Sabtu, 10 September 2011

" MENGINGAT MATI "



Setiap saat ada saja anak turunan Adam yang harus berpisah dengan keluarga,saudara, sahabat dan para kerabatnya diantar kepemakaman karena kematian.Tidak peduliapakah sudah berumur lanjut, dewasa, muda, remaja maupun anak-anak balita semuanya akan mengalami kematian. Mati dengan berbagai sebab karena penyakit menahun, kecelakaan ataupun mati mendadak karena terserang penyakit jantung. Yang pasti setiap yang hidup akan mati .
Sudah sepantasnya bagi semua orang mengetahui bahwa kematian adalah akhir hayatnya , liang lahat adalah pembaringannya, ulat adalah sahabat karibnya, Munkar dan Nakir adalah teman duduknya, kuburan adalah markasnya, perut bumi adalah tempat tinggalnya , hari kiamat adalah perjanjiannya dan Surga atau Neraka adalah tujuan akhirnya. Lalu tidak memiliki pikiran lain selain itu dan tidak punya persiapan lain selain untuk hal tersebut..
Kematian adalah musibah dan kehinaan terbesar. Dan hal yang lebih besar dari itu adalah melalaikanya, tidak mengingatnya, kurang memikirkannya dan meninggalkan amal. Sedangkan para alim ulama telah sepakat bahwa kematian yang menimpa seseorang adalah pelajaran berharga bagi orang-orang yang hidup yang mau mengambil pelajaran dan bahan pikiran bagi orang yang mau berpikir.
Allah menganggap kematian sebagai salah satu musibah terbesar. Didalam firman-Nya : “ Lalu kamu ditimpa musibah kematian “ ( QS. Al-Maidah : 106 )
Hal itu karena kematian adalah pergantian dari satu keadaan kekeadaan lainnya dan perpindahan dari satu tempat tinggal ke tempat tinggal lainnya.
Abu Hurairah radiallaahu’anhum berkata : Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda :
“Banyak-banyaknya mengingat pemutus kenikmatan “( HR. At-Tirmidzi).
Maksudnya ganggulah kenikmatan dunia dengan mengingat kematian supaya ketergantungan dengannya menjadi menjadi putus, sehingga bisa berkonsentrasi menuju Allah.
Ibnu Umar radiallaahu’anhum berkata : “ Aku pernah datang kepada Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam sebagai orang kesepuluh dari sepuluh orang .Lalu seorang lelaki anshar bertanya :” Siapakah orang yang paling cerdas dan paling mulia, ya Rasulullah “ Beliau menjawab :”Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling keras mempersiapkan diri untuknya. Merekalah orang-orang yang cerdas. Mereka menggapai kehormatan dunia dan kemuliaan akhirat “
Syaikh DR.Ahmad Farid dalam bukunyha Manajemen Qalbu Ulama Salaf menyebutkan bahwa hati yang keras Insya Allah akan lunak demngan mengingat mati yang merupakan pemutus kenikmatan duniawi.Hal lain yang juga dapat melenyapkan kekerasan hati adalah menyaksikan orang-orang yang hendak meninggal dunia. Karena melihat sekarat, tarikan dan proses kematian mereka diujung kelujarnya roh serta beratnya kesulitan mereka adalah pelajaran yang paling berharga. Sebab, setiap orang tidak lama lagi akan mengalami hal yang sama.Dan orang yang tidak mau mengambil pelajaran dari orang-orang yang mati tidak akan bisa menerima nasihat.
Al-Hasan berkata : “ Kematian telah membongkar aib dunia, sehingga tidak menyisakan kesenangan bagi orang-orang berakal sehat. Tidaklah seorang ha,mba membiasakan hatinya mengingat mati melainkan dunia akan terlihat kecil di matanya dan segala isinya akan terasa hina baginya “
Orang-orang yang larut di dalam dunia, kebanyakan terlena oleh tipu dayanya dan jatuh cinta pada syahwatnya pasti hatinya lalai terhadap kematian dan tidak mengingatnya. Jika diingatkan, ia tidak berkenan dan terus menghindar. Merekalah yang dimaksudkan Allah dalam firman-Nya :
Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan".(QS. Al-Jum’ah: 8)
Manusia kadang larut dalam kesenangan duniawi tidak akan mengingat mati. Kalau mengingatnya, hanyalah untuk menyesali untuk kepentingan duniawinya. Maka orang yang seperti mengingat mati hanya akan membuatnya semakin jauh dari Allah.
Sedangkan orang yang taubat banyak mengingat mati untuk membangkitkan rasa takut di dalam hatinya sehingga ia dapat menyempurnakan taubatnya. Terkadang ia enggan mati karena takut dijemput sebelum ia menyempurnakan taubatnya dan memperbaiki bekalnya.
Mengingat pentingnya akan hal mengingat kematian, maka kepada mereka-mereka yang selama ini hidup berleha-leha dan tidak berusaha keras untuk mengahadapi kematian bahkan malah lupa dan lalai darinya, maka bersegeralah ingat kepada mati yang akan datang menjemput tanpa diketahui waktunya tiba.
( Wallaahu’alam)
Disadur dari Manajemen Qalbu Ulama Salaf oleh Syaikh DR. Ahmad farid
( by : musni japrie )

