Tulislah!" pena itu menjawab, "Wahai Rabb, apa yang harus aku tulis?" Allah menjawab: "Tulislah semua takdir yang akan terjadi hingga datangnya hari kiamat." Wahai anakku, aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa meninggal tidak di atas keyakinan seperti ini maka ia bukan dari golonganku."

  Sejalan dengan itu segala yang menimpa anak manusia itu datangnya dari Allah azza wa jalla, bukan oleh sebab yang lain.
Firman Allah azza wa jalla :

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.( QS.At Taghaabun : 11 )

 Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

وَإِذَا أَذَقْنَا النَّاسَ رَحْمَةً فَرِحُوا بِهَا وَإِن تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ إِذَا هُمْ يَقْنَطُونَ

Dan apabila Kami rasakan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan rahmat itu. Dan apabila mereka ditimpa suatu musibah (bahaya) disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa.(QS.Ar Ruum : 36 )

. Firman Allah ta’ala :-

قُلْ مَن ذَا الَّذِي يَعْصِمُكُم مِّنَ اللَّهِ إِنْ أَرَادَ بِكُمْ سُوءًا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ رَحْمَةً وَلَا يَجِدُونَ لَهُم مِّن دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا

Katakanlah: "Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?" Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah. (QS.Al Ahzab : 17)

 Tidak  ada sesuatu kekuatan ataupun kekuasaan lain selain Allah yang dapat mendatangkan kebaikan maupun keburukan , kecuali hanya Allah ta’ala sajalah yang kekuatan dan kekuasaan-Nya tidak tertandingi.Akan hal ini  Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مسند أحمد ٢٥٣٧: حَدَّثَنَا يُونُسُ حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنْ قَيْسِ بْنِ الْحَجَّاجِ عَنْ حَنَشٍ الصَّنْعَانِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ
حَدَّثَهُ أَنَّهُ رَكِبَ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا غُلَامُ إِنِّي مُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ احْفَظْ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظْ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ وَإِذَا سَأَلْتَ فَلْتَسْأَلْ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ رُفِعَتْ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ

Musnad Ahmad 2537: dari Abdullah bin Abbas bahwa ia menceritakan kepadanya; pada suatu hari ia menunggang di belakang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepadanya: "Wahai anakku, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat; Jagalah Allah niscaya Dia akan menjagamu, Jagalah Allah niscaya engkau mendapatiNya di hadapanmu. Jika engkau meminta maka mintalah kepada Allah, dan jika engkau memohon pertolongan maka mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, seandainya umat ini bersatu untuk memberi manfaat kepadamu, niscaya mereka tidak akan mampu memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan padamu. Dan seandainya mereka bersatu untuk mencelakakan dirimu, niscaya mereka tidak akan mampu mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan padamu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering."

Musibah dan bencana merupakan sesuatu yang telah ditakdirkan oleh Allah lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صحيح مسلم ٤٧٩٧: حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ أَحْمَدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَرْحٍ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي أَبُو هَانِئٍ الْخَوْلَانِيُّ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ قَالَ وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ
حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا الْمُقْرِئُ حَدَّثَنَا حَيْوَةُ ح و حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ سَهْلٍ التَّمِيمِيُّ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي مَرْيَمَ أَخْبَرَنَا نَافِعٌ يَعْنِي ابْنَ يَزِيدَ كِلَاهُمَا عَنْ أَبِي هَانِئٍ بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ غَيْرَ أَنَّهُمَا لَمْ يَذْكُرَا وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ

Shahih Muslim 4797: Telah menceritakan kepadaku Abu Ath Thahir Ahmad bin 'Amru bin 'Abdullah bin Sarh; Telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb; Telah mengabarkan kepadaku Abu Hani Al Khalwani dari Abu 'Abdur Rahman Al Hubuli dari 'Abdullah bin 'Amru bin Al 'Ash dia berkata; "Saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Allah telah menentukan takdir bagi semua makhluk lima puluh tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.' Rasulullah menambahkan: 'Dan arsy Allah itu berada di atas air." Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu 'Umar; Telah menceritakan kepada kami Al Muqri; Telah menceritakan kepada kami Haiwah; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Sahl At Tamimi; Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Maryam; Telah mengabarkan kepada kami Nafi' yaitu Ibnu Yazid keduanya dari Abu Hani melalui jalur ini dengan Hadits yang serupa. Namun keduanya tidak menyebutkan lafazh: "Dan 'arsy Allah itu berada di atas air."

Berlindunglah Hanya Kepada Allah

Seorang hamba yang ingin selamat dari berbagai macam musibah dan bencana hendaknya hanya berlindung dan berdoa kepada Allah. Karena hanya Allah yang menguasai segala urusan di langit dan di bumi. Dia lah yang menguasai segala manfaat dan madharat.
Isti’adzah/meminta perlindungan merupakan salah satu bentuk doa. Sementara doa adalah ibadah; sehingga tidak boleh ia ditujukan kepada selain Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سنن الترمذي ٣٢٩٣: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ أَخْبَرَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ عَنْ ابْنِ لَهِيعَةَ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي جَعْفَرٍ عَنْ أَبَانَ بْنِ صَالِحٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الدُّعَاءُ مُخُّ الْعِبَادَةِ
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ ابْنِ لَهِيعَةَ

Sunan Tirmidzi 3293: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Hujr telah mengabarkan kepada kami Al Walid bin Muslim dari Ibnu Lahi'ah dari 'Ubaidullah bin Abu Ja'far dari Aban bin Shalih dari Anas bin Malik dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "Doa adalah inti ibadah." Abu Isa berkata; hadits ini adalah hadits gharib dari sisi ini, kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits Ibnu Luhai'ah.

