Selasa, 11 Oktober 2011

" Menuai Manisnya Buah Musibah "



By : Musni Japrie

P e n d a h u l u a n


Seperti diketahui bahwa selama ini sebagian masyarakat memaknai musibah itu lebih kepada pengertian bencana yang menimpa seseorang atau banyak orang yang berakibat fatal seperti kecelakaan yang menimpa seseorang ataupun bencana alam yang lebih luas lagi. Namun sebenarnya musibah itu sangat luas pengertiannya dan meliputi kejadian apa saja yang menimpa seseorang yang menimbulkan perasaan atau penderitaan sekecil apapun, sebagaimana yang disebutkan dalam sabda Rasullullah shallallahu’alaihi wa sallam :
, “Tidaklah seseorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundah-gulanan hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dari kesalahan-kesalahannya.” (HR. Bukhari).
Dari pengertian hadits Rasullullah tersebut diatas maka dapatlah dimaknai bahwa musibah itu termasuk hal-hal yang kecil seperti keletihan, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundahan hingga duri yang menusuk, berbagai penderitaan yang menimpa manusia. Dan tentunya termasuk pula hal-hal yang lebih besar seperti kematian, kecelakaan dan banyak lagi yang lainnya seperti bencana alam yang menimpa banyak orang.
Dalam menyikapi musibah yang menimpa baik berupa musibah yang sifatnya hanya kecil maupun yang besar seperti kecelakaan, kematian ataupun bencana masing-masing orang menunjukkan reaksi yang berbeda satu sama lainnya. Ada yang menerimanya dengan lapang dada,ada yang menunjukkan reaksi yang sepertinya tidak ridha menerimanya dan bahkan ada yang sangat berlebihan. Dan menganggap musibah itu bukan dari Allah datangnya tetapi akibat ulah seseorang.

Musibah Merupakan Ketetapan Dari Allah Bagi Manusia

Sebagaimana yang sering disinggung oleh para ulama, bahwa seluruh makhluk yang diciptakan Allah mengikuti skenario yang telah digariskan oleh Allah Subhanahu Ta’ala dalam takdir 50.000 tahun sebelum bummi diciptakan, yang tentunya termasuk di dala nya segala sesuatu yanbg berhubungan dengan kehidupan bani adam baik berupa kebahagian atau kesengsaraan seperti musibah yang menimpa manusia, baik yang sifatnya berbentuk musibah kecil untuk masing-masing orang maupun musibah berskala besar yang menimpa umat manusia. Hal tersebut ditegaskan dalam firman Allah Subhanahu Ta’ala :

وَإِن يَمْسَسْكَ اللّهُ بِضُرٍّ فَلاَ كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ وَإِن يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلاَ رَآدَّ لِفَضْلِهِ يُصَيبُ بِهِ مَن يَشَاء مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
‘Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurniaNya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’ ( QS. Yunus : 107 )

Apapun yang menimpa manusia berupa takdir sebagai suatu ketetapan yang datangnya dari Allah Subhanahu Ta’ala tidak akan lepas dari manusia seperti yang disebutkan Allah dalam firman-Nya
قُلْ لَنْ يُصِيْبَنَا إلاَّ مَا كَتَبَ اللهُ لَنَا هُوَ مَوْلاَنَا وَعَلَى اللهِ فَاْليَتَوَكَّلِ اْلمُؤْمِنُوْنَ
“Katakanlah: Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal”( QS.at-Taubah : 51 )
Sesungguhnya musibah dan bencana merupakan bagian dari takdir Allah Yang Maha Bijaksana. Allah ta’ala berfirman,
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Tidaklah menimpa suatu musibah kecuali dengan izin Allah. Barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan berikan petunjuk ke dalam hatinya.” (Qs. at-Taghabun: 11)
Ibnu Katsir rahimahullah menukil keterangan Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma bahwa yang dimaksud dengan izin Allah di sini adalah perintah-Nya yaitu ketetapan takdir dan kehendak-Nya. Beliau juga menjelaskan bahwa barang siapa yang tertimpa musibah lalu menyadari bahwa hal itu terjadi dengan takdir dari Allah kemudian dia pun bersabar, mengharapkan pahala, dan pasrah kepada takdir yang ditetapkan Allah niscaya Allah akan menunjuki hatinya. Allah akan gantikan kesenangan dunia yang luput darinya -dengan sesuatu yang lebih baik, pent- yaitu berupa hidayah di dalam hatinya dan keyakinan yang benar. Allah berikan ganti atas apa yang Allah ambil darinya, bahkan terkadang penggantinya itu lebih baik daripada yang diambil. Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma ketika menafsirkan firman Allah (yang artinya), “Barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan menunjuki hatinya.” Maksudnya adalah Allah akan tunjuki hatinya untuk merasa yakin sehingga dia menyadari bahwa apa yang -ditakdirkan- menimpanya pasti tidak akan meleset darinya. Begitu pula segala yang ditakdirkan tidak menimpanya juga tidak akan pernah menimpa dirinya Beliau -Ibnu Katsir- juga menukil keterangan al-A’masy yang meriwayatkan dari Abu Dhabyan, dia berkata, “Dahulu kami duduk-duduk bersama Alqomah, ketika dia membaca ayat ini ‘barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan menunjuki hatinya’ dan beliau ditanya tentang maknanya. Maka beliau menjawab, ‘Orang -yang dimaksud dalam ayat ini- adalah seseorang yang tertimpa musibah dan mengetahui bahwasanya musibah itu berasal dari sisi Allah maka dia pun merasa ridha dan pasrah kepada-Nya.” Atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim di dalam tafsir mereka. Sa’id bin Jubair dan Muqatil bin Hayyan ketika menafsirkan ayat itu, “Yaitu -Allah akan menunjuki hatinya- sehingga mampu mengucapkan istirja’ yaitu Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa ayat di atas berlaku umum untuk semua musibah, baik yang menimpa jiwa/nyawa, harta, anak, orang-orang yang dicintai, dan lain sebagainya. Maka segala musibah yang menimpa hamba adalah dengan ketentuan qadha’ dan qadar Allah. Ilmu Allah telah mendahuluinya, kejadian itu telah dicatat oleh pena takdir-Nya. Kehendak-Nya pasti terlaksana dan hikmah/kebijaksanaan Allah memang menuntut terjadinya hal itu. Namun, yang menjadi persoalan sekarang adalah apakah hamba yang tertimpa musibah itu menunaikan kewajiban dirinya ketika berada dalam kondisi semacam ini ataukah dia tidak menunaikannya? Apabila dia menunaikannya maka dia akan mendapatkan pahala yang melimpah ruah di dunia dan di akherat. Apabila dia mengimani bahwasanya musibah itu datang dari sisi Allah sehingga dia merasa ridha atasnya dan menyerahkan segala urusannya -kepada Allah, pent- niscaya Allah akan tunjuki hatinya. Dengan sebab itulah ketika musibah datang hatinya akan tetap tenang dan tidak tergoncang seperti yang biasa terjadi pada orang-orang yang tidak mendapat karunia hidayah Allah di dalam hatinya. Dalam keadaan seperti itu Allah karuniakan kepada dirinya -seorang mukmin- keteguhan ketika terjadinya musibah dan mampu menunaikan kewajiban untuk sabar. Dengan sebab itulah dia akan memperoleh pahala di dunia, di sisi lain ada juga balasan yang Allah simpan untuk-Nya dan akan diberikan kepadanya kelak di akherat. Hal itu sebagaimana yang difirmankan Allah ta’ala (yang artinya), “Sesungguhnya hanya akan disempurnakan balasan bagi orang-orang yang sabar itu dengan tanpa batas hitungan.”
Beliau melanjutkan, dari sinilah dapat dimengerti bahwa barang siapa yang tidak beriman terhadap takdir Allah ketika terjadinya musibah dan dia meyakini bahwa apa yang terjadi sekedar mengikuti fenomena alam dan sebab-sebab yang tampak niscaya orang semacam itu akan dibiarkan tanpa petunjuk dan dibuat bersandar kepada dirinya sendiri. Apabila seorang hamba disandarkan hanya kepada kekuatan dirinya sendiri maka tidak ada yang diperolehnya melainkan keluhan dan penyesalan yang hal itu merupakan hukuman yang disegerakan bagi seorang hamba sebelum hukuman di akherat akibat telah melalaikan kewajiban bersabar. Di sisi yang lain, ayat di atas juga menunjukkan bahwasanya setiap orang yang beriman terhadap segala perkara yang diperintahkan untuk diimani, seperti iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, takdir yang baik dan yang buruk, dan melaksanakan konsekuensi keimanan itu dengan menunaikan berbagai kewajiban, maka sesungguhnya hal ini merupakan sebab paling utama untuk mendapatkan petunjuk Allah dalam menyikapi keadaan yang dialaminya sehingga dia bisa berucap dan bertindak dengan benar. Dia akan mendapatkan petunjuk ilmu maupun amalan. Inilah balasan paling utama yang diberikan Allah kepada orang-orang yang beriman. Maka orang-orang beriman itulah orang yang hatinya paling mendapatkan petunjuk di saat-saat berbagai musibah dan bencana menggoncangkan jiwa kebanyakan manusia. Keteguhan itu ditimbulkan dari kokohnya keimanan yang tertanam di dalam jiwa mereka
Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan bahwa di dalam ayat di atas terkandung beberapa pelajaran yang agung, yaitu:
1.Segala musibah yang menimpa itu terjadi dengan qadha’ dan qadar dari Allah ta’ala.
2.Merasa ridha terhadap takdir tersebut dan bersabar dalam menghadapi musibah merupakan bagian dari nilai-nilai keimanan, sebab Allah menamakan sabar di sini dengan istilahKesabaran itu akan membuahkan hidayah menuju kebaikan di dalam hati dan kekuatan iman dan keyakinan.

Musibah adalah juga sebuah teguran dari Allah kepada orang-orang beriman, namun lalai menjalankan perintah-Nya. Peringatan dari allah ini sudah seringkali tampak melalui beberapa peristiwa serupa yang seringkali melanda negeri kita. Namun selalu saja kita belum bisa memperbaiki diri, sikap dan perbuatannya. Padahal beberapa musibah yang terjadi ini adalah akibat dari perbuatan dan ulah kita sendiri sebagai bangsa.

Jika alam di negeri kita rusak, siapakah yg merusaknya? Tentu adalah kita sendiri yang merusaknya. Bukan negara lain, karena takkan ada negeri lain dapat merusak negara kita kecuali kita sendiri yang mengijinkan mereka.

Allah SWT berfirman dalam surat Ar-Rum ayat 41.
ظَهَرَ الفَسَادُ فِيْ الُبَرِّ وَاْلبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أيْدِي النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ اَّلذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

“Telah nampak kerusakan didarat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan lepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar)."

Adapun bagi kita semua, rentetan musibah yang terjadi hendaklah menjadi tadzkirah (pengingat) bahwa bencana memilukan tersebut dapat terjadi ditempat kita jika Allah SWT menghendaki. Seharusnyalah bagi kita untuk selalu berdo’a, bertaqarrub, dan beristighfar semoga Allah SWT selalu menganugerahkan keselamatan dan ampunan bagi kita semua.

Dan jika demikian, maka Allah memberi peringatan kepada kita supaya kembali ke jalan yang benar. Perbuatan manusialah yang selama ini banyak merusak ekosistem dan lingkungan. Manusia yang serakah, selalu mengeksploitasi alam dan banyak menyebabkan kerusakan lingkungan. Peringatan dari Allah yang berupa bencana menunjukkan bahwa Allah masih sayang kepada hamba-hamba-Nya dan menghendaki mereka untuk kembali ke jalan yang diridloi-Nya.