Jumat, 09 September 2011

SENJA DI BIBIR PANTAI



Kusapukan tatapan mata kelaut lepas
Memandangi alunan gelombang berebut menjilat pantai
Debur ombak memecah buih membasahi pasir putih
Dibawah mentari petang menebarkan cahaya lembut
Menyapa burung camar yang terbang meniti laut

Laut membiru tak berujung
Perahu nelayan beriringan berlomba melaut
Kepak sayap elang laut pulang kesarang
Rembang petang beringsut menjemput warna kemuning
Riuh hati gundah gulana menyapa alam di bibir pantai
Merenung dibawah belaian angin lembut desiran daun cemara laut

Pasang air laut menyentuh rasa membasahi diri
B erdiri lunglai menanti senja di bibir pantai
Sepuhan warna kekuningan di langit petang semakin memudar
Terhapus lukisan senja merah tembaga
Mentari jauh dikaki langit beranjak pamit keperaduan

Alunan syahdu seruan menuju sang maha Pencipta
Menggelitik jiwa membangkitkan rasa
Bersujud dipersada hamparan hijau
Melepas rindu yang bergayut mesra
Menghantarkan senja indah dibibir pantai
Menjemput purnama dalam kalbu yang mengharu biru

Samarinda, 9 Agustus 2011
( by : Musni Japrie )

SENJA DI BIBIR PANTAI



Kusapukan tatapan mata kelaut lepas
Memandangi alunan gelombang berebut menjilat pantai
Debur ombak memecah buih membasahi pasir putih
Dibawah mentari petang menebarkan cahaya lembut
Menyapa burung camar yang terbang meniti laut

Laut membiru tak berujung
Perahu nelayan beriringan berlomba melaut
Kepak sayap elang laut pulang kesarang
Rembang petang beringsut menjemput warna kemuning
Riuh hati gundah gulana menyapa alam di bibir pantai
Merenung dibawah belaian angin lembut desiran daun cemara laut

Pasang air laut menyentuh rasa membasahi diri
B erdiri lunglai menanti senja di bibir pantai
Sepuhan warna kekuningan di langit petang semakin memudar
Terhapus lukisan senja merah tembaga
Mentari jauh dikaki langit beranjak pamit keperaduan

Alunan syahdu seruan menuju sang maha Pencipta
Menggelitik jiwa membangkitkan rasa
Bersujud dipersada hamparan hijau
Melepas rindu yang bergayut mesra
Menghantarkan senja indah dibibir pantai
Menjemput purnama dalam kalbu yang mengharu biru

Samarinda, 9 Agustus 2011
( by : Musni Japrie )

Kamis, 08 September 2011

" MEWUJUDKAN KESYUKURAN DENGAN KETAATAN "



Bersyukur pada prinsifnya berhubungan erat antara hati dengan lisan dan anggota badan . hati untuk mengetahui dan mencintai, lisan untuk menyanjungdan memuji dengan kata-kata pujian sedangkan anggota badan untuk menggunakannhya dalam ketaatan kepada Allah yang disyukuri dan mencegah penggunaannya dalam melakukan kedurhakaan dan kemaksiatan kepada-Nya.