Allah ta’ala berfirman :

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
Dan Tuhanmu berfirman: "Berdo'alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku [1327] akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina".(QS.Al Mu’min : 60 )

K e t e r a n g a n :
[1327] Yang dimaksud dengan menyembah-Ku di sini ialah berdo'a kepada-Ku.

 Allah ta’ala berfirman ;

وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالاً فَخُورًا

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh [294], dan teman sejawat, ibnu sabil [295] dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,(QS.An Nisaa:36)
 K e t e r a n g a n :
[294] Dekat dan jauh di sini ada yang mengartikan dengan tempat, hubungan kekeluargaan, dan ada pula antara yang muslim dan yang bukan muslim. [295] Ibnus sabil ialah orang yang dalam perjalanan yang bukan ma'shiat yang kehabisan bekal. Termasuk juga anak yang tidak diketahui ibu bapaknya.

Seorang yang berdoa dan memohon perlindungan kepada selain Allah telah menujukan ibadah kepada yang tidak berhak menerimanya. Allah ta’ala berfirman mengenai sesembahan yang diseru selain-Nya:

يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُّسَمًّى ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِن قِطْمِيرٍ

Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan me- nurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. (QS. Fathir: 13).

 Allah ta’ala juga berfirman:

وَلاَ تَدْعُ مِن دُونِ اللّهِ مَا لاَ يَنفَعُكَ وَلاَ يَضُرُّكَ فَإِن فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِّنَ الظَّالِمِينَ
Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa'at dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim". (QS. Yunus: 106)

Hanya Allah Sumber Keselamatan

Seorang muslim harus yakin bahwasanya hanya Allah lah yang menguasai seluruh kebaikan dan mudharat, baik yang belum menimpa maupun yang sudah menimpa. Allah ta’ala berfirman,


وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلْ أَفَرَأَيْتُم مَّا تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ

Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?", niscaya mereka menjawab: "Allah". Katakanlah: "Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmatNya?. Katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku". Kepada- Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri. (QS.Az-Zumar : 38 )

Ayat ini dan ayat-ayat yang semacamnya memupus ketergantungan hati kepada selain Allah dalam meraih kebaikan atau menolak madharat, dan menunjukkan bahwasanya ketergantungan hati kepada selain Allah itu termasuk perbuatan mempersekutukan-Nya.

Berserah Dirilah  Hanya Kepada Allah

Apabila kita cermati baik-baik maka ternyata kunci utama agar kita terbebas dari ketergantungan kepada selain Allah adalah dengan bertawakal kepada-Nya. Oleh karena itulah Allah memerintahkan untuk mengatakan, “Cukuplah Allah bagiku” dan Allah tegaskan bahwa orang yang bertawakal itu senantiasa menyerahkan urusannya kepada Allah ta’ala. Ini artinya orang yang tidak bertawakal kepada-Nya maka tidaklah ia disebut orang yang bertawakal. Bahkan dia telah kehilangan kesempurnaan atau bahkan seluruh imannya, sebagaimana diisyaratkan oleh Allah dalam firman-Nya,

قُل لَّن يُصِيبَنَا إِلاَّ مَا كَتَبَ اللّهُ لَنَا هُوَ مَوْلاَنَا وَعَلَى اللّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal." (QS. At Taubah [9]: 51).

Dan barangsiapa yang menyerahkan urusan kepada selain-Nya maka dia akan dihinakan dan tidak akan mendapatkan apa yang diharapkannya.
Memang demikianlah keadaannya, segala yang dijadikan sandaran oleh manusia untuk mengatasi permasalahannya adalah justru berbalik menjadi sebab kelemahannya kecuali jika yang dijadikan sandaran adalah Allah ‘azza wa jalla, karena hanya Allah lah yang pantas. Dia lah satu-satunya Dzat yang menguasai langit dan bumi, kehidupan dan kematian serta keselamatan dan kebinasaan. Oleh karena itu marilah kita cermati hati kita masing-masing apakah selama ini kita memiliki ketergantungan hati kepada selain-Nya, jangan-jangan kita berkubang syirik namun kita tidak sadar dan merasa aman-aman saja. Padahal keamanan dan petunjuk hanya akan diperoleh jika kita senantiasa menjaga keimanan agar tidak terkotori kesyirikan.

