Sabtu, 05 Mei 2012

MACAM-MACAM TAUHID




( O l e h  : Syaikh Muhammad bin Jamil  Zainu )

Tauhid adalah mengesakan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dengan beribadah kepadaNya semata. Ibadah merupakan tujuan penciptaan alam semesta ini. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,
"Dan Aku (Allah) tidah menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu." (Adz-Dzaariyaat: 56) 

Maksudnya, agar manusia dan jin mengesakan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam beribadah dan mengkhususkan kepadaNya dalam berdo'a.
Tauhid berdasarkan Al-Qur'anul Karim ada tiga macam:

5.1 Tauhid Rububiyah
Yaitu pengakuan bahwa sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta'ala adalah Tuhan dan Maha Pencipta. Orang-orang kafir pun mengakui macam tauhid ini. Tetapi pengakuan tersebut tidak menjadikan mereka tergolong sebagai orang Islam. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,
"Dan sungguh, jika Kamu bertanya hepada mereka, 'Siapakah yang menciptakan mereka', niscaya mereka menjawab,'Allah'." (Az-Zukhruf: 87) 

Berbeda dengan orang-orang komunis, mereka mengingkari keberadaan Tuhan. Dengan demikian, mereka lebih kufur daripada orang-orang kafir jahiliyah.

5.2 Tauhid Uluhiyah
Yaitu mengesakan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dengan melakukan berbagai macam ibadah yang disyari'atkan. Seperti berdo'a, memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala , thawaf, menyembelih binatang kurban, bernadzar dan berbagai ibadah lainnya.
Macam tauhid inilah yang diingkari oleh orang-orang kafir. Dan ia pula yang menjadi sebab perseteruan dan pertentangan antara umat-umat terdahulu dengan para rasul mereka, sejak Nabi Nuh 'Alaihissallam hingga diutusnya Nabi Muhammad.
Dalam banyak suratnya, Al-Qur'anul Karim sering memberikan anjuran soal tauhid uluhiyah ini. Di antaranya, agar setiap muslim berdo'a dan meminta hajat khusus kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala semata. Dalam surat Al-Fatihah misalnya, Allah berfirman,
"Hanya Kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah Kami memohon pertolongan." (Al-Fatihah: 5) 

Maksudnya, khusus kepadaMu (ya Allah) kami beribadah, hanya kepadaMu semata kami berdo'a dan kami sama sekali tidak memohon pertolongan kepada selainMu. Tauhid uluhiyah ini mencakup masalah berdo'a semata-mata hanya kepada Allah, mengambil hukum dari Al-Qur'an, dan tunduk berhukum kepada syari'at Allah. Semua itu terangkum dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala ,
"Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku maka sembahlah Aku." (Thaha: 14) 

5.3 Tauhid Asma' Wa Shifat
Yaitu beriman terhadap segala apa yang terkandung dalam Al-Qur'anul Karim dan hadits shahih tentang sifat-sifat Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang berasal dari penyifatan Allah Subhanahu Wa Ta'ala atas DzatNya atau penyifatan Rasulullah .
Beriman kepada sifat-sifat Allah Subhanahu Wa Ta'ala tersebut harus secara benar, tanpa ta'wil (penafsiran), tahrif (penyimpangan), takyif (visualisasi, penggambaran), ta'thil (pembatalan, penafian), tamtsil (penyerupaan), tafwidh (penyerahan, seperti yang.banyak dipahami oleh manusia) .
Misalnya tentang sifat al-istiwa' (bersemayam di atas), an-nuzul (turun), al-yad (tangan), al-maji' (kedatangan) dan sifat-sifat lainnya, kita menerangkan semua sifat-sifat itu sesuai dengan keterangan ulama salaf. Al-istiwa' misalnya, menurut keterangan para tabi'in sebagaimana yang ada dalam Shahih Bukhari berarti al-'uluw wal irtifa' (tinggi dan berada di atas) sesuai dengan kebesaran dan keagungan Allah . Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,
"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (Asy-Syuura: 11) 