Allah Subhanaahu wa Ta’ala telah menyebutkan kata syukur beriringan dengan kata iman .Dan Dia mengabarkan b ahwa Dia tidak akan menyiksa makhluk-Nya jika mereka mau bersyukur dan beriman. Allah berfirman :
مَّا يَفْعَلُ اللّهُ بِعَذَابِكُمْ إِن شَكَرْ تُمْ وَآمَنتُمْ وَكَانَ اللّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا
Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman ? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.( QS . An-Nisa : 147)
Dengan firman tersebut Allah mengatakan jika kalian menunaikan tujuan penciptaan kalian –yaitu bersyukur dan iman untuk apa Aku menyiksa kalian.
Dengan firman tersebut Allah mengabarkan bahwa orang-orang yang mau bersyukur adalah orang-orang yang diberi keistimewaan dengan karunia-Nya.
Allah Ta’ala telah menciptakan manusia dan memberikan kenikmatan yang tidak terhingga. Manusia tidak akan mampu menghitungny. Allah berfirman:
وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ اللهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ
Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan
jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(QS. 16:18)

Pemberian nikmat yang tak henti-hentinya setiap detik dan saat oleh Allah Yang Maha Pemberi kepada setiap makhluknya banyak yang tidak disadari oleh penerima nikmat sehingga mereka lupa bersyukur. Kebanyakan manusia baru mengucapkan syukur apabila nikmat yang diperoleh tersebut dianggap istimewa dari yang biasanya. Padahal manusia ini hidup dari nikmat-nikmat Allah yang tidak pernah putus-putusnya mengalir bagaikan air dari sumbernya.

Bersyukur dengan amal perbuatan merupakan puncak dari kesyukuran atas nikmat yang Alllah Subhanaahu Ta’ala yang limpahkan kepada hamba-Nya. Yaitu dengan melakukanseluruh ketaatan berupa pengamalan setiap yang diperintahkan dan meninggalkan segalayang dilarang oleh syari’at.Pengamalan perbuatan yang bersifat kebaikan dan meninggalkan segala bentuk kemunkaran serrta kemaksiatan kepada Allah.
Allah Ta’ala menegaskan bahwa orang yang menyembah-Nya adalah orang-orang yang mau bersyukur dan orang yang tidak mau bersyukur adalah orang yang tidak mau menyembahnya. Allah b erfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُلُواْ مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُواْ لِلّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikankepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah ( QS.Al-Baqarah : 172 )
Di dalam shahih al-Bukhari dan Muslim disebutkan b ahwa Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam melaksanakan shalat malam hingga telapak kakinya pecah-pecah. Dan ketika beliau ditanya: “Mengapa engkau lakukan ini sedangkan dosa-dosamu yangbtelah lalu dan yang akan datang sudah diampuni ?. Beliau menjawab:
Bukankah aku harus menjadi hamba yang pandai bersyukur

Pernahkah kita berpikir, untuk apa Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan demikian banyak nikmat kepada para hamba-Nya? Untuk sekedar menghabiskan nikmat-nikmat tersebut atau ada tujuan lain? Ketahuilah bahwa kenikmatan yang berlimpah ruah bukanlah tujuan diciptakannya manusia dan bukan pula sebagai wujud cinta Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada manusia tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia untuk sebuah kemuliaan baginya dan menjadikan segala nikmat itu sebagai perantara untuk menyampaikan kepada kemuliaan tersebut. Tujuan itu adalah untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja
Bagi orang yang berakal akan berusaha mencari rahasia di balik pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berlimpah ruah tersebut. Setelah dia menemukan jawabannya, yaitu untuk beribadah kepada-Nya saja, maka dia akan mengetahui pula bahwa dunia bukan sebagai tujuan.