Amalan  Untuk Menolak Bala Yang Sesuai Menurut Syari’at

Hidup ini tidak seindah yang dibayangkan. Banyak hal yang tidak terduga menghampiri hidup kita. Kepahitan dan kegetiran adalah warna yang memoles lembar kehidupan manusia. Meski sesungguhnya bagi orang yang beriman dunia ini adalah surga tak berperi dengan kenikmatan dan keelokannya yang tidak bertepi.
Untuk kita yang saat ini sedang dalam kubangan musibah ada baiknya kita mencoba menyisir jalan kebaikan berikut ini. Atau, kita yang sedang dihantui kegagalan, inilah amalan yang menghibur untuk menolak berbagai kemungkinan bala.
Pertama, melazimkan doa. Orang yang terbiasa dengan berdoa akan mengalir sebuah kekuatan yang mampu menjadikan dirinya tegar. Bahkan, doa adalah sebuah proteksi ampuh menstabilkan kondisi hati dengan berbagai macam keadaannya.
Disebutkan dalam hadits yang diriwsayatkan oleh imam Ahmad dalam musnadnya Rasullullah shallallhu’alai wa sallam bersabda :

مسند أحمد ٢١٣٧٩: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عِيسَى عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ الْأَشْجَعِيِّ عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
رَفَعَهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَرُدُّ الْقَدَرَ إِلَّا الدُّعَاءُ وَلَا يَزِيدُ فِي الْعُمُرِ إِلَّا الْبِرُّ وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ

Musnad Ahmad 21379: Telah menceritakan kepada kami 'Abdur Razzaq telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Abdullah bin 'Isa dari 'Abdullah bin Abu Al Ja'd Al Asyja'i dari Tsauban pelayan Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam dan ia memarfu'kan hadits ini pada Nabi Shallallahu'alaihiwasallam, beliau bersabda; "Tidak ada yang menolak takdir kecuali doa, tidak ada yang menambahi usia kecuali kebaikan dan seorang hamba benar-benar terhalang dari rizki karena dosa yang dilakukannya."

Bahkan, ada doa yang langsung dari Allah untuk menuntun kita terhindar dari berbagai ujian, musibah, dan bala. Sebagaimana firman-Nya :

لاَ يُكَلِّفُ اللّهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَآ أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo'a): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir." (QS al-Baqarah [2]: 286).

Kedua, kesungguhan takwa. Banyak disebut oleh berbagai ayat bahwa kesungguhan dan keseriusan dalam ketakwaan mengantarkan ke tangguhan spiritual dalam menyelesaikan setiap kesulitan hidup. Ini artinya semangat takwa menghindarkan sebuah peristiwa buruk dalam hidup manusia.


وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.(QS alThalaq [65]: 2-3).

Ketiga, rida orang tua. Doa dan restu mereka mengantarkan kepada sejuta kebaikan, yang kita unduh tidak hanya di dunia, tapi juga di akhirat. Keramat terampuh di dunia ini tidak lain doa dan restu orang tua. “Rida Allah ada pada rida orang tua dan murka-Nya ada pada murka kedua orang tua,“ demikian sabda Nabi Muhammad SAW riwayat al-Hakim.

Keempat, sedekah. Keutamaan sedekah sudah banyak yang menyebutkan. Bahkan, secara terang sebuah hadis mengisyaratkan, “Sedekah itu benar-benar menolak bala.“(HR Thabrani dari Abdullah ibnu Mas’ud). Karena, agama adalah amal. Maka, nikmat dan kelezatan beragama akan berasa jika kita benar-benar mengamalkan. Karena itu, saatnya kita buktikan dengan amal nyata. Kita bersedekah pasti ada proteksi bala yang langsung Allah desain.

Kelima, istighfar. Istighfar sangat berperan dalam mencegah bala sebagaimana firman Allah ta’ala :

وَمَا كَانَ اللّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun [608](QS. Al Anfal : 33 )

[608] Di antara mufassirin mengartikan "yastagfiruuna" dengan bertaubat dan ada pula yang mengartikan bahwa di antara orang-orang kafir itu ada orang muslim yang minta ampun kepada Allah.

Keenam,
 silaturahim, lalu selalu berzikir dan membaca shalawat. “Petir menyambar kafir juga mukmin, tetapi petir tidak akan menyambar orang yang sedang berzikir.”

Kesimpulan dan Penutup

Semua orang tentu sangat mendambakan berada dalam zona aman yang terliputi kebaikan dan kebahagiaan, sehingga apabila ada bencana yang mengancam mereka pun berusaha menangkalnya.
Dan, jika bencana sudah menimpa, berbagai cara pun ditempuh untuk menghilangkannya. Dalam keadaan seperti ini, orang yang tidak memiliki pemahaman tauhid yang benar sangat rawan terjerumus dalam kesyirikan. Sehingga banyak diantara orang-orang muslim yang melakukan ritual-ritual dan upaya untuk menolak bala dengan melakukan hal-hal yang tidak bersesuaian dengan  syar’i sebagaimana yang telah ditetapkan Allah dan as-Sunnah
Seorang Muslim harus meyakini bahwa hanya Allah yang menguasai seluruh kebaikan dan mudharat, baik yang belum maupun yang sudah menimpa. Karenanya dalam menghadapi segala bentuk musibah, bala dan bencana hendaknya berserah diri kepada Allah dan melakukan hal-hal yang dianjurkan. Tinggalkanlah segala macam kesyirikan, karena kesyirikan akan menambahkan beban penderitaan bagi manusia.(Wallahu a’alam _)
S u m b e r :
1.Al-Qur’an dan Terjemahan , www.salafi-db
2.Ensiklopedi Hadits Kitab 9 Imam, www.lidwapusaka.com
3.Artikel www.muslim.or.id
4.Artikel www.rumaysho.com
5.Artikel Dakwah Tauhid
6.Hikmah Harian Republika.

Senin, 18 Februari 2013

BERBUAT DZALIM KEPADA ALLAH



Menurut Ensiklopedi Wikepedia Dzalim (Arab: ظلم, Dholim) adalah meletakkan sesuatu/ perkara bukan pada tempatnya. Orang yang berbuat zalim disebut zalimin. Lawan kata zalim adalah adil.