Musibah adalah juga sebuah teguran dari Allah kepada orang-orang beriman, namun lalai menjalankan perintah-Nya. Peringatan dari Allah ini sudah seringkali tampak melalui beberapa peristiwa serupa yang seringkali melanda negeri kita. Namun selalu saja kita belum bisa memperbaiki diri, sikap dan perbuatannya. Padahal beberapa musibah yang terjadi ini adalah akibat dari perbuatan dan ulah kita sendiri sebagai bangsa.

Jika alam di negeri kita rusak, siapakah yg merusaknya? Tentu adalah kita sendiri yang merusaknya. Bukan negara lain, karena takkan ada negeri lain dapat merusak negara kita kecuali kita sendiri yang mengijinkan mereka.

Allah Subhanahu Ta’ala berfirman dalam surat Ar-Rum ayat 41.
ظَهَرَ الفَسَادُ فِيْ الُبَرِّ وَاْلبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أيْدِي النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ اَّلذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

“Telah nampak kerusakan didarat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan lepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar)."

Adapun bagi kita semua, rentetan musibah yang terjadi hendaklah menjadi tadzkirah (pengingat) bahwa bencana memilukan tersebut dapat terjadi ditempat kita jika Allah SWT menghendaki. Seharusnyalah bagi kita untuk selalu berdo’a, bertaqarrub, dan beristighfar semoga Allah SWT selalu menganugerahkan keselamatan dan ampunan bagi kita semua.

Balasan Pahala Di balik Musibah

Tidaklah kita ragukan barang sedikitpun bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Bijaksana, tidak sedikit pun Allah menganiaya hamba-Nya. Allah ta’ala berfirman,
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ () الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ () أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
“Benar-benar Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, serta kekurangan harta, lenyapnya nyawa, dan sedikitnya buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila tertimpa musibah mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya kami ini adalah milik Allah, dan kami juga akan kembali kepada-Nya’. Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan pujian dari Rabb mereka dan curahan rahmat. Dan mereka itulah orang-orang yang diberikan petunjuk.” (Qs. al-Baqarah: 155-157)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا ، وَإِذَا أَرَادَ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَلَيْهِ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَهُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Apabila Allah menghendaki hamba-Nya mendapatkan kebaikan maka Allah segerakan baginya hukuman di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan untuknya maka Allah akan menahan hukumannya sampai akan disempurnakan balasannya kelak di hari kiamat.” (HR. Muslim)
Di dalam hadits yang agung ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan bahwa ada kalanya Allah ta’ala memberikan musibah kepada hamba-Nya yang beriman dalam rangka membersihkan dirinya dari kotoran-kotoran dosa yang pernah dilakukannya selama hidup. Hal itu supaya nantinya ketika dia berjumpa dengan Allah di akherat maka beban yang dibawanya semakin bertambah ringan. Demikian pula terkadang Allah memberikan musibah kepada sebagian orang akan tetapi bukan karena rasa cinta dan pemuliaan dari-Nya kepada mereka namun dalam rangka menunda hukuman mereka di alam dunia sehingga nanti pada akhirnya di akherat mereka akan menyesal dengan tumpukan dosa yang sedemikian besar dan begitu berat beban yang harus dipikulnya ketika menghadap-Nya. Di saat itulah dia akan merasakan bahwa dirinya memang benar-benar layak menerima siksaan Allah. Allah memberikan karunia kepada siapa saja dengan keutamaan-Nya dan Allah juga memberikan hukuman kepada siapa saja dengan penuh keadilan. Allah tidak perlu ditanya tentang apa yang dilakukan-Nya, namun mereka -para hamba- itulah yang harus dipertanyakan tentang perbuatan dan tingkah polah mereka (
Di antara pelajaran berharga bagi kehidupan kita dari hadits yang agung ini adalah:
1.Allah memiliki kehendak yang sesuai dengan kemuliaan dan keagungan diri-Nya.
2.Kebaikan dan keburukan semuanya ditakdirkan oleh Allah ta’ala.
3.Cobaan/musibah yang menimpa orang-orang yang beriman merupakan salah satu tanda kebaikan baginya selama hal itu tidak menyebabkannya meninggalkan kewajiban atau terjatuh dalam perkara yang diharamkan.
4.Semestinya seseorang merasa khawatir atas kenikmatan dan kesehatan yang selama ini senantiasa dia rasakan. Sebab boleh jadi itu adalah istidraj/bentuk penundaan hukuman baginya, sementara dia tahu betapa banyak maksiat yang telah dilakukannya, wal ‘iyadzu billah.
5.Wajibnya untuk berprasangka baik kepada Allah atas segala perkara dunia yang tidak mengenakkan yang menimpa diri kita.
Hadits ini juga menunjukkan bahwa pemberian Allah kepada hamba-Nya tidak selalu mencerminkan bahwa Allah meridhai hal itu untuknya. Seperti contohnya orang yang setiap kali hendak minum khamr kemudian dia selalu mendapatkan kemudahan untuk mendapatkannya, atau bahkan memperolehnya secara gratis. Maka ini semua bukanlah bukti kalau Allah menyukai hal itu untuknya
MApakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapengapakah Allah menimpakan musibah kepada umat-Nya? Umat yang mengimani dan menyembah-Nya dalam ajaran yang benar dan hak? Mengapa bukan orang-orang kafir saja ditumpas dengan bencana? Jawabnya adalah, karena di balik setiap takdir, pastilah terdapat makna yang tersembunyi. Termasuk dalam beberapa musibah yang melanda kita. Dan bagi saudara-saudara kita yang tertimpa musibah namun masih hidup setidaknya dapat memetik hikmah atas apa yang menimpa mereka.

Mereka yang lolos dari bencana adalah orang-orang yang beruntung karena masih sempat ditegur oleh Allah Subhanahu Ta’ala. Mereka yang lolos masih diberi kesempatan oleh Allah untuk memperbaiki kualitas ketaqwaan, keimanan dan hidupnya. Mereka masih sempat meminta ampunan kepada Allah SWT atas segala kesalahan serta berbuat kebajikan sepanjang sisa hidupnya untuk menghapuskan dosa.

Dan jika demikian, maka Allah memberi peringatan kepada kita supaya kembali ke jalan yang benar. Perbuatan manusialah yang selama ini banyak merusak ekosistem dan lingkungan. Manusia yang serakah, selalu mengeksploitasi alam dan banyak menyebabkan kerusakan lingkungan. Peringatan dari Allah yang berupa bencana menunjukkan bahwa Allah masih sayang kepada hamba-hamba-Nya dan menghendaki mereka untuk kembali ke jalan yang diridloi-Nya.

Kita dapat menyadari bahwa selalu ada hikmah di balik setiap kejadian yang tampak mengerikan. Karena sesungguhnya musibah yang menimpa kita merupakan:

Pertama, ujian kesabaran seorang mukmin, karena disaat musibah datang terlihat sekali sikap seorang hamba yang sebenarnya, apakah berbaik sangka atau justru sebaliknya berburuksangka atau bahkan menyalahkan dan mencacimaki Allah Subhananu Ta’ala, Allah Subhanahu Ta’ala berfirman;
أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُواْ الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْاْ مِن قَبْلِكُم مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاء وَالضَّرَّاء وَزُلْزِلُواْ حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُواْ مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللّهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللّهِ قَرِيبٌ
“Petaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat.
(QS. al Baqarah : 214).
Dan memang pada dasarnya, hidup ini tak akan pernah lepas dari ujian Allah, kaya ataupun miskin, senang ataupun susah, semuanya adalah ujian Allah, Allah berfirman

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. al Mulk : 2).

Kedua,sebagai bukti betapa tidak berdayanya manusia dan begitu mahakuasanya Allah Subhnahu Ta’ala, jangankan mencegah budaya musibah, memprediksi kapan datangnya musibah secara valid manusia tidak sanggup. ketika pendekatan ini disadari oleh seorang mukmin, maka akan muncullah perasaan dirinya akan keagungan dan kemahakuasaan Allah ‘azzawajalla.).

Ketiga, musibah datang untuk menggugurkan dosa dan mengangkat derajat seorang mukmin.Rasulullah bersabda, “Tidaklah seseorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundah-gulanan hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dari kesalahan-kesalahannya.” (HR. Bukhari no. 5641).
Ada begitu banyak cara Allah agar dosa kita diampuni, mulai dari istighfar, bertaubat, memperbanyak amalan kebaikan dan sebagainya, tetapi kadangkala manusia lalai, disuruh beristighfar tidak mau, apalagi bertaubat kepada-Nya, tetapi karena Allah Maha Pengampun dan Penyayang kepada hamba-Nya, dosa hamba-Nya yang lalai tetap Allah ampuni, tetapi dengan cara menurunkan musibah, baik itu musibah yang sederhana seperti tertusuk duri atau musibah yang jauh lebih berat seperti gempa dan sebagainya. Semakin banyak musibah yang menimpa seseorang dan semakin besar penderitaan yang dialami seseorang akibat musibah maka begitu banyak pula balasan pahala yang diperoleh sebagai pengganti penderitaan yang dirasakannya di dunia.

Keempat
, musibah juga menjadi salah satu cara (tarbiyah) Allah dalam mendidik dan menegur kesilapan dan dosa hamba-Nya. Allah berfirman,:
-
فَلَوْلا إِذْ جَاءهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُواْ وَلَـكِن قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ
”Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitanpun Menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. al An’am : 43).
.
Kelima
, beribadah ketika ada musibah tentu memiliki pengalaman yang khas dan pahala yg berlipat-lipat kali ganda. Dari Ma’qil bin Yasar, Rasulullah bersada,
“beribadah diwaktu ada ujian seperti hijrah kepadaku.” (HR. Muslim, no. 2948.

Keenam, kita mendapatkan kenikmatan setelah mendapatkan musibah, tentu nilainya berbeda dengan kenikmatan lainnya. Seperti orang yang sedang berada ditengah gurun padang pasir yang tandus, lalu dia mendapatkan seteguk air untuk mengobati rasa dahaganya. Dia akan merasakan betapa berharganya seteguk air itu dibanding seteguk air yang dia minum dirumahnya yang mewah dan berlimpah air segar. Kondisi semacam ini menggiring siapa saja untuk senantiasa mensyukuri nikmat Allah Subhananhu Ta’ala.