Yang namanya syukur bukan hanya berhenti pada bersyukur dengan hati dan lisan, namun hendaklah ditambah dengan memanfaatkan kenikmatan tersebut dalam ketaaatan pada Allah dan menjauhi maksiat. Contohnya adalah jika Allah memberi nikmat dua mata. Hendaklah nikmat tersebut dimanfaatkan untuk membaca dan mentadaburi Al-Quran, jangan sampai digunakan untuk mencari-cari aib orang lain dan disebar di tengah-tengah kaum muslimin. Begitu pula nikmat kedua telinga. Hendaklah nikmat tersebut dimanfaatkan untuk mendengarkan lantunan ayat suci, jangan sampai digunakan untuk mendengar lantunan yang sia-sia. Begitu pula jika seseorang diberi kesehatan badan, maka hendaklah ia memanfaatkannya untuk menjaga shalat lima waktu, bukan malah meninggalkannya. Jadi, jika nikmat yang diperoleh malah dimanfaatkan untuk maksiat, maka ini bukan dinyatakan sebagai syukur. Intinya menggunakan nikmat tersebut di jalan yang diridhai Allah (dengan anggota badan). Dengan demikian maka nikmat yang datangnya dari Allah Ta’ala hendaknya dimanfaatkan dalam amal ketaatan.
Nikmat yang diberikan ternyata banyak pula yang disalah gunakan oleh hamba-hambaNya dijalan kemaksiatan sehingga mengundang murkanya Allah. Hamba-hamba Allah yang memperoleh nikmat tak putus-putusnya dari Allah tidak berterimakasih kepada Sanmg Pemberi tetapi malah menggunakan nikmat tersebut melakukan hal-hal yang dilarang oleh-Nya.

Sungguh betapa besar dan banyak nikmat yang telah dikaruniakan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita. Setiap hari silih berganti kita merasakan satu nikmat kemudian beralih kepada nikmat yang lain. Di mana kita terkadang tidak membayangkan sebelumnya akan terjadi dan mendapatkannya. Sangat besar dan banyak karena tidak bisa untuk dibatasi atau dihitung.
Semua ini tentunya mengundang kita untuk menyimpulkan betapa besar karunia dan kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya. Dalam realita kehidupan, kita menemukan keadaan yang memprihatinkan. Yaitu mayoritas manusia dalam keingkaran dan kekufuran kepada Pemberi Nikmat. Puncaknya adalah menyamakan pemberi nikmat dengan makhluk, yang keadaan makhluk itu sendiri sangat butuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tentu hal ini termasuk dari kedzaliman di atas kedzaliman sebagaimana dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam firman-Nya:-
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".(QS.Luqman : 13 )

Allah dalam firman-Nya telah mengkaitkan antara syukur dengan penambahan nikmat, dimana bagi hamba-hamba yang bersyukur Allah akan menambah lagi nikmat-Nya. Dan tambahan nikmat dari-Nya tersebut tidak ada habis-habisnya , sebagaimana tentunya kesyukuran juga tidak pernah habis dan terhenti melainkan terus berkelanjutan.
Allah berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Se- sungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni'mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni'mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".( QS. Ibrahim : 7 )
Firman Allah :
“Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” ( QS. Ali Imran : 145)


Syukur adalah pengikat nikmat dan penyebab bertambahnya nikmat. Seperti yang dikatakan Umar bin Abdul Aziz : “ Ikatlah nikmat-nikmat Allah dengan bersyukur kepada-Nya.Sedangkan Ibnu Abid Dunya meriwayatkan dari Ali bin Abi TRhalib Radiallahu’ anhum bahwa ia pernah berklata kepada seorang lelaki dari Hamadzan :
“ Sesungguhnya nikmat Allah itu disambung dengan syukurdan syukur berhubungan erat denganbertambahnya nikmat. Keduanya selalu seiring sejalkan. Maka tambahannikmat dari Allah tidak akan berhenmti sampai manusia berhenti bersyukur.”