Kata zalim berasal dari bahasa Arab, dengan huruf “dho la ma” (ظ ل م ) yang bermaksud gelap. Di dalam al-Qur’an menggunakan kata zhulm selain itu juga digunakan kata baghy, yang artinya juga sama dengan zalim yaitu melanggar haq orang lain. Namun demikian pengertian zalim lebih luas maknanya ketimbang baghyu, tergantung kalimat yang disandarkannya. Kezaliman itu memiliki berbagai bentuk di antaranya adalah syirik.

Kalimat dzalim bisa juga digunakan untuk melambangkan sifat kejam, bengis, tidak berperikemanusiaan, suka melihat orang dalam penderitaan dan kesengsaraan, melakukan kemungkaran, penganiayaan, kemusnahan harta benda, ketidak adilan dan banyak lagi pengertian yang dapat diambil dari sifat zalim tersebut, yang mana pada dasarnya sifat ini merupakan sifat yang keji dan hina, dan sangat bertentangan dengan akhlak dan fitrah manusia, yang seharusnya menggunakan akal untuk melakukan kebaikan..

Para ulama mendefinisikan dzalim sebagai: “Menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya”
Selama ini banyak diantara kaum muslimin mengartikan kata dzalim lebih banyak yang berkaitan dengan perbuatan kepada sesama makhluk baik berbuat dzalim kepada sesama manusia maupun dzalim kepada binatang. Padahal perbuatan dzalim yang dilakukan oleh manusia itu sangat luas cakupannya, antara lain bahwa manusia sebenarnya banyak yang berbuat dzalim kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Bagaimanakah sesungguhnya yang dikatakan perbuatan dzalim yang dilakukan oleh manusia ? Pada kesempatan ini sepintas kami coba untuk mengulas tentang perbuatan dzalim kepada Allah subhanahu berdasarkan hujjah yang terdapat dalam al-Qur’an dan as-Sunnah ( Hadits  Rasullullah shallallahu’alaihi wa sallam
.
Bagaimanakah Sebenarnya Perbuatan Dzalim Kepada Allah Itu ?

Sebagaimana yang dijelaskan di bagian awal, bahwa pengertian dzalim adalah  adalah meletakkan sesuatu/ perkara bukan pada tempatnya. Yang mana pada dasarnya sifat ini merupakan sifat yang keji dan hina, dan sangat bertentangan dengan akhlak dan fitrah manusia, yang seharusnya menggunakan akal untuk melakukan kebaikan.

Berkaitan dengan itu manusia yang diciptakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala tujuannya tiada lain adalah untuk mengabdi kepada Allah dengan melakukan segala keta’atan yang diperintahkan serta meninggalkan perbuatan-perbuatan munkar sebagai perbuatan yang dilarang. Namun sebagian  manusia banyak yang enggan untuk tunduk dan menta’ati apa yang diperintahkan oleh Allah azza wa jalla. Manusia banyak yang inkar akan kodratnya sebagai makhluk yang diciptakan  oleh Allah. Kebanyakan manusia lebih suka melakukan perbuatan-perbuatan munkar yang menyalahi tuntunan syari’at yang telah digariskan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya.
Banyak diantara kaum muslimin, meskipun telah jelas adanya larangan untuk berbuat kedzaliman diatas muka bumi ini, namun mereka tidak pernah memperdulikan akan larangan tersebut. Mereka suka berbuat dzalim yaitu meletakkan sesuatu/perkara bukan pada tempatnya. Termasuk di dalamnya melakukan perbuatan keji yang terlarang yaitu menyekutukan Allah dengan makhluk yang diciptakannya. Dan perbuatan yang sedemikian merupakan perbuatan yang tidak pada tempatnya. Karena seharusnya selaku umat manusia yang diperintahkan adalah meng Esakan atau mentauhidkan Allah sebagai satu-satunya yang berhak untuk disembah/dita’ati secara benar.
Karena perbuatan menyekutukan Allah yang dilakukan oleh umat manusia adalah perbuatan tidak pada tempatnya maka perbuatan tersebut termasuk dalam perbuatan yang dikatagorikan sebagai perbuatan dzalim.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah menerangkan bahwa kezaliman itu ada tiga macam yaitu satu diantaranya adalah kedzaliman kepada Allah. Dan kedzaliman yang paling dzalim, yaitu berbuat syirik kepada Allah. Meskipun orang yang melakukan syirik tidaklah dikatakan mendzalimi Allah, bahkan dirinya sendirilah yang didzaliminya. Karena dia telah menghinakan dirinya kepada sesuatu yang tidak layak untuk disembah.
Dalam hal ini tercakup di dalamnya hal-hal yang bersifat kufur dan syirik dalam peribadatan terhadap Allah, karena dengan melakukan perbuatan kufur dan syirik, seseorang telah melakukan sesuatu yang tidak selayaknya bagi bagi Allah, yaitu mentauhidkannya.