K h a t i m a h

Sesungguhnya Allah Yang Maha Pengasih Lagi Penyayang tidaklah pernah sedetikpun melupakan hamba-hamba-Nya yang beriman,lagi-lagi bagi yang mendapatkan musibah dan bersabar amusibah yang mereka terima dan ridha atas ikhlas menerima apa saja ketetapan yang datangnya dari Alllah Subhanahu Ta’ala dan tetap itiqomah dalam melaksanakan segala perintahnya meskipun ditengah-
tengah deraan musibah yang tiada hentinya datang menimpa dirinya. Karena Allah pasti dijamin akan memenuhi janjinya dengan memberikan imbalan pahala dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahan seperti daun kering yang rontok berguguran. Yang ujung-ujungnya diakhirat mendapatkan kebaikan.Insya Allah kiktga akan dapat menuai manisnya buah musibah karena kesabaran atas musibah yang menimpa kita.
( Waallahu Ta’ala ‘alam )

Dipetik dari berbagai sumber. 8 Oktober 2011

Sabtu, 01 Oktober 2011

Takutlah Terhadap Dampak Perbuatan Maksiat



By : Musni Japrie

P e n d a h u l u a n

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
فَكُلاًّ أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ اْلأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa sebab dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan. Dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Al-‘Ankabut: 40)
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Asy-Syura: 30)
Dua ayat al-Qur’an tersebut diatas sengaja ditampilkan sebagai prolog dari artikel singkat ini untuk menggambarkan bahwa dosa-dosa buah dari akibat kemaksiatan yang dikerjakan oleh para bani Adam dimuka bumi ini tidaklah akan dibiarkan begitu saja oleh Allah Subhanahu Ta’ala, melainkan telah diperhitungkan dan pada waktunya akan mendapatkan imbalan sangsi berupa hukuman. Sangsi yang dijatuhkan oleh Allah akan perbuatan manusia itu tidak saja akan diberikan diakhirat kelak berupa siksaan di neraka, tetapi juga kalau Allah berkehendak akan diberikaan pula dimuka bumi ketika manusia masih hidup, sehingga mereka merasakan sangsi sebagai akibat perbuatannya melanggar larangan dan tidak mentaati perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sebagian terbesar umat islam berusaha untuk menjauhi dan meninggalkan perbuatan bermaksiat kepada Allah Ta’ala seperti berbuat syirik secara nyata kepada Allah, berzinah, mencuri dan merampok, membunuh, menipu, memakan makanan yang haram seperti bangkai, darah dan babi, bunuh diri dan lain sebagainya. Hal tersebut dikarenakan mereka beranggapan perbuatan tersebut merupakan dosa besar. Namun demikian diantara mereka masih banyak yang melakukan kemaksiatan lain baik secara sadar atau tidak atau karena lupa, bahwa kemaksiatan yang membuahkan dosa sebagai akibat pelanggaran atas syari’at itu banyak jumlahnya walaupun diantaranya ada yang bersifat dosa-dosa kecil.
Betapa banyak orang-orang yang meninggalkan sholat fardhu dengan sengaja padahal sholat sebagai kewajiban pokok seseorang yang mengaku sebagai muslim, mereka melakukan sholat hanya 2 kali setahun pada saat idul fitri dan idul adha,itu dapat dibuktikan dengan membanjirnya jama’ah hingga kelapangan, tetapi tidak sedemikian adanya pada sholat jum’at. Lagi-lagi pada sholat fardhu 5 waktu, masjid dan surau atau mushalla kosong melompong dari jama’ah.Lebih-lebih lagi pada waktu sholat subuh. Sungguh memprihatinkan kondisi rumah-rumah ibadah muslim yang tidak dihiraukan oleh umatnya.
Perhatikanlah betapa banyak orang-orang yang secara sengaja melanggar larangan agama dengan meminum minuman keras, mengkonsumsi narkoba, apalagi yang namanya merokok sudah tak terbilang lagi, tidak hanya orang-orang dewasa, anak-anak muda dan remaja tetapi juga anak-anak dibawah umur juga melakukannya. Sungguh kegiatan merokok sebagai perbuatan haram dan maksiat telah dilakukan secara terbuka dan dilakukan beramai-ramai.
Tak dapat terhitung banyaknya ragam kemaksiatan yang dikerjakan oleh anak manusia dinegeri ini selain apa yang disebutkan diatas, seperti mengghibah (menggunjing), memfitnah, berburuk sangka, menuduh, membuat kezaliman dalam berbagai bentuknya, makan riba, menipu, ingkar janji, membuka aurat, pergaulan bebas muda mudi, mencemarkan nama baik, mencuri, menggarong dan lain-lain sebagainya.

Peringatan Al-Qur’an tentang azab akibat perbuatan maksiat

Allah Subhanahu Ta’ala berfirman :
Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kiab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.(QS Yusuf 109-111).
Sesungguhnya, terdapat banyak contoh dalam kisah-kisah tentang masyarakat di waktu lampau bagi orang-orang yang dikaruniai kepahaman. Kehancuran mereka yang disebabkan oleh pemberontakan mereka terhadap Allah dan penolakan terhadap perintah-perintah-Nya, kaum-kaum ini mengungkapkan kepada kita betapa lemah dan tidak berdayanya umat manusia dihadapan Allah.
Di dalam al-Quran banyak ayat-ayat yang menceritakan tentang akibat adanya perbuatan makasiat yang dilakukan oleh manusia, sehingga Allah menjadi marah dan kemudian menjatuhkan sanksi berupa hukuman-hukuman yang mengakibatkan kesengsaraan bagi sipembuat maksiat.
Iblis karena kesombongan dan keangkuhannya tidak mentaati perintah Allah Subhanahu Ta’ala yaitu membangkang untuk tidak mau bersujud kepada Adam, Allah lalu murka kepada Iblis serta mengusirnya keluar dari surge.
Tatkala Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan Adam ‘alaihissallam dengan Tangan-Nya, Ia memuliakannya di hadapan para malaikat dengan memerintahkan mereka sujud kepadanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajarinya nama-nama segala sesuatu serta menempatkannya bersama istrinya Hawa di dalam surga, tempat berhuninya beragam nikmat. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memperingatkan kepada keduanya dari bahaya godaan Iblis serta melarang keduanya dari memakan dari buah pohon di surga, sebagai ujian.
Tetapi Iblis yang terkutuk selalu menggoda dengan bujuk rayunya yang manis hingga Adam dan Hawa memakan dari pohon yang terlarang tersebut. Keduanya pun bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dengan serta-merta lepaslah baju keduanya sehingga tampak auratnya. Kemudian keduanya dikeluarkan dari surga ke bumi, tempat yang penuh dengan kekeruhan dan keletihan. Namun Allah Subhanahu wa Ta’ala masih sayang kepada mereka berdua di mana keduanya sadar akan kesalahannya dan bertaubat sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuninya.
Perhatikan peristiwa yang menimpa Adam dan Hawa! Tadinya menempati surga dengan keindahannya serta dihormati oleh malaikat. Namun dengan satu kemaksiatan, kemuliaan dicabut, bajupun menjadi lepas sehingga tersingkap auratnya, serta harus menjalani kehidupan yang sengsara di dunia setelah sebelumnya hidup sentosa di surga.
Allah Ta’ala telah memberikan ganjara di dunia dengan berbagai pesan yang sangat jelas, baik itu berupa azab, kenikmatan, dan siksaan, semua telah berlaku pada umat terdahulu. Para pelaku keburukan dan kejahatan serta tindakan yang menyeleweng dan menyimpang seperti, kaumnya Nuh, ‘Ad, Tsamud, kaum Luth, penduduk Madyan, dan kaumnya Fir’aun, selama mereka berada di dunia, mereka sudah dihancur-leburkan oleh Allah Rabbul Aziz. Apalagi, bila yang berbuat maksiat itu bukan hanya rakyat , tapi justru para pemimpin, yang menjadi tauladan dalam kedurhakaan kepada Allah. Seperti berbuat tidak adil, berdusta (berbohong), bersumpah palsu, bertindak sewenang-wenang, menjauhkan rakyat dan kaumnya dari agama Allah, membunuh dengan tanpa alasan yang sangat jelas, dan dibolehkan oleh Allah. Maka, semua itu akan menyebabkan lahirnya bencana dan azab dari Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman :
وَقَالَ الَّذِي آمَنَ يَا قَوْمِ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُم مِّثْلَ يَوْمِ الْأَحْزَابِ
مِثْلَ دَأْبِ قَوْمِ نُوحٍ وَعَادٍ وَثَمُودَ وَالَّذِينَ مِن بَعْدِهِمْ وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلْمًا لِّلْعِبَادِ
وَيَا قَوْمِ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ يَوْمَ التَّنَادِ
يَوْمَ تُوَلُّونَ مُدْبِرِينَ مَا لَكُم مِّنَ اللَّهِ مِنْ عَاصِمٍ وَمَن يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ
“Wahai kaumku, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa (bencana) seperti peristiwa kehancuran golongan yang bersekutu. (Yakni) seperti keadaan kaum Nuh, ‘Ad, dan orang-orang yang datang sesudah mereka. Dan Allah tidak menghendaki berbuat kezaliman terhadapmu akan siksaan hari panggil-memanggil, (yaitu) hari (ketika) kamu (lari) berpaling ke belakang, tiak ada bagimu seseorang pun yang menyelamatkan kamu dari (azab) Allah, dan siapa yang disesatkan Allah, niscaya tidak ada baginya seseorang pun yang akan memberi petunjuk”. (al-Mukmin : 30-33).
.AllahSubhanahuwaTa'alaberfirman:
فَكُلاًّ أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ اْلأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa sebab dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan. Dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Al-‘Ankabut: 40)
Firman Allah Ta’ala :
-
أَلَمْ يَأْتِهِمْ نَبَأُ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ قَوْمِ نُوحٍ وَعَادٍ وَثَمُودَ وَقَوْمِ إِبْرَاهِيمَ وِأَصْحَابِ مَدْيَنَ وَالْمُؤْتَفِكَاتِ أَتَتْهُمْ رُسُلُهُم بِالْبَيِّنَاتِ فَمَا كَانَ اللّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَـكِن كَانُواْ أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
“Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, 'Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan dan negeri-negeri yang telah musnah? Telah datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata, maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri”.( QS .At-Taubah : 70)

Firman Allah Ta’ala :
وَلَمَّا جَاء أَمْرُنَا نَجَّيْنَا شُعَيْبًا وَالَّذِينَ آمَنُواْ مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مَّنَّا وَأَخَذَتِ الَّذِينَ ظَلَمُواْ الصَّيْحَةُ فَأَصْبَحُواْ فِي دِيَارِهِمْ جَاثِمِينَ

“Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya. “ (QS.Huud : 94 )

Dari beberapa ayat al-Qur’an yang dikutipkan sebagaimana tersebut diatas, jelas digambarkan bagaimana Allah Subhanahu Ta’ala telah memberikan sanksi hukuman akibat perbuatan maksiat kaum-kaum terdahulu dan hendaklah peristiwa yang telah berlalu cukup menjadi pelajaran yang berharga bagi orang-orang yang setelahnya. Karena orang yang baik adalah yang mampu mengambil pelajaran dari orang lain dan bukan menjadi pelajaran yang jelek bagi generasi setelahnya


Dampak Perbuatan Makasiat

Sesungguhnya banyak orang yang telah menyemai perbuatan maksiat namun mereka sepertinya tidak mempedulikan bahwa apa yang mereka semai akan mereka petik buahnya berupa dosa yang akan dibayar oleh Allah Ta’ala dalam bentuk hukuman tidak saja di akhirat kelak tetapi juga akan dirasakan dampaknya di dunia.
Para Ulama terdahulu dalam banyak tulisannya dibeberapa kitab menyebutkan bahwa perbuatan maksiat yang dilakukan oleh anak manusia akan memberikan dampak antara lain :

Dosa menghalangi seorang dari memperoleh ilmu yang bermanfaat. Karenailmu merupakan cahaya yang Allah Subhanahu wa Ta'ala letakkan pada hati seseorang, sedangkan maksiat yang akan meredupkan cahaya tersebut. Tatkala Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu duduk di hadapan gurunya, Al-Imam Malik, sang guru melihat kesempurnaan pemahaman Asy-Syafi’i t. Maka ia berpesan kepadanya: “Sungguh, aku memandang Allah Subhanahu wa Ta'ala telah meletakkan pada hatimu cahaya, maka janganlah kau padamkan dengan gelapnya kemaksiatan.”