Meskipun Allah telah memberikan berbagai nikmat yang tidak terbatas jumlahnya, ternyata masih banyak hamba-hamba yang tidak mau bersyukur dengan meninggalkan ketaatan kepada Allah dengan melakukan berbagai kemunkaran dan kemaksiatan. Tidak mau tunduk kepada syari’at yang digariskan dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Allah menyebutkan bahwa orang-orang yang bersyukur amatlah sedikit diantara hamba-hamba-Nya. Allah berfirman:
“ Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang pandai bersyukur”.( QS. Saba’:13)

Dari uraian yang dikemukakan diatas dapat disimpulkan bahwa:
1.Syukur adalah sebagai ungkapan rasa terimakasih kepada pemberi nikmat dalam hal ini Allah Subhanahu Ta’ala dengan menyampaikan pujian dan sajungan yang paling tertinggi.
2.Tujuan diciptakannya manusia tiada lain hanyalah semata untuk beribadah kepada Allah Yang Maha Pencipta
3.Rasa syukur diwujudkan dengan melakukan ketaatan kepada Allah berupa pelaksanaan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala sesuatu yang dilarang.
4.Nikmat dari Allah akan bertambah apabila penerima nikmat mensyukuri akan nikmat-nikmat tersebut.
5.Nikmat adalah sarana yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya untuk melakukan ketaatan, bukan digunakan sebagai alat berbuat kemunkaran dan kemaksiatan .
( Wallaahu’alam )

Sumber pengambilan :
1.Al-Qur’an dan terjemahan
2.Tazkiyatun Nafs Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
3.Manajemen Qalbu Ulama Salaf Syaikh DR. Ahmad Farid

( by : Musni Japrie )

" KUFUR NIKMAT "



Purnama bertahta diatas singgasananya diufuk timur
Menyirimkan cahaya kemilau menerpa daun dan rerumputan hijau
Malam terang benderang bertaburan mutiara gemintang di kejauhan
Gemersik suara jangkerik menambah kesyahduan malam
Melukiskan indahnya malam dengan wewangian bunga memikat
Tergetarkah hati hamba memandang anugerah Illahi
Membisikkan tahmid memuji Sang Pemberi nikmat
Ataukah hanya terlena dan hanyut dalam hayal
Larut dalam suka ria yang melalaikan kesyukuran kepada-Nya

Betapa banyak anugerah nikmat yang tak ternilai
Mengalir dari sumber-Nya tak pernah surut
Silih berganti berdatangan beriringan menyapa setiap hamba
Dalam setiap desahan nafas terkandung nikmat tak terputus
Dalam setiap dentangan detik nikmat merajut jalinan hidup
Tetapi banyak hamba yang lupa kepada Rabb Sang Pemberi nikmat
Kebanyakan manusia hanya sibuk menghayati berbagai kenikmatan
Lisannya bisu dari melantunkan tahmid
Hatinya kaku dari mengagungkan Sang Khalik yang tak henti mengalirkan nikmat
Anggauta tubuhnya tak pernah mengamalkan ketaatan
Rukuk dan bersujud menghambakan diri di depan Sang Pencipta

Sungguh kebanyakan hamba telah ingkar
Kufur akan segala nikmat yang tidak dapat dihitung
Melupakan asal datangnya nikmat
Mereguk dengan rakus segala kenikmatan
Tidak segan menanggung beban hutang
Merangkul kenikmatan tanpa memberikan balasan
Walaupun hanya sekedar rasa syukur kepada Yang Memberi
Sungguh kebanyakan hamba telah kufur akan nikmat Allah

Tepian Mahakam, 7 Agustus 2011
( by: musni Japrie )