Maksud beriman kepada sifat-sifat Allah Subhanahu Wa Ta'ala secara benar adalah dengan tanpa hal-hal berikut ini:
Tahrif (penyimpangan):
Memalingkan dan menyimpangkan zhahir-nya (makna yang jelas tertangkap) ayat dan hadits-hadits shahih pada makna lain yang batil dan salah. Seperti istawa (bersemayam di tempat yang tinggi) diartikan istaula (menguasai).
Ta'thil (pembatalan, penafian):
Mengingkari sifat-sifat Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan menafikannya. Seperti Allah berada di atas langit, sebagian kelompok yang sesat mengatakan bahwa Allah berada di setiap tempat.
Takyif (visualisasi, penggambaran):
Menvisualisasikan sifat-sifat Allah Subhanahu Wa Ta'ala . Misalnya dengan menggambarkan bahwa bersemayamnya Allah di atas 'Arsy itu begini dan begini. Bersemayamnya Allah di atas 'Arsy tidak serupa dengan bersemayamnya para makhluk, dan tak seorang pun yang mengetahui gambarannya kecuali Allah Subhanahu Wa Ta'ala semata.
Tamtsil (penyerupaan):
Menyerupakan sifat-sifat Allah Subhanahu Wa Ta'ala dengan sifat-sifat makhlukNya. Karena itu kita tidak boleh mengatakan, "Allah turun ke langit, sebagaimana turun kami ini". Hadits tentang nuzul-nya Allah Subhanahu Wa Ta'ala (turunnya Allah) ada dalam riwayat Imam Muslim. Sebagian orang menisbatkan tasybih (penyerupaan) nuzul ini kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Ini adalah bohong besar. Kami tidak menemukan keterangan tersebut dalam kitab-kitab beliau, justru sebaliknya, yang kami temukan adalah pendapat beliau yang mena-fikan tamtsil dan tasybih.
Tafwidh (penyerahan):
Menurut ulama salaf, tafwidh hanya pada al-kaif (hal, keadaan) tidak pada maknanya. Al-Istiwa' misalnya berarti al-'uluw (ketinggian), yang tak seorang pun mengetahui bagaimana dan seberapa ketinggian tersebut kecuali hanya Allah Subhanahu Wa Ta'ala .
Tafwidh (penyerahan):
Menurut Mufawwidhah (orang-orang yang menganut paham tafwidh) adalah dalam masalah keadaan dan makna secara bersamaan. Pendapat ini bertentangan dengan apa yang diterangkan oleh ulama salaf seperti Ummu Salamah, Rabi'ah guru besar Imam Malik dan Imam Malik sendiri. Mereka semua se-pendapat bahwa, "Istiwa' (bersemayam di atas) itu jelas pengertian-nya, bagaimana cara/keadaannya itu tidak diketahui, iman kepadanya adalah wajib dan bertanya tentangnya adalah bid'ah."
Maksudnya bertanya tentang bagaimana cara/keadaan istiwa'. Karena sang penanya bertanya kepada imam Malik, "Bagaimana Tuhan kita bersemayam?" Lalu Imam Malik menjawab bahwa bertanya tentangnya adalah bid'ah (tentang cara/keadaan bersemayam). Juga karena Imam Malik berlihat kepada si penanya, "Al-Istiwa' (bersemayam di atas) itu jelas pengertiannya, bagaimana kemudian dia berkata, 'Bertanya tentangnya adalah bid'ah? Ini tentu tidak!"

Disunting dari Al-Firqotun An-Najiyah ( Golongan Yang Selamat )
Sumber : http://www.salafi -db.

Jumat, 04 Mei 2012

DIMANAKAH HATI KITA BERLABUH ?


 