Maksiat menyebabkan seorang terhalang dari rizki, sebagaimana sebaliknya yaitu takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala akan mendatangkan rizki.

Adanya kegersangan pada hati orang yang berbuat maksiat dan kesenjangan antara dia dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Disulitkan urusannya, sehingga tidaklah ia menuju kepada suatu perkara kecuali ia mendapatkannya tertutup.
Kegelapan yang ia dapatkan pada hatinya. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata: “Sesungguhnya kebaikan mendatangkan sinar pada wajah, cahaya di hati, luasnya rizki, kuatnya badan, dan dicintai oleh makhluk. Sedangkan kejelekan (kemaksiatan) akan menimbulkan hitamnya wajah, gelapnya hati, lemahnya badan, berkurangnya rizki, dan kebencian hati para makhluk.

Kemaksiatan melenyapkan barakah umur serta memendekkannya. Karena, sebagaimana kebaikan menambahkan umur, maka (sebaliknya) kedurhakaan memendekkan umur.

Setiap kemaksiatan adalah melahirkan kemaksiatan yang lainnya.Orang yang minum minuman keras lalu mabuk dan lupa diri sehingga dengan mudahnya melakukan perzinahan kemudian, akibat minuman keras sering terjadi pertengkaran, perkelahian dan berujung pada saling bunuh.

Kemaksiatan menjadikan seorang hamba hina di mata Allah Subhanahu wa Ta'ala. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu berkata: “Mereka (pelaku maksiat) rendah di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala sehingga mereka bermaksiat kepada-Nya, karena seandainya mereka orang yang mulia di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala niscaya Allah akan jaga mereka dari dosa.

Kemaksiatan mengundang kehinaan, merusak akal. Dan jika dosa telah banyak maka pelakunya akan ditutup hatinya sehingga digolongkan sebagai orang–orang yang lalai.

Dosa memunculkan berbagai kerusakan di muka bumi, pada air, udara, tanaman, buah-buahan, dan tempat tinggal.
Kemaksiatan menghilangkan sifat malu yang merupakan pokok segala kebaikan serta melemahkan hati pelakunya.
Kemaksiatan menyebabkan hilangnya nikmat dan mendatangkan adzab. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu berkata: Subhanahu wa Ta'ala berfirman: “Tidaklah turun suatu bencana kecuali karena dosa, dan tidaklah dicegah suatu bencana kecuali dengan taubat. Allah
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Asy-Syura: 30)
Diantara dampak perbuatan maksiat lainnya, yaitu hilangnya anggapan maksiat itu jelek. Orang yang gemar melakukan perbuatan maksiat, berarti sama dengan menorehkan titik hitam di dalam hatinya, sampai akhirnya tertutup dengan titik-titik itu akibat dosanya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Imam Tirmidzi dengan sanad yang jayyid (bagus), dari Abu Shalih dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ ذَنْبًا نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ زَادَ زَادَتْ حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ فَذَلِكَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي الْقُرْآنِ كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Sesungguhnya seorang mukmin, jika melakukan satu perbuatan dosa, maka ditorehkan di hatinya satu titik hitam. Jika ia bertaubat, berhenti dan minta ampun, maka hatinya akan dibuat mengkilat (lagi). Jika semakin sering berbuat dosa, maka titik-titik itu akan bertambah sampai menutupi hatinya. Itulah raan yang disebutkan Allah dalam Al Qur’an.Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka. [Al Muthaffifin:14].[6]

Pemilik hati seperti ini, tidak akan bisa membedakan antara yang baik dan buruk dalam pandangan Allah dan RasulNya, kecuali sesuatu yang dianggap baik atau buruk oleh hawa nafsunya. Tolok ukurnya bukan lagi firman Allah atau sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ia tidak menganggap jelek perbuatan maksiat yang dinyatakan jelek oleh Allah dan RasulNya, sehingga ia tidak merasa malu melakukan perbuatan maksiat di hadapan khalayak. Ia melakukan perbuatan maksiat dengan terang-terangan, bahkan dengan bangga ia menceritakan perbuatan maksiatnya yang tidak diketahui oleh orang lain. Orang-orang seperti ini termasuk golongan orang-orang yang tidak mendapatkan ampunan dari Allah, terhalangi dari pintu taubat baginya, bahkan biasanya tertutup. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam.
Setiap umatku akan dimaafkan, kecuali mujahirin (pelaku maksiat dengan terang-terangan). Dan termasuk dalam mujaharah (berbuat maksiat dengan terang-terangan), (yaitu) seseorang melakukan satu perbuatan pada malam hari, kemudian dia memasuki waktu pagi dan Allah menutupi perbuatannya itu, lalu ia mengatakan “Wahai, fulan. Semalam aku melakuan ini dan itu” Dia tidur semalam dan Allah menutupi perbuatannya, lalu ketika memasuki waktu pagi dia membuka tabir Allah. [HR Bukhari Muslim].[7]

Perbuatan maksiat juga akan melemahkan hati. Ini merupakan akibat yang paling mengkhawatirkan atas seorang hamba. Dosa akan melemahkan keinginan hati, keingian berbuat maksiat semakin menguat, sementara keinginan untuk bertaubat sedikit demi sedikit semakin melemah. Sampai akhirnya, keinginan untuk bertaubat hilang sama sekali. Kalau seandainya, hati seseorang mati separuh saja, maka dia tidak akan bisa bertaubat, (apalagi kalau mati total). Akibatnya, dia akan sering melakukan istighfar atau taubat dusta, sementara hatinya tertambat dengan perbuatan maksiat, dan dia tetap berazam untuk melakukannya ketika kondisi memungkinkan. Inilah penyakit hati yang paling berat dan paling dekat kepada kehancuran.
Jangan Menganggap remeh Dosa

Kebanyakan orang sekarang ini menganggap remeh suatu dosa terlebih jika itu dosa dikatagorikan sebagai dosa kecil. Sehingga ia terus-menerus melakukannya dan tidak memperdulikannya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan akan hal ini dengan sabdanya:
إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ فَإِنَّمَا مَثَلُ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ كَمَثَلِ قَوْمٍ نَزَلُوا بَطْنَ وَادٍ، فَجَاءَ ذَا بِعُوْدٍ وَجَاءَ ذَا بِعُودٍ، حَتَّى حَمَلُوا مَا انْضَجُّوا بِهِ خُبْزَهُمْ وَإِنَّ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ مَتَى يُؤْخَذْ بِهَا صَاحِبُهَا تُهْلِكْهُ
“Berhati-hatilah kalian dari dosa-dosa kecil. Karena perumpamaan dosa kecil seperti suatu kaum yang singgah pada suatu lembah lalu datang seorang dengan membawa satu dahan (kayu bakar) dan yang lain (juga) membawa satu dahan hingga mereka telah mengumpulkan sesuatu yang bisa menjadikan roti mereka matang. Dan sesungguhnya dosa-dosa kecil, ketika pelakunya diadzab dengannya maka akan membinasakannya.” (HR. Ahmad, Ath-Thabarani), Waspadalah dari dosa dan jangan tertipu karena kecil atau sedikitnya. Lihatlah bagaimana dahulu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memotong tangan seorang pencuri karena mencuri (hanya) 3 dirham seperti dalam Shahih Al-Bukhari (no. 6795).
Dan seorang wanita masuk neraka gara-gara kucing yang dikurungnya. Dia tidak memberinya makan dan tidak melepasnya agar bisa memakan serangga bumi sehingga kurus dan mati
. (Muslim)
Demikian pula dahulu di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ada seorang yang terbunuh di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga para sahabat memberikan ucapan selamat kepadanya. Tetapi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Tidak. Sesungguhnya pakaian yang dia curi dari harta rampasan perang Khaibar yang belum dibagi-bagi akan menyala atasnya api neraka.” [Muslim]

K e s i m p u l a n

Dari uraian diatas maka seyogyanya kita menyadari bahwa perbuatan maksiat yang dilakukan oleh kebanyakan orang sebagai bentuk pelanggaran dari perintah agama akan membuahkan dosa yanmg berujung kepada dijatuhkannya sanksi baik nanti diperhitungkan diakhirat dan juga akan dirasakan dampaknya di dunia baik oleh orang perorang maupun oleh masyarakat luas yang termasuk di dalamnya mereka-mereka yang tidak berdosa. Contohnya berbagai musibah bencana alam. Karenanya hendaknya kita berupaya untuk menujauhi dan meninggalkan b erbagai bentuk kemaksiatan sekecil apapun, apalagi kemasksiatan yang termasuk dalam dosa besar.
Janganlah kita sampai meninggalkan istigfar meminta ampun atas segala bentuk kesalahan dan kelalaian kita dari Allah Subhanahu Ta’ala Yang Maha Pengampun. ( Wallaahu Ta’ala ‘alam)
Dipetik dari berbagai sumber
Samarinda,1- September 2011/4- Dzulqa’idah 1432 H

Kamis, 29 September 2011

" Hidup Terbelenggu Dalam Kemaksiatan "