Beberapa ayat al-Qur’an, membicarakan tentang perbuatan dzalim ini sebagaimana Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

• يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَنفِقُواْ مِمَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ يَوْمٌ لاَّ بَيْعٌ فِيهِ وَلاَ خُلَّةٌ وَلاَ شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa'at [160]. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim.( QS.Al Baqarah : 254 )
Dalam ayat lain bentuk perbuatan dzalim yang dilakukan seseorang kepada Allah subhanahu wa ta’ala adalah perbuatan syirik sebagaimana yang difirmankan Allah ta’ala :
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". (QS. Luqman : 13 )

Dzalim memiliki beberapa makna, sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa ayat di dalam al-Qur’an di antaranya sebagai berikut:
.Menyembah tandingan-tandingan selain Allah dan mencintainya sebagaimana mencintai Allah. Perbuatan ini merupakan perbuatan syirik. Hal ini sesuai dengan yang difirmankan Allah subhanahu wa ta’ala :

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللّهِ أَندَاداً يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللّهِ وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَشَدُّ حُبًّا لِّلّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُواْ إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلّهِ جَمِيعاً وَأَنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu [106] mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal)”.(QS.Al Baqarah : 165 )
Keterangan :

[106] Yang dimaksud dengan orang yang zalim di sini ialah orang-orang yang menyembah selain Allah.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

وَمَا ظَلَمْنَاهُمْ وَلَـكِن ظَلَمُواْ أَنفُسَهُمْ فَمَا أَغْنَتْ عَنْهُمْ آلِهَتُهُمُ الَّتِي يَدْعُونَ مِن دُونِ اللّهِ مِن شَيْءٍ لِّمَّا جَاء أَمْرُ رَبِّكَ وَمَا زَادُوهُمْ غَيْرَ تَتْبِيبٍ

Dan Kami tidaklah menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri, karena itu tiadalah bermanfaat sedikitpun kepada mereka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu azab Tuhanmu datang. Dan sembahan-sembahan itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali kebinasaan belaka. (QS.Huud : 101)

Berfirman Allah subhana wa ta’ala

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ ُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَا

Artinya : “Sesungguhnya Telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al masih putera Maryam”, padahal Al masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (QS. Al Maidah : 72)

Selain beberapa ayat al-Qur’an yang membicarakan tentang perbuatan syirik adalah kezhaliman kepada Allah, ada pula hadits yang menyebutkannya sebagaimana yang diriwayatkan oleh  imam Bukhari rahimahullah dalam kitab Sahihnya :
صحيح البخاري ٦٤٢٤: حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا وَكِيعٌ ح و حَدَّثَنَا يَحْيَى حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ
{ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ }
شَقَّ ذَلِكَ عَلَى أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالُوا أَيُّنَا لَمْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ كَمَا تَظُنُّونَ إِنَّمَا هُوَ كَمَا قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ
{ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ }

Shahih Bukhari 6424: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim Telah mengabarkan kepada kami Waki' -lewat jalur periwayatan lain-Telah menceritakan kepada kami Yahya telah menceritakan kepada kami Waki' dari Al A'masy dari Ibrahim dari Alqomah dari 'Abdullah radliallahu 'anhu mengatakan; tatkala turun ayat ini; 'Sesungguhnya orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kezaliman' (QS.Luqman 82), ayat ini sangat menggusarkan para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, sehingga mereka bertanya; 'Siapa diantara kami yang tidak melakukan kezaliman terhadap dirinya sendiri? ' lantas Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Bukan seperti yang kalian sangka, hanyasanya yang dimaksudkan adalah seperti ucapan Luqman kepada anaknya; 'Wahai anakku, janganlah engkau menyekutukan Allah, sebab menyekutukan Allah adalah kezhaliman yang besar" (QS.Luqman 82).

Perbuatan Syirik Disebut Sebagai Sejelek-jelek Kedzaliman

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di,berkata “Bukankah sejelek-jelek kedzaliman ketika Allah menciptakan kita dengan maksud untuk beribadah kepada-Nya dan mentauhidkan-Nya, lalu tujuan mulia ini dipalingkan ke derajat yang amat rendah, yaitu menjadi beribadah kepada makhluk yang tidak mungkin disamakan dengan Allah?! Inilah kenapa disebut sejelek-jelek perbuatan zholim.” (Taisir Al Karimir Rahman, 648).
Kenapa syirik disebut sebagai sejelek-jelek kedzaliman dikarenakan orang yang berbuat syirik telah menyamakan makhluk yang dicipta dari tanah dengan Malik, Raja semesta alam, yaitu Allah Ta’ala. Ia pun telah menyamakan sesuatu yang tidak memiliki sesuatu pun di muka bumi dengan Allah yang memiliki segala sesuatu. Makhluk yang penuh kekurangan dari segala sisi dan begitu fakir disamakan dengan Allah yang Maha Sempurna dari segala sisi dan Maha Kaya. Makhluk yang tidak dapat menciptakan dan memberi nikmat sebesar dzarrah (yang kecil semisal semut) disamakan dengan Allah yang Maha Pencipta dan Maha Pemberi nikmat, yaitu nikmat agama, dunia, akhirat, hati, badan, semua nikmat ini hanya berasal dari Allah. Tidak ada pula yang dapat mencabut nikmat-nikmat tadi selain Allah. Apakah ini bukan sejelek-jelek kezholiman?! (Taisir Al Karimir Rahman, 648).