Saudaraku…!
Allah telah ciptakan manusia ini dengan banyak kemampuan yang ia miliki.
Ia berikan banyak fasilitas yang ada pada tubuh manusia. Dengan tangannya, manusia mampu membuat sesuatu yang menakjubkan. Dengan otaknya, ia mencetuskan teori-teori pengetahuan yang begitu luar biasa.
Namun, marilah kita amati salah satu dari sekian kemampuan kita, yaitu kemampuan berpikir, melihat dan mendengar!
Saudaraku…!
Dalam sebuah ayat-Nya. Allah swt berfirman :
قُلْ هُوَ الَّذِيْ أَنْشَأَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَاْلأَبْصَارَ وَاْلأَفْئِدَةَ قَلِيْلاً مَا تَشْكُرُوْنَ
“Katakanlah! Dia (Allah) yang telah menciptakan kalian, dan Ia jadikan bagi kalian pendengaran, penglihatan dan hati (pikiran). (namun) Amat sedikit yang kalian syukuri.”
Qs. Al-Mulk (67) : 23
Allah swt menyebut pendengaran dan penglihatan sebelum pikiran, karena demikianlah proses berpikir manusia. Ya… melihat, mendengar lalu berfikir. Dan melihat, mendengar serta berpikir dalam ayat ini berkaitan dengan status kita di hadapan Allah kelak, saudaraku…
Bagaimana reaksi kita tatkala melihat tanda-tanda kebesaran Allah yang amat banyak di sekitar kita? atau ketika kita mendengar ayat-ayat-Nya? Dan bagaimana sikap kita saat Allah melimpahruahkan harta kepada kita? Dan bagaimana sikap kita saat Ia “cicipkan” sedikit__ azab-Nya yang berwujud musibah?
Saudaraku…!
Tak salah kalau sebuah pepatah Inggris mengatakan, “Heart is King” (hati adalah raja). Karena hati inilah yang menentukan segala perbuatan kita.
Bila hati seseorang itu “berlabuh” kepada Allah ia selalu beribadah, berzikir dan berdo’a, ia tak pernah melupakan-Nya, niscaya ia menjadi hati yang lembut, baik dan meridhakan Pemeliharanya.
Sebaliknya, hati yang selalu bermaksiat, lalai, meremehkan, bahkan berani menentang Allah atau enggan mendengarkan ayat-ayat suci-Nya, maka tak ubahnya ia adalah hati yang culas, jahat, yang selalu membuat murka Penciptanya. Dan itulah, hati yang ‘’berlabuh’’ kepada rayuan syaithan pujaanya.
Saudaraku…!
Kini, sudah saatnya kita introspeksi diri, mengamati kondisi kita masing-masing!
Mungkinkah terlampau jauh dari-Nya? Dimanakah hati kita “berlabuh’’? Di “pelabuhan’’ Allah-kah…? Atau di “pelabuhan” syaithan terkutuk?
Andaikan hati kita telah lama membengkok, marilah kita benahi dan luruskan kembali! Marilah kita mohon ampunan-Nya, ridha-Nya dan belas kasih-Nya!
Saudaraku…!
Akhir kata, tiada air mata yang lebih mulia kecuali tatkala ia menetes karena menyesali segala dosa… tatkala kita bersimpuh, bertaubat atas “kebengkokan’’ hati kita selama ini.
” وَ اسْتَغْفِرُوا اللهَ إِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ “
‘’Dan mohonlah ampun kalian kepada Allah, sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’’
QS. Al-muzzammil (73) : 20
Di copas dari Moslem Arsip

Kamis, 03 Mei 2012

GOLONGAN YANG MENDAPATKAN PEROLONGAN



Kamis, 03 Mei 2012

Untuk mendapat jawaban, siapakah Tha'ifah Manshurah4.1 yang bakal mendapat pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta'ala , marilah kita ikuti uraian berikut:
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Senantiasa ada sekelompok dari umatku yang memperjuangkan kebenaran, tidak membahayakan mereka orang yang menghina-kan mereka, sehingga datang keputusan Allah." (HR. Muslim) 

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Jika penduduk Syam telah rusak, maka tak ada lagi kebaikan di antara kalian. Dan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang mendapat pertolongan, tidak membahayakan mereka orang yang menghinakan mereka, sehingga datang hari Kiamat." (HR. Ahmad, hadits shahih) 