Senin, 05 September 2011

MEMPERINGATI HARI KEMATIAN /HAUL UNTUK ARWAH YANG MENINGGAL BUKAN DARI SYARI'AT ISLAM


By : musni japrie


Menyelenggarakan kenduri bagi arwah yang telah meninggal atau sering juga disebut haulan yang lazim diselenggarakan oleh sebagian terbesar masyarakat muslim di Indonesia dianggap salah satu bagian dari ajaran islam untuk mengirimkan pahala bacaan beberapa surah al-Qur’an bagi arwah yang telah meningga dunia.
Penyelenggaraan peringatan tersebut dilakukan oleh kebanyakan kalangan masyarakat Islam dikarenakan adanya contoh yang mereka ikuti dari apa yang dilakukan oleh orang-orang yang mereka jadikan panutan seperti ustadz, tokoh-tokoh agama bahkan para kiayi dari pondok-pondok pesantren yang rata-rata bermazhab Syafi’i. Sehingga berkembanglah anggapan ditengah masyarakat bahwa kenduri kematian atau haul untuk arwah yang meninggal adalah merupakan bagian dari apa yang difatwakan dan sejalan dengan tuntunan yang berasal dari Imam Syafi’i. Karenanya masyarakat menganggap bahwa kenduri peringatan kematian atau haul bagi arwah yang meninggal adalah bagian dari syari’at Islam.
Tetapi apabila kita secara jujur mencari dari sumber kitab yang dijadikan rujukan bagi pengikut mazhab Syafi’i yaitu Al-Umm, kitab fiqih pegangan mazhab
Syafi’i, maka di dalamnya samasekali tidak terdapat satu kalimatpun yang menyebutkan adanya perintah atau anjuran dari Imam Syafi’i yang berkenaan dengan
kenduri peringatan kematian atau haul bagi arwah yang meninggal yang didalamnya dilakukan pembacaan beberapa surah al-Qur’an yang pahalanya dikirimkan untuk si arwah yang meninggal.
Apa yang dilakukan oleh sebagian terbesar masyarakat muslim yang bermazhab Syafi’i melakukan kenduri peringatan kematian atau haul arwah yang meninggal ternyata sangat bertolak belakang dengan apa yang difatwakan oleh Imam Syafi’i , imam panutan mazhab Syafi’i. Imam Syafi’i rahimahulaah dalam kitab yang disusun beliau dengan nama “AL-UMM “ tidak merekomendasikan penyelenggaraan kenduri kematian atau haul bagi arwah yang meninggal.
Simaklah apa yang ditulis oleh Imam Syafi’I rahimahullah dalam kitab beliau
Al-Umm :
“Aku suka jiran si mati atau orang yang mempunyai pertalian keluarga dengannya
(keluarga jauh) memberi makan kepada ahli mayat, yang mengenyangkan mereka
pada hari dan malamnya. Kerana itu adalah sunnat dan ingatan (zikir) yang mulia,
dan ianya adalah perbuatan golongan yang baik-baik sebelum dan selepas kita.
Ini kerana apabila tiba berita kematian Ja’far, Rasulullah sallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda: “Buatlah kamu makanan kepada keluarga
telah datang perkara yang mengharukan kepada mereka.” (Al-Umm)

Selain itu dalam kitab Al-Umm Imam Syafi’I juga menyebutkan :

“Dan aku membenci membuat perkumpulan yaitu berkumpul, walaupun dalam majlis itu tidak terdapat tangisan (ratapan) kerana sesungguhnya perkara itu (berkumpul) akan mengembalikan kesedihan dan memberikan beban berdasarkan atsar yang telah lalu.” (Al-Umm)

Yang dimaksudnya atsar oleh Imam Asy-Syafi’i tersebut adalah atsar
yang diriwayatkan oleh Jarir bin Abdulullah Al-Bajali radhiallahu ‘anhu:

“Kami mengira berhimpun orang ramai kepada ahli si mati dan membuat makanan
selepas pengkebumiannya adalah sebahagian dari ratapan kematian.”
(Hadis riwayat Ahmad dalam Musnadnya; Syu’aib Al-Arnauth berkata: Sahih
dalam Takhrijnya ke atas Musnad Ahmad, no: 6905)

Salah seorang ulama besar dan terkenal dari mazhab Syafi’i yaitu
Imam An-Nawawi rahimahullah mengulas perkataan Imam Asy-Syafi’i di atas tadi dengan mengatakan:

“Pengarang (Imam Asy-Syafi’i) dan ulama-ulama yang lain berpendapat berdasarkan
dalil yang lain bahwa perbuatan itu (yakni mengadakan perkumpulan) adalah merupakan
perkara yang baru.” (Al-Majmu’)

Selain itu Imam An-Nawawi juga berkata:

“Dan adapun berkumpul untuk takziah, maka Asy-Syafi’i dan pengarang Al-Musannif,
mereka telah menetapkan bahwa perbuatan itu adalah perkara yang dibenci.
Syeikh Abu Hamid telah menukilkan dalam At-Ta’liq dan ulama yang lain daripada
nas Asy-Syafi’i berkata: Yakni duduk takziah yaitu keluarga si mati berkumpul di rumah,
lalu mereka menunggu orang yang ingin bertakziah. Beliau berkata: Mereka mengatakan:
Bahkan hendaklah mereka pergi untuk berusaha memenuhi keperluan hidup mereka.
Maka barang siapa yang serempak menemui mereka, maka bolehlah dia bertakziah
kepada mereka. Tidak ada perbedaan di antara kaum lelaki dan kaum perempuan
pada larangan duduk berkumpul untuk bertakziah
.” (
Demikianlah sunnah dalam berlakunya kematian adalah memberi makanan kepada keluarga si mati kemudian mengucapkan takziah kepadanya.Inilah pendapat Imam Asy-Syafi’i dan jumhur ulama

Adapun amalan membaca Al-Qur’an untuk dihadiahkan kepada si mati. Maka dalam masalah ini Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan
tentang pendapat jumhur dalam mazhab Syafi’i Yaitu kata beliau:

“Dan adapun pembacaan Al-Qur’an, maka yang masyhur dari mazhab
Syafi’i bahawa ianya tidak sampai kepada mayat sedangkan sebahagian
sahabatnya mengatakan: Pahalanya sampai kepada mayat.” (Syarah An-Nawawi ‘ala Muslim,)


Firman Allah Ta’ala:

Dan bahawasanya seseorang manusia tiada memperoleh selain apa
yang telah diusahakannya.” (Surah An-Najm: 39)

Al-Hafiz Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:
“Dan melalui ayat yang mulia ini, Imam Asy-Syafi’ rahimahullah
dan para pengikutnya mengistinbatkan hukum bahawa pahala bacaan
(Al-Qur’an) yang dihadiahkan kepada orang mati tidak sampai kepadanya karena
bukan dari amal mereka dan bukan usaha mereka (orang mati). Oleh karena itu,
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah mensunnahkan umatnya
dan menganjurkan mereka melakukan perkara tersebut, serta tidak pula
menunjukkan kepadanya (menghadiahkan bacaan kepada orang mati) walaupun
dengan satu nas (dalil).” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim)

Al-Haitami rahimahullah yang merupakan ulama dalam mazhab Syafi’i berkata dalam Al-Fatawa Al-Kubra Al-Fiqhiyah :

Si mati tidak boleh dibacakan apa pun berdasarkan keterangan yang mutlak
dari ulama mutaqaddimin (terdahulu) bahawa bacaan (yang pahalanya dikirimkan
kepada si mati) adalah tidak dapat sampai kepadanya, sebab pahala bacaan itu
adalah untuk pembacanya sahaja. Sedangkan hasil amalan tidak dapat dipindahkan.
Allah berfirman : “Dan bahawasanya seseorang manusia tiada memperolehselain telah diusahakannya.” (Al-Fatawa Al-Kubra Al-Fiqhiyah,)

Ulama-ulama terdahulu lainnya dari mazhab Syafi’i khususnya yang
ulama Nusantara mengemukan tentang makan-makan ditempat keluarga yang meninggal sebagai berikut :

1 - Dalam Kitab Furu’il Masa’il karangan Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani )
disebutkan :

“Dan demikian lagi yang dikerjakan manusia dengan barang yang dinamakan dia
dengan kaffarah dan daripada dikerjakan wahsyah yakni berhimpun memberi makan
awal malam kemudian daripada ditanam mayat dan tujuh harinya dan dua puluh
dan empat puluh dan umpamanya, yang demikian itu haramkah atau makruh
atau harus. (Maka dijawabnya) Maka adalah segala yang tersebut makruh yang dicela pada syarak kerana tegah pada syarak kata syeikh Ibn Hajar tiada sah wasiatny
a.”