Macam-Macam Syirik Yang Disebut Sebagai Kedzaliman Kepada Allah

Para ulama sesuai dengan dalil yang ada dalam berbagai kitabnya membagi syirik atas dua macam yaitu  :
1.Syirik akbar
2.syirik ashghar

Syirik Akbar  yaitu perbuatan yang dilakukan oleh seseorang hamba dalam menyekutukan Allah subhanahu wa ta’ala yang menyebabkan hamba tersebut  keluar dari Islam dan seluruh amalan yang pernah dilakukan nya  terhapus, sehingga  karenanya diaakan  kekal tinggal di dalam neraka bersama orang-orang musyrik. Orang yang melakukan kesyirikan yang termasuk kedalam syirik akbar tidak akan diampuni dosanya oleh Allah subhanahu wa ta’ala  kecuali jika dia mau bertaubat.


Sebagaimana penjelasan di atas, syirik akbar merupakan dosa yang terbesar yang tidak akan diampuni oleh Allah apabila tidak bertaubat. Allah Ta’ala berfirman :


إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاء وَمَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا


“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An Nisa’ : 48)[1]

Juga pelaku Syirik Akbar tempat kembalinya adalah neraka dan diharamkan baginya Surga.
Allah Ta’ala berfirman :

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُواْ إِنَّ اللّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُواْ اللّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu". Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (Al Maidah : 72)

Sedangkan dalil yang menunjukkan bahwa syirik akbar menggugurkan amalan-amalan adalah firman Allah Ta’ala :

ذَلِكَ هُدَى اللّهِ يَهْدِي بِهِ مَن يَشَاء مِنْ عِبَادِهِ وَلَوْ أَشْرَكُواْ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. (QS. Al An’am : 88)

Macam-Macam Syirik Akbar

Macam-macam dari Syirik Akbar ini sangat banyak sekali, tetapi bisa di kelompokkan menjadi tiga macam :
1) Syirik di dalam Al Uluhiyyah
Yaitu kalau seseorang menyakini bahwa ada tuhan selain Allah yang berhak untuk disembah (berhak mendapatkan sifat-sifat ubudiyyah). Yang mana Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam berbagai tempat dalam Kitab-Nya menyeru kepada hamba-Nya agar tidak menyembah atau beribadah kecuali hanya kepada-Nya saja. Firman Allah Ta’ala :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأَرْضَ فِرَاشاً وَالسَّمَاء بِنَاء وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَاء مَاء فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقاً لَّكُمْ فَلاَ تَجْعَلُواْ لِلّهِ أَندَاداً وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah [30], padahal kamu mengetahui. (QS.Al Baqarah : 21-22 )

K e t e r a n g a n :
[30] Ialah segala sesuatu yang disembah di samping menyembah Allah seperti berhala-berhala, dewa-dewa, dan sebagainya.

Perintah Allah dalam ayat ini agar semua manusia[2] beribadah kepada Rabb mereka dan bentuk ibadah yang diperintahkan antara lain syahadat, shalat, zakat, shaum, haji, sujud, ruku’, thawaf, doa, tawakal, khauf (takut), raja’ (berharap), raghbah (menginginkan sesuatu), rahbah (menghindarkan dari sesuatu), khusu’, khasyah, ­isti’anah (minta tolong), isti’adzah (berlindung), istighatsah (meratap), penyembelihan, nadzar, sabar dan lain lain dari berbagai macam ibadah yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Di sisi lain ada kerancuan yang terdapat di kalangan umum dalam memahami ibadah. Mereka mengartikan ibadah dalam definisi yang sempit sekali seperti shalat, puasa, zakat, haji. Ada pun yang lainnya tidak dikategorikan di dalamnya.

Sungguh indah perkataan Syaikhul Islam Abul Abbas Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam mendefinisikan ibadah, beliau berkata :
“Ibadah itu ialah suatu nama yang mencakup semua perkara yang dicintai Allah dan diridhai-Nya, apakah berupa perkataan ataupun perbuatan, baik dhahir maupun yang bathin.”

Inilah pengertian ibadah yang sesungguhnya, yaitu meliputi segala perkara yang dicintai dan diridlai Allah, baik itu berupa perkataan maupun perbuatan.
Firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 21 di atas menyatakan sembahlah Rabb kamu, dimaksudkan untuk mendekatkan pemahaman kepada semua manusia bahwa Ar Rabb yang wajib disembah adalah yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelum kamu, yang menciptakan langit dan bumi serta yang mampu menurunkan air (hujan) dari langit. Yang dengan air hujan itu dihasilkan segala jenis buah-buahan sebagai rezeki bagi kalian agar kalian mengetahui semua. Maka janganlah mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah dengan menyembah dan meminta rezeki kepada selain-Nya. Apakah kalian tidak malu dan berpikir bahwa Allah yang menghidupkan dan yang memberi rezeki kemudian kalian tinggalkan untuk beribadah kepada selain-Nya?