Ibnu Mubarak berkata, "Menurutku, mereka adalah ashhabul hadits (para ahli hadits)."
Imam Al-Bukhari menjelaskan, "Menurut Ali bin Madini mereka adalah ashhabul hadits."
Imam Ahmad bin Hambal berkata, "Jika kelompok yang mendapat pertolongan itu bukan ashhabul hadits maka aku tidak mengetahui lagi siapa sebenarnya mereka."
Imam Syafi'i berkata kepada Imam Ahmad bin Hambal, "Engkau lebih tahu tentang hadits daripada aku. Bila sampai kepadamu hadits yang shahih maka beritahukanlah padaku, sehingga aku bermadzhab dengannya, baik ia (madzhab) Hejaz, Kufah maupun Bashrah."
Dengan spesialisasi studi dan pendalamannya di bidang sunnah serta hal-hal yang berkaitan dengannya, menjadikan para ahli hadits sebagai orang yang paling memahami tentang sunnah Nabi, petunjuk, akhlak, peperangannya dan berbagai hal yang berkaitan dengan sunnah.
Para ahli hadits -semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengumpulkan kita bersama mereka- tidak fanatik terhadap pendapat orang tertentu, betapa pun tinggi derajat orang. tersebut. Mereka hanya fanatik kepada Rasulullah.
Berbeda halnya dengan mereka yang tidak tergolong ahli hadits dan mengamalkan kandungan hadits. Mereka fanatik terhadap pendapat imam-imam mereka -padahal para imam itu melarang hal tersebut- sebagaimana para ahli hadits fanatik terhadap sabda-sabda Rasulullah. Karenanya, tidaklah mengherankan jika ahli hadits adalah kelompok yang mendapat pertolongan dan Golongan Yang Selamat.
Khatib Al-Baghdadi dalam kitab Syarafu Ashhabil Hadits menulis, "Jika shahibur ra'yi disibukkan dengan ilmu pengetahuan yang bermanfaat baginya, lalu dia mempelajari sunnah-sunnah Rasulullah , niscaya dia akan mendapatkan sesuatu yang membuatnya tidak membutuhkan lagi selain sunnah.''
Sebab sunnah Rasulullah mengandung pengetahuan tentang dasar-dasar tauhid, menjelaskan tentang janji dan ancaman Allah Subhanahu Wa Ta'ala , sifat-sifat Tuhan semesta alam, mengabarkan perihal sifat Surga dan Neraka, apa yang disediakan Allah Subhanahu Wa Ta'ala di dalamnya buat orang-orang yang bertaqwa dan yang ingkar, ciptaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang ada di langit dan di bumi.
Di dalam hadits terdapat kisah-kisah para nabi dan berita-berita orang-orang zuhud, para kekasih Allah Subhanahu Wa Ta'ala , nasihat-nasihat yang mengena, pendapat-pendapat para ahli fiqih, khutbah-khutbah Rasulullah dan mukjizat-mukjizatnya...
Di dalam hadits terdapat tafsir Al-Qur'anul 'Azhim kabar dan peringatan yang penuh bijaksana, pendapat-pendapat sahabat tentang berbagai hukum yang terpelihara?
Allah Subhanahu Wa Ta'ala menjadikan ahli hadits sebagai tiang pancang syari'at. Dengan mereka, setiap bid'ah yang keji dihancurkan. Mereka adalah pemegang amanat Allah Subhanahu Wa Ta'ala di tengah para makhlukNya, perantara antara nabi dan umatnya, orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam me-melihara kandungan (matan) hadits, cahaya mereka berkilau dan ke-utamaan mereka senantiasa hidup.
Setiap golongan yang cenderung kepada nafsu -jika sadar- pasti kembali kepada hadits. Tidak ada pendapat yang lebih baik selain pendapat ahli hadits. Bekal mereka Kitabullah, dan Sunnah Rasulullah adalah hujjah (argumentasi) mereka. Rasulullah kelompok mereka, dan kepada beliau nisbat mereka, mereka tidak mengindahkan berbagai pendapat, selain merujuk kepada Rasulullah. Barangsiapa menyusahkan mereka, niscaya akan dibinasakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala , dan barangsiapa memusuhi mereka, niscaya akan dihinakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala ."
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk kelompok ahli hadits. Berilah kami rizki untuk bisa mengamalkannya, cinta kepada para ahli hadits dan bisa membantu orang-orang yang mengamalkan hadits. 

4.1artinya: Kelompok Yang Mendapat Pertolongan
Disunting dari : Bab IV al-Firqotun an- najiyah
Sumber : http://www.salafi-db

Sabtu, 28 April 2012

GOLONGAN YANG SELAMAT



                



Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai." (Ali Imran: 103) 

"Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka." (Ar-Ruum: 31-32) 