2 – Dalam Kitab Sabil Al-Muhtadin yang dikarang oleh Syeikh Muhammad
Arsyad bin Abdullah al-Banjari, beliau mengemukan sebagai berikut :
“Dan makruh lagi bid'ah bagi yang kematian memperbuat makanan yang disukanya
manusia atas makan dia dahulu daripada menanam dia dan kemudian daripadanya
seperti yang telah teradat dan demikian lagi makruh lagi bid'ah bagi segala
mereka yang diserunya perkenankan seruannya”

Peringatan hari kematian dengan menyelenggarakan selamatan/kenduri bagi arwah yang
telah meninggal tidak disyari’atkan di dalam Islam, tetapi di Indonesia oleh sebagain kalangan sepertinya sudah dianggap seperti syari’at, padahal tradisi menyelenggarakan peringatan hari kematian berupa kenduri itu diwarisi dari tradisi leluhur sebelum Islam masuk ke Indonesia. Agar peringatan tersebut dapat diterima di kalangan umat islam diberilah tambahan dengan bacaan-bacaan yang diambil dari al-Qur’an seperti surah Yasin, Al-Fatihah, al-Ikhlas, An-Nas ,Al-Falak, juga tidak ketinggalan dzikir-dzikir berupa Takbir, Tasybih dan Takhmid. Kemudian ditutup dengan pembacaan do’a arwah.
Di kalangan masyarakat muslim memperingati hari kematian atau haulan atau juga kadang-kadang disebut juga tahlilan dianggap sebagai kegiatan untuk mengirimkan pahala dari bacaan-bacaan ayat-ayat al-Qur’an sehingga lahirlah anggapan bahwa haul/tahlilan merupakan bagian dari syari’at islam. Namun karena tidak ada satupun catatan riwayat bahwa Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam, para sahabat, para tabi’in dan para tabi’ut tabi’in dan ulama salafus shalih yang pernah melakukannya maka jadilah kegiatan memperingati hari kematian atau haul untuk arwah yang telah meninggal sebagai bid’ah. Sedangkan bid’ah itu sangat terlarang dan dikatakan oleh Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam adalah sesat dan sesat itutempoatnya dineraka (Wallaahu’alam )

Dikutip dari berbagai sumber

Sabtu, 03 September 2011

" BALASLAH CINTA-NYA "



Disingkapkan-Nya mentari pagi dari selaput malam
Merayap dengan cahaya lembut membangunkan segenap insan
Bergegas menangguk rezeki yang dihamparkan
Gambaran kecintaan Sang Maha Pemberi bagi segenap hamba-Nya
Meluaskan rezeki tanpa pilih kasih
Dengan takaran yang sesuai garis-Nya
Hamba yang bersyukur atau kufur memperoleh bagiannya
Karena kecintaan-Nya

Dipergantikan-Nya cahaya siang ajang menapaki hidup
Dengan senyum rembulan wadah bercengkrama
Diselimutkan-Nya malam dalam peluk kasih
Disisipi-Nya mimpi-mimpi indah dalam lelap
Bukti kecintaan-Nya pada hamba-hamba-Nya

Betapa sang khalik menebarkan cinta-Nya kesegenap hamba-Nya
Tak terhitung nikmat dituangkan dalam gelas-gelas kehidupan
Karena kecintaan dan kasih sayang-Nya
Hanya sedikit hamba yang membalas cinta-Nya
Sedikit hamba yang mensyukuri cinta-Nya

Betapa banyak yang tidak membalas cinta dan kasih sayang-Nya
Betapa banyak hamba lalai dalam membuktikan cinta kepada-Nya
Tidak sedikit hamba yang tidak pandai berterimakasih
Tidak sedikit hamba yang kufur nikmat dan cinta-Nya
Tidak sedikit hamba yang enggan mencintai-Nya

Hamba-hamba yang berleha-leha tanpa malu diatas bumi ciptaan-Nya
Berdendang riang dibawah payung langit buatan-Nya
Lupa yang ada pada dirinya sebagai nikmat-Nya
Melalaikan untuk sujud pada pemberi nikmat
Melarutkan diri dalam godaan hawa nafsu
Melabuhkan cinta kepada selain-Nya

Wahai hamba-hamba yang lalai
Bersegeralah berlari menuju-Nya
Balaslah cinta-Nya dengan mencintai-Nya
Mencintai-Nya dengan cinta diatas segala cinta
Rangkul dan jangan lepaskan cinta-Nya
Sebelum Dia palingkan Wajah-Nya

Tepian Mahakam, 3 Syawal 1432 H
( by : musni japrie )