By : Musni Japrie

Dizaman sekarang ini dimana-mana banyak orang melakukan perbuatan maksiat baik maksiat yang kecil sampai kepada maksiat yang besar, baik dilakukan secara terbuka atau terang-terangan maupun secara tersembunyi yang dirinya sendiri mengetahuinya, baik maksiat secara perseorangan sampai perbuatan maksiat yang dilakukan secara beramai-ramai berjamaah. Mereka yang melakukan perbuatan maksiat tersebut merasa enjoi dan santai tanpa ada beban serta menikmatinya yang seolah-olah perbuatan maksiat tersebut sebagai perbuatan biasa-biasa saja yang lumrah dilakukan oleh banyak orang. Sepertinya kebanyakan orang menganggap bahwa perbuatan maksiat yang mereka lakukan bukanlah suatu perbuatan yang berdosa, melainkan dianggap sebagai sebuah permainan belaka. Mereka banyak yang telah terbelenggu dalam berbagai kemaksiatan.
Sebenarnya banyak ragam perbuatan maksiat yang dilarang oleh syari’at Islam yang umatnya diperintahkan untuk meninggalkan serta menjauhinya, yang bila dirinci secara satu persatu memerlukan uraian yang sangat panjang. Namun untuk keperluan mengingatkan kepada kita semua bahwa hal yang sekecil apapun yang dianggap biasa-biasa saja apabila perbuatan tersebut telah melanggar mendzalimi hak-hak sesama manusia apalagi hak-hak Allah maka itu adalah maksiat yang akan diberikan hukuman kelak dikemudian hari.
Sesungguhnya hampir setiap hari bahkan setiap saat banyak orang-orang yang melakukan perbuatan maksiat yang berkaitan dengan hak-hak orang lain tanpa disadarinya seperti berbuat kasar, menyakiti orang lain dengan perkataan, sikap atau perbuatan, mengambil hak orang lain dalam berbagai aplikasinya, melakukan kebohongan atau berbohong, tidak jujur dan melakukan penipuan dalam beragam bentuknya. Banyaknya sesama muslim yang salinmg mendengki satu sama lain. Melakukan kegiatan renteneir dan pinjam meminjam dengan sistim riba . Tidak memenuhi kewajiban dan tanggung jawab (seperti misalnya para pegawai negeri atau karyawan swasta yang tidak masuk kerja tanpa alasan atau sengaja masuk kerja terlambat dari waktunya dan pulang sebelum waktunya). Kemudian mencaci maki, berburuk sangka dan menuduh seseorang, melakukan fitnah, menggunjing, tidak memenuhi janji (ingkar ) dan berbagai kemaksiatan kecil lainya.Perbuatan yang semacam itu meskipun termasuk perbuatan maksiat tetapi oleh kebanyakan manusia sudah dianggap bukan perbuatan yang berdosa dan kalaupun mereka menganggapnya sebagai perbuatan yang tidak baik dan dibenci namun dianggap sebagai sesuatu hal yang remeh serta tidak diperdulikan. Pencurian dan perampokan, pemerkosaan hingga pembunuhan sudah dianggap hal yang biasa saja.
Selain kemaksiatan yang dilakukan berkaitan dengan hak sesama manusia maka yang lebih parah lagi banyak orang-orang muslim yang mengentengkan dan meremehkan perbuatan maksiat yang terkait hak-hak atas Allah yang menjadi kewajiban mereka namun dilalaikan dan ditinggalkan. Meskipun perbuatan maksiat tersebut kelak akan berakibat fatal karena besarnya dosa yang ditimbulkannya. Betapa banyak orang yang meninggalkan kewajiban shalat tanpa uzur, mereka tidak memperdulikan ajakan muazin yang mengumandangkan azan untuk sholat,dimana-mana terdapat masjid-masjid dan surau-surau namun kesepian jama’ah, meskipun disekitarnya padat dengan perumahan penduduk muslim. Betapa banyak orang-orang yang mengaku sebagai muslim tetapi dibulan ramadhan tidak hanya anak-kecil yang tidak berpuasa, anak-anak muda dan kaum dewasa juga secara sengaja enggan untuk berpuasa.
Perbuatan maksiat yang secara sadar dilakukan oleh kebanyakan kaum muslimin yang nampak secara kasat mata dan sepertinya sengaja dipertontonkan kepada khalayak ramai antara lain yang dilakukan oleh kaum wanitanya dengan mengenakan pakaian untuk menonjolkan bentuk dan bagian tubuh yang seharusnya ditutupi karena merupakan aurat. Kebanyakan kaum wanita yang dalam cara berpakaian lebih mementingkan trend yang lagi mewabah daripada kepentingan syari’at sehingga mereka telah melakukan pelanggaran dengan berbuat maksiat secara sengaja karena menganggap bahwa maksiat itu adalah urusan yang digampangkan saja.
Dikalangan remaja tidak kalah pula telah mewabah pergaulan yang tidak mengindahkan larangan, dimana-mana terlihat pasangan muda mudi berboncengan dengan berpelukan, berpacaran dan keluyuran malam-malam dan berdua-duaan memadu kasih dan ujung-ujungnya memadu berahi syahwat. Begitu pula perselingkungan dan perzinahan ditempat-tempat mengumbar syahwat serta tempat-tempat hiburan malam tiada lain adalah perbuatan maksiat yang terlarang dikerjakan, namun mereka dengan enjoy melakoninya tanpa beban karena menganggap remehnya maksiat tersebut.
Perhatikan betapa banyaknya orang dengan seenaknya merokok yang juga dilakukan oleh kalangan anak-anak dibawah umur meskipun sudah jelas bahwa hukum rokok adalah haram, tapi keharaman rokok tersebut diabaikan. Begitu pula minuman keras diperdagangkan oleh pedagang muslim serta diteguk oleh banyak kalangan muslim serta narkoba yang jelas-jelas keharamannya bukan hal yang asing lagi.Disisi lain perjudian dalam berbagai bentuk dijadikan sebuah permainan dan hiburan yang mengasyikan, tidak memperdulikan akibatnya. Memakan makanan yang haram baik jenisnya maupun haram dalam memperolehnya.
Maksiat yang terkait dengan hak-hak Allah yang dilakukan kebanyakan orang antara lain adalah menyekutukan Allah dengan makhluknya. Betapa banyak orang-orang melakukan upacara ritual pemberian sesajen sebagai bentuk persembahan kepada dewa-dewa penguasa seperti pesta laut, pesta bumi dan beragam bentuk lainnya. B erbuat riya menampak-nampakkan dengan sengaja ibadahnya agar dipuji dll. Selain itu banyak kalangan umat islam yang menyembah kuburan para wali atau kuburan yang dikeramatkan dengan meminta dan berdoa dikuburan agar hajatnya dikabulkan. Banyak kalangan umat islam yang datang kedukun, ke orang-orang pintar atau paranormal minta pertolongan agar disembuhkan dari penyakit,meminta pengasih, meminta penglaris. Meminta keteguhan, meminta pertolongan agar diberikan jabatan. Memakai jimat-jimat dan batu-batuan atau benda pusaka bertuah. Yang semuanya merupakan perbuatan meminta pertolongan bukan kepada yang semestinya yaitu Allah.

Lalai dari Allah


Manusia adalah makhluk yang lalai. Tidak hanya lalai untuk mengerjakan amal ketakwaan namun juga lalai dari dosa-dosa. Lebih memilukan lagi jika manusia acapkali mengentengkan dosa atau maksiat yang ia perbuat. Seolah-olah dengan sikapnya itu, ia aman dari adzab Allah Subhanahu wa Ta’ala di dunia ataupun di akhirat. Perbuatamn maksiat dijadikan permainan belaka, tidak ,menyadari adanya kandungan dosa di dalammnya
Allah berfirman :
-
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ ادْخُلُواْ فِي السِّلْمِ كَآفَّةً وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”( QS. Al-Baqarah : 208 )
Dalam ayat diatas Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan kepada hamba-hambanya agar masuk kedalam islam secara utuh dalam kehidupannya dan menjauhi jejak langkah syetan yang menyesatkan dengan mentaati segala perintah dan segala bentuk larangan yang berupa kemaksiatan.
Mengingat bahwa manusia kebanyakan lalai dari ketaatannya kepada Allah Subhanahu Ta’ala, maka terjerumuslah mereka kedalam ajakan syetan sehingga berbuat kemaksiatan.
Allah Subhanahu Ta’ala berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” ( QS. An-Nisaa : 59 )
Diperintahkannya hamba untuk melakukan kebaikan dan dilarangnya dari kemaksiatan adalah semata-mata demi kebaikan hamba, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat penyayang terhadap manusia. Dan suatu hal yang pasti bahwa tidaklah Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan suatu kebaikan sekecil apapun kecuali pasti di dalamnya terkandung maslahat, baik disadari ataupun tidak. Demikian pula jika melarang sesuatu, tentu di dalamnya terdapat mudarat yang membahayakan hamba.
Allah Subhanahu Ta’ala berfirman :
ا فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.”( QS. An-Nuur : 24 )_
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda :
“ Sesungguhnya Allah itu marah, dan marahnya Allah itu apabila ada ada seseorang melakukan apa yang diharamkan Allah atasnya “( HR. Muttafaqub alaihi )
Hadits tersebut mengingatkan terjerumusnya seseorang kepada jurang kekejian atau kemaksiatan dan segala sesuatu yang diharamkan Allah , karena hal itu bisa menyebabkan Allah murka kepada siapa saja yang melakukannya, dan Allah akan marah apabila larangan-Nya dilanggar.

Dosa kecil dan dosa besar

Kemaksiatan yang dilakukan oleh hamba-hamba Allah akan membuahkan dosa, sedangkan dosa itu sendiri berakibat kepada dijatuhkannya sanksi atau hukuman oleh Allah yang besar kecilnya serta bentuk hukumannya itu sendiri tergantung kepada besar kecilnya kemaksiatan yang dilakukan. Dan dosa itu bertingkat-tingkat kejahatannya. Ada yang besar dan ada pula yang kecil. Adapun dosa besar adalah setiap pelanggaran yang pelakunya mendapatkan had (hukuman yang telah ada ketentuannya dari syariat) seperti membunuh, berzina dan mencuri, atau yang ada ancaman secara khusus di akhirat nanti berupa adzab dan kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta'ala, atau yang pelakunya dilaknat melalui lisan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. (Al-Kaba`ir karya Adz-Dzahabi rahimahullahu hal. 13-14, cet. Maktabah As Sunnah)
Adapun jumlah dosa besar lebih dari tujuh puluh. Sekian banyak dosa besar itupun bertingkat-tingkat. Ada dosa besar yang paling besar misalnya syirik, membunuh jiwa tanpa hak, dan durhaka kepada orangtua. Karena bahaya yang mengancam pelaku dosa besar di dunia dan di akhirat nanti, kita dapati sebagian ulama Ahlus Sunnah menulis kitab tentang dosa-dosa besar (al-kaba`ir) semisal Al-Imam Adz-Dzahabi dan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahumallah. Hal ini agar orang tahu tentang dosa-dosa besar sehingga mereka akan menjauhinya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjanjikan surga dan ampunan-Nya bagi yang menjauhi dosa-dosa besar sebagaimana dalam firman-Nya:
إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلاً كَرِيْمًا
“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).” (An-Nisa`: 31)
Allah Subhanahu wa Ta'ala juga telah menjadikan orang yang meninggalkan dosa-dosa besar masuk dalam golongan orang yang beriman dan bertawakal kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
فَمَا أُوتِيتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا عِنْدَ اللهِ خَيْرٌ وَأَبْقَى لِلَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ. وَالَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ اْلإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ
“Maka segala sesuatu yang diberikan kepadamu, itu adalah kenikmatan hidup di dunia; dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang–orang yang beriman, dan hanya kepada Rabb mereka, mereka bertawakal, dan bagi orang–orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf.” (Asy-Syura: 36-37)
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
الصَّلاَة ُالْـخَمْسُ وَالْـجُمُعَةُ إِلَى الْـجُمُعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ
“Shalat lima waktu dan Jum’at ke Ju’mat (berikutnya) adalah penghapus apa yang di antaranya dari dosa selagi dosa besar tidak didatangi (dilakukan).” (HR. Muslim Kitabut Thaharah Bab Fadhlul Wudhu wash Shalah ‘Aqibihi no. 233 dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
Ketika seseorang berbuat kemaksiatan atau melakukan perbuatan dosa, janganlah melihat kepada kecilnya dosa. Namun lihatlah, kepada siapa dia berbuat dosa? Patutkah bagi seseorang yang diciptakan dan diberi berbagai kenikmatan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, lantas melanggar larangan-Nya?!
Sesungguhnya suatu dosa bisa menjadi besar karena hal-hal berikut:
1. Dosa yang dilakukan secara rutin. Sehingga dahulu dikatakan: “Tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus menerus, dan tidak ada dosa besar jika diikuti istighfar (permintaan ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala).”
2. Menganggap remeh suatu dosa. Ketika seorang hamba menganggap besar dosa yang dilakukannya maka menjadi kecil di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Namun jika ia menganggap kecil maka menjadi besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Disebutkan dalam suatu atsar bahwa:” seorang mukmin melihat dosa-dosanya laksana dia duduk di bawah gunung di mana ia khawatir gunung itu akan menimpanya. Sedangkan orang durhaka melihat dosa-dosanya seperti lalat yang hinggap di hidungnya lalu dia halau dengan tangannya.” (Shahih Al-Bukhari no. 6308)
3. Bangga dengan dosa yang dilakukannya serta menganggap bisa melakukan dosa sebagai suatu nikmat. Setiap kali seorang hamba menganggap manis suatu dosa, maka menjadi besar kemaksiatannya serta besar pula pengaruhnya dalam menghitamkan hati. Karena setiap kali seorang berbuat dosa, akan dititik hitam pada hatinya.
4. Menganggap ringan suatu dosa karena mengira ditutupi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dan diberi tangguh serta tidak segera dibeberkan atau diadzab. Orang yang seperti ini tidak tahu bahwa ditangguhkannya adzab adalah agar bertambah dosanya.
5. Sengaja menampakkan dosa di mana sebelumnya tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala, sehingga mendorong orang yang pada dirinya ada bibit–bibit kejahatan untuk ikut melakukannya. Demikian pula orang yang sengaja berbuat maksiat di hadapan orang. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
كُلُّ أُمَّتِـي مُعَافًى إِلاَّ الْـمُجَاهِرِيْنَ وَإِنَّ مِنَ الْـمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً ثُمَّ يُصْبِحُ وَقَدْ سَتَرَهُ اللهُ فَيَقُولُ: يَا فُلاَنُ، عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا؛ وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللهِ عَنْهُ
“Semua umatku dimaafkan oleh Allah kecuali orang yang berbuat (maksiat) terang-terangan. Dan di antara bentuk menampakkan maksiat adalah seorang melakukan pada malam hari perbuatan (dosa) dan berada di pagi hari Allah menutupi (tidak membeberkan) dosanya lalu dia berkata: ‘Wahai Si fulan, tadi malam aku melakukan begini dan begini.’ Padahal dia berada di malam hari ditutupi oleh Rabbnya namun di pagi hari ia membuka apa yang Allah Subhanahu wa Ta'ala tutupi darinya.” (HR. Al-Bukhari no. 6069 dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
Ibnu Baththal rahimahullahu mengatakan: “Menampakkan maksiat merupakan bentuk pelecehan terhadap hak Allah Subhanahu wa Ta'ala, Rasul-Nya, dan orang–orang shalih dari kaum mukminin…” (Fathul Bari, 10/486)
Sebagian salaf mengatakan: “Janganlah kamu berbuat dosa. Jika memang terpaksa melakukannya, maka jangan kamu mendorong orang lain kepadanya, nantinya kamu melakukan dua dosa.”
Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ
“Orang–orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh berbuat yang mungkar dan melarang berbuat yang ma’ruf.” (At-Taubah: 67)
6. Dosa menjadi besar jika dilakukan seorang yang alim (berilmu) yang menjadi panutan
Dari penjelasan singkat diatas maka seyogyanya orang-orang yang selama ini menjadikan kemaksiatan sebagai teman bermain yang mengasyikkan, baik kemaksiatan yang dikatagorikan sebagai dosa-dosa kecil maupun yang sifatnya besar untuk segera meninggalkan kebiasaan buruk dengan bertaubat secara sungguh-sungguh. Bertaubat sebelum, ajal tiba ,dengan berjanji untuk tidak mengulanginya kembali.
( Wallahu Ta’ala ‘alam )
29 Syawal 1432H / 27 September 2011