Firman Allah Ta’ala :

وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللّهِ مَا لاَ يَمْلِكُ لَهُمْ رِزْقًا مِّنَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ شَيْئًا وَلاَ يَسْتَطِيعُونَ
فَلاَ تَضْرِبُواْ لِلّهِ الأَمْثَالَ إِنَّ اللّهَ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberikan rezki kepada mereka sedikitpun dari langit dan bumi, dan tidak berkuasa (sedikit juapun). Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.(QS. An Nahl : 73-74)

2) Syirik Di Dalam Ar Rububiyyah

Yaitu jika seseorang meyakini bahwa ada selain Allah yang bisa menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan atau mematikan, dan yang lainnya dari sifat-sifat ar rububiyyah. Orang-orang seperti ini keadaannya lebih sesat dan lebih jelek daripada orang-orang kafir terdahulu.
Orang-orang terdahulu beriman dengan tauhid rububiyyah namun mereka menyekutukan Allah dalam uluhiyyah. Mereka meyakini kalau Allah satu-satunya Pencipta alam semesta namun mereka masih tetap berdoa, meminta pada kuburan-kuburan seperti kuburan Latta.
Sebagaimana Allah kisahkan tentang mereka dalam firman-Nya :

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ
Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?" Tentu mereka akan menjawab: "Allah", maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar). (QS. Al Ankabut : 61)
Firman Allah Ta’ala :

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّن نَّزَّلَ مِنَ السَّمَاء مَاء فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ مِن بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?" Tentu mereka akan menjawab: "Allah", Katakanlah: "Segala puji bagi Allah", tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya).(QS. Al Ankabut : 63)

Ayat-tersebut diatas  menunjukkan kalau orang-orang musyrik terdahulu mengakui Allah-lah satu­-satunya pencipta yang menciptakan langit dan bumi, yang menghidupkan dan mematikan, yang menurunkan hujan dan seterusnya. Akan tetapi mereka masih memberikan peribadatan kepada yang lainnya. Maka bagaimanakah dengan orang-orang yang tidak menyakini sama sekali kalau Allah-lah Penciptanya atau ada tuhan lain yang menciptakan, menghidupkan, dan mematikan, yang menurunkan hujaan dan seterusnya atau ada yang serupa dengan Allah dalam masalah-masalah ini. Tentu yang demikian lebih jelek lagi. Inilah yang dimaksud syirik dalam rububiyah.

3) Syirik Di Dalam Al Asma’ wa Ash Shifat
Yaitu kalau seseorang mensifatkan sebagian makhluk Allah dengan sebagian sifat-sifat Allah yang khusus bagi-Nya. Contohnya, menyakini bahwa ada makhluk Allah yang mengetahui perkara­-perkara ghaib.

Firman Allah Ta’ala :

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا

AA (Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu.
 (QS. Al Jin : 26)

Syirik Asghar (Syirik Kecil) Syirik Ashghar, yaitu perbuatan yang dilakukan oleh hamba yang digolongkan ke dalam  menyekutukan Allah, namun perbuatannya tetrsebut tidaklah menyebabkan hama yang melakukannya keluar dari Islam. Tetapi pelakunya mendapat ancaman dari Allah berupa  siksa dan seandainya disiksa di neraka, ia tidak kekal di dalam neraka.
Syirik jenis ini menghapuskan (pahala) amal yang dilakukannya bercampur dengan perbuatan syirik, adapun pelakunya berada di bawah kehendak Allah. Jika Allah berkehendak menyiksa maka ia akan disiksa, tetapi kalau Dia berkehendak mengampuni maka diampuni dosanya.
Pengertian syirik ashghar ialah segala sesuatu yang disebut sebagai syirik dalam dalil-dalil syari’at akan tetapi tidak mencapai derajat syirik akbar, dan ia dikategorikan sebagai sarana yang mengantarkan menuju syirik akbar.
Perbuatan yang termasuk dalam syirik ashghar antara lain meliputi :

1.Bersumpah dengan menyebut nama selain Allah
2.Riya’ yang ringan
3.Perkataan, “Apa saja yang Allah kehendaki dan apa pun yang kamu kehendaki” atau “Ini adalah berasal dari Allah dan darimu” atau “Aku bersama pertolongan Allah dan pertolonganmu” atau “Aku bertawakal kepada Allah dan kepadamu” dan lain sebagainya.

Pada hakekatnya sum’ah merupakan riya’ juga.

Firman Allah yang menerang­kan bahwa riya’ itu membatalkan amalan yang disertai riya’ tersebut adalah sebagai berikut :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تُبْطِلُواْ صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَالأذَى كَالَّذِي يُنفِقُ مَالَهُ رِئَاء النَّاسِ وَلاَ يُؤْمِنُ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لاَّ يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُواْ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir [168].(QS.Al Baqrah : 264 )

 K e t e r a n g a n :

[168] Mereka ini tidak mendapat manfaat di dunia dari usaha-usaha mereka dan tidak pula mendapat pahala di akhirat.

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :

مسند أحمد ٢٢٥٢٣: حَدَّثَنَا يُونُسُ حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنْ يَزِيدَ يَعْنِي ابْنَ الْهَادِ عَنْ عَمْرٍو عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ قَالُوا وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الرِّيَاءُ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جُزِيَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً
حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ أَبِي الْعَبَّاسِ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِي عَمْرٍو عَنْ عَاصِمِ بْنِ عُمَرَ الظَّفَرِيِّ عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ فَذَكَرَ مَعْنَاهُ

Musnad Ahmad 22523: Telah bercerita kepada kami Yunus telah bercerita kepada kami Laits dari Yazid bin Al Had dari 'Amru dari Mahmud bin Labid bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan dari kalian adalah syirik kecil." Mereka bertanya: Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam? Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Riya`, Allah 'azza wajalla berfirman kepada mereka pada hari kiamat saat orang-orang diberi balasan atas amal-amal mereka: Temuilah orang-orang yang dulu kau perlihat-lihatkan di dunia lalu lihatlah apakah kalian menemukan balasan disisi mereka?" telah bercerita kepada kami Ibrahim bin Abu Al 'Abbas telah bercerita kepada kami 'Abdur Rahman bin Abu Az Zinad dari 'Amru bin Abu 'Amru dari 'Ashim bin 'Umar Azh Zhafari dari Mahmud bin Labid bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan dari kalian" lalu ia menyebut makna hadits.