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Aku wasiatkan padamu agar engkau bertakwa kepada Allah, patuh dan ta'at, sekalipun yang memerintahmu seorang budak Habsyi. Sebab barangsiapa hidup (lama) di antara kamu tentu akan menyaksikan perselisihan yang banyak. Karena itu, berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa'ur rasyidin yang (mereka itu) mendapat petunjuk. Pegang teguhlah ia sekuat-kuatnya. Dan hati-hatilah terhadap setiap perkara yang diada-adakan, karena semua perkara yang diada-adakan itu adalah bid'ah, sedang setiap bid'ah adalah sesat (dan setiap yang sesat tempatnya di dalam Neraka)." (HR. Nasa'i dan At-Tirmi-dzi) 1.1 

Dalam hadits yang lain Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari ahli kitab telah berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan. Dan sesungguhnya agama ini (Islam) akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, tujuh puluh dua golongan tem-patnya di dalam Neraka dan satu golongan di dalam Surga, yaitu al-jama'ah." (HR. Ahmad dan yang lain) 1.2 

Dalam riwayat lain disebutkan:
"Semua golongan tersebut tempatnya di Neraka, kecuali satu (yaitu) yang aku dan para sahabatku meniti di atasnya." (HR. At-Tirmidzi) 1.3 

Ibnu Mas'ud meriwayatkan:
"Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam membuat garis dengan tangannya lalu bersabda, 'Ini jalan Allah yang lurus.' Lalu beliau membuat garis-garis di kanan kirinya, kemudian bersabda, 'Ini adalah jalan-jalan yang sesat tak satu pun dari jalan-jalan ini kecuali di dalamnya terdapat setan yang menyeru kepadanya. Selanjutnya beliau membaca firman Allah , 'Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus maka ikutilah dia janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan oleh Allah kepadamu agar kamu bertakwa." 1.4 (Hadits shahih riwayat Ahmad dan Nasa'i) 

Syaikh Abdul Qadir Jailani dalam kitabnya Al-Ghunyah berkata, "... adapun Golongan Yang Selamat yaitu Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Dan Ahlus Sunnah, tidak ada nama lain bagi mereka kecuali satu nama, yaitu Ashhabul Hadits (para ahli hadits)."
Allah Subhanahu Wa ta'alamemerintahkan agar kita berpegang teguh kepada Al-Qur'anul Karim. Tidak termasuk orang-orang musyrik yang memecah belah agama mereka menjadi beberapa golongan dan kelompok. Rasulullah mengabarkan bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani telah berpecah belah menjadi banyak golongan, sedang umat Islam akan berpecah lebih banyak lagi, golongan-golongan tersebut akan masuk Neraka karena mereka menyimpang dan jauh dari Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya. Hanya satu Golongan Yang Selamat dan mereka akan masuk Surga. Yaitu Al-Jamaah, yang berpegang teguh kepada Kitab dan Sunnah yang shahih, di samping melakukan amalan para sahabat dan Rasulullah .
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk dalam golongan yang selamat (Firqah Najiyah). Dan semoga segenap umat Islam termasuk di dalamnya.

1.1At-Tirmi-dzi berkata hadits hasan shahih
1.2Al-Hafidh menggolongkannya hadits hasan
1.3Di-hasan-kan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami' 5219
1.4Al-An'am: 153

Sumber : al-Firqotun an - Najiyah ( Golongan Yang Selamat ) 
                Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu

Kamis, 19 April 2012

BERILAH PERINGATAN TENTANG HARI AKHIR




Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Rasulullah sholallohu'alaihi wasallam, dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah, Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan -Nya. Wa Ba’du:

Kita akan merenungi sebuah ayat dari firman Allah di dalam kitab -Nya. Allah Subhanahuwata’ala berfirman:

وَأَنذِرۡهُمۡ يَوۡمَ ٱلۡحَسۡرَةِ إِذۡ قُضِىَ ٱلۡأَمۡرُ وَهُمۡ فِى غَفۡلَةٍ۬ وَهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ

Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara telah diputus. dan mereka dalam kelalaian dan mereka tidak (pula) beriman. (QS. Maryam: 39)

Allah Subhanahuwata’ala memerintahkan Nabi -Nya untuk memperingatkan manusia terhadap hari penyesalan dan kerugian, yaitu hari kiamat, di mana kerugian meningkat, penyesalan menjadi tinggi, adakah penyesalan yang lebih besar dari hilangnya keridhaan Allah pada hamba dan surga-Nya, lalu terjembab ke dalam kemurkaan -Nya serta kekal di dalam neraka -Nya pada saat seseorang sudah tidak bisa kembali lagi menuju dunia untuk memulai beramal. Allah Subhanahuwata’ala berfirman:

قُلۡ إِنَّ ٱلۡخَـٰسِرِينَ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓاْ أَنفُسَہُمۡ وَأَهۡلِيہِمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ‌ۗ أَلَا ذَٲلِكَ هُوَ ٱلۡخُسۡرَانُ ٱلۡمُبِينُ

Katakanlah: "Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat". ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (QS. Al-Zumar: 15)

Ibnu Abbas berkata: Yaumul hasroh adalah salah satu nama dari nama hari kiamat, di mana Allah telah mengagungkannya dan memperingatkan para hamba dengannya.

Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata tentang firman Allah:

وَأَنذِرۡهُمۡ يَوۡمَ ٱلۡحَسۡرَةِ

Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (QS. Maryam: 39)

Dia berkata: Dialah hari kiamat dan beliau membaca firman Allah Subhanahuwata’ala:

أَن تَقُولَ نَفۡسٌ۬ يَـٰحَسۡرَتَىٰ عَلَىٰ مَا فَرَّطتُ فِى جَنۢبِ ٱللَّهِ وَإِن كُنتُ لَمِنَ ٱلسَّـٰخِرِينَ

Supaya jangan ada orang yang mengatakan: "Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang Aku Sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah ), (QS. Al-Zumar: 56)

Dan firman Allah yang mengatakan: (إِذۡ قُضِىَ ٱلۡأَمۡرُ) yaitu setelah selesai perhitungan dan penghuni surga menuju ke surga sementara penghuni neraka telah dimasukkan ke neraka.

Dan firman Allah: (وَهُمۡ فِى غَفۡلَةٍ۬) artinya dan mereka dalam kelalaian. Maksudnya adalah mereka lalai dengan kelezatan dan syahwat duniawi hingga meninggalkan beramal untuk hari penyesalan. Dan Firman Allah: (وَهُمۡ لَايُؤۡمِنُونَ) aratinya: dan mereka tidak (pula) beriman. Maksudnya mereka tidak membenarkan adanya hari kabangkitan setelah kematian dan kenikmatan abadi yang diberikan oleh Allah bagi mereka yang mentaati Allah, serta adzab yang pedih bagi orang yang bermaksiat kepada Allah.

Dari Abi Sa’id Al-Khudri ra bahwa Nabi bersabda: Kematian di datangkan pada hari kiamat, seperti sebuah kambing kibas yang berwaran putih campur hitam (riwayat Abu Kuriab menambahkan: Lalu ditempatkan pada sebuah tempat di antara surga dan neraka) lalu dikatakan: Wahai penghuni surga apakah kalian mengetahui siapakah ini?. Maka merekapun saling berkerumuanan melihatnya dan mereka berkata: Ya, ini adalah kematian. Allah berfirman: Dan dikatakan: Wahai penghuni neraka apakah kalian mengetahui siapakah ini. Maka penghuni nerakapun saling berkerumun melihat dan mereka mengatakan: Ya, ini adalah kematian. Allah berfirman: Maka diperintahkan lalu disemblih. Allah berfirman: Wahai penghuni surga kekelan bagi kalian maka tidak ada kematian bagi kalian dan wahai penghuni neraka kekekalan bagi kalian dan tidak ada kematian bagi kalian. Perawi berkata: Rasulullah sholallohu'alaihi wasallam membaca firman Allah Subhanahuwata’ala:

وَأَنذِرۡهُمۡ يَوۡمَ ٱلۡحَسۡرَةِ إِذۡ قُضِىَ ٱلۡأَمۡرُ وَهُمۡ فِى غَفۡلَةٍ۬ وَهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ

Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara Telah diputus. dan mereka dalam kelalaian dan mereka tidak (pula) beriman. (QS. Maryam: 39)

Dan beliau menunjuk dengan tangannya kepada dunia”.

Imam Muslim menambahkan dari riwayat Ibnu Umar: Maka penenduduk surgapun semakain bertambah gembira sementara penghuni neraka semakin bertambah sedih”.