Senin, 26 September 2011

" MASIH ADA HARI ESOK "



Mendung tidak lah selalu kelabu
Di baliknya masih ada mentari bersinar cerah
Malam tidaklah selalu kelam mencekam
Masih ada hari esok penuh harapan
Hujan badai takkan lama dan pasti berlalu
Kemarau kering kerontang melanda persada
Terhapus deraian air di musim penghujan
Menumbuh kembangkan permadani rerumputan
Rerantingan pepohonan tidaklah gersang selamanya
Karena akan bersemi pucuk-pucuk hijau semerbak

Laut tidak selamanya bergelora menghempaskan biduk
Laut tenang angin berhembus lembut menanti
Layar berkembang melaju dihembus angin daratan
Samudera luas seperti tak bertepi dikaki langit
Di ujungnya menanti pulau menjemput harapan
Bahtera tidaklah berlayar tanpa henti
Tepian tempat berlabuh selalu menanti

Jalan tidaklah selalu mendaki dan berliku
Di hadang krikil dan bebatuan tajam
Di ujungnya menanti jalan lurus dan mulus
Cerita tidaklah pernah tidak selesai
Panggung sandiwara pastilah usai
Derita kehidupan niscaya berujung
Masih ada hari esok penuh harapan

(By : Musni Japrie )
Kota Tepian, 17 September 2011

Sabtu, 24 September 2011

" MISKIN DI DUNIA SENGSARA DI AKHIRAT '



By : Musni Japrie.

Sudah kita maklumi bersama bahwa negeri kita yang kaya raya ini termasuk negara yang rakyatnya sebagian besar -masih miskin. Di mana-mana, tidak hanya di desa-desa tetapi di kota-kota diseantero tempat dijumpai orang-orang yang hidupnya melarat, hidup di perumahan yang sederhana bahkan dalam gubuk-gubuk reyot. Adapula yang tidur di bawah kolong jembatan , diemperan toko atau dalam gubuk-gubuk darurat untuk sekedar tempat berteduh di malam hari dari dinginnya malam.
Untuk dapat bertahan hidup secara apa adanya para kaum dhuafa tersebut terpaksa harus bekerja keras menjual tenaga mereka dengan beragam usaha dengan pendapatan jauh dari mencukupi. Mereka-mereka itu ada yang menjadi kuli pelabuhan, kuli bangunan, pedagang asongan, pengamen jalanan, pemulung, penyamu jalanan, tukang sampah, buruh tani serta banyak lagi ragam pekerjaan non formal lainnya. Mereka bekerja tidak mengenal waktu dari subuh bahkan ada yang sejak dinihari hingga malam hari bekerja keras tanpa mengenal lelah dan tanpa istirahat kecuali saat hendak tidur .
Karena kesibukannya mengais rezeki sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan minimal bagi dirinya dan keluarganya yang menyita waktu seharian penuh disiang hari menjual tenaga maka tinggalah malam hari kelelahan yang mereka dapatkan, sehingga banyak diantara mereka yang tidak sempat lagi untuk menjalankan kewajiban agamanya sebagai perwujudan dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya melalui ibadah sholat fardhu apatah lagi sholat sunahnya. Begitu pula kewajiban lainnya seperti berpuasa wajib dalam bulan Ramadhan setahun sekali terpaksa dibaikan atas dalih tidak mampu melakukannya karena harus bekerja keras seharian suntuk yang memerlukan tenaga ekstra. Padahal mereka tahu bahwa manusia itu diciptakan tiada lain hanyalah untuk beribadah kepada-Nya. Sebagaimana yang difirman Allah Subhanahu Ta’ala :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa,” (QS. Al-Baqarah : 21 ).

Kemiskinan yang menimpa sebagian orang ternyata juga memberikan dampak munculnya tindakan-tindakan kemaksiatan lain dengan dalih untuk menutupi kebutuhan hidup seperti adanya orang-orang yang menjadi pencopet, pencuri, merampok dan bahkah melakukan tindakan penganiayaan serta kekerasan hingga membunuh untuk dapat merebut harta orang. Lebih ironis lagi dengan berdalihkan untuk menutupi kebutuhan hidup yang serba kekurangan banyak pula wanita yang menjadi wanita pelayan dan penghibur di café-café dan tempat hiburan malam lainnya dan tidak kurang pula banyak wanita-wanita yang terpaksa harus menjual dirinya melakukan perzinahan sebagai profesinya. Sungguh banyak orang yang telah melakukan perbuatan maksiat dengan dalih karena kemiskinan hidup mereka.

Sesungguhnya kehidupan seseorang hamba ini sudah merupakan suratan takdir yang sudah tertulis 50.000 tahun sebelum diciptakannya dunia ini, dimana kehidupan seseorang sengsara ataukah bahagia adalah bagian dari ketetapan-Nya. Dengan ketetapan tersebut baik si miskin maupun si kaya mendapatkan kewajiban yang tidak berbeda untuk taat dan taqwa kepada Allah yang telah meniciptakannya. Karena Allah Ta’ala tidak memandang dari segi kedudukan, seseorang miskin atau kaya, orang bermatabat atau rakyat jelata, tetapi Allah melihatnya dari ketaqwaan seseorang. Orang yang paling taqwa mempunyai nilai lebih di mata Allah.

Sebenarnya orang-orang miskin di akhirat kelak saat memasuki pintuk surga akan didahulukan dari orang-oramng kaya sebagaimana hadits dari Usamah r.a. dari Nabi shallallahu'alaihi wa sallam. sabdanya: "Saya berdiri di pintu syurga, tiba-tiba - saya lihat - kebanyakan orang yang memasukinya itu adalah orang-orang miskin, sedang orang-orang yang mempunyai kekayaan masih tertahan - belum lagi diizinkan untuk masuk syurga. Tetapi para ahli neraka sudah semua diperintahkan untuk masuk neraka. Saya juga berdiri di pintu neraka, tiba-tiba -saya lihat -kebanyakan para ahli neraka itu adalah kaum wanita." (Muttafaq 'alaih)
Namun bukan berarti bahwa seluruh orang-orang miskin yang memperoleh surga dan diberikan prioritas memasuki surga. Tentunya yang dimaksudkan dari sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam diperuntukkan bagi orang-orang miskin yang bertaqwa, sedangkan bagi orang-orang yang miskin yang melalaikan ketaatan dan ketaqwaannya akan mendapatkan perlakuan yang berbeda.
Sementara ini banyak orang-orang miskin yang meninggalkan ketaatan dan ketaqwaannya kepada Allah Subhanahu Ta’ala menggunakan dalih kemiskinan mereka yang memaksanya untuk tidak mepunyai kesempatan melakukan kewajiban-kewajiban agama karena kesibukan mencara nafkah. Sebenarnya apabila mereka benar-benar menyadari pentingnya melaksanakan ibadah sebagai bentuk pengabdian kepada Allah, maka menyediakan waktu sesaat apabila tiba waktu panggilan sholat tidaklah mengganggu kesempatannya mengais rezeki. Lemahnya iman mereka menyebabkan timbulnya anggapan untuk meremehkan arti ketaatan dan ketaqwaan, padahal ketaatan dan ketaqwaan adalah bekal untuk hari akhirat kelak. Mereka abaikan kehidupan panjang di akhirat hanya sekedar untuk mengejar kebutuhan hidup di dunia yang serba pendek. Ujung-ujungnya di dunia mereka miskin dari materi dan diakhirat mereka juga mendapatkan penderitaan panjang.
Para ulama telah bersepakat bahwa meninggalkan sholat secara sengaja termasuk dosa besar.Ibnu Qayyim Al Jauziyah –rahimahullah- mengatakan, ”Kaum muslimin bersepakat bahwa meninggalkan shalat lima waktu dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, berzina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.” (Ash Sholah, hal. 7)
Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Al Kaba’ir, Ibnu Hazm –rahimahullah- berkata, “Tidak ada dosa setelah kejelekan yang paling besar daripada dosa meninggalkan shalat hingga keluar waktunya dan membunuh seorang mukmin tanpa alasan yang bisa dibenarkan.” (Al Kaba’ir, hal. 25)
Adz Dzahabi –rahimahullah- juga mengatakan, “Orang yang mengakhirkan shalat hingga keluar waktunya termasuk pelaku dosa besar. Dan yang meninggalkan shalat secara keseluruhan -yaitu satu shalat saja- dianggap seperti orang yang berzina dan mencuri. Karena meninggalkan shalat atau luput darinya termasuk dosa besar. Oleh karena itu, orang yang meninggalkannya sampai berkali-kali termasuk pelaku dosa besar sampai dia bertaubat. Sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat termasuk orang yang merugi, celaka dan termasuk orang mujrim (yang berbuat dosa).” (Al Kaba’ir, hal. 26-27).Allah Ta’/ala berfirman : Al Muddatsts (74)
--> َخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا
“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui al ghoyya, kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh.” (QS. Maryam : 59-60)
Firman Allah :
مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ
قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ
"Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?" Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat,” ( QS. A;- Muddatstsir : 42 -43 )
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma mengatakan bahwa ‘ghoyya’ dalam ayat tersebut adalah sungai di Jahannam yang makanannya sangat menjijikkan, yang tempatnya sangat dalam. (Ash Sholah, hal. 31)
Dalam ayat ini, Allah menjadikan tempat ini –yaitu sungai di Jahannam- sebagai tempat bagi orang yang menyiakan shalat dan mengikuti syahwat (hawa nafsu). Seandainya orang yang meninggalkan shalat adalah orang yang hanya bermaksiat biasa, tentu dia akan berada di neraka paling atas, sebagaimana tempat orang muslim yang berdosa. Tempat ini (ghoyya) yang merupakan bagian neraka paling bawah, bukanlah tempat orang muslim, namun tempat orang-orang kafir.
Selain ayat-ayat al-Qur’an banyak pula hadits Rasullullah shallalahu’alahi wa sallam yang menyinggung orang-orang yang meninggalkan sholat,antara lain :
Dari Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasullullah shallalllahu’alahi wa sallam bersabda :
“Amal (ibadah) yang pertama kali akan dihisab Dari seseorang hamba di hari Kiamat(kelak) adalah tentang shalatnya. Apabila shalatnya baik, maka ia akan beruntung dan sukses . Akan tetapi apabila shalatnya jelek, maka ia akan gagal dan merugi ( HR. Imam At-Tirmidzi )