Dan juga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

 Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu, bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Allah Ta’ala berfirman : ‘Barang siapa melakukan suatu amalan kemudian ia jadikan bersama Allah sekutu dalam amalan itu maka Allah tinggalkan amalan tersebut dan sekutunya.’” (HR. Muslim)

Dalam masalah membatalkan amalan, riya’ ini terbagi menjadi dua bagian :
1. Apabila riya’ sejak awal, yaitu bahwa orang tersebut dalam melakukan amalannya sudah mempunyai niat untuk riya’. Yang seperti ini membatalkan amalan.

2. Apabila datang dengan tiba-­tiba di tengah-tengah atau di akhir amalan dan orang tersebut berusaha untuk menolak atau menghilangkan dari hatinya. Maka yang seperti ini tidak sampai membatalkan amalannya.

Dua penyakit ini (riya’ dan sum’ah) yang sangat rawan dalam hati karena sangat samar tidak terlihat oleh mata sehingga seorang Muslim harus sangat berhati-hati. Ayat Al Qurr’an dalam surat Al Baqarah 264 serta hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dari shahabat Mahmud bin Labid di atas menjadi perhatian bagi kita bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memanggil dengan panggilan ‘Wahai orang-­orang yang beriman’ dan Rasulullah mengkhawatirkan riya’ tersebut akan menimpa para shahabat. Hal ini menunjukkan bahwa orang Mukmin pun apabila tidak hati-hati akan terkena penyakit ini. Mudah-mudahan Al­lah selamatkan kita darinya.
Syirik Akbar dan Syirik Ashghar memiliki cabang yang sangat banyak dan memerlukan pembahasan yang sangat panjang. Tetapi yang penting untuk kita ketahui adalah sifat atau ciri-ciri dari keduanya serta bahayanya sehingga kita berhati-­hati terhadap kedua-duanya. Barangsiapa yang jatuh ke dalam salah satu di antara dua jenis syirik ini hendaknya ia segera bertaubat.
Firman Allah Ta’ala :

وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (QS. Ali Imran : 133)

Firman Allah Ta’ala :

إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُوْلَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Furqan : 70)

Firman Allah Ta’ala :

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Katakanlah : “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar : 53)

Kesimpulan/Penutup

Selama ini banyak diantara kaum muslimin mengartikan kata dzalim lebih banyak yang berkaitan dengan perbuatan kepada sesama makhluk baik berbuat dzalim kepada sesama manusia maupun dzalim kepada binatang. Padahal perbuatan dzalim yang dilakukan oleh manusia itu sangat luas cakupannya, antara lain bahwa manusia sebenarnya banyak yang berbuat dzalim kepada Allah subhanahu wa ta’ala
Manusia yang diciptakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala tujuannya tiada lain adalah untuk mengabdi kepada Allah dengan melakukan segala keta’atan yang diperintahkan serta meninggalkan perbuatan-perbuatan munkar sebagai perbuatan yang dilarang. Namun sebagian  manusia banyak yang enggan untuk tunduk dan menta’ati apa yang diperintahkan oleh Allah azza wa jalla. Manusia banyak yang inkar akan kodratnya sebagai makhluk yang diciptakan  oleh Allah. Kebanyakan manusia lebih suka melakukan perbuatan-perbuatan munkar yang menyalahi tuntunan syari’at yang telah digariskan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya.
Banyak diantara kaum muslimin, meskipun telah jelas adanya larangan untuk berbuat kedzaliman diatas muka bumi ini, namun mereka tidak pernah memperdulikan akan larangan tersebut. Mereka suka berbuat dzalim yaitu meletakkan sesuatu/perkara bukan pada tempatnya. Termasuk di dalamnya melakukan perbuatan keji yang terlarang yaitu menyekutukan Allah dengan makhluk yang diciptakannya. Dan perbuatan yang sedemikian merupakan perbuatan yang tidak pada tempatnya. Karena seharusnya selaku umat manusia yang diperintahkan adalah meng Esakan atau mentauhidkan Allah sebagai satu-satunya yang berhak untuk disembah/dita’ati secara benar.
Karena perbuatan menyekutukan Allah yang dilakukan oleh umat manusia adalah perbuatan tidak pada tempatnya maka perbuatan tersebut termasuk dalam perbuatan yang dikatagorikan sebagai perbuatan dzalim.
( Wallaahu ta’ala ‘alam )

S u m b e r :
1.    Al-Qur’an dan Terjemah, www. Salafi-db.o4
2.    Ensiklopedi Hadits Kitab 9 Imam, www.lidwapusaka.com
     3.Artikel Rumaysho.com
     4.Artikel Muslim.or.id
    5.Artikel Dakwah Tauhid
    6.Majalah SALAFY XXXVI/1421/2001,

Samarinda, 8 Rabiul Akhir 1434 H / 19 Pebruari 2013 M
( Musni Japrie )