Pelajaran yang bisa dipetik dari ayat di atas adalah:

Pertama: Pada hari kerugian dan penyesalan tersebut orang-orang kafir menyesal dengan kekafirannya, orang yang zalim atas kezaliamannya, dan orang yang melalaikan ketaatan kepada Tuhannya atas kelalaiannya, namun penyesalan pada hari tersebut tidak berguna apapun. Allah Subhanahuwata’ala berfirman:

يَوۡمَ لَا يَنفَعُ ٱلظَّـٰلِمِينَ مَعۡذِرَتُہُمۡۖ وَلَهُمُ ٱللَّعۡنَةُ وَلَهُمۡ سُوٓءُ ٱلدَّارِ

(yaitu) hari yang tidak berguna bagi orang-orang zalim permintaan maafnya dan bagi merekalah la'nat dan bagi merekalah tempat tinggal yang buruk.

(QS. Mu’min: 52)

Allah Subhanahuwata’ala berfirman:

وَيَوۡمَ يَعَضُّ ٱلظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيۡهِ يَقُولُ يَـٰلَيۡتَنِى ٱتَّخَذۡتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلاً۬ (٢٧) يَـٰوَيۡلَتَىٰ لَيۡتَنِى لَمۡ أَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِيلاً۬ (٢٨) لَّقَدۡ أَضَلَّنِى عَنِ ٱلذِّڪۡرِ بَعۡدَإِذۡ جَآءَنِى‌ۗ وَڪَانَ ٱلشَّيۡطَـٰنُ لِلۡإِنسَـٰنِ خَذُولاً۬ (٢٩

27. Dan (Ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: "Seandainya (dulu) Aku mengambil jalan bersama-sama Rasul". 28. Kecelakaan besarlah bagi -Ku; kiranya Aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku). 29. Sesungguhnya dia Telah menyesatkan Aku dari Al Qur’an ketika Al Qur’an itu Telah datang kepadaku. dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.

(QS. Al-Furqon: 27-29)

Allah Subhanahuwata’ala berfirman:

قَدۡ خَسِرَ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِلِقَآءِ ٱللَّهِ‌ۖ حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَتۡہُمُ ٱلسَّاعَةُ بَغۡتَةً۬ قَالُواْ يَـٰحَسۡرَتَنَا عَلَىٰ مَا فَرَّطۡنَا فِيہَا وَهُمۡ يَحۡمِلُونَ أَوۡزَارَهُمۡ عَلَىٰ ظُهُورِهِمۡ‌ۚ أَلَا سَآءَمَا يَزِرُونَ


Sungguh Telah Rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan tuhan; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: "Alangkah besarnya penyesalan kami, terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu!", sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amat buruklah apa yang mereka pikul itu.
(QS. Al-An’am: 31)

إِنَّآ أَنذَرۡنَـٰكُمۡ عَذَابً۬ا قَرِيبً۬ا يَوۡمَ يَنظُرُ ٱلۡمَرۡءُ مَا قَدَّمَتۡ يَدَاهُ وَيَقُولُ ٱلۡكَافِرُ يَـٰلَيۡتَنِى كُنتُ تُرَٲبَۢا

Sesungguhnya kami Telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang Telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata:"Alangkah baiknya sekiranya dahulu adalah tanah". (QS. Al-Naba’: 40)


Kedua: Seharusnya bagi orang yang beriman untuk tidak tenggelam dalam kelalaian, akan tetapi hendaklah dia mempersiapkan dirinya untuk bertemu dengan Tuhannya. Allah Subhanahuwata’ala berfirman:

مَن كَانَ يَرۡجُواْ لِقَآءَ ٱللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ ٱللَّهِ لَأَتٍ۬‌ۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ

Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, Maka Sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang.

dan dialah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.

(QS. Al-Ankabut: 5)

Allah Subhanahuwata’ala berfirman:

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٌ۬ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٍ۬‌ۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

(QS.Al-Hasyr: 18)


Ketiga: Pada hari penyesalan ini orang-orang kafir melihat bahwa diri mereka tidak tinggal di dunia kecuali sedikit. Allah Subhanahuwata’ala berfirman:

وَيَوۡمَ يَحۡشُرُهُمۡ كَأَن لَّمۡ يَلۡبَثُوٓاْ إِلَّا سَاعَةً۬ مِّنَ ٱلنَّہَارِ

Dan (Ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) Hanya sesaat di siang hari, (QS. Yunus: 45)

Allah Subhanahuwata’ala berfirman:

كَأَنَّہُمۡ يَوۡمَ يَرَوۡنَہَا لَمۡ يَلۡبَثُوٓاْ إِلَّا عَشِيَّةً أَوۡ ضُحَٮٰهَا

Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.(QS. Al-Nazi’at: 46)

Keempat: Sesungguhnya di antara bentuk kerugian besar yang dirasakan oleh para penghuni neraka adalah bahwa salah seorang di antara mereka berangan-angan untuk menebus diri mereka dari api neraka dengan diri mereka, anak mereka dan seluruh manusia bahkan seluruh perbendaharaan dunia, padahal pada saat di dunia, mereka diperintahkan untuk mengerjakan apa yang lebih ringan darinya namun mereka tidak mampu mengerjakannya. Allah Subhanahuwata’ala berfirman:

يُبَصَّرُونَہُمۡ‌ۚ يَوَدُّ ٱلۡمُجۡرِمُ لَوۡ يَفۡتَدِى مِنۡ عَذَابِ يَوۡمِٮِٕذِۭ بِبَنِيهِ (١١) وَصَـٰحِبَتِهِۦ وَأَخِيهِ (١٢) وَفَصِيلَتِهِ ٱلَّتِى تُـٔۡوِيهِ (١٣) وَمَن فِى ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعً۬ا ثُمَّيُنجِيهِ (١٤) كَلَّآ‌ۖ إِنَّہَا لَظَىٰ (١٥)

Sedang mereka saling memandang. orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari itu dengan anak-anaknya, 12. Dan isterinya dan saudaranya,13. Dan kaum familinya yang melindunginya (di dunia).14. Dan orang-orang di atas bumi seluruhnya Kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya. 15. Sekali-kali tidak dapat, …

(QS. Al-Ma’arij: 11-15.)

Allah Subhanahuwata’ala berfirman:

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَمَاتُواْ وَهُمۡ كُفَّارٌ۬ فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡ أَحَدِهِم مِّلۡءُ ٱلۡأَرۡضِ ذَهَبً۬ا وَلَوِ ٱفۡتَدَىٰ بِهِۦۤ‌ۗ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ۬ وَمَا لَهُم مِّن نَّـٰصِرِينَ

Sesungguhnya orang-orang kafir yang mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, Maka tidaklah akan diterima dari

seseorang diantara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu.

bagi mereka Itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong.

(QS. Ali Imron: 91)

Dari Anas bin Mali ra bahwa Nabi bersabda: Allah Subhanahuwata’ala berfirman kepada penghuni neraka yang paling ringan azabnya: Seandainya engkau memiliki dunia beserta isinya apakah engakau akan menebus dirimu dengannya?. Maka dia akan berkata: Ya. Lalu Allah berkata kepadanya: Aku telah menghendaki darimu menjalankan perbuatan yang lebih ringan dari hal tersebut padahal engkau masih berada di dalam sulbi Adam yaitu agar engkau tidak mempersekutukan Allah (aku mengira bahwa Nabi Muhammad sholallohu'alaihi wasallam berkata) dan aku tidak memasukkanmu ke dalam neraka, namun engkau enggan kecuali engkau mempersekutukan Allah”.

Kelima: Seyogyanya bagi orang yang beriman untuk menjaga keislaman dan keimanannya sampai kematiannya. Allah Subhanahuwata’ala berfirman:

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada -Nya;

dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

(QS. Ali Imron: 102)

Dan dari Aisyah Radhiyallohu'anha bahwa Nabi banyak berdo’a dengan mengatakan:

يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك وطاعتك

“Wahai Tuhan yang Maha membolak-balikkan hati, palingkanlah hatiku kepada agamamu dan ketaatan kepadamu”.

Dari Abdullah bin Amr bin Ash Radhiyallohu'anhu berkata: Rasulullah sholallohu'alaihi wasallam bersabda:

اللهم مصرف القلوب صرف قلوبنا على طاعتك

“Ya Allah, Tuhan yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatanmu”.

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam dan shalawat serta salam kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga dan seluruh para shahabatnya.

Judul : تدبر قول الله تعالى : وَأَنذِرۡهُمۡ يَوۡمَ ٱلۡحَسۡرَةِ

Oleh: Dr. Amin Abdullah Asy-Syaqawy

Terjemah : Muzaffar Sahid Mahsun

Sumber : Assunah-Qatar.com