Dari Abdullah bin Amr bahwa Rasullullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda :
Barang siapa yang tidak memelihara shalat, maka ia tisdak akan bercahaya, tidak mempunyai hujjah (alasan) dan tidak akan diselamatkan. Dihari kiamat kelk ia akan dikumpulkan bersama Qarun, Firiaun, Haman dan Ubay bin Khalaf “( HR. Imam Ahmad)

Dilain pihak ditemukan pula sebagian orang yang menjadikan kemiskinan dan tuntutan kebutuhan hidup melakukan kemaksiatan lain sebagai profesinya apakah sebagai maling, pencopet, garong, atau perampok atau juga menjajakan kehormatan dirinya, ada pula yang bekerja di tempat-tempat hiburan malam dengan berbagai job yang semuanya tidak lain adalah perbuatan yang membuahkan dosa. Mereka sepertinya melupakan bahwa kelak di akhirat hukuman dan siksa dari Allah Yang Maha Mengetahui akan menjadikan mereka menderita berkepanjangan setelah didera hidup penuh kemiskinan di dunia. Sesungguhnya mereka telah menjadi orang yang miskin akan materi dan miskin pula akan iman.

Miskin dan kayanya seseorang sebenarnya merupakan ujian dari Allah sebagaimana firman-Nya :
-
وَكَذَلِكَ فَتَنَّا بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لِّيَقُولواْ أَهَـؤُلاء مَنَّ اللّهُ عَلَيْهِم مِّن بَيْنِنَا أَلَيْسَ اللّهُ بِأَعْلَمَ بِالشَّاكِرِينَ
“Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang kaya) dengan sebahagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata: "Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah Allah kepada mereka?" (Allah berfirman): "Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepadaNya) ?" (QS. Al-An’am : 53 )

Kemiskinan yang dialami oleh seseorang hamba Allah tiada lain adalah merupakan ujian untuk mengetahui sampai dimana tingkat keimanannya sejalan dengan firman Alllah Subahanahu Ta’ala :
-
أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS.Al
‘Ankabut :2-3)
. Ayat tersebut diatas mengandung makna bahwa Allah Subhanahu Ta’ala telah menguji hamba-hamba-Nya dengan kesenangan, malapetaka, kesulitan, kemudahan, segala yang disenangi dan tidak disenangi, kaya dan miskin.
Terhadap adanya ujian dan cobaan kepada setiap hamba yang datangnya dari Allah, Allah Subhanahu wa Ta’ala te;ah memerintahkan untuk bersabar, karena pada hakikatnya sabar itu adalah pilar kebahagiaan seorang hamba. Dengan kesabaran itulal seorang hamba akan konsisten menjalankan ketaan, dan tabah dalam menghadapi berbagai macam cobaan.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar itu terbagi menjadi tiga macam:
1. Bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada ALLAH
2. Bersabar untuk tidak melakukan hal-hal yang diharamkan ALLAH
3. Bersabar dalam menghadapi takdir-takdir ALLAH yang dialaminya, berupa berbagai hal yang menyakitkan dan gangguan yang timbul di luar kekuasaan manusia ataupun yang berasal dari orang lain (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)

Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali mengatakan, “Macam ketiga dari macam-macam kesabaran adalah Bersabar dalam menghadapi takdir dan keputusan ALLAH serta hukum-Nya yang terjadi pada hamba-hamba- Nya. Karena tidak ada satu gerakan pun di alam raya ini, begitu pula tidak ada suatu kejadian atau urusan melainkan ALLAH lah yang mentakdirkannya. Maka bersabar itu harus. Bersabar menghadapi berbagai musibah yang menimpa diri, baik yang terkait dengan nyawa, anak, harta dan lain sebagainya yang merupakan takdir yang berjalan menurut ketentuan ALLAH di alam semesta…” (Thariqul wushul, hal. 15-17
Allah berfirman,
“Sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepada kamu sekalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 155)

Dari ayat di atas, kita bisa melihat ternyata cobaan dan ujian yang diberikan oleh Allah itu banyak macamnya. Kemiskinan dan kekurangan harta mungkin bisa jadi adalah ujian yang paling berat untuk dihadapi. Makanya Nabi Muhammad saw mengatakan bahwa kemiskinan dekat dengan kekufuran dan kekufuran akan semakin mendekatkan kepada api neraka. Contoh mudahnya kita sering menyaksikan atau membaca di berita banyak orang yang bunuh diri akibat tidak sanggup menghadapi kemiskinan.Karenanya, sabar dalam menghadapi kemiskinan dan kekurangan harta adalah bentuk kesabaran yang paling krusial. Jika orang mampu menghadapinya, maka ia akan tumbuh menjadi orang-orang yang kuat mental dan imannya. Namun jika tidak, maka peluang untuk terjerumus ke dalam kemungkaran sangat besar.
Dari penjelasan tersebut diatas maka dapat diambil manfaat bahwa janganlah kemiskinan menjadikan kita menjadi lalai dan melupakan kewajiban kita selaku umat islam dalam menjalankan segala hal yang diperintahkan dan menjauhkan serta meninggalkan segala bentuk larangan. Terutama sekali janganlah meninggalkan shalat walau bagaimanapun kon disi dan kesibukan yang dihadapi. Janganlah kemiskinan yang kita rasakan di dunia selama hidup miskin akan menjadi sengsara pula di akhirat akibat dosa-dosa dari kemaksiatan ( Wallaahu Ta’ala ‘alam )

Bahan bacaan : Dipetik dari berbagai sumber.

Samarinda, 24 September 2011

Kamis, 22 September 2011

"JALAN MENUJU SURGA ITU TIDAK MUDAH "



By : musni Japrie

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ -
وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS.Al‘Ankabut :2-3)

Surga adalah dambaan bagi setiap bani Adam untuk ditempatinya kelak di akhirat sebagai tempat tinggal yang abadi, namun tentunya tidaklah mudah untuk memperolehnya kecuali dengan perjuangan yang keras dan ulet. Karena jalan menuju surga itu banyak melalui ujian –ujian yang pahit . Orang-orang yang mengaku beriman dalam perjalanan hidupnya mencari bekal untuk akhirat akan merasakan ujian sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Subhanahu Ta’ala tersebut diatas.

Al-Ustadz Abu Abdillah Abdurrahman Mubarak dalam tulisan beliau : Menelan Pahitnya Ujian Dalam Beraqidah demi kehidupan Hakiki”menyebutkan : adanya ujian bagi hamba-hamba yang beriman sudah merupakan ketetapan sunatullah yang harus dijalahi karenasunnatullah yang telah memastikan adanya ujian dan cobaan bagi orang yang melaksanakan syariat dan mengikuti kebenaran. Dengan ujianlah akan nampak orang yang benar-benar jujur dan orang yang berdusta. “Allah Subhanahu Ta’ala telah memberitakan tentang kesempurnaan hikmah-Nya. Dan hikmah Allah tidak menentukan bahwa setiap orang yang mengatakan dan mengaku dirinya beriman, akan selalu berada dalam satu kondisi, selamat dari ujian dan cobaan dan tidak datang menghampirinya segala perkara yang akan mengganggu iman dan segala cabangnya. Jika hal itu terjadi artinya orang-orang yang mengaku beriman tidak diuji, tentu tidak bisa dipisahkan antara orang yang jujur dan orang yang berdusta, serta antara orang yang benar dan orang yang salah. Sungguh sunnatullah telah berjalan dalam kehidupan orang-orang terdahulu dari umat ini. Allah l menguji mereka dengan kesenangan, malapetaka, kesulitan, kemudahan, segala yang disenangi dan tidak disenangi, kaya dan fakir, kemenangan musuh dalam sebagian kondisi, memerangi mereka dengan ucapan dan perbuatan, serta berbagai ujian lainnya. Segala bentuk ujian ini kembali kepada: ujian syubuhat yang akan mengempas aqidah, dan syahwat yang akan menodai keinginan. Barangsiapa yang ketika datang fitnah syahwat, imannya tetap kokoh dan tidak goncang, maka kebenaran yang ada pada dirinya menghalau fitnah tersebut. Ketika datang fitnah syahwat dan segala seruan kepada perbuatan maksiat dan dosa, dorongan untuk berpaling dari perintah Allah l dan Rasul-Nya, dia berusaha mengaplikasikan konsekuensi iman dan bertarung melawan syahwatnya. Ini menunjukkan kejujuran dan kebenaran imannya.
Namun barangsiapa yang ketika fitnah syubhat datang memengaruhi hatinya dengan memunculkan keraguan dan kerancuan, dan ketika fitnah syahwat menghampirinya lalu dia terseret pada perbuatan maksiat atau mendorongnya untuk meninggalkan kewajiban, ini menunjukkan tidak jujur dan tidak benarnya iman yang ada pada dirinya." (As-Sa’di dalam Tafsir-nya hal. 576)
Allah Ta’ala berfirman:
أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُواْ الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْاْ مِن قَبْلِكُم مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاء وَالضَّرَّاء وَزُلْزِلُواْ حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُواْ مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللّهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللّهِ قَرِيبٌ
“Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.“ (Al-Baqarah: 214)

Tidak ada seorangpun yang pernah membayangkan jika ternyata surga beriringan dengan ujian dan rintangan besar, banyak lagi berat. Tempat kenikmatan yang hakiki dan abadi diliputi dengan perkara-perkara yang tidak menyenangkan. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dalam hal ini menegaskan:
حُجِبَتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ وَحُجِبَتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ
“Neraka diliputi oleh berbagai macam syahwat dan surga diliputi oleh berbagai macam perkara yang tidak disukai.” (HR. Al-Bukhari no. 6006 dan Muslim no. 2823 dari sahabat Abu Hurairah)

Demikianlah. Surga didapatkan dengan berbagai macam ujian dan cobaan, rintangan, dan gangguan. Asy-Syaikh As-Sa'di t mengatakan: “Allah Ta’ala memberitakan bahwa Dia pasti akan menguji hamba-hamba-Nya dengan kesenangan, malapetaka, dan kesulitan sebagaimana telah Dia lakukan atas orang-orang sebelum mereka. Ujian ini merupakan sunnatullah yang terus berlangsung, tidak akan berubah dan berganti. Barangsiapa yang melaksanakan ajaran agama dan syariat-Nya, pasti Dia akan mengujinya. Jika dia bersabar atas perintah Allah Ta’ala dan tidak peduli dengan segala rintangan yang terjadi di jalan-Nya, maka dialah orang jujur yang telah memperoleh kebahagiaan yang sempurna. Dan itulah jalan menuju sebuah kepemimpinan. Namun barangsiapa menjadikan ujian dari manusia bagaikan siksa Allah, seperti dia terhalangi untuk melaksanakan ketaatan karena gangguan tersebut, menghalanginya dari meraih tujuannya, maka dia berdusta dalam pengakuan keimanan. Karena iman bukan sekadar hiasan, angan-angan, dan pengakuan. Amallah yang akan membenarkan atau mendustakannya.”
Semua ini menuntut agar kita memiliki kesiapan untuk menerima berbagai macam ujian dengan bermacam-macam bentuk dan kadarnya. Terkadang sebuah perkara sangat tidak disukai oleh diri kita, ternyata mengandung kebaikan yang banyak. Seperti apa yang telah disebutkan oleh Allah di dalam firman-Nya:
Jalan menuju surga yang diidamkan hanya dapat diperoleh melalui ketaatan kepada Allah merupakan kewajiban setiap hamba Allah yang mengaku beriman kepada-Nya. Taat kepada Allah berarti mengikuti dan melakukan segala apa yang diperintahkan-Nya baik berdasarkan ketetapan yang digariskan dalam al-Qur’an maupun sunnah Rasulullah shallalahu’alaihi wa salam. Sedangkan bentuk ketaatan yang dituntut untuk dilakukan oleh hamba-hamba Allah ada yang bersifat wajib dan ada pula yang bersifat sunah, terutama yang berkaitan dengan pelaksanaan amal ibadah dimana ia juga merupakan sebuah ujian bagi orang-oarng yang beriman

Sebagaimana diketahui bahwa dalam melakukan ketaatan kepada Allah yang tentunya dalam hal ini termasuk ketaatan kepada Rasul-Nya berlawanan dengan kepentingan hawa nafsu yang banyak ditunggangi oleh syaitan dengan godaannya. Disamping itu ketaatan melaksanakan syari’at membutuhkan pengorbanan terutama bagi orang-orang yang belum begitu mantab keimanannya serta masih kuatnya godaan duniawi.Kesabaran di dalam melakukan ketaatan merupakan upaya keras yang harus dilakukan seseorang agar bentuk ketaatannya tersebut dapat terlaksana sebagaimana yang diharapkannya.Tanpa upaya keras dengan kesabaran yang tinggi maka godaan hawa nafsu akan mengalahkan kehendak melakukan ketaatan.

Dunia dengan segala gemerlapnya yang daya tariknya sangatlah menggoda seseorang untuk menekuninya menginat di dalam gemerlap dan daya tariknya tersebut dunia mampu memberikan berbagai bentuk kenikmatan sehingga terpuaskanlah kehendak nafsu yang mempunyai tabiat untuk selalu minta dipuaskan. Godaan dunia tersebut akan mengajak kepada manusia melupakan dan melalaikan ketaatannya kepada Allah Subhanahu Ta’ala, sehingga godaan dunia merupakan penghalang bagi hamba-hamba Allah untuk mendekat diri kepada-Nya.

Melakukan berbagai ketaatan kepada Allah kadang kala harus mengorbankan kepentingan dunia yang dikuasai oleh nafsu, dimana nafsu menginginkan akan dunia seisinya ini dapat dikuasi sehingga terpenuhilah berbagai hasrat, sedangkan dipihak lain dalam ketaatan itu terikat dengan ketentuan syari’at, sehingga kedua kepentingan antara kebutuhan akan ketaatan dan kebutuhan cinta dunia saling bertolak belakang, dan ujung-ujungnya terjadilah saling tarik menarik antara dua kepentingan tersebut. Dan disinilah pentingnya peran kesabaran agar daya tarik kepentingan cinta dunia yang melalaikan dapat dikalahkan oleh kepentingan untuk melakukan ketaatan dan ini meruapakan batu ujian bagi oarng-orang beriman.

Hampir pada setiap bentuk ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan sesuatu yang sulit untuk dilakukan oleh orang-orang yang memiliki tingkat keimanan yang memadai, karena seperti untuk bersedeqah baik sedeqah wajib berupa zakat dan sedeqah sunah seperti infak dan wakaf dengan mengeluarkan harta dipandang dari sudut kepentingan duniawi dan kepentingan hawa nafsu dianggap akan dapat mengurangi harta dan tidak memberikan keuntungan materi bagi sipemberi. Sehingga untuk dapat dikeluarkannya sedeqah tersebut memerlukan adanya kesabaran melawan godaan kepentingan duniawi yang bersikukuh untuk membatalkan rencana sedeqah yang akan dikeluarkan. Mengeluarkan harta untuk bersedeqah merupakan pengorbanan tersendiri yang membutuhkan adanya kesabaran sehingga tidak merasa tertekan akan kehilangan harta untuk bersedeqah.

Begitu pula dalam dalam melakukan ketaatan melakukan perintah wajib seperti berpuasa ( wajib dan sunat) seseorang harus berlapar dan menahan haus disiang hari sehingga fisik menjadi lemah dan lesu, untuk itu perlu adanya kesabaran dan menahan diri dari pemenuhan kebutuhan fisik. Bahkan dalam berpuasa seseorang harus menahan nafsu syahwatnya disiang hari meskipun hasratnya menyala-nyala, sehingga yang bersangkutan harus pula mengorbankan kepentingan kepuasan syahwatnya untuk terwujudnya ketaatan.Semuanya sulit untuk dijalankan oleh sebagian orang dan ini tidak lepa sebagai salah satu ujian untuk menggapai surga.

Kepahitan sebagai ujian dalam menjalani ketaatan juga dirasakankan dalam melaksanakan ibadah sholat baik sholat fardhu maupun sholat sunah. Karena untuk sholat fardhu 5 kali dalam sehari semalam ditambah dengan sholat sunah rawatibnya harus mengorbankan waktu selama beberapa saat, dimana waktu yang dikorbankan tersebut bagi seseorang sangatlah berharga karena harus meninggalkan aktifitasnya. Apalagi untuk sholat subuh seseorang harus rela berkorban bangun meninggalkan kenikmatan tempat tidur . Bahkan pengorbanan yang lebih besar lagi harus dikeluarkan oleh mereka yang bangun pada sepertiga akhir malam untuk sholat tahajud. Dimana pada jam-jam tersebut merupakan waktu yang paling asyik menikmati tidur.Sehingga untuk terwujudnya ketaatan dengan melakukan sholat tahajud seseorang rela harus menahan kantuk dan bersabar melawan godaan hawa nafsu yang mengajak untuk menikmati tidur panjang. Dan tentu ini dirasakan sebagai sebuah kesulitan dan pahit dirasakan bagi sebagian orang.

Yang lebih berat lagi sebagai ujian dirasakan oleh orang-orang yang melaksanakan ibadah haji, selain harus mengeluarkan harta untuk ongkos berangkat, meninggalkan keluarga dan bersusah payah dalam melakukan ibadah manasik haji yang memerlukan tenaga ekstra sangat membutuhkan pengorbanan yang luar biasa. Yang untuk itu orang-orang yang berangkat haji sekuat tenaga untuk menahan diri dari berbagai godaan. Semuanya itu memerlukan kesabaran yang besar.

Ketaatan lain yang dirasakan agak sulit dilakukan oleh sebagian prang adalah dalam hal kewajiban menuntut ilmu agama, apalagi bagi orang-orang dewasa yang harus mengorbankan banyak hal termasuk waktu dan tenaga serta ketekunan seperti dalam menghadiri majelis ta’lim. Apabila seseorang tidak bersabar dan tidak sanggup atas godaan hawa nafsu yang tentunya syaitan bertengger diatasnya, maka tidak mungkin orang tersebut dapat bertahan lama dalam menuntut ilmu tersebut.

Sesungguhnya banyak sekali ujian dan kesulitan-kesulitan yang ditemui oleh hamba-hamba Allah dalam mendekatkan dirinya kepada Sang Penciptanya, namun ujian dan kesulitan tersebut bukanlah sesuatu masalah dan hambatan bagi mereka-mereka yang menyadarinya dan rela menghadapinya demi mendapatkan balasan yang setimpal, tapi akan menjadi hal yang sebaliknya bagi mereka yang masih belum mantap ketaatannya kepada Allah, ujian dan kesulitan yang ditemuinya malah menjadikannya malas, mundur dan urung menjalankan perintah-perintah agama. Malah mereka memilih untuk melakukan perbuatan yang melanggar rambu-rambu larangan, karena disana akan dapat terpuaskan kepentingan hawa nafsu dan syahwat.

Jalan menuju surga yang banyak ujian dan kesulitan serta kepahitan di dalamnya hanyalah dapat dilalui oleh orang-orang yang tahan menghadapi ujian dan tahan pula merasakan kesulitan serta menelan rasa pahit sebagai bayaran dan kunci membuka surga. Orang-orang yang enggan menghadapi ujian dan tidak mau b ersusah payah dalam kesulitan dan rasa pahitnya dalam melakukan ketaatan jangan berharap akan masuk surga yang dijanjikan, yang cocok bagi mereka sesuai janji Allah Ta’ala tentunya adalah neraka yang paling tepat.
Allah Ta’ala berfirman :

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ تَجْرِي مِن تَحْتِهِمُ الأَنْهَارُ وَقَالُواْ الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَـذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلا أَنْ هَدَانَا اللّهُ لَقَدْ جَاءتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُواْ أَن تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
“Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata: "Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami, membawa kebenaran." Dan diserukan kepada mereka: "ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan." ( QS. Al-A’raf : 43 )

Firman Allah:
وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
“Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan.” (Az-Zukhruf: 72)
Firman Allah :
إِنَّ اللّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالإِنجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللّهِ فَاسْتَبْشِرُواْ بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُم بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur`an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 111)

Demikianlah. Surga didapatkan dengan berbagai macam ujian dan cobaan, rintangan, dan gangguan. Asy-Syaikh As-Sa'di t mengatakan: “Allah memberitakan bahwa Dia pasti akan menguji hamba-hamba-Nya dengan kesenangan, malapetaka, dan kesulitan sebagaimana telah Dia lakukan atas orang-orang sebelum mereka. Ujian ini merupakan sunnatullah yang terus berlangsung, tidak akan berubah dan berganti. Barangsiapa yang melaksanakan ajaran agama dan syariat-Nya, pasti Dia akan mengujinya. Jika dia bersabar atas perintah Allah dan tidak peduli dengan segala rintangan yang terjadi di jalan-Nya, maka dialah orang jujur yang telah memperoleh kebahagiaan yang sempurna. Dan itulah jalan menuju sebuah kepemimpinan. Namun barangsiapa menjadikan ujian dari manusia bagaikan siksa Allah, seperti dia terhalangi untuk melaksanakan ketaatan karena gangguan tersebut, menghalanginya dari meraih tujuannya, maka dia berdusta dalam pengakuan keimanan. Karena iman bukan sekadar hiasan, angan-angan, dan pengakuan. Amallah yang akan membenarkan atau mendustakannya
( Wallaahu Ta’ala ‘alam )

Bahan bacaan : Berbagai sumber
23 September 2011